|  

 

 

 

Komunitas  Pintu Gerbang:

Pengaruh Tipomorfologi Permukiman terhadap Pola Spasial Kota[1]

 

Bambang Heryanto

Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota, Fakultas Tenik Universitas Hasanuddin-Makassar

 

 

bambang_heryanto

Abstrak

Satu diantara tujuan hidup dari pada masyarakat secara hakiki dan universal adalah mengejar kebahagian. Apabila dikaitkan dengan preferensi masyarakat untuk memilih tempat tinggal tujuan dapat dijabarkan dalam bentuk suatu permukiman yang memberi kenyamanan, keindahan, kesejukan, ketentraman, dan keamanan dalam mencapai tujuan tersebut. Ketiga preferensi pemilihan untuk memilih tempat tinggal tersebut secara langsung akan memberi dampak terhadap bentuk atau ruang kota dimana mereka tinggal. Globalisasi telah memberi pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat kota didunia termasuk dalam memilih bertempat tinggal. Kota-kota di Indonesia tidak luput dari pada bentuk permukiman baru yang telah tiga dekade berkembang di kota-kota Barat. Permukiman baru berupa komunitas pintu gerbang  (KPG) pada akhir-akhir ini muncul di wilayah pusat kota maupun di wilayah pinggiran di sebagian besar kota-kota di Indonesia. Pola permukiman karateristik ini secara langsung memberi dampak terhadap pola sosial, ekonomi, dan spasial lingkungan di sekitarnya serta wilayah kota. Beberapa faktor yang dibahas antara lain pengaruhnya terhadap kota ditinjau dari lokasi, tipe, bentuk, fasilitas, dan dampak terhadap pola sosial, ekonomi, visual, dan spasial kota.

 

Kata kunci: komunitas, kota, permukiman, tipomorfologi, pola spasial.

 

 

Pendahuluan

Satu diantara tujuan hidup dari pada masyarakat adalah mengejar kebahagian. Apabila dikaitkan dengan preferensi masyarakat untuk memilih tempat tinggal, tujuan ini dapat dijabarkan dalam bentuk suatu permukiman yang memberi kenyamanan, keindahan, dan keamanan. Ketiga preferensi untuk memilih tempat tinggal tersebut secara langsung akan memberi dampak terhadap bentuk atau pola spasial kota dimana mereka tinggal.

 

Globalisasi saat ini telah memberi pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat kota didunia dalam memilh tempat tinggal dalam suatu permukiman. Gaya hidup masyarakat dalam memilih tempat tinggal telah memberi dampak terhadap berkembangnya permukiman baru di wilayah perkotaan di dunia. Kota-kota di Indonesia tidak luput pula dari fenomena ini yaitu, tumbuhnya pola permukiman baru yang telah berkembang selama tiga dekade terakhir di kota-kota Barat.

 

Perancangan tempat tinggal untuk masyarakat yang memenuhi ketiga preferensi tersebut telah dijabarkan semenjak kota awal sampai dengan kota di abad duapuluh dari penjabaran buku "Kota Taman Masa Depan." Pola permukiman modern ini untuk menjawab kondisi lingkungan perkotaan di Eropa pasca Revolusi Industri yang buruk. Perancangan permukiman baru diperkotaan yang kembali ke konsep pola alam pedesaan diteruskan ke kota-kota di seluruh dunia pada awal abad duapuluh sampai saat ini. Kota-kota di Indonesia tidak luput pula dari gelombang paradigma baru ini dengan dibangunnya kota-kota taman di Indonesia, terutama di Jawa pada masa kolonial. 

 

Pada akhir abad ke 20, yaitu awal 1980an, timbul pola permukiman kota modern di Barat, khusunya di Amerika Serikat. Pola permukiman baru ini mengadaptasi pola permukiman kota-kota awal dan kota abad pertengahan yaitu kota berdinding (walled city). Permukiman baru tersebut merupakan turunan dari konsep Kota Taman yang pola bentuknya dibatasi oleh dinding pagar di sekelililingnya. Permukiman modern ini secara popular diberi nama walled community atau gated community atau komunitas pintu gerbang (KPG). Seperti halnya kota-kota lain di dunia, permukiman KPG pada akhir-akhir semarak berkembang di sebagian besar kota-kota di Indonesia.

 

Sejarah Perkembangan Komunitas Pintu Gerbang

Tempat tinggal dan kota merupakan isu yang selalu menjadi perhatian para ilmuan di bidang pengkajian perkotaan (urban studies) untuk dipelajari (Low, 1999; Zukin, 1995; Lefebvre  2000, Sasken, 1995). Konsep daripada permukiman KPG adalah suatu permukiman dimana batas wilayahnya diberi pagar, merupakan wilayah privat, dan mempunyai pintu penjagaan untuk keluar masuk penghuni dan tamu. Bentuk dari pada permukiman tipe  ini sebetulnya sudah dimiliki oleh kota-kota awal sampai dengan kota pada abad pertengahan didunia (Kostof, 1991; Moriss, 1994, Low, 2003) yaitu, kota-kota Mesopotamia, Mesir, Yunani, Romawi, Cina, dan Indonesia (Gambar 1). Kota-kota di masa itu merupakan suatu kawasan permukiman yang dikelilingi oleh dinding pertahanan yang tebal dan tinggi dengan beberapa pintu gerbang untuk akses keluar dan masuk masyarakat. Maksud dan tujuan penguasa di masa kota-kota awal dan pertengahan mendirikan dinding pertahanan sekeliling kota adalah untuk memberi suasana aman bagi warganya dari serangan musuh dari luar dinding kota.

 

Revolusi industri di akhir abad ke 19 memberi dampak perubahan pada konsep pola permukiman. Kota-kota industri di Inggris memberi dampak bagi permukiman-permukiman yang berada disekitarnya. Asap tebal dari pabrik-pabrik serta kepadatan permukiman  yang tinggi memperburuk mempengaruhi kesehatan masyarakat. Kondisi ini memicu Ebenezer Howard merancang sebuah kota yang bebas dari pada asap tebal pabrik-pabrik. Konsep Kota Taman dicetuskan oleh Howard pada tahun 1898 dalam bukunya "Garden Cities of Tomorow." Paradigma permukiman modern in merupakan kota mandiri yang bertumpu pada kehidupan alam pedesaan. Konsep kota mandiri ala pedesaan diterapkan di beberapa kota di wilayah pinggiran kota London. Paradigma "Kota Taman" kemudian berkembang di luar Inggris dengan bentuk-bentuk baru, kota jalur hijau (green belt city), unit lingkungan (neighborhood unit), permukiman cluster (cluster housing) dan bentuk lainnya (Gambar 2).

