TESTIMONIES

FROM SOME OF THE ALUMNI

Below are some testimonial excerpts from some of the alumni of our Hivos-sponsored research-training program that might be seen as the seeds to be nurtured for the future.

Saya merasakan peningkatan kemampuan dalam penentuan fokus riset. Selama ini saya selalu kesulitan dalam menentukan fokus karena saya menganggap semua hal penting dan semua hal harus dijawab. Yang saya tahu, hal itu memang benar, namun ketika saya mengikuti pelatihan penelitian Interseksi, saya mendapat satu hal penting bahwa untuk menjawab semua hal, kita harus belajar satu hal secara maksimal dan tuntas. Awalnya memang sulit karena kebiasaan saya sebelumnya masih belum hilang benar. Namun saya memperoleh pengetahuan juga dari pengalaman temen-temen peserta yang lain, sehingga ada share pengalaman dan dari sana bisa belajar satu sama lain.

 (I feel my ability to determine a research focus has improved. Before I enrolled in Interseksi’s training, it’s very difficult to determine which topic to explore in composing a research report. I frequently ended up with putting everything I got on it, because I considered everything important. All I knew, that was the right way. After the training, I learned how to answer all research questions completely, not just jotting every information I knew to get a comprehensive writing. It was not as easy as it seems, because I got used to the old method. Nevertheless, I got a worthwhile experience from other fellow researchers, which helped me a through the transition.)

M. Subhi Azhari (The Wahid Institute, alumnus of class 2008)

 

Beberapa perkembangan dan hal-hal menarik yang saya rasakan setelah mengikuti pelatihan penelitian di Interseksi: Pertama saya mengenal metodologi penelitian yang sungguh berbeda dengan yang saya ketahui ketika saya masih kuliah. Dulu sebagai mahasiswa hukum saya hanya menggunakan pendekatan yuridis saat melakukan penelitian, antara lain hanya mencocokan apa yang ada dalam peraturan dengan realitas sosial, atau sekedar membuktikan sebuah teori. Pendekatan sosial dan mengutamakan pengamatan langsung dan melepaskan terlebih dahulu teori-teori yang ada menjadi satu hal baru yang menarik bagi saya. Butuh ketekunan, kesabaran dan ketelitian untuk bisa menggali data-data di lapangan.

(There are some interesting new things that I realize after enrolling in the Interseksi’s research training: The first is that research training organized by Interseksi has introduced me to a new, yet unfamiliar research method, because I’ve never used it when I was in college. As a law student, I only used juridical approach in my research, which means I crosschecked between the law and social reality or just testing a theory. Doing a research with social approach, through direct involvement or observation and set aside all of theories while doing it, was definitely not my cup of tea. Yet, I took it as a new challenge. Patience, diligence and meticulousness were needed, while we were trying to gather datas in research location.)

 Hal baru yang kedua yang saya dapatkan ialah sebelum melakukan penelitian saya harus membaca seluruh buku yang terkait dengan subjek penelitian saya, agar tidak terjadi pengulangan studi dan plagiasi. Hal ini melatih saya untuk terus gemar membaca, berbagai buku. Karna semakin banyak membaca buku akan semakin mudah menuliskan gagasan dalam sebuah laporan penelitian. Perkembangan ke-tiga yang saya alami adalah saya memahami metode penulisan riset yang tidak kaku seperti skripsi dan tesis. Membuat tulisan menarik dan didukung dengan data yang akurat menjadi tantangan tersendiri bagi saya dalam menuliskan laporan penelitian. Kesempatan yang sungguh berharga bisa mengikuti pelatihan penelitian di Interseksi, dan saya bangga menjadi salah satu alumninya.

(Another new thing I learned, please do literature review before you do a research. It would prevent plagiarism and repeated study on a topic. This forced me to read any kinds of book related to my research. The more you read, the easier you write your ideas. Research method that I’ve learned from the training has changed my view on how to write an academic writing. It should not have to be that rigid, the way we used to write thesis in college. We could do it in more dynamic, up-to-date writing style, yet contained with a high accuracy data. It was such a priceless experience to participate in Interseksi’s training and I am so proud to be one of the alumni.)

