Dilematis, Pemberantasan Premanisme di Indonesia

Pengantar

Yayasan Interseksi pada 24 Juli 2013 kembali mengadakan Diskusi Terbatas dengan mengundang Pandu Yuhsina Adaba seorang peneliti LIPI sebagai narasumber. Diskusi dihadiri oleh staf-staf Yayasan Interseksi, aktivis LSM dan para peneliti muda. Tema yang diangkat kali ini adalah masalah premanisme di Indonesia. Lewat tulisannya yang berjudul “Rivalitas Geng dalam Dinamika Politik di Yogyakarta”, narasumber mencoba mengkaji hubungan antara geng motor (preman) dengan politik (partai politik).

img_0629

Yogyakarta adalah satu dari sekian banyak kota yang terkenal dengan keberadaan geng motornya. Di Yogya sendiri, terdapat dua kelompok besar geng motor yang sudah menjadi rival secara turun temurun sejak dulu. Namun, yang tidak banyak diketahui adalah di balik rivalitas geng ini ternyata terdapat rivalitas politik antar partai tertentu.Geng-geng motor di Yogya ternyata tidak berdiri sendiri, mereka juga diketahui berafiliasi dengan partai politik (parpol) tertentu.Terjadi simbiosis mutualisme antara keduanya. Dimana geng motor membutuhkan penyandang dana sekaligus backing dari orang berpengaruh parpol jika ada anggota yang tertangkap atau terkena masalah. Sedangkan parpol membutuhkan penghimpun massa sekaligus pasukannya.

Fenomena afiliasi geng motor dengan parpol di Yogyakarta ini mewarnai rivalitas antara dua geng terbesar di kota tersebut yaitu QZRUH dan JOXZIN. Dimana QZRUH menguasai wilayah Utara dan JOZIN wilayah Selatan. Dijelaskan Pandu, rivalitas keduanya yang sudah terjadi sejak lama dan terkadang bermuatan SARA, ekonomi dan juga politik.

Kemunculan Geng Motor Sebagai Era Baru Premanisme

Kemunculan geng-geng motor ini banyak dianggap merupakan generasi lanjutan era preman.Era sebelumnya berakhir oleh operasi Petrus (penembakan misterius).Di Yogyakarta, Pandu mencontohkan tokoh-tokoh preman sebelum petrus cukup terkenal dengan geng PECAS NDAHE. Beberapa figur yang kuat di era sebelum petrus misalnya Abu Cakra, Slamet Gundul, Mas Kris Terban, Gunawan Joko Lukito Alias Gun Jack.Ketika operasi petrus berakhir, kehidupan geng sempat “tiarap” beberapa saat.Namun tak lama kemudian muncul komunitas-komunitas baru dengan bentuk geng motor.

 

Menurut Pandu, terdapat kaitan antara film dengan kenakalan remaja yang mengakibatkan premanisme, contohnya: pada era 90an terdapat film Young and Dangerous yang terkenal di kalangan remaja. Film ini bercerita tentang geng di Hongkong yang gemar kebut-kebutan dengan motor. Maka anak-anak muda banyak mengasosiasikan dirinya dengan tokoh-tokoh di film ini.Menurutnya premanisme dari dulu sampai sekarang tetap ada hanya bentuknya saja yang berubah. Seperti yang dikatakan Radjimo, pada era 80-90an preman disebut gali atau gento, keberadaan mereka yang banyak dan meresahlan saat itu memicu adanya Petrus (Penembak Misterius) yang diduga oknum militer suruhan pemerintah. Tentang perubahan fenomen preman ini, juga disampaikan Hikmat. Menurutnya yang semasa kuliah pernah tinggal di Yogya dekade 90an, sebenarnya preman disana tidak seperti representasi preman (secara penampilan: gondrong, bertato, baju sobek-sobek, dll).

img_0643

Banyak orang yang beranggapan keberadaan geng motor (atau preman) hanya karena motif ekonomi, istilahnya mereka menjadi anggota geng hanya untuk mencari uang. unsur politik dan ideologi sudah bermain. Hal ini dibenarkan Pandu, karena pada kenyataannya, banyak anggota geng yang menjadi centeng (tukang pukul / pengawal), contohnya Deki (yang meninggal di kasus Cebongan adalah centeng Pakuan).Selain itu juga terkait masalah lahan parkir.Menutut seorang peserta Hikmat lahan parkir jelas adalah lahan perebutan preman. Hal serupa juga disetujui Sofian, yang mencontohkan seringnya terjadi perkelahian antar geng yang biasanya dipicu oleh rebutan lahan parkir. Selain itu juga ada praktek debt collector, dimana preman atau anggota geng ini disewa oleh perusahaan atau pihak tertentu. Contoh lain juga dikemukakan Hendy, tentang preman profesional Blater (Madura), mereka hanya mau beraksi jika dibayar jadi motivasinya murni ekonomi (uang). Contoh-contoh di atas tentunya menunjukkan adanya faktor ekonomi yang kental dalam aksi geng.