 

Kota-kota di Indonesia tidak luput dari pengaruh gelombang konsep Kota Taman pada masa kolonial. Beberapa permukiman mengadopsi konsep kota taman dibangun di beberapa kota di Jawa oleh para perancang kota Belanda. Permukiman-permukiman kota taman yang dibangun pada masa kolonial antara lain adalah Menteng di Batavia, Candi di Semarang, Dago di Bandung, Kota Baru di Yogyakarta, dan di kota lain-lainnya. Konsep "Kota Taman" dilanjutkan pada awal kemerdekaan oleh pemerintah. Satu diantaranya yang terkenal adalah Kebayoran Baru di Jakarta.

 

Untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat pemerintah secara kontinu membangun permukiman-permukiman baru. Di tahun 1970an perumahan Perumnas menjadi primadona bagi masyarakat strata menengah ke bawah untuk memperoleh tempat tinggal. Sejalan dengan pembangunan rumah bagi masyarakat, pihak swasta juga ikut serta membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan bawah, menengah, dan atas. Dengan berjalannya waktu pada tahun 1980an dengan meningkatnya kehidupan ekonomi sekelompok masyarakat, perumahan mewah mulai diperkenalkan oleh para pengembang. Perumahan mewah dan eksklusif berkembang di kota-kota besar dengan aneka ragam tipomorfologi.   

 

Konsep permukiman kota taman yang semula serba terbuka sejalan dengan perkembangan waktu dan dengan perilaku sekelompok masyarakat yang semakin eksklusif berubah bentuknya menjadi pola permukiman tertutup. Prinsip-prinsip kehidupan masyarakat untuk mengejar kehidupan penuh kebahagian yang bertumpu dari anak piramida hirarki kebutuhan dijabarkan berlebih dalam pola spasial permukiman (Maslow, 1943).

 

Disatu sisi, anak piramida keamanan yang dijabarkan dengan dinding pengamanan sekelilingi kawasan menjadi salah unsur utama dalam konsep perancangan permukiman masa kini. Disisi lain, kurangnya peran pemerintah didalam penjagaan keamanan terhadap masyarakat memicu permukiman KPG. Aspek keamanan diselesaikan dengan perwujudan dinding pengamanan sekelililing kawasan, pintu keluar masuk yang selalu terjaga, serta keamanan kawasan yang dilakukan oleh pihak pengelola.

 

Permukiman KPG muncul di kota-kota di Amerika Serikat pada awal 1980an. Permukiman ini secara umum dapat diartikan sebagai suatu permukiman yang dikelilingi oleh dinding pagar (Low, 2004; Blakely dan Snyder, 1997a, Sueca dan Fitriani, 2011). Fitur utama dari permukiman ini adalah adanya didnding pagar keliling kawasan sehingga seseorang,  baik penghuni atau tamu,  tidak dapat leluasa keluar-masuk kawasan dengan bebas tanpa minta ijin atau memiliki kartu anggota di pintu penjagaan.

 

Pemicu dari berkembangnya permukiman KPG satu diantaranya adalah faktor ketakutan dari pada penghuni terhadap kejahatan yang kemungkinan timbul di sekitarnya (Ellin, 1997; Low, 2003). Di era pasca industri masyarakat hanya menaruh perhatian pada keselamatan terhadap kecelakaan lalu-lintas dengan membuat, tanda dilarang masuk, "polisi tidur," atau membuat  portal untuk kendaraan bermotor di atas jalan di wilayah permukimannya. Kehidupan di era pasca modern, bebarapa permukiman meningkatkan perhatiannya terhadap keamanan dan lebih mempertahankan warganya dari kejahatan yang mungkin timbul.

 

Permukiman KPG diadopsi oleh kota-kota besar di Indonesia pada awal tahun 1990an. Berkembangnya tipe permukiman ini merupakan fitur baru pada perkembangan bentuk kota masa kini. Pola spasial dan bentuk fisikal berkembang secara kompetitif di wilayah pusat maupun di wilayah periferi atau pinggiran kota.  Di pusat kota tipologinya di wujudkan dalam bentuk apartemen dan town house mewah serta hunian multiguna (mix-use) berupa superblock yang dipagari oleh dinding tinggi. Di wilayah periferi diwujudkan oleh permukiman dengan luas berskala kecil, sedang, maupun besar.

 

Tipomorfologi Komunitas Pintu Gerbang (KPG)

Kota adalah ruang kehidupan masyarakat yang menampung berbagai kegiatannya berdasarkan ciri-cirinya. Wujud dari pada bentuk ini adalah dapat diamati pada kota, yaitu pengelompokan wilayah permukiman berdasarkan aspek sosial. Adanya pengelompokan berdasarkan aspek sosial tersebut memberikan pola spasial kota yang beragam. Wilayah kota terbagi dengan jelas oleh wilayah perumahan, dan prasarana dan sarananya berdasarkan strata sosial kelas atas, menengah dan kelas rendah.

 

Lefebvre berpendapat (2000), bahwa setiap masyarakat membentuk suatu ruang yang jelas yang berkaitan bagi produksi ekonomi dan reproduksi sosial. Ia mengajukan tiga skala yang berbeda produksi sosial dari perilaku manusia, yang mempunyai rentang dari reproduksi biologi, reproduksi tenaga kerja, dan reproduksi hubungan kelas sosial. Ruang pertama adalah ruang diantara tubuh manusia, ruang kedua ditampilkan oleh rumah sebagai ruang tempat tinggal dan tempat bekerja, dan ruang ketiga adalah ruang publik kota sebagai reproduksi hubungan sosial diantara masyarakat.

