Kota-kota di Sumatra: Sebuah Penelitian tentang Demokrasi dan Kewarganegaraan

Joint Research tentang Kota-kota di Sumatra Awal Abad 21
Penelitian Bersama antara para alumni Program Pelatihan dengan para peneliti Interseksi merupakan tahap lanjutan dari program Pelatihan Penelitian bagi para aktivis/peneliti muda. Penelitian dilakukan oleh tim gabungan antara para alumni program pelatihan penelitian dan para peneliti Interseksi yang relatif lebih berpengalaman dalam kerja-kerja penelitian sosial. Tema umum penelitian gabungan ini adalah “Problematik Demokrasi Kultural di Tingkat Kabupaten di Indonesia”.
Rasional
Pemilihan tema dan lingkup wilayah penelitian didasarkan pada beberapa rasional: Pertama, otonomi daerah di Indonesia berlangsung pada level kabupaten, sehingga kajian-kajian tentang relasi antara otonomi daerah dan problematik demokrasi kultural memang sangat penting untuk dilakukan pada level tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah otonomi daerah memberi peluang bagi negara lokal untuk mengembangkan kebijakan yang lebih akomodatif terhadap diversitas kultural ataukah justru sebaliknya. Kedua, pada sebagian besar peristiwa kekerasan yang melibatkan konflik antar kelompok sosial yang berbeda, peristiwa aktualnya berlangsung di wilayah yang secara administratif berada dalam otoritas pemerintah daerah tingkat II. Kemungkinan yang bisa diduga tentu saja adalah adanya kaitan antara demokrasi lokal dengan problem politik identitas. Ketiga, demokrasi perwakilan pada dasarnya mengandaikan abstraksi tentang jarak hubungan antara pemerintahan terpilih dengan rakyatnya. Pemikir Prancis Jean-Jacques Rousseau, misalnya, melihat bahwa demokrasi yang paling ideal adalah yang dipraktekkan dalam konteks sebuah negara-kota (city-state). Semakin kecil lingkup spasial sebuah praktek demokrasi dilakukan, seharusnya semakin responsif sebuah pemerintahan terhadap tuntutan politik warganya. Demokrasi lokal adalah demokrasi pada level kabupaten, tapi apakah kebijakan yang dihasilkan rezim demokrasi di masing-masing wilayah mencerminkan susutnya jarak antara kepentingan rakyat dengan pemerintah yang dipilihnya ataukah justru sebaliknya.
Ruang Lingkup Penelitian (tentatif)
- Peta Relasi antar kelompok etnis/agama/pengelompokan kultural lain dalam situs sebuah kabupaten/kota
- Riwayat Konflik dan redefinisi hubungan-hubungan sosial dalam demokrasi lokal
- Potensi-potensi Konflik Sumberdaya Alam
- Kondisi kontemporer kelompok marjinal/minoritas (politik identitas)
- Kebijakan negara lokal
- Interrelasi antara deprivasi kultural, ekonomi, dan politik yang dialami oleh kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat pada era demokratisasi di indonesia
Wilayah Penelitian
Wilayah yang diteliti meliputi beberapa kota berukuran menengah (kota madya), yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk kebutuhan program ini, kami membagi Indonesia ke dalam beberapa wilayah: Sumatra, Jawa dan Madura, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku dan Papua. Dalam periode pertama (2010-2011), penelitian akan dilakukan pada 6 (enam) kabupaten di Sumatra.
Kepastian tentang lokasi penelitian di masing-masing provinsi akan ditentukan melalui kajian pra-penelitian yang lebih mendalam, sehingga rasional di balik pilihan atas satu lokasi dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap peneliti yang akan diberangkatkan sudah mendapat gambaran awal yang lebih baik tentang masing-masing lokasi.
Secara tentatif, lokasi-lokasi tersebut adalah sebagai berikut:
- Sigli di provinsi Aceh
- Kabupaten Binjai di Sumatra Utara
- Bukittinggi atau Payakumbuh di Sumatra Barat
- Bagansiapi-api di Riau
- Prabu Mulih di Sumatra Selatan
- Bengkulu di provinsi Bengkulu
Tahap-tahap Aktivitas
- Studi literatur tentang isu-isu demokrasi lokal, terutama tentang problematik demokrasi kultural. Pada tahap ini pula tim peneliti akan melakukan kajian kritis terhadap beberapa kajian yang sudah dilakukan sebelumnya, sehingga permasalahan utama yang akan diteliti dapat dirumuskan secara tajam, tidak repetitif, dan memiliki nilai kebaruan (novelty) yang akan memberi kontribusi kepada pembangunan pengetahuan tentang proses demokratisasi di Indonesia. Berdasarkan studi literatur inilah masing-masin peneliti akan diminta membuat draft rancangan penelitian yang akan dibahas dalam Workshop persiapan penelitian.
