|  

Panduan Program Pelatihan Penelitian
Demokrasi dan Kewarganegaraan
Angkatan IV Tahun 2013


research_training




Daftar isi Panduan Pelatihan
  • Halaman Download Formulir001
  • Tema002
  • Wilayah Target Asal Peserta003
  • Latar Belakang004
  • Rasional005
  • Tujuan006
  • Bentuk Aktivitas007
  • Output008
  • Time Frame Pelaksanaan Kegiatan009
  • Subjek Penelitian010
  • Peserta dan Syarat Pelamar011
  • Rekruitmen Peserta dan Surat Lamaran012
  • Batas Waktu Pengiriman Lamaran013
  • Tahapan Kegiatan014
  • Acuan Penulisan Draft Rancangan Penelitian015
  • Workshop Persiapan Penelitian016
  • Praktek Penelitian Lapangan017
  • Interim Meeting018
  • Penulisan Laporan019
  • Panduan Penulisan Laporan020
  • Workshop Penulisan Laporan021
  • Biaya Kegiatan022
  • Tentang Pengembalian Biaya Pelatihan023
  • Kontak Kami024
Halaman Download Formulir
  • Formulir Kesediaan Berpartisipasi (Word)
  • Formulir Biodata Calon Peserta (Word)
  • Formulir Draft Rancangan Penelitian (Word)
  • Formulir Surat Rekomendasi (Word)
  • Formulir Check List Kelengkapan Dokumen Persyaratan Lamaran (Word)

Tema
Tema umum program ini adalah Advokasi Berbasis Penelitian untuk Memperkuat Warga Negara dalam Demokrasi di Indonesia

Wilayah Target Asal Peserta
Seperti pada periode-periode sebelumnya, karena beberapa keterbatasan dan untuk memelihara kualitas program, Interseksi harus menetapkan target wilayah asal dan jumlah peserta yang akan dipilih untuk mengikuti program ini.

Untuk Pelatihan Kelas Tahun 2013 ini, wilayah target asal peserta sebagian besarnya adalah wilayah pulau Sulawesi (Utara, Gorontalo, Tengah, Barat, Tenggara, dan Selatan). Dari Sulawesi kami akan memilih 6 (enam) sampai, kalau memungkinkan, 8 (delapan) orang peserta pelatihan. Di luar itu, tahun 2013 ini kami juga mulai merintis penjaringan calon peserta dari wilayah Kalimantan. Dalam periode rintisan ini kami akan membatasi jumlah peserta dari Kalimantan hanya untuk 2 (dua) orang.

Latar Belakang
Dalam periode 15 tahun terakhir ini Sulawesi telah makin berkembang menjadi salah satu kawasan terpenting di wilayah timur Indonesia. Beberapa kalangan secara tidak resmi bahkan sering merujuk Makassar, salah satu kota terpenting di Sulawesi, sebagai ibu kota Indonesia (Bagian) Timur. Selain karena perkembangan fisik kota Makassar belakangan ini, dalam konteks yang lebih luas sebutan seperti itu tentu saja tidak terlalu mengejutkan mengingat kawasan Sulawesi memang telah mengalami perkembangan politis sangat dinamis sejak dimulainya era demokrasi lokal dan otonomi daerah belakangan ini. Cukup aman untuk mengatakan bahwa dari sisi terbentuknya wilayah-wilayah urban baru dan desentralisasi politik, setelah Sumatra, Sulawesi merupakan wilayah yang mengalami perkembangan paling dinamik di Indonesia. Pada tingkat provinsi, misalnya, sejak berakhirnya era Orde Baru terdapat dua provinsi baru dibentuk (Gorontalo dan Sulawesi Barat). Di sisi lain, perkembangan jumlah kabupaten dan kota di Indonesia sejak dekade 1960an sampai tahun 2009 yang lalu menunjukkan bahwa jumlah kota baru terbentuk paling banyak terdapat di pulau Sumatra, menyusul kemudian Sulawesi dan Kalimantan (Anne Booth, 2011:31-59). Jumlah Kota di Sulawesi meningkat dari 4 di tahun 1961 menjadi 6 tahun 1995 dan 11 pada tahun 2009. Dalam rentang waktu yang sama, jumlah kabupaten di Sulawesi bertambah dari 33 pada tahun 1961 dan tetap tidak berubah sampai tahun 1995, tapi kemudian melompat hampir dari dua kali lipat menjadi 62 kabupaten pada tahun 2009.

Seperti halnya Sumatra, wilayah Sulawesi juga ditandai oleh tingginya derajat keragaman dari wilayah selatan hingga ke utara, dengan sejarah persaingan antara kelompok-kelompok etnis besar dalam memperebutkan dominasi terhadap sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Di selatan, etnis Bugis dan Makassar bersaing setidaknya sejak abad ke-16 seperti tercermin dalam ketegangan antara Kerajaan Gowa dan Bone dalam menghadapi kedatangan VOC. Selain itu, ada pula etnis Mandar dan Toraja di bagian utara provinsi tersebut. Di utara, etnis Minahasa merupakan pemeluk agama Kristen Protestan dengan proporsi terbesar di antara etnis-etnis lain di Indonesia yang mayoritas Muslim. Di Poso, Sulawesi Tengah, konflik agama berskala besar pecah antara pemeluk Islam dan Kristen sesudah jatuhnya Suharto. Hingga saat ini sisa-sisa konflik muncul dalam bentuk kelompok-kelompok yang dicap teroris oleh pemerintah pusat. Selain agama-agama besar itu, terdapat pula agama-agama tradisional yang masih hidup dan terus dipraktikkan, meskipun beberapa di antaranya harus berkompromi dengan kebijakan pemerintah soal lima (atau kemudian jadi enam) agama resmi, dengan menggabungkan diri dengan agama yang diakui negara.