 

Motivasi seseorang untuk tinggal di permukiman KPG antara lain adalah keamanan, sesame status sosial-ekonomi, kwalitas lingkungan baik, fasilitas lengkap, eksklusif, investasi, kenyamanan,  dan ketentraman, dan identitas diri. Berbagai sebutan dapat diberikan kepada bentuk permukiman KPG, antara kota dalam dinding, kota tertutup, proprietary urban community, permukiman dijaga, dan perumahan cluster, permukiman pintu dan lain-lainnya. Secara garis besar terdapat tiga tipomorfologi, yaitu gaya hidup, prestise atau harga diri, dan zona keamanan (Blakely dan Snyder, 1997b).

 

Tipologi gaya hidup adalah permukiman para pensiunan, permukiman padang golf, permukiman resort, dan bentuk lainnya. Tipologi terdiri dari permukiman mewah dengan fasilitas yang serba eksklusif bagi masyarakat ekonomi atas. Permukiman tipe ini menyediakan  rumah besar, halaman luas, lingkungan hijau, jalan teratur, serta fasilitas bersama lengkap. Tipologi zona keamanan berupa permukiman yang diberi pagar keliling dengan berbgai bentuk. Pagar dapat berupa pagar kawat duri, portal, maupun tembok. Dari ketiga konsep dasar ini dapat dijabarkan lokasi, peruntukan, jenis penghuni, fasilitas tersedia, sistim pengamanan.

 

Tipomorfologi permukiman KPG dapat diamati dari beberapa aspek, yaitu antara aspek spasial, aspek sosial, dan aspek fisikal.  Tipomorfologi permukiman KPG  juga dapat terbentuk dari tiga aspek dasar yang mempengaruhinya. Aspek-aspek tersebut antara lain 1). aspek sosial; ekonomi, etnis, dan simbolik; 2). aspek spasial; dan 3). Aspek fisikal. Ketiga aspek dasar tersebut memberikan keanekaragman bentuk permukiman baik, di wilayah periferi maupun di wilayah pusat kota. Aspek aspek sosial, ekonomi, etnis, dan simbolik merupakan unsur-unsur yang sifatnya internal karena berasal dari diri penghuni, sedangkan aspek spasial dan fisikal merupakan unsur-unsur eksternal. 

 

Aspek sosial, ekonomi, etnis, dan simbolik.

Ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, etnik, dan simbolik permukiman KPG  adalah suatu kawasan tempat tinggal privat yang digunakan secara bersama. Ke empat aspek mempengaruhi pembentukan tipomorfologinya. Masyarakat penghuni mengisolasikan diri dari kehidupan sosial terhadap lingkungan disekitarnya secara mikro dan kehidupan sosial kota secara makro. Kehidupan sosial di permukiman eksklusif ini adalah kehidupan yang homogen. Penghuni merupakan masyarakat yang memiliki, sesama profesi, strata sosial-ekonomi yang sederajat, serta sesama kelompok etnis tertentu. Fasilitas lingkungan yang disediakan berdasarkan kebutuhan yang memenuhi gaya hidup para penghuni. Dengan fasilitas hunian yang serba lengkap, maka pola pola kehidupan penghuni pada umumnya adalah antara tempat kerja dan tempat tinggalnya.

 

Penghuni permukiman KPG yang sifat kehidupannya homogen pada umumnya memutuskan hubungan pola kehidupan sosialnya dengan masyarakat di luar pagar. Meskipun kehidupan komunal penghuni adalah homogen, hubungan antar penghuni cenderung bersifat formal. Fenomena ini dapat diamati hubungan antara penghuni ditinjau dari aspek etnis (Leisch, 2002; Manurung, 2013). Aspek kehidupan sosial komunal hanya dipertimbangkan berdasarkan nilai-nilai utilitarian, yaitu efesiensi, ekonomis, dan untung rugi. Aspek sosial-ekonomi penghuni cenderung akan mempengaruhi pola spasial didalam kawasan maupun di luar kawasan.

 

Dinding pagar di sekeliling permukiman KPG merupakan simbol kehidupan sekelompok masyarakat terhadap kelompok lainnya dan mempunyai makna sebagai batas teritorial. Pagar adalah satu diantara kebutuhan hidup masyarakat untuk menjaga batas lingkungan tempat tinggalnya. Saat ini dinding pagar mempunyai peran ambigu dan semakin menentukan. Selain sebagai batas, dinding pagar mencerminkan dan menguatkan hirarki kekayaan dan kekuatan, pembagian kelompok masyarakat ditinjau dari aspek etnis, ras, kekerasan, ketegangan, dan ketakutan (Marcus, 1997). Peranan dinding pagar saat ini lebih menonjol daripada hanya sebagai pembatas dan pertahanan. Keberadaan dinding pagar di permukiman menunujukan kemauan dari yang kuat terhadap yang lemah seperti hal sebaliknya menjaga yang lemah terhadap kekuatan yang lebih tinggi.

           

Aspek spasial

Berdasarkan aspek geografis spasial permukiman KPG dapat dibagi dalam dua tipe, yaitu yang terletak di kawasan periferi atau pedesaan dan di kawasan pusat kota. Secara morfologis kedua tipe ini berbeda dalam dimensinya. Permukiman di wilayah periferi dimensinya lebih besar dari pada di kawasan pusat kota. Dengan adanya luas tanah yang cukup luas maka permukiman di wilayah periferi mempunyai densitas bangunan rendah dibandingkan dengan yang ada di pusat kota. Pengembangan spasial permukiman di wilayah periferi lebih mudah dibandingkan dengan yang ada di kawasan pusat kota. Hal ini karena diseababkan pleh ketersediaan tanah yang cukup di wilayah periferi.

 

Permukiman KPG adalah tipe perumahan yang secara spasial mempunyai sifat mengisolasi diri dari struktur pola spasial kota. Pola jaringan jalan dan pengelompokan unit-unit hunian pada umumnya berorientasi ke dalam. Pengelompokan hunian mengikuti konsep cluster. Konsep pola spasial biasanya dibagi menjadi beberapa cluster. Pola spasial yang dianut ini memberikan nama permukiman sebagai komunitas cluster. Pembagian cluster adalah berdasarkan besaran tanah, tema, tipe, bentuk, dan langgam arsitektur bangunan rumah. Konsep orientasi kedalam memberi pengaruh terhadap pola spasial antar cluster. Dalam cluster disediakan jalan yang menghubungkan rumah satu dengan lainnya. Melalui pintu gerbang yang ada hubungan penghuni antar cluster dapat dilakukan. Antar cluster dihubungkan oleh jalan utama kawasan menuju pintu gerbang kawasan yang seterusnya dihubungkan ke jalan kota.

