|  

 

 

Membaca Film “To Mompalivu Bure”

sebagai Esai Multikultural

 

 

Suma Riella Rusdiarti[1]

 

 

Fotografi dan film telah lama digunakan dalam penelitian-penelitian tentang beragam suku di pelosok Indonesia. Hanya saja fotografi dan film biasanya dipakai sebagai pelengkap dari hasil akhir utama sebuah penelitian yaitu sebuah tulisan. Medium tulisan hingga hari ini masih dianggap sebagai medium paling sempurna untuk menyampaikan hasil penelitian ilmiah. Meskipun memiliki beberapa kelebihan, fotografi dianggap minor karena gambar-gambar yang dihasilkannya dianggap mampu mendeskripsikan banyak hal, tetapi tidak mampu menjelaskan sesuatu. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan film yang juga hanya menduduki posisi sebagai pelengkap deskripsi dan ilustrasi saja.

 

Dalam perkembangannya, fotografi dan film tampaknya akan memiliki masa depan yang lebih cerah. Mulai muncul karya-karya fotografi dan film yang mampu berbicara sendiri sebagai sebuah karya mandiri yang lebih daripada sekedar sebagai pelengkap ilustrasi sebuah tulisan, karena seperti kata Derrida, film adalah tulisan, film adalah teks yang mandiri. Sebagai sebuah teks, seperti halnya karya sastra, lukisan, patung, iklan, atau bentuk-bentuk budaya yang lain, maka film juga muncul sebagai hasil dari sebuah tindakan pembacaan atau interpretasi yang memiliki ciri, keterbatasan, dan kelebihannya sendiri.

 

Film “To Mompalivu Bure” yang kita tonton hari ini tampaknya tidak ingin sekedar menjadi pelengkap dari tulisan-tulisan yang telah ada tentang komunitas Wana atau To Wana, tetapi film ini mencoba untuk menjadi sebuah tulisan mandiri tentang To Wana, sebuah tulisan dengan pendekatan multukultural, atau saya menyebutnya sebagai sebuah esai multikultural.

 

Pembacaan atas sebuah karya film dapat dimulai dan mencakup beberapa hal, seperti masalah tema, pendekatan, sudut pandang, aspek sinematografis, tujuan dan fungsi pembuatan film, dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas semuanya, karena ruang dan waktu yang terbatas. Pembacaan atas film “To Mompalivu Bure” ini akan saya batasi pada dua hal, yaitu masalah representasi dan masalah narasi yang akan menyentuh masalah tema, aspek sinematografis, dan tujuan pembuatan film ini.

 

Masalah Representasi

Film adalah media representasi yang dihasilkan dari tindakan pembacaan atau interpretasi atas realitas yang tak terbatas, yang tak mungkin mampu ditangkap atau digambarkan secara utuh. Film To Mompalivu Bure ini jelas tidak berpretensi untuk menjadi potret utuh dan tunggal To Wana di daerah Sulawesi Tengah ini. Film ini tetap merupakan rangkaian representasi-representasi yang ditampilkan oleh sineasnya. Oleh karena bahasa utama film adalah pada bahasa gambar, maka rangkaian representasi yang ditampilkan adalah rangkaian gambar-gambar yang muncul , bergerak dari awal hingga akhir film ini.

 

Selama 52 menit 34 detik (draft akhir), kita melihat gambar-gambar alam dan lingkungan Wana, ladang, pemukiman, keluarga-keluarga, benda-benda, aktivitas sehari-hari, perjalanan, mitos, dan percakapan-percakapan antara pembuat film dengan beberapa tokoh Wana. Kualitas gambar dan suara yang ditampilkan relatif memadai. Munculnya gambar buku “Hak Minoritas. Dilema Multikulturalisme di Indonesia” terbitan Yayasan Tifa dan Yayasan Interseksi beberapa kali, diletakkan di tengah-tengah sekuen percakapan antara pembuat film dengan tokoh-tokoh Wana memperlihatkan adanya pendampingan kepustakaan dan riset awal pada pembuatan film ini. Pendampingan kepustakaan atau riset awal sangat dibutuhkan sebagai dasar bagi pembuat film untuk menguasai wacana dan mengembangkan ide-ide yang ingin ditampilkan secara visual. Pustaka dan riset awal ini pula yang seringkali menjadi salah satu dasar bagi pemilihan representasi yang ingin ditampilkan.

 

Representasi tidak pernah netral atau bebas nilai karena ia dipilih untuk tujuan tertentu. Tujuan pembuatan film ini terlihat pada teks di bagian akhir film, yaitu mencoba mengangkat isu strategis hak-hak kelompok minoritas yang mencakup hak atas kehidupan yang layak, kesehatan, pendidikan, politik, dan agama. Cukup banyak dan berat memang. Disadari atau tidak, tujuan pembuatan film ini telah membentuk idéfix atau frame awal di dalam kepala masing-masing tim pembuat film. Pendampingan pustaka dan riset awal turut memperkaya dan membentuk keluasan dan ketajaman frame yang dipakai. Idéfix atau frame awal ini di satu sisi dapat membantu pembuat film sebagai pedoman agar film lebih terarah dan jelas idenya, tetapi di sisi lain, tanpa disertai dengan pandangan kreatif, maka idéfix atau frame awal ini bisa menjadi penjara yang membatasi pengembangan ide.