Kondisi sosial, ekonomi, kultural dan politik di bawah rezim demokrasi yang baru tumbuh (nascent democracy) adalah konteks ke mana beberapa upaya advokasi sosial di Indonesia saat ini harus mengacu. Di samping perubahan positif yang terjadi pada beberapa bidang kehidupan bernegara, sudah banyak diketahui bahwa demokratisasi juga membawa banyak implikasi pada cara bagaimana masyarakat Indonesia mendefinisikan kembali banyak hal dalam hidup mereka sehari-hari. Redefinisi tersebut juga terjadi dalam konteks relasi antara individu dan kelompok baik dengan negara sebagai masyarakat politik, maupun dengan kelompok-kelompok lain sebagai unit politik yang saling berkompetisi dalam meraih supremasi (nilai) kultural dan kekuasaan politik. Dalam kalimat lain, demokratisasi membuka ruang lebih luas bagi proses-proses perebutan kursi-kursi kekuasaan di pusat dan di daerah.

Tapi demokrasi pasti bukan hanya meliputi pembukaan ruang-ruang bagi kontestasi berbagai kekuatan politik dalam memperoleh supremasi kekuasaan, melainkan juga menyangkut banyak aspek lain dalam kehidupan warga negara. Apakah, misalnya, kebijakan-kebijakan publik yang diputuskan oleh pemenang pemilu memiliki akibat langsung pada perbaikan kehidupan rakyat tanpa melihat afiliasi politik dan asal-usul kulturalnya, dan apakah proses-prosesnya melibatkan juga kelompok-kelompok yang secara politik lemah/kalah. Atau tentang bagaimana aspirasi kelompok-kelompok marginal diwujudkan dalam putusan-putusan politik pemerintah, atau sebaliknya, bagaimana kelompok-kelompok non-dominan bisa melihat dan merasakan bahwa demokrasi bukan hanya untuk mereka yang menjadi pemenang tapi untuk semua orang. Demi kepentingan para investor ekonomi, misalnya, Menteri Dalam Negeri akan mengevaluasi beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang bisa menghambat iklim investasi, tapi tidak pernah ada keinginan politik dari pemerintah pusat untuk mengevaluasi Perda-perda yang membuka ruang bagi pelanggaran HAM atau melanggengkan subordinasi kelompok-kelompok marginal oleh kelompok-kelompok dominan.

Kalau demokrasi secara aktual adalah pemerintahan oleh mayoritas, sejauh mana ruang-ruang partisipasi terbuka bagi kelompok-kelompok di luar mayoritas dominan tersebut, dan bagaimana hal tersebut tercemin dalam kebijakan-kebijakan publik? Apakah mekanisme representasi politik dalam praktek demokrasi mengakomodasi diversitas kultural warga atau justru memaksakan kultur dominan menjadi the lowest common denominator yang justru mengabaikan semua yang tidak “common” atau partikular? Dengan kalimat lain, masalah yang boleh jadi lebih serius dalam konteks keterbukaan politik saat ini adalah justru tentang bagaimana demokrasi setelah pemilu (post-election democracy) dilaksanakan dan bagaimana akibat-akibatnya bagi kehidupan sehari-hari warga masyarakat setelah prosedur-prosedur formal berdemokrasi dilaksanakan.

Rasional
Secara sederhana advokasi sosial adalah upaya representasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok individu untuk melakukan pemihakan dan pembelaan terhadap kelompok sosial tertentu yang berada dalam posisi kurang beruntung (disadvantaged groups) dibandingkan dengan kelompok lain dalam masyarakat. Pembelaan yang dilakukan bisa berbasiskan pada prinsip-prinsip hak yang diasumsikan universal, bisa juga didasarkan pada kebutuhan yang sangat partikular pada konteks lokasi dan kelompok yang spesifik. Advokasi sosial berbeda dengan advokasi yang umum dikenal dilakukan oleh para pengacara profesional yang biasanya lebih bersandar pada argumen-argumen hukum formal. Dalam banyak kasus, advokasi sosial bahkan harus bisa secara kritis memeriksa postulat-postulat hukum formal yang seringkali justru melanggengkan praktek-praktek ketidakadilan terhadap kelompok-kelompok yang kurang beruntung tadi. Karena itu bisa dikatakan bahwa di dalam dirinya sendiri advokasi sosial adalah kerja-kerja intelektual yang terlibat di dalam problem kehidupan sehari-hari masyarakat dan dari sana berusaha untuk melakukan perubahan.

Menjadi jelas bahwa advokasi sosial mensyaratkan pelakunya untuk bukan hanya memiliki keberanian menyuarakan kepentingan kaum tertindas, melainkan lebih dari itu adalah kemampuan analisa yang baik untuk mendukung pendirian dan komitmen terhadap kasus-kasus yang sedang diperjuangkan. Dasar-dasar kemampuan analisa sosial tentu saja diperoleh seseorang melalui proses pendidikan. Tapi kompleksitas persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kontemporer tampaknya tidak cukup bisa dipahami hanya dengan mengandalkan bekal pengetahuan dari lembaga-lembaga pendidikan formal. Kalau banyaknya kritik atas rendahnya kualitas rata-rata lulusan pendidikan tinggi di Indonesia bisa dijadikan salah satu indikasi, maka untuk menghasilkan individu-individu dengan kapasitas analisa sosial yang baik jelas dibutuhkan lebih dari sekedar pendidikan formal. Dengan demikian, meskipun pendidikan merupakan salah satu faktor, tapi kemampuan analisa sosial seseorang sama sekali tidak ada korelasinya dengan prestasi akademik. Kemampuan advokasi sosial, dalam kalimat lain, membutuhkan dan harus didasarkan pada lapis-lapis pengetahuan yang mendalam dan sangat kritis tentang kondisi sosial yang ada, termasuk pengetahuan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok sasaran advokasi. Di samping itu, advokasi sosial juga membutuhkan kemampuan untuk mengartikulasikan gagasan/pemikiran dalam cara yang logis, sistematis, dan mudah dipahami oleh target pembacanya.