 

Seperti halnya pada pembagian cluster, keanekaragaman tipomorfologi spasial permukiman KPG pada umumnya berdasarkan tanah yang tersedia, jenis penghuni, konsep tema hunian yang diangkat, lokasi, dan jenis dan langgam bentuk rumah yang dibangun. Disatu sisi, secara mikro keanekaragaman tipomorfologi akan memberikan pola spasial dari pada cluster serta fasilitas yang disediakan. Bentuk tanah yang tersedia akan mempengaruhi jumlah dan luas hunian maupun fasilitas umum. Tema yang diangkat, sebagai contoh hunian hijau, mempengaruhi perbandingan antara ruang untuk penghijauan dan rung untuk hunian.

 

Lokasi permukiman KPG, di wilayah periferi atau di pusat kota, juga memberi pengaruh pada pola spasial baik secara horizontal maupun vertikal. Disisi lain, secara makro  kenekaragaman tipe dan bentuk kawasan akan memberi pengaruh terhadap pola spasial kota. Di wilayah periferi pola spasial cenderung mengarah ke pola horizontal, sedangkan di pusat kota mengarah ke pola vertikal. Selain ketersedian tanah faktor lainnya yang mempengaruhi morfologinya  adalah  jalan dan kedekatan dengan sarana kota.

 

Aspek fisikal

Satu diantara preferensi kelompok masyarakat menghuni di permukiman KPG adalah faktor keamanan. Meningkatnya kriminalitas di kota-kota besar saat ini meningkatnya perkembangannya. Aspek fisik tipe permukiman ini dapat diamati dari adanya pagar pengaman di sekeliling kawasan. Pagar yang mengelilingi kawasan pada umumnya terbuat dari dinding beton pracetak. Pagar pengamanan tidak hanya terdapat di sekeliling kawasan, tetapi juga di sekeliling cluster. Bentuk fisiknya beranekaragam tergantung dimana mereka berada serta tipenya. Dengan ketersedian tanah yang mencukupi di wilayah periferi struktur bentuk hunian mengarah ke pola horizontal. Pola vertikal pada umumnya diadopsi oleh apartemen dan townhouse, dan super blok yang biasanya berada di wilayah pusat kota.

 

Bentuk bangunan hunian permukiman KPG bervariasi tergantung tema yang diangkat dalam konsep perancangan. Pada umumnya bentuk yang diadopsi mengikuti langgam arsitektur Barat, baik langgam masa lalu maupun langgam kontemporer. Langgam masa lalu seperti langgam arsitektur Mediterania, Victoria, Klasik, Heritage, Tropis, Vernakular, Regionalisme, maupun Minimalis. Bentuk fisik bangunan juga diambil dari tema konsep perancangan berdasarkan nuansa kehidupan seperti Kota Bunga, Kota Pedesaan, Kota Hijau, Kota Alam Sutera, Mekarsari, dan sebagainya.

 

Langgam arsitektur yang menjadi tema hunian akan mempengaruhi bentuk-bentuk rumah. Sebagai contoh langgam Victorian akan memberikan bentuk rumah dengan pola kehidupan dan nuansa kota di Inggris pada masa Ratu Victoria pemerintah. Tema heritage akan menampilkan suasan dan bangunan dengan bentuk tempo dulu, baik lokal maupun global. Tema Heritage akan menampilkan suasana dan Bangunan kolonial Belanda maupun bangunan Eropa masa Greco-roman,  Renesan , Baroque, atau Gotik.  

 

Tema Tropis dan regional akan menampilkan  suasana kehidupan kota di wilayah tropis dengan bentuk rumah dengan teras lebar, atap genting, bahan kayu, pepohonan hijau, dan unsur-unsur lingkungan tropis lainnya. Langgam Arsitektur Meditrenea akan memberikan suasana kehidupan kota di tepi Luat Mediteranea dengan bentuk rumah berlanggam Spanyol dan Italia. Tema perancangan selain mejadi acuan dalam konsep hunian, juga menjadi konsep untuk bentuk bangunan fasilitas bersama, jalan, lanskap, dan sarana lainnya.

 

Pengaruh Tipomorfologi Permukiman KPG terhadap Pola Spasial Kota

Keberadaan permukiman KPG selain memberikan dampak ketidak harmonisan terhadap kehidupan masyarakat dan perkembangan pola ruang kota dan juga sebaliknya memberikan manfaat terhadap kehidupan masyarakat dan perkembangan pola spasial kota. Berbagai tipomorfologinya memberikan solusi untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, indah, dan aman bagi masyarakat. Ketiga preferensi untuk mendapatkan tempat tinggal dengan suasana ini menciptakan bagaimana permukiman harus direncanakan dan diatur.

 

Berkaitan hubungan antara aspek sosial dan bentuk kota, Dolores Hayden (1995) menyingkap bahwa produksi ekonomi dan produksi sosial keduanya membentuk ruang kota secara bersamaan. Keduanya berkaitan satu dengan lainnya secara serentak melalui kegiatan manusia didalam menyediakan kebutuhannya dan ambisinya. Aspek sosial masyarakat permukiman permukiman KPG, dengan demikian, dibentuk oleh keputusan komersial  dan taktik pemasaran perusahaan.

 

Satu bentuk dari bentuk komersial dan taktik pemasaran Permukiman KPG adalah konsep pola cluster. Konsep ini diterapkan untuk memenuhi prinsip pengelompokan berdasarkan tema, tipe hunian, dan keamanan. Wujud dari konsep rancangan berbentuk pagar besi yang mengelilingi tiap cluster. Pagar besi membagi dan membatasi hubungan cluster-cluster. Hubungan antar cluster dapat dilakukan melalui pintu-pintu gerbang yang disediakan di tiap cluster. Pola cluster yang terisolasi secara internal ini menimbulkan disharmonisasi kehidupan sosial antar penghuni di masing-masing cluster.      