Adapula fenomena geng lainnya seperti di Cianjur, seperti diutarakan seorang Handy. Saat ini geng motor di Cianjur banyak yang bertransformasi dengan mendirikan LSM (tetapi tetap dengan nama-nama yang berbau kekerasan dan intimidasi, contoh: GEMPAR, SERANG). Sedangkan beberapa di antaranya membuat semacam biro-biro berita atau harian dengan wartawan-wartawan bodrek yang kerap meminta uang atau imbalan untuk memuat sebuah berita pesanan. Saat ditanyakan pada Pandu apakah pola-pola seperti di Cianjur ini juga terjadi di Jogja, Pandu menjawab tidak, mereka justru masuk ke politik formal dengan berafiliasi dengan parpol.

Afiliasi Antara Geng Motor dan Politik

Meskipun motif ekonomi sangat kental, namun tidak bisa dipungkiri terdapat faktor ideologi dan politik. Contoh adanya pengaruh ideologi dan politik dalam eksistensi geng adalah rivalitas antara QZRUH dan JOXZIN.QZRUH adalah singkatan dari Qita Zuka Ribut Untuk Hiburan (kita suka ribut untuk hiburan).Tidak jelas kapan tepatnya geng ini berdiri.Beberapa orang menyebut sekitar akhir tahun 70an. Pada masa Orde Baru, banyak anggota QZRUH yang terindikasi menjadi simpatisan dan satgas GOLKAR.Namun, Ketika superioritas GOLKAR di Yogyakarta runtuh berbarengan dengan gelombang reformasi, tokoh dan anggota QZRUH eksodus mencari afiliasi baru.Mereka kebanyakan berpidah ke PDIP.Ormas pemuda PDIP yaitu Banteng Muda Indonesia (BMI) banyak dihuni orang QZRUH.Wilayah Terban dan Sagan juga menjadi basis PDIP.Begitu pula dengan JOXZIN yang juga berafiliasi dengan parpol tertentu.

img_0640

Lahir tahun 1982, bermula dari tempat nongkrong anak muda di sudut utara Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta.Sebuah warung bensin eceran di utara Masjid Gedhe Kauman milik Maman Sulaiman menjadi saksi berdirinya JOXZIN.Nama JOXZIN awalnya adalah singkatan dari kata Pojox Benzin (pojok bensin).Nama yang terkait dengan tempat nongkrong mereka. Maman Sulaiman sang pemilik warung bensin adalah salah satu komandan Pasukan Keamanan (PASKAM) PPP Yogyakarta. Dikenal sebagai tokoh preman yang cukup disegani, Maman menjadi pelindung bagi anak-anak JOXZIN.Generasi awal JOXZIN banyak didominasi anak-anak kampung Kauman. Sebuah kampung yang bercitra muslim, tempat kelahiran organisasi Islam yang terkenal yaitu Muhammadiyah. Dedengkot JOXZIN pada generasi awal bernama Ivan Hoo.Dia warga Kauman.Ivan dikenal dekat dengan pengasuh Pondok Pesantren Krapyak yaitu KH Ali Maksum.Bahkan beberapa anggota JOXZIN mengatakan bahwa Ivan adalah anak angkat Gus Maksum (panggilan KH Ali Maksum).

Keterkaitan aspek politik dengan geng ini disebabkan oleh faktor geografis.Melihat basis wilayah JOXZIN memang basis Islam, menjadi wajar jika dia berafiliasi kepada PPP.Pilihan JOXZIN kepada PPP adalah kombinasi antara kedekatan ideologis dengan kepentingan pragmatis.Kedekatan ideologis manakala kita melihat bahwa memang JOXZIN lahir dan berisi orang-orang yang preferensi pemikirannya adalah ide-ide Islam.JOXZIN memang dilindungi tokoh-tokoh Islam.Sosok KH Ali Maksum (pengasuh Ponpes Krapyak) melindungi JOXZIN termasuk ketika mesti berhadapan dengan aparat penegak hukum. Selain itu masih ada tokoh-tokoh lain seperti Syukri Fadloli (ketua DPC PPP Yogyakarta), Gus Kendar (seorang tokoh ulama di Yogyakarta), dan beberapa tokoh lain yang menjadi pelindung JOXZIN. Faktor kesamaan ide yang dikatalisatori kedekatan geografis mempererat kedekatan JOXZIN dengan PPP sebagai partai Islam. Di sisi lain, kepentingan pragmatis JOXZIN untuk mencari perlindungan bertemu dengan kepentingan pragmatis PPP untuk mencari basis massa. JOXZIN merupakan basis massa yang potensial bagi PPP. Lagipula tipikal kelompok semacam JOXZIN cukup efektif untuk digunakan menghadapi tekanan politik dari lawan yang kerap menggunakan ancaman fisik maupun intimidasi. Dia bisa menjadi counter attack dominasi ormas-ormas preman partai lain.