Kalau data dari Departemen Dalam Negeri bisa dijadikan acuan, saat ini jumlah Ornop dan/atau LSM yang resmi tercatat berjumlah lebih dari 100.000 (seratus ribu) lembaga di seluruh Indonesia, yang bergerak dalam bermacam-macam isu dan aktivitas. Upaya advokasi sosial di Indonesia sebagian besar dilakukan oleh individu-individu yang berafiliasi dengan lembaga-lembaga non-pemerintah tersebut. Sejak beberapa tahun belakangan ini, misalnya, Yayasan Interseksi melakukan kerjasama penelitian dengan beberapa aktivis LSM (baik melalui program Pelatihan Penelitian untuk para aktivis LSM maupun melalui program riset bersama dengan tema hak minoritas dan multikulturalisme). Melaui program-program tersebut kami bekerjasama dengan beragam latar belakang aktivis baik dari sisi geografis maupun pendidikan akademis. Pesertanya juga berasal dari beragam kategori LSM, mulai dari sebuah LSM kecil yang belum banyak dikenal dari luar Jawa sampai LSM yang sudah cukup luas dikenal pada tingkat nasional bahkan internasional. Dari kerjasama tersebut kami mendapatkan beberapa gambaran berikut:

  • Aktivis LSM memiliki kemampuan sangat kuat dalam hal pendekatan terhadap subjek penelitian;
  • Aktivis LSM memiliki antusiasme cukup besar dalam mendalami persoalan yang diteliti;
  • Meskipun berlatarbelakang pendidikan universitas tapi mereka jarang yang memiliki kapasitas dalam penguasaan basis-basis penelitian sosial yang baik. Kelemahan bukan hanya terjadi pada pemahaman tentang metodologi dan pembacaan atas kepustakaan yang relevan (dan karena itu sering kesulitan merumuskan persoalan yang akan diteliti), melainkan bahkan sampai pada level metode yang dipakai untuk mengumpulkan dan mengolah data lapangan.
  • Ada problem besar dalam cara para aktivis/peneliti muda menuangkan hasil temuan penelitian mereka ke dalam bentuk tulisan yang sesuai kaidah-kaidah penulisan yang baik;
  • Ada kesulitan membedakan antara rasa simpati dengan keharusan memiliki empati terhadap subjek, sehingga tulisan yang dihasilkan cenderung sangat kuat muatan keberpihakannya tapi cenderung lemah aspek analitisnya;
  • Kemampuan untuk menarik relasi antara sebuah persoalan partikular pada kasus tertentu dengan problem yang lebih besar masih sangat lemah.

Beberapa temuan di atas mengindikasikan bahwa dalam konteks kebutuhan akan advokasi sosial yang berbasis pada pengetahuan mendalam tentang subjek yang diadvokasi, ada ruang kosong yang memisahkan antara mereka yang sudah memiliki kemampuan analisa sosial yang baik dengan yang tidak. Ruang atau jenjang kosong ini membentuk sebuah palung (niche) yang harus diisi melalui aktivitas-aktivitas yang memungkinkan elemen-elemen masyarakat sipil di Indonesia bisa saling menguatkan satu dengan lainnya agar upaya-upaya advokasi sosial yang akan dibangun bisa lebih kuat daya dorongnya bagi perubahan sosial.

Untuk konteks semacam itulah the Interseksi Foundation merancang program sebagai upaya berbagi pengetahuan dalam bentuk pelatihan dan praktek penelitian untuk para pekerja di lembaga-lembaga masyarakat sipil (civil society organization, CSO) yang bergerak pada isu-isu hak asasi manusia, demokrasi, kewarganegaraan dan isu-isu diversitas kultural di wilayahnya masing-masing. Pelatihan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para aktivis lembaga-lembaga masyarakat sipil dalam melakukan kajian mendalam tentang persoalan yang menjadi subjek advokasinya masing-masing.
Tujuan
Secara umum, program aktivitas ini bertujuan:
  • Mendiseminasikan wawasan mengenai isu-isu kewarganegaraan dalam konteks praktik berdemokrasi dan proses demokratisasi dalam konteks masyarakat majemuk di Indonesia.
  • Membagikan pemahaman mengenai penelitian sosial (penyusunan rancangan penelitian, tinjauan kepustakaan, perumusan masalah penelitian, penggunaan kerangka konseptual/teori, teknik wawancara mendalam) dan meningkatkan kemampuan mengelola gagasan dalam bentuk tulisan yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan akademis.
  • Memperkuat upaya advokasi isu-isu HAM, demokrasi, dan kewarganegaraan di Indonesia melalui peningkatan kapasitas aktor-aktor pelaku advokasi sosial.
  • Memberi dukungan kepada elemen masyarakat sipil yang selama ini bekerja dalam bidang advokasi sosial. Melalui program pelatihan ini para aktivis akan dibekali dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian sosial yang hasilnya bisa dipercaya karena menggunakan metode pengumpulan dan analisa data yang dapat dipertanggungjawabkan. Melatih aktivis melakukan penelitian adalah cara strategis untuk meningkatkan kemampuan analisa sosial tentang berbagai isu sosial yang menjadi keprihatian mereka masing-masing, dan melatih mereka menuliskannya dalam cara yang sistematis, logis, dan mudah dipahami.


Bentuk Aktivitas
Program Pelatihan Penelitian yang diselenggarakan oleh the Interseksi Foundation, Jakarta, bukanlah sebuah kursus singkat penelitian sosial atau bengkel-bengkel penulisan akademik yang biasanya hanya berlangsung selama lebih kurang satu atau dua minggu. Berbeda dengan pelatihan-pelatihan seperti itu, progam pelatihan ini akan berlangsung hampir selama 6 (enam) sampai 7 (tujuh) bulan. Oleh karena itu, mereka yang lebih berminat mengikuti kursus-kursus singkat tidak dianjurkan melamar program ini.

Aktivitas utama program ini akan akan difokuskan pada (1) pemberian pelatihan di dalam kelas untuk memberi bekal pemahaman konseptual tentang subjek dan isu yang akan diteliti, serta pembekalan metodologis; (2) pemberian pelatihan melalui praktek penelitian di lapangan, dan; (3) pelatihan penulisan laporan penelitian.