 

Dari pengalaman dapat dikaji bahwa berkembangnya permukiman KPG yang penghuninya mempunyai strata ekonomi yang lebih tinggi daripada masyarakat sekitarnya akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kehidupan sehari-hari yang serba eksklusif yang dipertontonkan penghuni di dalam dinding pagar sering kali akan menimbulkan kecemburuan sosial terhadap masyarakat di luar permukiman dinding (Goolbar, 2002). Secara eksternal penghuni dalam pagar mengisolasikan dirinya dari kehidupan disekitarnya dan membentuk hubungan sosial yang tidak harmonis dengan masyarakat sekitarnya dengan keberadaan dinding disekelilingnya. Pagar disekeliling kawasan membatasi hubungan antara penghuni dan masyarakat luar. Kondisi ini berlaku baik permukiman di kawasan pusat kota maupun di wilayah periferi. Kantong-kantong permukiman tersebut menciptakan segregasi sosial dengan permukiam di luar pagar.

 

Di satu sisi, kehadiran permukiman permukiman KPG dalam iklan media masa dengan isi promosinya mengenai  fasilitas mewah yang ditawarkan menarik masyarakat dari kelompok strata ekonomi tertentu, yaitu masyarakat ekonomi menengah ke atas. Masyarakat dengan strata ekonomi sestrata, baik ditinjau dari umur, pekerjaan, dan etnis akan tertarik untuk mendapatkan hunian semacam ini berdasarkan preferensi tempat tinggal yang mereka harapkan. Disisi lain, berbagai peristiwa kriminalitas yang terjadi di permukiman umum yang hampir tiap hari ditayangkan oleh berbagai media cetak dan elektronik, menjadi satu pemicu meningkatnya keinginan masyarakat tinggal di permukiman eksklusif ini.

 

Pengelompokan permukiman berdasarkan etnik sudah muncul sejak keberadaan kota awal didunia. Konsep ini dilakukan oleh penguasa kota untuk mempermudah dalam mengawasi keanekaragaman etnik yang ada (Luymes, 1997). Pengelompokan permukiman berdasarkan pola spasial didalam ruang kota juga muncul dari dalam diri masyarakat sendiri. Konsep pengelompokan spasial berdasarkan etnik membentuk pola spasial yang berbeda-beda satu dengan lainnya berdasarkan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.

 

Etnis tertentu memilih tempat tinggal bersama kaumnya. Sebagai contoh, etnik Cina juga menentukan pemilihan lokasi. Dalam memilih lokasi di kawsan pusat kota bagi etnik Cina biasanya memilih wilayah kota yang pada semulanya sebagian besar penduduknya adalah kaumnya. Dari fenomena ini, tumbuh pecinan-pecinan pola baru di beberapa di pusat kota berupa antara lain pusat perbelanjaan dan pusat kulinari.  Di wilayah periferi tertentu keadaan ini keadaan ini tidak begitu berlaku. Mereka berbaur dalam kawasan bersama etnis lainnya. Bahkan pada permukiman bertema Heritage, budaya dan kehidupan etnis ditampilkan, pola spasial dan bentuk hunian, serta dalam kegiatan perayaan.

 

Bertempat tinggal di permukiman KPG merupakan satu diantara unsur yang memberikan gambaran keberhasilan seseorang dalam kehidupannya (Grant, 2004). Keberhasilan seseorang dapat diukur dari di kawasan di mana seseorang tinggal, rumah yang dimilikinya, besarnya rumah, fasilitas yang disediakan oleh lingkungan, langgam bentuk rumah dan sebagainya. Motivasi masyarakat menengah keatas untuk memiliki tempat tinggal sesuai dengan referensi  disambut antusias oleh para pengembang untuk membangun permukiman-permukiman eksklusif ini.

 

Permukiman KPG tidak saja merupakan simbol sosial-ekonomi seseorang dalam bentuk hunian dan permukiman dimana dia tinggal, tetapi juga merupakan simbol keberhasilan suatu kota. Permukiman mewah merupakan satu diantara beberapa iklan promosi untuk menarik seseorang menjadi warganya. Fenomena ini, banyak kita temui iklan di sepanjang jalan pada kota-kota peristirahatan dan kota wisata. Iklan penawaran kepemilikan permukiman mewah untuk menarik konsumen sudah merambah di dunia media cetak maupun elektronik secara masal.

 

Dengan ramuan dan gaya yang menawan para pengemban memasarkan produknya kepada masyarakat pada hari dan jam yang sudah terjadwal dengan tetap setiap minggu di layar televisi. Konsep kehidupan modern di tawarkan dengan menarik dan menawan kepada masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman, indah, dan aman. Secara simbolis para pengembang mengeksplotasi produknya sebagai lingkungan yang ramah dan aman dari pada kehidupan tradisi lokal yang ada, termasuk konsep kehidupan bersama, rasa memiliki (sense of place), rasa aman (sense of secure) (Barnes, 2013).

 

Aspek spasial paling permukiman KPG paling berpengaruh dalam perubahan pola tata guna lahan terhadap lingkungan sekitarnya. Keberadaan permukiman pintu gerbang ini  yang biasanya tidak terencana dalam rencana tata ruang kota akan memberi dampak dalam  perencanaan dan penataan prasarana dan sarana kota. Semaraknya permukiman KPG manjadi daya tarik dan memicu berkembangnya kegiatan kota lainnya di sekitarnya, seperti transportasi, jasa, usaha ekonomi dan lain-lainnya. Nilai tanah yang meningkat akibat keberadaannya akan memberikan meningkatnya harga tanah di wilayah sekitarnya.

 

Satu diantara unsur aspek spasial pada permukiman KPG terhadap struktur tata ruang kota adalah dalam memilih lokasi. Pemilihan lokasi bagi seseorang calon penghuni biasanya cenderung kearah lingkungan yang memiliki lingkungan strata sosial yang sama (Ghonimi, et al., 2011). Meskipun demikian, kondisi ini rupanya sudah tidak berlaku saat ini dengan berkembangnya permukiman ini di sekitar permukiman pedesaan di pinggiran kota serta di kawasan permukiman padat di pusat kota. Pembangunan permukiman KPG di wilayah periferi pada umumnya akan merubah pola spasial yang ada. Wilayah periferi yang semula adalah lahan pertanian dan merupakan ruang terbuka hijau berubah menjadi kawasan hunian yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan mewah.