- Workshop Persiapan Penelitian. Aktivitas ini meliputi: (i) pembahasan draft rancangan penelitian yang sudah disusun oleh masing-masing peneliti; (ii) penajaman pengetahuan dan fokus penelitian melalui pemaparan materi dari para ahli yang kompeten, dan narasumber yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tema dan/atau kondisi di masing-masing lokasi penelitian; (iii) penyusunan ulang rancangan penelitian yang secara spesifik dibuat untuk masing-masing lokasi penelitian yang dipilih. Proses ini sangat penting untuk menghindari kemungkinan terjadinya generalisasi persoalan untuk semua lokasi, sekaligus mengurangi resiko penekanan yang terlampau berlebihan pada partikularitas persoalan sehingga mengabaikan konteksnya dalam spektrum persoalan demokratisasi yang lebih luas.
- Pencarian data di masing-masing lokasi penelitian.
- Supervisi lapangan. Aktivitas ini akan dilakukan di tengah-tengah masa penelitian lapangan oleh salah satu atau kedua-duanya dari penanggungjawab dan koordinator program dan petugas lain yang ditunjuk. Proses monitoring akan dilakukan selama sekitar satu minggu di masing-masing wilayah.
- Penulisan draft laporan penelitian. Masing-masing peneliti diberi waktu dua bulan untuk mempersiapkasn draft laporan berdasarkan penelitian yang sudah dilakukannya.
- Workshop Penulisan Laporan Tahap Pertama. Draft laporan yang sudah disiapkan oleh masing-masing peneliti akan dibahas secara kritis dalam Workshop penulisan tahap pertama. Semua peneliti wajib mempresentasikan draft laporan untuk mendapatkan input dari seluruh peserta workshop. Ada beberapa aspek yang akan diperiksa dari masing-masing draft laporan penelitian: (i) realibitas data yang dikumpulkan; (ii) relevansi data dengan tema penelitian; (iii) temuan spesifik dari masing-masing lokasi; (iv) focal point yang ingin disampaikan; (v) kesanggupan peneliti menetapkan relasi antar data untuk membangun pengetahuan; (vi) teknis penyajian data untuk membangun argumentasi; (vii) kaidah-kaidah penulisan akademik.
- Revisi Draft Laporan menjadi laporan akhir penelitian. Setelah workshop penulisan laporan, masing-masing peneliti diberi waktu satu bulan untuk memperbaiki naskah laporan yang ditulisnya dengan memperhatikan masukan selama workshop.
- Workshop Penulisan Buku. Hasil revisi draft laporan akan kembali dibahas dalam workshop penulisan tahap kedua. Dalam tahap ini laporan para peneliti akan diarahkan menjadi tulisan-tulisan akademik yang layak diterbitkan dalam sebuah buku.
- Penulisan untuk buku. Peneliti akan diberi waktu satu bulan untuk mempersiapkan tulisannya agar layak diterbitkan.
- Editing. Tulisan para peneliti akan diperiksa oleh tim editor Yayasan Interseksi sebelum memasuki tahap penerbitan. Selama proses editing, semua tulisan akan terus menerus diperbaiki melalui komunikasi langsung antara peneliti dengan editor. Pada setiap tahapan penyuntingan editor akan mengembalikan tulisan kepada masing-masing peneliti untuk diperbaiki. Secara keseluruhan proses editing akan berjalan selama lebih kurang empat bulan dengan pentahapan sebagai berikut: (i) rough editing (penyuntingan awal), editor memeriksa gagasan-gagasan utama yang ingin disampaikan oleh peneliti, dan sejauhmana gagasan-gagasan tersebut didukung oleh temuan data yang dapat dipercaya; (ii) penyuntingan substansi: editor akan memeriksa sejauhmana substansi persoalan yang dibahas dalam masing-masing tulisan relevan dengan tema publikasi buku, dan bagaimana persoalan tersebut disajikan dengan argumen yang mudah dipahami tapi sekaligus memiliki koherensi konseptual; (iii) editing bahasa. Yayasan Interseksi akan mengundang editor bahasa untuk memeriksa kaidah-kaidah kebahasaan yang digunakan dalam masing-masing tulisan; (iv) finalisasi penyuntingan. Editor kembali akan memeriksa semua tulisan secara menyeluruh untuk memastikan bahwa baik masing-masing tulisan secara terpisah maupun sebagai sebuah buku sudah benar-benar layak diterbitkan.
- Diseminasi temuan penelitian dalam dua bentuk aktivitas: penerbitan buku dan seminar hasil penelitian, berwujud peluncuran dan diskusi buku (book launching).