Dalam kelas, para peserta akan diajak mendiskusikan beberapa materi mengenai isu-isu demokrasi, kewargaan, dan relasinya dengan problem-problem diversitas etnik, agama, dan kebudayaan masyarakat Indonesia. Sebelum diterjunkan dalam praktek penelitian di lapangan, semua peserta akan dibekali dengan pengetahuan tentang rancangan penelitian, formulasi problem yang akan diteliti, teknik pengumpulan dan analisa data, dan cara menyusun pedoman wawancara.

Pada tahap praktik penelitian lapangan seluruh peserta diharapkan dapat melakukan penelitian mandiri tentang subjek penelitian yang diajukannya dalam Rancangan Penelitian di wilayah domisilinya masing-masing. Melalui tahap ini peserta diharapkan bisa melakukan pengumpulan data secara sistematik dan mempraktekkan materi yang telah diterimanya selama workshop persiapan penelitian. Output tahap ini adalah sebuah Draft Laporan Penelitian.

Workshop Pelatihan Penulisan diberikan satu bulan setelah peserta selesai melakukan penelitian lapangan dan mempersiapkan Draft Laporan Penelitian. Dalam workshop ini semua draft laporan yang ditulis peserta akan didiskusikan secara kritis sambil pada saat yang sama peserta diberi pemahaman tentang standar-standar penulisan ilmiah.

Output
  • Meningkatnya kemampuan analisa sosial para peserta pelatihan tentang isu-isu kewarganegaraan, demokrasi, dan hak asasi manusia.
  • Peserta pelatihan akan memiliki kemampuan dasar penelitian sosial dan kemampuan analisa sosial yang baik, yang bisa digunakan untuk mendukung aktivitas advokasi di daerahnya masing-masing.
  • Peningkatan kemampuan masing-masing peserta pelatihan dalam menuliskan gagasan dan laporan peristiwa yang menyangkut isu-isu kewarganegaraan, hak asasi manusia, ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan praktek-praktek diskriminasi lain.
  • Setiap peserta pelatihan akan membagi pengetahuannya dengan koleganya masing-masing, sehingga kemampuan dasar-dasar penelitian tersebut bisa pula dimiliki oleh para aktivis yang tidak secara langsung mengikuti pelatihan ini.


Time Frame Pelaksanaan Kegiatan
Berikut adalah Kerangka Waktu pelaksanaan kegiatan Program Pelatihan Penelitian tahun 2013 (tentatif).

No. Kegiatan Waktu Pelaksanaan
1. Rekruitmen Peserta Pelatihan 20 Juni – 31 Juli 2013
2. Pengumuman Hasil Selesksi Peserta 31 Agustus 2013
3. Workshop Pelatihan Penelitian 2 - 6 September 2013
4. Perbaikan Desain Penelitian 6 - 15 September 2013
5. Praktek Penelitian Lapangan 16 September - 16 Oktober 2013
6. Supervisi/Monitoring 1 - 5 Oktober
7. Penulisan Draft Laporan Penelitian 17 Oktober - 17 November 2013
8. Workshop Penulisan Laporan 20 - 24 November 2013
9. Perbaikan Naskah Laporan Penelitian 25 November - 20 Desember 2013
10. Pengiriman Laporan Final 22 Desember 2013 - 5 Januari 2014

Subjek Penelitian
Setiap individu calon peserta pelatihan penelitian mengajukan surat aplikasi untuk menjadi peserta pelatihan dengan melampirkan TOR singkat berisi draft rancangan penelitian dengan topik yang dipilih yang sesuai dengan tema umum program pelatihan ini, dan relevan dengan konteks lokasi asal para calon peserta. The Interseksi Foundation tidak memberikan batasan khusus mengenai spektrum isu yang dapat diangkat menjadi subyek penelitian, tetapi setidaknya dalam TOR/ rancangan penelitian yang diusulkan peserta dapat menggambarkan keterkaitan antara isu-isu demokrasi dari daerah asal peserta dengan potret kebangsaan atau praktik kenegaraan Indonesia; atau bahkan dengan konteks internasional, yang lebih luas. Pada prinsipnya setiap peserta bebas menentukan tema spesifik, sesuai dengan kondisi di daerah asal peserta pelatihan.

Di bawah ini adalah beberapa tema alternatif topik penelitian yang dapat diusulkan oleh peserta, meskipun, sesuai dengan prinsip di atas, peserta dapat menentukan sendiri topik penelitiannya masing-masing:
  • Kekerabatan, dan lapisan sosial dalam konteks dinamik demokrasi lokal
  • Ruang Urban dan problem kelompok-kelompok marginal
  • Isu-isu tentang pluralitas ekspresi kultural dan keagamaan
  • Isu-isu tentang konflik sumberdaya alam


Peserta dan Syarat Pelamar
Secara khusus, pelatihan ini dirancang untuk menambah kemampuan para pelaku advokasi dan/atau peneliti muda dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian sosial pada isu-isu demokrasi, politik lokal, dan HAM. Pelatihan ini diutamakan diikuti oleh peneliti/aktivis muda, baik laki-laki maupun perempuan, yang berusia maksimal 30 tahun pada tahun 2013 ini.

Peserta pelatihan ini akan dinilai berdasarkan kemampuan dasar yang sudah dimilikinya. Karena itu, untuk mengikuti seleksi peserta program ini setiap calon peserta harus mengirimkan draft rancangan penelitian tentang isu demokrasi dan kewarganegaraan di wilayahnya masing-masing. Draft rancangan penelitian inilah yang kelak akan disempurnakan dalam pelatihan, sehingga peserta benar-benar akan mampu melakukan seluruh tahapan dan proses penelitian sosial, mulai dari landasan filosofis, pembekalan teoritis dan metodis, sampai pembuatan rancangan penelitian yang bisa diaplikasikan dalam penelitian lapangan, dan penulisan laporan akhir penelitian yang memenuhi standar penulisan yang baik.