 

Perkembangan permukiman KPG seperti halnya perkembangan koloni Romawi. Koloni Romawi merupakan kota perbentengan untuk pertahanan dan penyerangan. Dinding pagar di didriakn untuk melindungi masyarakat di dalam koloni dari serangan kaum barbar, meskipun didirikan di wilayah mereka. Keadaan ini dapat diamati sebagai upaya konsolidasi untuk menaklukan dari pada melindungi hidup masyarakat. Teori konsentrik pola struktur fisik kota menyatakan fisik kota berkembang dari pusat ke pinggir dengan bentuk invasi, dominasi, dan suksesi seperti yang dinyatakan oleh Ernest W. Burgess (Pacione, 2009). Permukiman KPG saat ini menyerbu wilayah pinggiran-pinggiran kota, selanjutnya mendominasi pola spasial, dan akhirnya merubah pola spasial wilayahnya dalam tatanan spasial kota.

 

Keberadaan permukiman KPG sangat mempengaruhi lingkungan di luar pagar. Lingkungan permukiman di luar pagar yang semula saling berhubungan dengan kehadirannya menjadi terpisah-pisah. Hubungan sosial masyarakat yang selama ini berjalan dengan baik menjadi hilang. Permukiman berpagar tidak hanya menghilangkan lingkungan kehidupan secara intangible, tetapi juga secara tangible dengan hilangnya ruang-ruang terbuka yang ada. Dengan hilangnya ruang terbuka masyarakat kehilangan tempat untuk kegiatan bersama, antara lain menjemur hasil pertanian, kegiatan bermain, kegiatan upacara, dan kegiatan sosial lainnya.

 

Secara spasial, permukiman KPG juga merubah dan menghilangkan pergerakan masyarakat sehari-hari.  Untuk mendapatkan akses ke jalan raya jarak tempuh masyarakat di luar dinding pagar bertambah panjang dengan adanya dinding pagar. Apabila semula mereka dapat langsung mencapai jalan raya. Dengan adanya dinding pagar di muka rumahnya mereka harus berputar arah. Dengan demikian, kehadiran permukiman berapagar merubah pola jalur jalan serta pola hunian yang ada. Selain jalan, ruang-ruang terbuka publik di permukiman di luar dinding pagar dimensinya bertambah kecil atau hilang sama sekali. Secara demokratis untuk mendapatkan akses ke jalan raya dan ruang publik bagi masyarakat di luar dinding pagar hilang.

 

Pada umumnya pembangunan permukiman KPG tidak dapat dikendalikan akibat belum adanya rencana tata ruang bagi sebagian besar kota. Perkembangannya, pada umumnya yang tidak dapat dikendalikan, menimbulkan pola perembetan kota (urban sprawl) di wilayah periferi. Wilayah pola kehidupan perkotaaan (urbanism) bertambah luas meskipun wilayah administrasi kota tetap. Bentuk dari pada perembetan kota satu diantaranya adalah berkembangan leap frogging  ("loncatan katak"). Perkembangan "loncatan katak" membentuk kantong-kantong permukiman (enclave) di wilayah periferi kota. Lokasi kantong-kantong permukiman dengan pagar di sekelilingnya membentuk kawasan hunian yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Pola perkembangan "loncatan katak" menimbulkan penggunakan ruang kota yang tidak efisien dan tidak teratur.

 

Keberadaan dinding pagar di sekeliling permukiman KPG adalah wujud daripada konsep pengamanan lingkungan. Upaya untuk menciptakan keamaman dari kejahatan di dalam lingkungan malah memberi dampak sampingan. Dinding pagar yang tinggi menyebabkan kejahatan beralih ke wilayah lain (Helsey dan Strange,1999). Apabila kelompok masyarakat tertentu dapat memindahkan kejahatan, masyarakat kelompok lainnya dengan ketiadaan sumber daya yang dimilikinya mereka tidak berdaya terhadap keadaan ini. Pemindahan kejahatan dari lingkungan permukiman tertentu juga menyebabkan pemusatan kriminalitas di wilayah lain yang miskin akan kegiatan pengawasan dan pengamanan.

 

Keberadaan tembok disekeliling permukiman KPG selain menjadi pembatas fisik dengan permukiman disekitarnya juga memberikan pemandangan yang tidak menarik bagi masyarakat di luar pagar. Dinding pagar membatasi secara fisik kawasan permukiman masyarakat disekitarnya menjadi beberapa bagian yang saling tidak berhubungan dengan lainnya. Keberadaaan dinding beton selain membagi ruang kawasan menjadi beberapa bagian juga menghalangi pemandangan yang semula dimiliki oleh permukiman yang ada. Dinding beton masif secara fisik dan psikologis akan memberikan perbedaan suasana kehidupan antara penghuni di dalam dengan penghuni di luar dinding. Dengan demikian, permukiman tipe ini menimbulkan disintegrasi fisik, sosial, visual antar lingkungan di luar pagar.

 

Keberadaan permukiman KPG, selain menciptakan hilangnya akses pergerakan bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari, juga menghilangkan akses visual. Masyarakat pada umumnya dirugikan tidak hanya di kawasan pusat kota atau wilayah periferi, tetapi di kawasan tepian danau, sungai, maupun pantai. Di kawasan tepian laut, sebagai contoh, permukiman pagar merubah lingkungan fisik pantai dari ruang publik menjadi ruang privat. Apabila pada awalnya masyarakat mempunyai akses untuk menikmati pemandangan alama yaitu sawah, bukit, pantai, danau, dan sungai dengan adanya pagar, maka akses tersebut menjadi hilang.

 

Manfaat Permukiman KPG terhadap Perkembangan Kota

Di samping memberi pengaruh yang merugikan terhadap pola spasial kota, permukiman KPG memberikan beberapa keuntungan. Pada umumnya permukiman bagi kelompk masyarakat tertentu ini direncanakan dengan baik. Perencanaannya biasanya mempertimbangkan tingakat kepadatan, baik penghuni atau bangunan, menyiapkan prasarana, menyediakaan ruang publik, merencanakan fasilitas bersama,  memperhatikan ruang terbuka hijau, merencanakan jalur jalan yang tertata dengan baik, menyediakan jalan setapak untuk pejalan kaki, menghijaukan kawasan dengan pohon-pohon rindang, aneka tanaman bunga, serta mengutamakan keamanan lingkungan di dalam dinding pagar.

