Di Seberang Tan Malaka:

“Kenangan dan Aksi-aksi Perlawanan, Adakah Jawaban?”

P2175064
Setelah lama vakum, di bulan Februari 2011 ini, Yayasan Interseksi kembali mengadakan diskusi dwi bulanan dengan tema ekonomi kerakyatan. Diskusi diadakan pada hari Kamis, 18 Februari 2011 di kantor Yayasan Interseksi, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan pembicara Abi Setyo Nugroho (Sekretaris Tim Identifikasi Makam Tan Malaka). Ia menjadikan Tan Malaka sebagai tokoh sentral dalam diskusi ini, karena Tan Malaka dinilai memiliki pemikiran lima langkah ke depan mengenai konsep-konsep ekonomi yang cocok dengan Indonesia. Terlebih lagi, jika mengingat apa yang beliau pikirkan muncul pada zaman pra revolusi dan revolusi. Namun seringkali jasa-jasa beliau terlupakan begitu saja dalam catatan sejarah Indonesia.

Diskusi dimulai pukul 14.00, peserta diskusi mayoritas adalah internal Yayasan Interseksi dan seorang tamu dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Diskusi dimulai dengan pengantar hasil beberapa penelitian sebelumnya oleh Harry A.Poeze mengenai signifikansi Tan Malaka dalam mewujudkan kemerdekaan dalam biografi “Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1945″, yang menggunakan tulisan Tan Malaka sebagai sumber utamanya. Peneliti lainnya, Ben Anderson pun menuliskan dalam disertasi doktoralnya “Jawa in a Time of Revolution” satu bab khusus berkenaan peran penting Tan Malaka. Menurutnya, dengan melupakan Tan Malaka dalam peta sejarah Indonesia, berarti sama dengan melupakan politik perjuangan revolusi Indonesia. Kenangan dan aksi-aksi perlawanan merupakan pandangan subjektif anakronis untuk melihat manusia yang hidup pada masa lalu. Kini, di masa informasi membanjiri kehidupan kita, Tan Malaka bisa hadir dalam bentuk interpretasi apa saja, dalam kostum abad ke-21.

P2175046

Pandangan filsafat dialektika materialisme besar pengaruhnya di kehidupan Tan Malaka, hingga filsafat tersebut juga mempengaruhi pandangan ekonominya. Masyarakat Indonesia perlu melakukan revolusi dalam memandang persoalan, berpikir secara rasional dan independen, tidak lagi menganut logika mistika dalam menyelesaikan persoalan politik dan ekonomi. Logika mistika adalah logika gaib, cara berpikir yang tidak menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia nyata dengan mencari sebab-akibatnya, melainkan dengan mengembalikannya kepada perbuatan roh-roh di alam gaib. Bagi Tan Malaka, logika mistika adalah ilmu tertua di dunia, dari ilmu mistik lahir filsafat dan terbagi dua : ilmu pengetahuan dan dialektika-logika. Ilmu pengetahuan membawahi matematika, ilmu alam dan ilmu sosial.

Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, Tan Malaka berpendapat bahwa suatu saat kelak keajaiban akan dapat dipahami, bahwa tidak ada satupun hal yang ajaib. Yang ajaib besok akan diketahui. Bagi penganut logika mistika, hal-hal yang ajaib dijelaskan sebagai kuasa dari sesuatu yang Mahakuasa. Namun Tan Malaka juga mengingatkan agar kita tidak tersesat karena menomorsatukan logika. Judul buku Tan Malaka, “Madilog”, berasal dari paduan permulaan suku kata (MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA. Matter diterjemahkan sebagai ‘benda’, dialectica dengan ‘pertentangan atau pergerakan’ dan logica dengan ‘hukum berpikir’. Madilog adalah cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika dan logika untuk mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyak dan cukup praktek dan pengamatan.

Peserta mulai mengernyitkan dahi ketika penjelasan mengenai Madilog berakhir, mungkin di antara mereka masih bingung dengan konsep dialektika dan hal yang dijelaskan terasa masih mengawang. Kami berharap ada sebuah contoh konkret yang menghubungkan antara pandangan Tan Malaka di bidang ekonomi dengan situasi sekarang. Abi menyinggung sedikit tentang program yang diajukan pada Kongres Persatuan Perjuangan pada 1-5 Januari 1946 di bidang ekonomi politik. Pada dasarnya ia menginginkan negara agar mengatur kebutuhan dasar rakyatnya. Garis besar pokok pikirannya antara lain:

1. Dasar pengabdian dan patriotisme, nasionalisme dan kemanusiaan
2. Garis dasar politik
a) Negatif
– Anti melenyapkan kolonialisme dan imperialisme
– Anti menghilangkan watak feodalisme
– Anti menghindarkan dari fasisme
b) Positif
– Mewujudkan kemerdekaan nasional
– Menuju kemakmuran dengan program nasional sesudah tercapainya kemerdekaan 100%
3. Paham kebijakan politik
a) Kesatuan dan persatuan, kerjasama dan gotong royong, yang kuat dan utuh antara semua kekuatan sosial
b) Program bersama yang dapat memenuhi kepentingan semua kekuatan untuk masyarakat
c) Politik luar negeri yang tidak terikat dan tidak memihak, bebas aktif.
4. Paham Kenegaraan
a) Menolak diktator-proletariat nasional
b) Menolak diktator fasisme
c) Menolak demokrasi liberal Barat
d) Mencita-citakan negara berbentuk republik yang demokratis yang diatur oleh dewan rakyat
5. Politik dan Ekonomi


Pelaksanaan ekonomi sosialisitis sesudah merdeka 100% didasarkan pada persamaan keperluan antara kekuatan-kekuatan sosial yang ada untuk memakmurkan rakyat dengan mengarahkan pada industrialisasi sehingga bisa menyesuaikan antara kebutuhan dalam negeri untuk menghidupi pegawai negara. Perdagangan internasional diatur dengan membangun struktur kerjasama yang harus saling menghormati. Untuk menjamin perdamaian dunia, keamanan dan kemakmuran perlu diciptakan badan internasional. 

Memang, terkadang pemikiran Tan Malaka untuk masa kini terkesan begitu utopis dan terlalu kiri untuk keadaan di Indonesia saat ini. Terutama pada poin industrialisasi, yang menurut saya, justru industrialisasilah yang membuat banyak masyarakat Indonesia tidak hidup makmur saat ini. Sumber daya alam yang dieksploitasi demi kepentingan industri dan sumber daya manusia yang tidak dihargai dengan semestinya. 

Untung saja Tan Malaka tidak hidup di zaman ini, di mana semua kegelisahan datang dan pergi hanya sekedar untuk diungkapkan, bukan dicari solusinya. Kegelisahan temporer, seperti status di jejaring sosial yang menguap begitu saja ketika detik berjalan. Diungkapkan untuk lantas dilupakan. 

Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>