Dari Diskusi Media Sosial dan Perubahan Sosial-Budaya


ign_haryanto

Teknologi banyak berperan di kehidupan manusia dewasa ini dan telah pula menjadi faktor pengubah pola hidup. Marc Prensky (2001;1) menggunakan istilah digital natives untuk menyebut mereka yang sepanjang waktu dikelilingi oleh dan menggunakan alat-alat berteknologi digital seperti komputer, videogame, pemutar musik digital/MP3 player, kamera video, telepon selular dan Internet. Mereka adalah “native speakers” atau golongan yang fasih menggunakan teknologi digital. Beberapa ciri dari golongan ini adalah kebiasaan menerima dan bertukar informasi secara cepat, cenderung menyukai proses kerja secara paralel/dalam satu waktu yang bersamaan dan multitasking. Banyak orang menyandarkan kegiatan sehari-harinya pada informasi, seperti untuk menentukan rute jalan, hari ini macet atau tidak, memperkaya diri dengan berita terkini atau sekedar melihat ada promosi diskon apa di toko kesayangan mereka.

Pembicara dalam diskusi dwi bulanan Interseksi 26 Oktober 2011 yang lalu, Ignatius Haryanto, mengajak peserta diskusi melihat kembali ke zaman kolonial Belanda. Pada saat itu untuk mengirimkan surat antar dua benua saja memakan waktu 3-4 bulan di perjalanan, dengan catatan tanpa kendala kapal pengirimnya karam. Namun sekarang dengan chatting, waktu selama itu dapat dipangkas hingga ke hitungan detik. Pada era awal munculnya media baru, kalangan penerbit media cetak, seperti surat kabar dan buku, cukup khawatir bahwa apa yang akan mereka hasilkan tidak akan relevan lagi dengan era digital. Orang-orang mulai beralih dari koran versi cetak ke versi online (alasannya mungkin selain gratis juga update-nya cepat). “Ada karakteristik baru dari orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai digital native, ada yang lebih senang membaca berita di media sosial seperti Twitter,” jelas Ignatius Haryanto. Mungkin kecepatan untuk meng-update dan kecenderungan untuk menjadi yang pertama (atau mungkin juga diselipkan sedikit munculnya gejala narsisme) membuat digital native ini beralih dari media konvensional ke media baru.

Bencana alam seperti meletusnya gunung Merapi atau gempa bumi yang sempat melanda Jakarta beberapa waktu lalu, juga menjadi “makanan” bagi penggiat media sosial. Salah satu peserta diskusi, Okta dari Pacivis UI, menceritakan pengalaman pribadinya ketika ia “diwawancarai” oleh temannya ketika terjadi erupsi Merapi. Saat itu ia sedang berbincang dengan temannya melalui messenger, kemudian temannya bertanya secara mendetail tentang keadaan di Merapi, seperti apa sekarang keadaannya, bagaimana para penduduknya, apakah sudah ada posko atau belum. Tidak lama setelah perbincangan itu berakhir, Okta melihat di timeline Twitter temannya, ia menulis berita persis dengan apa yang mereka perbincangkan sebelumnya. Lengkap dengan pencantuman nomor telepon Okta jika hendak mengetahui informasi lebih lanjut. Sudah dapat ditebak, yang terjadi kemudian adalah banyak orang menghubunginya karena tweet tersebut. Ia merasa dirugikan, karena pertama, ia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab pada penanganan bencana ini dan kedua, temannya dengan semena-mena mencantumkan nomor telepon pribadinya untuk informasi yang terbatas. “Ada will to power atau will to update, kalau bisa lebih dulu menyampaikan akan bisa merasa ‘sesuatu banget’. Jika info tidak sinkron, maka dampaknya akan sangat buruk bagi orang lain,” Ignatius menanggapi.

Pewartaan berita dalam bencana seperti yang disebutkan di atas dapat dikategorikan sebagai citizen journalism atau pewartaan yang melibatkan masyarakat dalam proses mengumpulkan informasi, membuat berita, melaporkannya dan menyebarluaskannya. Namun terkadang dalam banyak hal, citizen journalism tidak lebih dari suatu kondisi di mana ada orang yang tepat, berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki alat yang tepat. Keberuntungan untuk merekam proses suatu berita tidak terjadi setiap hari. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan proses pencarian berita yang dilakukan oleh media-media besar.

Budaya baru yang muncul setelah hadirnya media sosial adalah budaya untuk saling berbagi dengan asumsi bermanfaat. Ignatius Haryanto memberikan sebuah contoh pesan yang disampaikan melalui broadcast message di Blackberry Messenger, mengenai seorang bapak yang sembuh dari leukemia karena pengobatan tertentu. Sang pengirim pun mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk mendapatkan obat leukemia, ternyata nomor tersebut justru nomor seorang bapak yang menderita leukemia dan sedang mencari pengobatan alternatif. Nomor itu bukan penyedia obat. Pesan-pesan semacam ini yang kerap diberi imbuhan “…tolong bantu broadcast ya,” seringkali membuat kita merasa kabur, mana yang betul-betul membutuhkan, mana yang harus diklarifikasi. Sebaiknya, jika kita menerima pesan-pesan semacam ini, mohon diverifikasi terlebih dahulu, apakah ini kabar bohong (hoax) atau betul. Sikap kritis atas informasi juga dibutuhkan dan jangan lupa untuk mengecek kembali kelengkapan berita. Merujuk kepada sikap kiritis Socrates, ada tiga hal yang dapat kita terapkan setiap kita menerima informasi yaitu: apakah kita yakin akan kebenaran informasi yang akan kita sampaikan kepada orang lain, apakah ini membawa kebaikan dan apakah ini berguna bagi orang banyak.

Proses demokrasi pun tidak terlepas dari peran media sosial. Barack Obama telah menggunakannya pada kampanye tahun 2007 yang lalu dan sangat berhasil. Tampaknya sungguh mudah menggunakan media sosial untuk mengumpulkan simpati, akan tetapi media ini juga dapat mempermudah langkah para spindoctor, yakni orang-orang yang melakukan disinformasi atau propaganda untuk mencapai opini publik terhadap suatu organisasi atau public figure, biasanya untuk menjatuhkan reputasi atau memanipulasi keadaan. Mereka membuat akun-akun palsu, yang dikembangkan secara serius (seakan-akan orang-orang di akun ini benar-benar ada) dan membentuk opini publik melalui tanggapan terhadap isu yang sedang hangat beredar.

Setiap hal baru pasti mempunyai sisi positif dan negatif. Beberapa gerakan solidaritas seperti koin Prita, menjadikan media sosial alat untuk mencapai perubahan yang positif. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai sejauh mana orang-orang ini berkomitmen terhadap hal yang mereka setujui. Bisa saja pada saat gencarnya koin Prita, banyak orang merasa bertanggung jawab untuk mendukung gerakan ini. Namun ketika Prita harus menghadapi putusan pengadilan beberapa waktu kemudian, gerakan ini tidak dapat berbuat banyak. Perlu diingat bahwa komitmen orang berbeda-beda terhadap suatu gerakan, apalagi yang berbasis media sosial, tergantung kedekatan secara pribadi terhadap subyek. Meskipun mendapat respon yang luar biasa banyaknya, tetap dibutuhkan tatap muka antar personal yang terlibat di dalamnya, sehingga arah gerakannya jelas.

Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>