 

Secara psikologis keberadaan pagar sekeliling permukiman memberikan rasa kepemilikan dan kesadaran akan pemilikan lingkungan hunian bagi para warga. Aspek ini sejalan dengan konsep "defensible space" dan "territorial reinforcement" (Newmann, 1972) yang menyatakan bahwa kesadaran akan ruang yang konkrit akan memberikan kesadaran pemilikan yang lebih tinggi dan berusaha untuk mempertahankannya.

 

Keadaan ini mirip dengan masyarakat di kota-kota perbentengan pada kota awal masa lalu. Masyarakat kota awal  siap mempertahankan kotanya terhadap serangan musuh dari luar. Pada masa kini keadaanya mungkin sudah berubah, yaitu mempertahankan kwalitas lingkungan tempat tinggal mereka dengan kebersihannya, kenyamananya, penghijauannya, keteraturannya, dan keamanannya. Keadaan ini tidak seperti kehidupan pada masa kota awal, yaitu dengan mempertahankannya secara fisik. Pada masa pasca-modern ini untuk mempertahankan keadaan lingkungan yang ada warga permukiman mereka melakukannya melalui kewajiban membayar tangihan biaya lingkungan bulanannya.

 

Kawasan hijau di permukiman KPG memberikan komposisi cukup tinggi terhadap ruang terbuka hijau kota. Pada umumnya ruang terbuka hijau yang tersedia, khususnya di wilayah periferi memenuhi komposisi perbandingan penggunaan tanah antara bangunan dan ruang terbuka yang telah di atur dalam peraturan pemerintah tentang pembangunan perumahan. Standar komposisi antara prosentase hunian dan ruang terbuka pada umumnya dapat dipenuhi olehnya.

 

Di kawasan pusat kota, komposisi pola penggunaan lahan kemungkinan tidak dapat dipenuhi. Untuk itu perlu di cari alternatif lain untuk memenuhi kriteria penyediaan ruang terbuka hijau. Disamping itu, permukiman KPG membantu penyedian pemerintah kota dalam penyediaan ruang publik. Berkembangnya permukiman ini menambah jumlah ruang publik kota, meskipun penggunanya terbatas.

 

Berkembangnya permukiman KPG di wilayah pusat kota dalam bentuk town house, apartemen, superblok memberikan manfaat terhadap kehidupan kota. Keberadaannya  di kawasan pusat kota mengundang masyarakat berpenghasilan menengah dan atas kembali bertempat tinggal di kawasan pusat kota. Kawasan pusat kota yang daya hidupnya menurun seperti kawasan terlantar, pergudangan, pelabuhan tua, dan perkantoran di kembalikan daya hidupnya dengan proyek revitalisasi.

 

Nilai tanah yang tinggi di kawasan pusat menjadi perhatian bagi pengembang untuk menanamkan modalnya dalam usaha properti. Masyarakat ekonomi menengah adan atas yang semula bermukim di permukiman KPG di wilayah periferi kota kembali ke pusat kota. Mereka membeli rumah di town house, apartemen, dan superblok dengan alasan sebagai suatu investasi atau dekat dengan fasilitas kota yang ada. Pola kehidupan yang mengutamakan prinsip efisiensi memicu tumbuhnya tipe superblok di kawasan pusat kota. Warga superblok selain dapat menikamati tempat tinggalnya, juga dengan mudah mereka dapat menikmati dekatnya akses untuk bekerja, berbelanja, rekreasi dan hiburan, serta pengamanan yang terus terjaga.

 

Keberadaan permukiman KPG di wilayah perkotaan selain memberikan ketidak harmonisan sosial dan spasial, juga memberikan manfaat bagi sector informal. Sektor informal memfaatkan kekurangan yang dimilikinya. Di depan pintu gerbang para pengemudi ojek menunggu penghuni keluar atau panggilan dari para pelanggan, baik pemilik atau pembantu rumah, di dalam dinding pagar melalui telpon genggamnya.

 

Para pedagang bakso, mie, makanan, tukang sayur menunggu  konsumen di luar pagar atau melalui kesepakatan dengan penjaga mereka diperbolehkan mangkal di sudut cluster atau berkeliling kawasan menjajakan dagangannya. Keinginan untuk menambah ruangan, tidak puas dengan bentuk rumah, atau mengikuti langgam arsitektur yang sedang naik daun, buruh-buruh  bangunan juga mendapat cipratan pesanan dari perubahan dan pengembangan rumah yang ada didalam lingkungan dari komunitas pintu gerbang ini.

 

Penutup

Pengaruh globalisasi tercermin dalam perkembangan pola spasial kota-kota di dunia. Salah satu wujud konkrit dari pada pengaruh ini adalah dalam penyediaan perumahan bagi masyarakat kota. Preferensi untuk memiliki tempat tingal yang nyaman, indah dan aman adalah tujuan dari pada masyarakat dalam mengejar kebahagiaan dalam kehidupannya. Satu diantara bentuk tempat tinggal bagi masyarakat dan berkembang dengan pesat adalah konsep permukiman KPG. Tipomorfologi permukiman ini adalah produk penyediaan tempat tinggal yang semakin popular bagi kelompok masyarakat tertentu di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Untuk mengakomodasi preferensi masyarakat dan permintaan pasar beberapa tipomorfologi permukiman ditawarkan oleh para pengembang.

 

Preferensi sekelompok masyarakat dan gaya hidupnya menciptakan bentuk baru pola permukiman modern atau bentuk kehidupan baru di wilayah perkotaan. Perkembangan permukiman KPG di wilayah perkotaan memberikan dampak terhadap pola perkembangan kota. Konsep permukiman yang dikelilingi dinding pagar ini mendapat kritikan dari berbagai pihak sebagai sumber segregasi, perbedaan sosial, dan disintergrasi sosial. Konsep permukiman KPG adalah untuk menciptakan keamanan di lingkungannya dari kejahatan justru memindahkan dan menciptakan pemusatan kejahatan ke wilayah lain.

