Diskusi Terbatas Bulan Juni 2013: Media dan Politik

Pengantar

Saat ini media adalah alat politik yang dianggap ampuh untuk mencapai tujuan politik individu maupun kelompok tertentu. Media bukan hanya dapat digunakan secara negatif misalnya sebagai alat propaganda atau menjatuhkan citra elit politik tertentu, namun juga untuk membentuk opini, pencitraan dan mengambil simpati masyarakat. Salah satu cara yang makin marak digunakan media adalah dengan kegiatan amal (filantropi media). Kegiatan amal yang sering digalang media terutama telivisi saat terjadi bencana seringkali dilakukan untuk kepentingan nama baik dan citra stasiun televisi itu sendiri.

Praktik filantropi televisi memiliki problem etis yang berpotensi menggerus makna ideal media massa. Detail-detail teknis yang terabaikan menjadi salah satu muara yang mengindikasikan jamaknya pengabaian terhadap etika. Dalam praktik filantropinya, banyak stasiun televisi yang berkecenderungan kurang memberikan penghargaan kepada pemirsa dengan tidak menyebut pemirsa sebagai donatur. Absennya peran pemirsa digantikan dengan penonjolan citra perusahaan, yang ditunjukkan melalui munculnya petinggi atau pemiliik media ketika menyalurkan sumbangan, meski berada di luar struktur lembaga pengelola sumbangan.

Sebagai contoh adalah stasiun televisi milik MNC Group yang mengabaikan peran publik dengan tidak menyebut bantuan bagi korban banjir sebagai sumbangan pemirsa. Pada siaran yang memberitakan penyaluran bantuan, pemilik MNC Group, Harry Tanoesoedibjo, muncul sebanyak 90-100%. Ditambah lagi dengan adanya ucapan terima kasih dari perwakilan penerima sumbangan kepada pemilik MNC tersebut: “Terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Harry Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Group dan Direktur Utama RCTI Peduli yang telah menggagas dan menyerahkan bantuan kepada para korban banjir.”. Selain terkesan diskenariokan, ucapan tersebut lebih menekankan peran kedermawanan Harry Tanoe ketimbang pemirsa yang menyumbang.

Selain masalah etika, banyak stasiun televisi yang tidak menunjukkan adanya upaya transparansi dengan menyiarkan laporan keuangan secara jelas dan berkala. Selain itu, adanya kecenderungan televisi untuk lebih emotif ketimbang informatif dalam melaksanakan praktik filantropi. Hal ini terlihat dari tiadanya tujuan dan keterangan yang mampu menjelaskan secara baik mengenai program penggalangan dana yang ditawarkan.

Lewat diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh The Interseksi Foundation dengan narasumber Roy Thiago (Pemerhati Media dan Direktur Remotivi) ini, akan dibahas tentang etika filantropi media dan transparansi pengelolaan dana sumbangan yang berasal dari pemirsa/masyarakat. Tujuannya adalah agar kegiatan filatropi yang seharusnya membawa hal positif tidak berubah menjadi sekedar alat politik atau kedok apalagi alat untuk mencari keuntungan pribadi individu atau kelompok-kelompok tertentu.

Diskusi diadakan secara terbatas dengan detail sebagai berikut:

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>