 

Film “To Mompalivu Bure” ingin menyampaikan banyak hal yang terkait dengan isu hak minoritas. Hal ini terlihat dari penyajian sekuen yang banyak dan pendek-pendek. Dalam durasi sekitar 52 menit, film ini terbagi menjadi sekitar 48 sekuen, sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata sekuen dimunculkan antara 30 detik sampai satu setengah menit. Sebuah pembagian sekuen yang relatif cepat dan pendek. Hal ini tidak menjadi masalah besar, ketika gambar-gambar yang dimunculkan efektif dan tepat sasaran, ketika representasi yang dipilih memang representatif. Apabila tidak, maka resikonya film menjadi sulit berbicara karena penonton dalam waktu yang singkat dijejali dengan gambar-gambar yang bergerak dan berubah dengan cepat. Sekuen ritus pengobatan atau upacara penyembuhan di waktu malam hari dengan iringan musik ritmis yang khas, tampak agak terlepas dari keseluruhan rangkaian gambar, karena muncul begitu saja tanpa ada penjelasan atau hubungan dengan adegan awal dan sesudahnya. Sekuen terbanyak yang ditampilkan adalah sekuen yang menyangkut masalah mata pencaharian, mencari rotan, berdamar, dan kebun kelapa sawit, kemudian sekuen kesehatan dan sekuen masalah politik . Sedangkan sekuen yang menyangkut pendidikan hanya ditampilkan sekilas dengan gambar anak-anak SD yang berangkat sekolah dan gedung sekolahnya.

 

Salah satu cara untuk menyiasati masalah sekuen yang banyak dan berubah cepat adalah penggunaan narasi, yang akan dibahas berikut ini.

 

Masalah Narasi

Narasi dalam sebuah film, terutama film dokumenter, baik berupa audio atau teks, memiliki fungsi yang penting tetapi tidak mutlak sepanjang film harus ada narasi. Gambar-gambar yang dipilih seharusnya adalah gambar-gambar yang kuat secara visual dan langsung mampu berbicara sendiri pada penonton. Narasi hanya berfungsi sebagai jembatan antara subjek gambar dengan subjek penonton ketika gambar sulit memberikan penjelasan atau karena keterbatasan ruang dan waktu yang tidak memungkinkan semua gambar dapat ditampilkan. Narasi dianggap berhasil, ketika ia mampu membantu penonton memahami hal-hal yang tak terkatakan atau sulit ditampilkan oleh gambar. Narasi akan dianggap gagal, apabila terlalu berlebihan atau terlalu minim, sehingga tidak mampu membantu penonton, bahkan dapat menumpulkan bahasa gambar film, atau lebih parah lagi, ia dapat menyesatkan penonton. Narasi dapat mendekatkan penonton atau menjauhkan jarak penonton dengan film.

           

Film “To Mompalivu Bure” menggunakan narasi, baik dalam bentuk audio maupun dalam bentuk teks. Narasi dalam bentuk teks sebagian bersifat informatif, tentang nama daerah, peta lokasi, dan peta perjalanan atau perpindahan To Wana. Sedangkan narasi dalam bentuk audio lebih bersifat personal, karena secara konsisten menggunakan kata “kami” untuk menjelaskan identitas mereka. Penggunaan kata “kami”, disengaja atau tidak memunculkan jarak yang berarti dengan penonton. Penonton ditempatkan pada posisi tidak terlibat atau tidak dilibatkan dalam film. Penonton hanya menjadi penonton di luar film. Berbeda dengan penggunaan kata “kita” misalnya, yang juga sering dipakai dalam pembuatan film dokumenter. Penggunaan kata “kita” berarti usaha mengajak penonton untuk menjadi bagian dari dan terlibat dalam film.

 

Jarak yang dimunculkan melalui narasi tampaknya berbeda dengan jarak yang dimunculkan oleh kamera yang lebih dinamis. Shot-shot yang beragam, dari long shot, medium shot, close-up shot, hingga extreme close-up shot , gerak lensa zoom in, zoom out, beberapa kali dipakai dan terkadang mampu mendekatkan jarak yang dinamis antara penonton dengan gambar.

 

Masalah representasi dan narasi sangat penting dalam film. Hal ini menyangkut masalah otoritas penulis sebagai pengirim, penonton sebagai penerima, dan gambar-gambar yang dipilih sebagai pesan yang ingin disampaikan. Di balik semua representasi ada pilihan. Di balik pilihan ada ideologi yang mendasari posisi keberpihakkan. Ideologi film ini tampak jelas pada 3 sekuen terakhir, yaitu sekuen Om Jima memakai kaos sambil membelakangi kamera yang memperlihatkan bagian punggung (tampaknya bukan adegan yang “tidak disengaja”), sekuen tentang “apa arti Indonesia?”, dan rangkaian narasi dalam bentuk teks di akhir film.

 



[1] Tulisan ini disampaikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Film “To Mompalivu Bure” Yayasan Interseksidan Yayasan Tifa , Kamis 10 April 2008, di Jakarta.