 

Selain menciptakan disharmonisasi terhadap kehidupan masyarakat dan pola spasial kota, keberadaannya memberikan dampak yang menguntungkan. KPG adalah suatu lingkungan permukiman yang direncanakan berdasarkan konsep perancangan yang memenuhi kriteria kwalitas lingkungan hidup manusia. Dengan adanya permukiman ini konsep besaran ruang terbuka hijau perkotaan yang diprogramkan pemerintah dapat dilaksanakan oleh salah satu sector kegiatan kota. Kawasan-kawasan di pusat kota yang keadaan ekonomi, kwalitas fisik, kwalitas sosialnya menurun dapat dikembalikan dan bahkan ditingkatkan dengan berdirinya apartemen, town house, dan superblok. Keberadaannya memberi dampak sampingan terhadap tumbuhnya sektor informal, seperti ojek, pedagang keliling, buruh bangunan, dan kegiatan lainnya, di wilayah sekitarnya.

 

Keberadaan permukiman KPG di wilayah perkotaan tidak dapat dicegah. Meningkatnya kegiatan perekonomian Indonesia akhir memberi dampak terhadap kehidupan sekelompok masyarakat perkotaan. Harapan untuk memenuhi satu diantara kebahagian yang menjadi harapan sekelompok masyarakat tersebut diwujudkan dalam kepemilikan tempat tinggal yang eksklusif. Untuk mengantisipsi perkembangan permukiman ekslusif tersebut agar supaya menciptakan suasana kehidupan yang harmonis, fisik dan sosial, terhadap permukiman disekitarnya khususnya dan perkembangan kota secara  umum perlu dilakukan upaya-upaya oleh pemerintah berupa baik, yaitu kebijakan politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

 

Tiap kota mempunyai lingkungan dan perilaku masyarakat yang karakteristik. Perilaku, motivasi, semangat masyarakat dan kebijakan-kebijakan, dalam kegiatan politik, ekonomi, dan sosial, yang dilakukan penguasa kota telah memberikan wujud tipomorfologi spasial ruang kota yang karakteristik pula. Permukiman KPG adalah wujud karakteristik dari pada pengaruh globalisasi Barat yang dikloningkan di kota-kota Indonesia oleh masyarakat dan penguasa kota. Konsep tipomorfologi permukiman KPG yang sifatnya global menjadi isu yang menarik untuk diangkat dalam berbagai topik kajian perkembangan pola spasial kota. Pernyataan ini menjadikan pertanyaan yang perlu diangkat dalam penelitian, yaitu bagaimana konsep perancangan yang sifatnya umum dapat dikondisikan dalam konteks lingkungan dan kehidupan lokal di Indonesia.    

 

Referensi

Barnes, S. (2013). Gated communities: a discuusisons of the reasons and consequences of housing choices towards increasingly secure or fortified spces in Western cities. http://www.socsci.flinders.edu.au/geog/geos/PDF%20Papers/Barnes.pdf diakses 25.04.2013.

Blakeley, E.J and Snyder, M.G. (1997a). Fortress America: Gating Communities in the United States. Washington DC.: Brookings Institute Press and Lincoln Institute of Land Policy.

Blakeley, E.J and Snyder, M.G. (1997b). Divided We Fall. Dalam In Architecture of Fear diedit  oleh Nan Ellin. Princeton: Princeton Architectural Press.

Czismady, A. (2011). Conflicts Around Gated Communities. ENHR Conference 5-8 July Toulouse. http://www.enhr2011.com/sites/default/files/Paper_csizmady_WS23.pdf diakses 21.04.2011 diakses 21.04.2013.

Elin N. (1997). Architecture of Fear. New York: Princeton Architectural Press.

Ghonimi, I., Zamly, H.E., dan Soilman M. (2011). The Contribution of Gated Community to Urban Development in Greter Cairo Region, New Towns. Journal of Al Azhar University-Engineering Sector.

Gooblar, A. (2002). Outside the Walls: Urban gated Communities and their Regulations within the British Planning System. European Planning Studies 10 (3) p. 321-334.

Grant, J. (2004) Types of gated Communities. Environmental Planning B: Planning and Design,  volume 31, pages 913-930. http://architectureandplanning.dal.ca/planning/faculty/download/b3165.pdf diakses 24.04.2013.

Helsey, R.W. and Strange, W.C. 1999, 'Gated communities and the economic geography of crime', Journal of Urban Economics, vol. 46, no. 1, pp. 80-105.

Kostof, S. (1991). The City Assembled: The Elements of Urban Form through History. London: Bulfinch Press Book.

Kostof, S. (1991). The City Shaped: Urban Patterns and Meanings through History. London: Bulfinch Press Book.

Lefebvre, H. (2000). The Production of Space. Oxford: Blackwell.

Low, S. (2004). Behind The Gates: Life, Security, and the Pursuit of Happiness in Fortress America. New York: Routledge.

Low, S. M. (1999). Theorizing the City: The new urban anthropology reader. Piscataway, NJ.: Rutgers.

Manurung, R. (2013). Dampak Perumahan Mewah Terhadap Persepsi Etnik Cina pada Diri dan Lingkungannya. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15994/1/was-okt2005-%20%281%29.pdf diakses 21.04.2013.

Marcusse, P. (1997). Walls of Fear and Walls of Support. In architecture of Fear edited by Nan Ellin. Princeton: Princeton Architectural Press.

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50, 370-390.

Moriss, AE, J. (1996). History of Urban Form Before The Industrial Revolutions. Harlow-Essex: Longman Scientific and Technical.

Newman, O. (1995). Defensible space: A new physical planning tools for urban revitalization. Journal of the Planning Association 61 p. 149-155.

Pacione. M. (2009). Urban Geography: A Global Perspective. New York: Routledge Taylor&Francis Group.

Sasken, S. (1991). The Global City. Princeton: University Princeton Press.

Sennet, R. (2000). Reflection on the public realm dalam  A comparison to the city. Diedit oleh G. Brifge dan S. Watson. London dan New York: Spon Press.

Sueca, K.P. dan Fitriani, L.R.D. (2012). Profil Gated Community di Den Pasar. Prosiding Temu Ilmiah IPLB 2012. http://temuilmiah.iplbi.or.id/wp-content/uploads/2012/10/TI2012-04-p045-048-Profile-Gated-Community-di-Denpasar.pdf diakses 22.04.2013.

Zukin, S. (1995). The Culture of Cities. Cornwall: Blackwell Publishers.

 



[1] Makalah untuk Temu-Ahli tentang Sulawesi, the Interseksi Foundation, 5-7 Mei, 2013 di Bogor, Jawa Barat.