Selain faktor representasi wilayah, makalah konsep dan draft rancangan penelitian inilah yang akan dijadikan acuan tim seleksi dalam memilih calon peserta pelatihan. Dalam pelaksanaan program, dua hal ini pula yang akan pertama-tama dibahas dalam workshop persiapan agar peserta memiliki pemahaman yang baik tentang apa kekeliruan mendasar, kalau ada, dari rancangan penelitian yang dibuatnya, dan tentang kemungkinan-kemungkinan konseptual dan metodis yang bisa dipilih untuk melakukan penelitian tentang subjek yang dipilihnya.

Untuk tahun 2013 Interseksi akan memilih 8 (delapan) orang peserta pelatihan dengan komposisi 6 (enam) orang peserta dari Sulawesi ( Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan), dan 2 (dua) orang dari kawasan pulau Kalimantan.

Peserta harus memenuhi persyaratan yang ditentukan :
  • Memiliki minat besar pada dunia penelitian dan penulisan akademik (contoh tulisan mohon dilampirkan dalam lamaran).
  • Berumur di bawah 31 35 (tiga puluh lima) tahun pada saat mendaftarkan diri. Ini dibuktikan dengan kartu identitas diri yang masih berlaku
  • Memiliki waktu selama kurang lebih 6 (enam) bulan, yang sebagiannya dapat dialokasikan untuk mengikuti seluruh tahap kegiatan program pelatihan ini
  • Telah lulus pendidikan Strata-1 (S-1)
  • Bekerja untuk organisasi masyarakat sipil yang aktif melakukan advokasi untuk kasus-kasus kewarganegaraan, HAM, konflik sumber daya alam, pluralitas ekspresi seni dan/atau keagamaan.
  • Mendapatkan rekomendasi dari lembaga yang diwakili
  • Berdomisili di salah satu daerah ini : Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan
  • Bersedia mengikuti program ini dari awal sampai selesai, termasuk di dalamnya kemungkinan untuk meninggalkan kota tempat tinggal masing-masing untuk jangka waktu maksimal satu setengah bulan.
  • Membuat draft Desain/Rancangan Penelitian (Formulir dapat didownload di sini)
  • Membawa komputer laptop sendiri selama mengikut program.

Calon peserta pelatihan ini harus menyerahkan Draft Rancangan Penelitian yang akan dilakukannya paling lambat tgl. 20 Juli 2013.


Rekruitmen Peserta dan Surat Lamaran
Rekruitmen peserta dilakukan melalui dua cara: pertama, melalui jaringan kerja organisasi-organisasi masyarakat sipil dengan meminta beberapa lembaga di daerah untuk mengirimkan wakilnya dalam seleksi peserta, dan; kedua, melalui undangan terbuka yang dipublikasikan melalui situs web Interseksi dan melalui beberapa mailing list dan jaringan media sosial di internet.

Surat Lamaran calon peserta harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang singkat dan jelas.

Para calon peserta pelatihan juga harus menyertakan dokumen berikut ini bersama dengan surat lamaran mereka (periksa lembar Check List sebelum anda mengirimkan surat lamaran):
  • Surat Lamaran
  • Formulir Biodata/CV
  • Salinan Ijazah Strata-1 (S-1)
  • Surat Rekomendasi dari Pimpinan Lembaga yang diwakili
  • Formulir Kesediaan Berpartisipasi dalam Program Pelatihan yang sudah diisi lengkap
  • Draft Rancangan Penelitian (dengan format sesuai formulir yang disediakan)
  • Contoh tulisan yang pernah dipublikasikan
  • Salinan Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku
  • Foto diri (berwarna, dalam format JPG)

Batas Waktu Pengiriman Lamaran
Aplikasi/lamaran peserta pelatihan penelitian ditutup pada 31 Juli 2013. Surat Lamaran dikirim ke alamat:
Yayasan INTERSEKSI
u.p. Monica Dian Adelina
Jl. Kompleks Batan
No. BL E/17, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520
Phone/Fax : 021-788 39335
Email: interseksi[at]gmail[dot]com dan/atau office [at] interseksi [dot] org;
Web Site: http://interseksi.org

Tahapan Kegiatan
  • Rekruitmen Peserta. Peserta pelatihan dipilih dari para pekerja organisasi masyarakat sipil di beberapa daerah di Sulawesi dan Kalimantan. Setiap calon peserta diharuskan mengirimkan draft rencana penelitian yang akan mereka lakukan. Kriteria pemilihan terutama didasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian, sehingga materi yang akan diberikan dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaan dasar-dasar penelitian yang sudah dimiliki (atau belum dimiliki) oleh masing-masing peserta.
  • Workshop Persiapan Penelitian. Workshop pelatihan pertama dilakukan dalam kelas. Setiap hari akan terdiri dari 2-3 Sessi, yang dimulai dari pukul 09.00 pagi sampai kurang lebih pukul 21.00. Draft Rancangan Penelitian yang diajukan oleh masing-masing peserta yang lolos seleksi akan dibahas dan diperbaiki dalam workshop pelatihan ini. Rincian jadwal dan materi workshop Pelatihan akan diberitahukan kepada seluruh peserta yang terpilih melalui surat elektronik (email).
  • Praktek Penelitian Lapangan. Yayasan Interseksi menyediakan waktu total selama 20-30 hari bagi masing-masing peserta pelatihan untuk melakukan praktek penelitian lapangan secara mandiri. Peserta bisa menentukan sendiri jadwal peneltiannnya masing-masing dengan mengacu pada interval waktu tersebut. Lokasi praktek penelitian adalah wilayah asal peserta pelatihan.
  • Supervisi. Yayasan Interseksi akan menugaskan sekurang-kurangnya satu orang peneliti senior untuk melakukan supervisi di masing-masing lokasi praktek penelitian lapangan yang dipilih oleh peserta. Tujuan supervisi adalah untuk membantu para peserta pelatihan memecahkan persoalan yang dihadapinya selama melakukan penelitian lapangan.
  • Sebagai alternatif supervisi, Yayasan Interseksi dapat melaksanakan pertemuan di tengah penelitian (interim meeting) yang diikuti oleh seluruh peserta pelatihan dan para peneliti Interseksi. Tujuannya untuk mendiskusikan temuan-temuan awal/data yang sudah dikumpulkan oleh peserta pelatihan, dan membahas masalah-masalah yang ditemui peserta selama melakukan praktek penelitian.
  • Penulisan Draft Laporan Penelitian. Semua peserta akan diberi waktu satu bulan untuk menulis sebuah draft laporan penelitian berdasarkan temuan data lapangannya masing-masing.
  • Workshop Penulisan. Draft Laporan penelitian akan dibahas secara mendalam dan menyeluruh dalam sebuah workshop penulisan setelah peserta menyelesaikan praktek penelitian lapangan. Selama workshop peserta diwajibkan melakukan perbaikan laporannya masing-masing berdasarkan masukan yang diterima dari semua peserta workshop.
  • Perbaikan Laporan. Setelah mengikuti workshop penulisan laporan, setiap peserta diwajibkan melakukan perbaikan naskah laporan penelitiannya masing-masing berdasarkan pada masukan yang telah mereka terima selama mengikuti workshop.
  • Editing. Seluruh tulisan laporan peserta pelatihan akan disunting kembali oleh tim editor Yayasan Interseksi agar dapat memenuhi tuntutan standar penulisan akademis sekaligus mudah dipahami oleh kalangan pembaca yang lebih luas.