IMG_0649

Apa yang terjadi pada QZRUH berbeda dengan JOXZIN.Afiliasi politiknya kepada GOLKAR lebih didasari oleh pilihan pemimpin-pemimpin mereka.Ditambahkan Pandu, pasca revormasi QZRUH pindah ke PDIP karena semasa di Golkar banyak unsur keterpaksaan. Terkait dengan pilihan mereka ke GOLKAR, Pandu berpendapat bahwa itu lebih didasari motivasi pragmatis.Mencari perlindungan dan keuntungan.GOLKAR sebagai partai terbesar di era orde baru adalah perlindungan yang efektif sekaligus menguntungkan.Mereka bisa mendapat proyek-proyek maupun pekerjaan tertentu yang bisa menghasilkan uang.Pasca reformasi, banyak anggota QZRUH hijrah ke PDIP.Ini juga dapat dibaca sebagai kepentingan pragmatis.PDIP pasca reformasi menjadi kekuatan terbesar di Yogyakarta.Setidaknya terlihat dari pemilu 1999 secara geografis basis wilayah QZRUH (Terban dan Sagan) adalah basis PDIP. Hal itu tentu mempermudah hubungan tokoh-tokoh QZRUH dengan tokoh-tokoh PDIP Yogyakarta.

Contoh dari pengaruh politik terhadap geng ini seperti yang diutarakan Pandu, misalnya JOXZIN anti PDIP maka saat pemilu pada putaran akhir yang menyisakan SBY-Mega mereka memilih masuk Demokrat.Contoh lain diutarakan oleh Radjimo. Di Banten terdapat pemetaan preman, contohnya: desa-desa dengan tanda”kuning” (Golkar) adalah basis Jawara. Bahkan para Jawara ini tidak hanya berafiliasi dengan parpol tetapi sudah dalam tahap terjun ke politik dan menduduki posisi-posisi di pemerintahan

Problematika Pemberantasan Geng dan Preman

Menurut Amin, premanisme juga dapat dipicu karena adanya akulturasi antara manusia dengan lingkungan, misalnya orang-orang Ambon dan NTT di Yogja. Sebagai minoritas mereka sulit beradaptasi lalu membentuk kelompok sendiri. Ini juga menunjukkan premanisme dapat ditimbulkan juga karena adanya solidaritas. Kemudian geng mereka ini didayagunakan oleh banyaknya oknum-oknum sehingga menjadikanya tumbuh subur. Hal ini dibenarkan Pandu, di Yogya orang-orang Indonesia Timur banyak yang dibayar untuk menjadi tukang pukul, penjaga club atau tempat hiburan serta debt collector. Karena profe itulah, di Yogja terdapat sentimen dan sikap anti masyarakat terhadap orang-orang dari Indonesia Timur (Ambon dan NTT) karena dikenal sering membuat keributan.

Contoh sikap anti ini terjadi pada kasus Cebongan dimana masyarakat justru mendukung dan memuji tindakan Kopassus. Menurut Hikmat selain karena adanya sikap anti, ini juga karena adanya Konsep Kesatria dalam budaya Jawa, yaitu bahwa boleh saja melakukan kekerasan jika untuk melawan kejahatan juga seperti penyerangan Kopassus terhadap preman-preman. Namun, tindakan-tindakan sepihak yang main hakim sendiri ini perlu diwaspadai negara. Karena menurut Sofian hal tersebut menunjukkan negara lemah secara hukum hingga terjadi aksi jalanan seperti itu.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah memang negara selemah itu atau mereka memang dipelihara oleh oknum-oknum yang berpengaruh di negara? Kenyataannya menurut Pandu tetap eksisnya geng motor ataupun preman justru karena adanya backing dari tokoh-tokoh politik atau berpengaruh, ditambah pemerintah yang terkesan malas mengurusi hal ini karena dianggap kecil dan lebih konsen terhadap masalah perpolitikan padahal masalah keamanan juga merupakan hal penting.

Penutup

Jika menilik dari pernyataan Subhi dapat disimpulkan bahwa premanisme justru timbul karena luapan kebutuhan akan demokrasi dan bahwa premanisme terkait juga dengan cara pemerintah mengelola negara. Demokrasi memang menyuburkan premanisme jika dikaitkan dengan makin banyaknya parpol. Begitu pula jika dihubungkan dengan pengelolaan negara seperti pernyataan Sofian, bahwa premanisme berkaitan juga dengan dominasi negara. Dahulu dominasi negara kuat, sekarang selain dominasi negara melemah ditambah terjadi sikap anti yang disebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara sehingga premanisme menguat. Ditambah lagi menurut Hikmat memang terjadi simbiosis mutualisme antara preman dan parpol karena selalu ada kebutuhan akan preman-preman dalam politik di seluruh dunia.

Peneliti The Interseksi Foundation, Jakarta
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>