 Kristina Viri (Aliansi Bhinneka Tunggal Ika, now working for the Jakarta-based YAPPIKA, alumnus of class 2009)

 

Membuat penelitian kukira sama dengan membuat skripsi. Dimana harus ada banyak teori yang disertakan. Maka tak heran kalau proposal penelitian pertamaku menghabiskan hampir seratus halaman. Setidaknya begitu yang kualami sebelum aku mengikuti workshop penulisan penelitian yang diadakan Interseksi setahun lalu. Menjadi sangat surprise, ketika di workshop itu semua teori-teori yang sudah kutulis dipangkas habis (aku masih suka malu kalau mengingat kejadian itu), tetapi bukannya menghilangkan makna malah kemudian semakin memperjelas arah yang ingin kusampaikan. Aku belajar banyak didalamnya terutama belajar menulis sambil mengendalikan emosi karena kami juga selalu diingatkan untuk menulis tidak dengan cara “marah-marah”

(What I had in mind was that a research and writing BA thesis was the same thing, in which we should put as many theories as possible. No wonder, my first research proposal came in almost a hundred pages. Well, that what was happened before I got in into Interseksi’s research training workshop. I was shocked when all of my theories were being cut down (until now, I’m still ashamed just by thinking of it). Thankfully, this process helped me a lot to sharpen the writing focus. I learned new things, one of them was controlling our emotion while writing. “The harsher, the better” isn’t always good, we don’t have to write with so much anger.)

Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari workshop itu, aku mulai terjun kelapangan untuk mengumpulkan sejumlah data dan membuat laporannya. Setelah kutulis kasus itu menjadi jelas. Selama ini pengalaman advokasi yang kulakukan memang belum pernah didokumentasikan secara apik. Biasanya aku hanya menuliskan point-pointnya saja yang menurutku penting. Aku lupa bahwa setiap kata dan setiap peristiwa dalam sebuah kasus jika ditulis dan dianalisa bisa menjadi alat bantu dalam melakukan advokasi. Karena dari hasil analisa itu memudahkan kita menentukan strategi berikutnya.

(With every materials I got from the workshop, I started my fieldwork to collect data and write a report. The case became clear then. After all these years, I’ve never done any advocacy with a good documentation. I only took notes on important things. I did not realize that every word and event, providing they all are well written and critically anlayzed, could be instrumental in advocacy as it would also ease us up in choosing the next strategy.)

Pengalaman melakukan penelitian bersama Interseksi, tidak saja membuat aku secara pribadi menjadi mengerti bagaimana cara membuat penelitian tetapi juga memberi semangat baru bagi kawan-kawanku untuk melakukan penelitian terhadap kasus-kasus yang kami tangani untuk kemudian didokumentasikan. Meski masih dalam proses belajar tetapi langkah ini memperkaya referensi kami sehingga tidak terjebak hanya dalam aktifisme belaka tanpa alat bukti..

Akhirnya, kepada kawan-kawan ayo ikuti penelitian ini, akan ada banyak pengetahuan dan pengalaman baru didalamnya, terutama buat kawan-kawan dari Sumatera.

(Being an Interseksi’s research training participant has taught me not only about composing a good research report, but also to encourage other NGO partners to start doing research on each case they have and documenting it. Although we’re still halfway there, but I hope it would lead us to broader our knowledge so that we would not be trapped into uncritical activism.

Last but not least, Interseksi’s research training is highly recommended, especially for my fellow Sumatrans youth activists. Aside from getting valuable experience, it would be a good event to broaden your network.)

Romiana Manurung (Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara, alumnus of class 2008)

Dulu penelitian tampaknya suatu hal yang sulit untuk dilakukan bagi saya yang mau mencoba untuk melakukannya. Penelitian juga tampak menjadi sesuatu yang rumit, dan hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang memang mampu untuk melakukan penelitian. Suatu hari, suatu waktu, dan suatu saat, dan secara tiba-tiba ada sebuah undangan dari Interseksi untuk mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula. Singkat kata dan singkat cerita akhirnya saya menjadi salah satu peserta yang lolos untuk ikut pelatihan ini. Betapa senangnya hatiku saat itu..hehehehe

(Back then, doing research was the hardest thing to do, especially for a beginner like myself. It seems complicated and possibly done only by the “chosen one”, those special people who were born with researching skills. But an invitation from Interseksi that came in a mail, had changed my view about it. I was so surprised that I got selected to be one of the participants. I was in seventh heaven.)

 Pelatihan ini berbeda sekali dengan pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga lainnya. Tidak terlalu serius. Kalau pegal-pegal kelamaan duduk silahkan angkat kaki diatas kursi, merokok berbatang-batang, boleh pake celana pendek, boleh pake sendal biasa, fun dan para tutornya sangat membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta selama proses penelitian. Dan yang paling penting, sang peneliti dipersilahkan menulis sesuai dengan karakternya masing-masing.

(The training was completely different from any workshops I have known. This was the most laid-back training ever. In the classroom, you could smoke, wore short pants and sandals, didn’t have to sit in upright potition. Total fun! Despite all that, all tutors were very helpful during the research process. And the most important thing was, we could write the report in any writing styles that suits us.)

 Rini Kusnadi (Ikatan Orang Hilang Indonesia (IKOHI), alumnus of class 2008)