Acuan Penulisan Draft Rancangan Penelitian
Formulir Draft Rancangan Penelitian dapat didownload di sini.

Draft Rancangan Penelitian yang akan diajukan oleh masing-masing calon peserta, paling tidak, harus meliputi beberapa aspek berikut:
  • Judul atau tema penelitian
  • Latar belakang/Rasional tentang mengapa tema penelitian tersebut dianggap penting untuk diteliti, dan apa relevansinya dengan persoalan demokrasi dan kewarganegaraan.
  • Literature review atau tinjauan pustaka yang relevan dengan isu/tema yang akan diteliti. Ini bisa berisi ulasan teoritis yang mengacu pada jurnal atau buku dan sumber pustaka ilmiah lainnya, tapi bisa pula berupa ulasan tentang penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh pihak lain. Point penting dari review literatur adalah melihat apa yang sudah pernah dibahas oleh pihak lain dan apa kelemahan bahasan tersebut, sehingga atas dasar tersebut penelitian yang diusulkan peserta memang perlu dilakukan.
  • Rumusan masalah yang akan diteliti. Draft Rancangan penelitian diharapkan memiliki rumusan persoalan yang akan diteliti dengan mengacu pada rasional dan tinjauan pustaka di atas.
  • Metode penelitian yang akan dipakai untuk mengumpulkan dan menganalisa data. Calon peserta pelatihan juga diharapkan bisa menetapkan sumber-sumber data yang akan digalinya dalam penelitian lapangan.
  • Jadwal Peneltian Lapangan. Secara umum, panitia menyediakn waktu total selama 30 hari bagi masing-masing peserta untuk melakukan praktek penelitian lapangan yang dimulai dari tanggal 5 Oktober - 5 November 2013 (lihat time frame kegiatan). Calon peserta diharapkan bisa membuat jadwal penelitiannya masing-masing menyesuaikan dengan interval waktu tersebut.


Workshop Persiapan Penelitian
Workshop pelatihan pertama dilakukan dalam kelas pada tanggal 2 - 5 September 2013. Organisasi acara pada setiap hari akan terdiri dari beberapa Sessi pembekalan materi dan presentasi peserta yang dimulai dari pukul 09.00 pagi sampai kurang lebih pukul 21.00. Draft Rancangan Penelitian yang diajukan oleh masing-masing peserta akan dibahas dan diperbaiki dalam workshop pelatihan ini. Rincian jadwal dan materi workshop Pelatihan akan diberitahukan kepada seluruh peserta yang terpilih melalui surat elektronik (email).

Praktek Penelitian Lapangan
Yayasan Interseksi menyediakan waktu total selama 30 hari bagi masing-masing peserta pelatihan untuk melakukan praktek penelitian lapangan secara mandiri. Interval waktunya dimulai dari tanggal 16 September - 16 Oktober 2013. Peserta bisa menentukan sendiri jadwal peneltiannnya masing-masing dengan mengacu pada interval waktu tersebut.

Interim Meeting
Kecuali ada perubahan dalam agenda kerja Interseksi, di tengah-tengah masa praktek penelitian Interseksi akan mengundang seluruh peserta pelatihan mengikuti Pertemuan-Antara (Interim Meeting). Tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan yang dicapai oleh masing-masing peserta selama praktek penelitian. Interim meeting juga dimaksudkan agar para peserta dapat membagi bersama pengalaman yang mereka temui di lapangan, serta membantu para peserta memecahkan persoalan yang dihadapinya selama melakukan penelitian lapangan. Interim Meeting dijadwalkan akan berlangsung tgl. 1 - 5 Oktober 2013 (tentatif).

Penulisan Laporan
Setelah praktek penelitian lapangan, seluruh peserta wajib menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk sebuah laporan. Panitia menyediakan waktu sekitar 1 (satu) bulan, yakni mulai tgl. 17 Oktober sampai tgl. 17 November 2013, bagi masing-masing peserta untuk menuliskan draft laporan. Draft laporan penelitian harus sudah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 18 November 2013 pada alamat email ini: interseksi[at]gmail[dot]com dan/atau office[at]interseksi[dot]org.

Panduan Penulisan Laporan
Laporan tertulis yang diserahkan oleh masing-masing peserta, paling tidak, harus meliputi beberapa aspek berikut:
  • Latar belakang masalah, berisi pemaparan singkat (dan jelas) tentang latar belakang yang bisa memberi gambaran meyakinkan bahwa subjek penelitian yang dipilih peneliti itu memang menarik dan penting untuk diteliti. Banyak peneliti pemula yang sering terjebak menuliskan latar belakang secara panjang lebar, seolah ingin menjelaskan segala hal menyangkut isu/tema penelitiannya dalam latar belakang ini. Padahal yang dipentingkan dari sebuah latar belakang sebuah desain dan/atau laporan penelitian sosial adalah upaya awal membangun argumen yang cukup meyakinkan bahwa apa yang akan dilakukan pada bagian-bagian lain memiliki konteks persoalan yang jelas dan memang relevan untuk dikerjakan.

  • Tinjauan pustaka (Literature review), memuat tinjauan kepustakaan/literatur yang relevan dengan subyek penelitian. Kekeliruan umum yang sering ditemui dalam membuat tinjauan pustaka adalah karena orang mengira sebuah tinjauan pustaka merupakan atau identik dengan kerangka teori yang dipakai untuk memahami persoalan yang diteliti. Tinjauan pustaka memang akan banyak membantu kita memahami persoalan yang akan kita teliti, tapi ia bukan sebuah acuan teoritis yang akan dibuktikan benar atau keliru dalam sebuah penelitian. Tanpa tinjauan pustaka yang baik seorang peneliti sosial akan kesulitan merumuskan problem yang akan ditelitinya dalam cara yang benar-benar bisa meyakinkan para pembaca yang kritis.

    Filosofi sebuah tinjauan pustaka dalam sebuah penelitian sosial adalah bahwa sebagai aktivitas intelektual sebuah penelitian tidak mungkin dimulai dari nol sama sekali. Selalu akan ada jejak-jejak intelektual orang lain yang telah mendahului apa yang kita kerjakan, baik yang langsung terkait dengan tema yang sedang kita kerjakan maupun yang tidak. Membuat tinjauan pustaka bukan lain adalah upaya kita menghargai pekerjaan/temuan intelektual orang lain, meskipun kita tidak sepakat dengan temuan itu. Melalui upaya membaca kepustakaan yang relevan, seorang peneliti yang akan meneliti sebuah subjek dapat melihat posisi penelitiannya sendiri di tengah-tengah konteks karya-karya intelektual orang lain. Dengan cara itu paling tidak kita bisa menghindari tejadinya repetisi (pengulangan) bukan hanya tema tapi juga masalah yang diteliti tanpa adanya unsur novelty (kebaruan) dalam penelitian yang akan kita kerjakan, yang bisa saja berujung pada tuduhan bahwa kita sedang melakukan praktek plagiarisme.

    Ada dua hal yang perlu diperhatikan dan dicatat dalam membuat sebuah tinjauan pustaka. Pertama, apa tesis umum atau argumen utama karya yang kita bahas yang paling relevan dengan tema penelitian yang akan kita lakukan. Sebuah karya mungkin memuat bermacam-macam uraian yang terlihat sangat penting yang sering membuat kita kebingungan menentukan mana tesis utamanya. Untuk mengatasi masalah seperti ini, tetaplah fokus pada tema utama yang akan kita kerjakan dalam penelitian, sehingga kita bisa memilah dan memilih di antara sekian banyak argumen tadi mana yang paling relevan.

    Kedua, kalau tesis umumnya sudah bisa kita uraikan secara singkat tuliskanlah apa yang menurut Anda merupakan kelemahan(-kelemahan) utama dari tesis tersebut. Tidak ada karya yang bisa sepenuhnya sempurna, dan kalau Anda kesulitan merumuskan kritik Anda sendiri terhadap tesis tersebut, carilah rujukan lain yang bisa membantu Anda mengetahui kelemahannya.

    Dari uraian tentang keterbatasan-keterbatasan kajian yang dilakukan oleh orang lain itulah kita bisa melihat dua hal sekaligus: pertama, masalah apa saja yang masih bisa diteliti baik karena belum dibahas oleh karya-karya yang kita bahas tersebut maupun karena kita melihat kemungkin untuk melihat soal yang sama dari sisi yang berbeda; dan kedua, kontribusi yang akan kita berikan kepada upaya pembentukan ilmu pengetahuan, karena kita tidak sedang akan melakukan repetisi belaka.

  • Rumusan masalah. Sebuah penelitian pada dasarnya dimulai dari sebuah pertanyaan. Tidak ada penelitian tanpa rumusan tentang masalah apa sebenarnya yang akan diteliti. Dengan demikian, merumuskan masalah penelitian merupakan salah satu fase paling penting dalam membuat sebuah desain penelitian. Meskipun terkesan sederhana, tapi tahap atau bagian inilah yang akan memperlihatkan apakah sebuah penelitian pantas dilakukan atau tidak. Sebuah penelitian kualitatif memang memungkinkan kita merevisi atau mengubah rumusan masalah yang diteliti sambil melakukan penelitian di lapangan, tapi hal tersebut tetap saja tidak menghilangkan keharusan bahwa penelitian yang sama memang harus memiliki rumusan masalah penelitian yang jelas.

    Cara terbaik merumuskan persoalan adalah dengan mengacu secara ketat pada hasil bacaan dalam tahap tinjauan pustaka (literatur review) di atas.

  • Metodologi/metode, menerangkan metode pengumpulan data yang sudah dilakukan selama proses penelitian di lapangan. Pada bagian ini yang ditulis bukanlah "teori(-teori) metodologi" yang akan dipakai dalam penelitian, melainkan "cerita" tentang metode apa yang sudah dipraktekkan selama penelitian.

  • Setting Lokasi/isu menjelaskan deskripsi wilayah atau kondisi disertai peta sederhana lokasi/isu tersebut. Harapa diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan "peta" dalam hal ini tidak harus berarti peta sebuah wilayah besar, tapi bisa juga berupa peta lokasi kawasan yang diteliti.

  • Temuan-temuan lapangan dan analisisnya. Sub bagian ini berisi paparan data yang sudah berhasil ditemukan selama penelitian, yang relevan dengan masalah penelitian yang sudah dirumuskan sebelumnya, dan analisa kritis tentangnya, serta pengajuan argumen tentang apa relasi antara data tentang realitas tersebut dengan isu HAM yang lebih besar.

  • Kesimpulan dan Rekomendasi, berisi ringkasan hasil penelitian yang berguna untuk menekankan kembali inti pembahasan dan rekomendasi yang digunakan untuk rekomendasi kebijakan tentang isu yang relevan dengan subjek penelitian.

  • Bibliografi yang ditulis sesui dengan standar penulisan yang telah ditetapkan oleh Yayasan Interseksi.



Workshop Penulisan Laporan
Draft Laporan penelitian akan dibahas secara mendalam dan menyeluruh dalam sebuah workshop penulisan pada tgl. 20-24 November 2013. Selama workshop peserta diwajibkan melakukan perbaikan laporannya masing-masing berdasarkan masukan yang diterima baik dari para narasumber akademisi maupun dari semua peserta workshop.

Biaya Kegiatan
Diclaimer: The Interseksi Foundation bukan lembaga/agensi donor pemberi hibah atau agensi penyalur beasiswa dari pihak lain. Harap diperhatikan bahwa bantuan dana di bawah ini bukanlah hibah (grant) dan/atau beasiswa dari the Interseksi Foundation kepada peserta, melainkan merupakan bagian dari komponen biaya penyelenggaraan program secara keseluruhan.

Peserta yang berasalah dari wilayah target (Sulawesi dan Kalimantan untuk tahun 2013) yang dinyatakan lolos seleksi penerimaan tidak akan dikenakan biaya apa pun untuk mengikuti seluruh tahapan aktivitas pelatihan penelitian ini. Semua biaya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan ini akan ditanggung oleh Interseksi. Panitia juga menyediakan sebagian biaya yang diperlukan selama peserta pelatihan melakukan praktek penelitian lapangan.

Komponen-komponen biaya yang sepenuhnya akan ditanggung oleh pihak Interseksi adalah sebagai berikut:
  • tiket pesawat pulang pergi Jakarta - masing-masing asal domisili peserta
  • biaya penginapan dan konsumsi selama mengikuti workshop pelatihan dan penulisan laporan
  • biaya keikutsertaan dalam interim-meeting (kalau diperlukan)
  • asuransi kecelakaan selama melakukan praktek penelitian
Adapun komponen biaya penelitian lapangan yang sebagiannya dapat diajukan untuk mendapatkan penggantian kepada Interseksi meliputi:
  • biaya transportasi lokal dari bandara dan/atau terminal bis/stasiun kereta api ke lokasi workshop dan dari lokasi workshop ke bandara dan atau terminal bis/stasiun kereta api
  • biaya untuk kebutuhan makan-minum selama penelitian (30 hari)
  • biaya akomodasi (kalau diperlukan)

Komponen-komponen tersebut (kecuali Asuransi Kecelakaan dan workshop persiapan dan workshop penulisan) akan dibayarkan berdasarkan bukti pengeluaran yang syah yang diserahkan oleh peserta, dan dengan mengacu pada batasan maksimal yang bisa ditanggung oleh pihak the Interseksi Foundation.

Kami tidak akan mengganti biaya untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya pengeluaran personal selama berlangsungnya kegiatan ini.

Tentang Pengembalian Biaya Pelatihan
Mulai periode pelatihan tahun 2013 ini Interseksi akan menerapkan sanksi administratif berupa pengembalian biaya pelatihan kepada para peserta terpilih yang, tanpa alasan yang benar-benar kuat, secara sepihak memutuskan tidak melanjutkan keikutsertaannya padahal yang bersangkutan sudah sempat mengikuti sebagian tahapan program (berhenti di tengah jalan). Besarnya pengembalian dana akan dihitung secara detail berdasarkan pada biaya aktual yang telah dikeluarkan oleh Interseksi untuk peserta yang bersangkutan.

Semangatnya tentu saja adalah agar sanksi semacam ini tidak terlampau dirisaukan karena kami percaya bahwa setiap orang yang mengajukan lamaran (dan telah membaca panduan program ini secara seksama) adalah orang-orang yang berintegritas baik. Sanksi ini hanya akan menjadi persoalan bagi mereka yang memang tidak memiliki niat serius mengikuti program ini.

Prinsip utama Interseksi dalam pelaksanaan program pelatihan ini adalah memberikan kemudahan kepada mereka yang memang benar-benar memiliki minat besar dan integritas tinggi dalam melaksanakan seluruh tahap kegiatan. Setiap periode pelatihan kami dengan berat hati harus menolak puluhan pelamar, karena kapasitas dan dana kami sangat terbatas. Maka kalau ada peserta yang sudah terpilih dan sempat mengikuti sebagian tahapan program ini kemudian secara sepihak memutuskan untuk tidak melanjutkan keikutsertaannya tanpa alasan yang benar-benar kuat, ia bukan saja telah mengakibatkan pemborosan dana yang harus kami pertanggungjawabkan, tapi juga telah menyia-nyiakan peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh calon-calon peserta lain yang tidak beruntung terpilih menjadi peserta.

Meskipun sangat jarang terjadi, tapi dari pengalaman periode-periode pelatihan sebelumnya kami belajar bahwa selalu saja ada peserta yang tanpa alasan kuat tiba-tiba secara sepihak mengundurkan diri dari keikutsertaannya dalam program pelatihan ini. Padahal setiap peserta yang lolos seleksi sudah menandatangi surat kesediaan partisipasi, surat kontrak kerjasama, bahkan surat jaminan dari pimpinan lembaga tempatnya bekerja. Faktanya memang selalu ada orang yang memiliki masalah dengan integritasnya sendiri. Dari pengalaman seperti itu kami memutuskan untuk menetapkan sanksi pengembalian biaya pelatihan yang sudah kami keluarkan selama peserta yang bersangkutan mengikuti kegiatan sampai ia memutuskan mundur dari keikutsertaannya dalam program ini. Sanksi ini akan dicantumkan dalam Kontrak Kerjasama antara pihak Interseksi dengan para peserta terpilih.

Kontak Kami
Kalau ada informasi yang belum jelas silakan hubungi kami melalui:
Monica Dian Adelina via telepon di 021-78839335 atau via email ke monica.interseksi@gmail.com atau monica@interseksi.org.