Media Baru dan Perubahan Sosial

Diskusi Terbatas Dwi-Bulanan Yayasan Interseksi Oktober 2011

DISKUSI DWIBULANAN, OKTOBER 2011

Makalah dapat diperoleh di halaman Download
Hanya untuk jumlah peserta terbatas.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi 021-788 39335 (Dian atau Dindie)

PENGANTAR

“You can’t run the society on data and computers alone.”

-Alvin Toffler

Menjadi seseorang yang up to date adalah sebuah kebutuhan, terutama pada sepuluh tahun belakangan ini. Mungkin sebagian dari kita yang memiliki smart phone sudah tanpa sadar memiliki ritme per sekian menit sekali menengok layar telepon genggam atau menanti lampu penanda berkelap-kelip merah tanda ada update pesan, status atau balasan chat. Mengikuti perkembangan gadget pun seperti menyimak naik turunnya saham di bursa efek, sunguh cepat perubahannya. Komputer jinjing atau laptop bukan barang asing yang kerap bersanding dengan secangkir kopi atau teh, teman nongkrong berjam-jam, sehingga kita tidak lagi takut nongkrong di kafe sendirian. Penemuan telepon genggam dengan tombol QWERTY pun mengubah kecepatan seseorang dalam mengetik SMS dan memungkinkan seseorang untuk menulis email panjang seperti menggunakan komputer.

Perkembangan dunia digital ini kemudian dilihat orang dengan kewaspadaan: di satu sisi ada yang merasa bahwa penemuan teknologi dan alat berkomunikasi ini memudahkan kehidupan mereka, tetapi di sisi lain ada juga yang merasa bahwa perkembangan teknologi ini hanya mendudukkan kita dalam posisi sebagai pasar belaka. Perkembangan gadget ini membuat alat komunikasi menjadi bagian dari gaya hidup. Kemasan menjadi lebih penting daripada fungsi yang dibutuhkan. 

new_media
Sumber gambar: THE MARK

Mungkin ini keadaan yang diprediksi oleh seorang futurolog Alvin Toffler sebagai “future shock” di tahun 1970. Future shock ia definisikan sebagai perubahan yang begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat yang dialami tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga seluruh masyarakat. Perubahan struktural yang terjadi di masyarakat dari masyarakat industri menjadi super-industri, akan menenggelamkan masyarakat dalam percepatan kemajuan teknologi dan perubahan sistem sosial, sehingga mereka merasa terputus dan disorientasi. Salah satu yang menyebabkan hal ini adalah arus informasi yang tak terbendung (information overload). Sebuah masyarakat tidak dapat berjalan jika sepenuhnya dikontrol oleh data dan komputer, karena selain kemampuan kognitif, juga diperlukan emosi dan afeksi.

Selain itu muncul pula istilah digital native merujuk pada komunitas masyarakat saat ini yang menjadi bagian dari masyarakat digital. Pertanyaan dasarnya perlu diangkat di sini: apakah maksud dari digital native itu? Apakah serupa konsep Alvin Toffler atau John Naisbitt mengenai information society? Atau dengan the network society yang digagas Manuel Castell? 

Pertanyaan di atas muncul sebagai akibat dari beberapa gejala di masyarakat antara lain meningkatnya kebutuhan masyarakat akan respon yang cepat dalam menggunakan jasa telekomunikasi. Telepon dan SMS yang dahulu dianggap paling cepat saja, sekarang tergantikan dengan instant messenger yang hemat tarif dan lebih cepat ditanggapi. Selain itu, kini informasi boleh jadi dianggap sebagai salah satu tulang punggung utama yang menggerakkan roda ekonomi industri media. Juga sering kita dengar, bahwa media baru, terutama jejaring sosial menjadi “rumah sakit bersalin” bagi aksi-aksi solidaritas seperti koin untuk Prita Mulyasari atau #prayforjapan (trending topic di Twitter ketika Jepang dilanda gempa besar bulan Maret 2011 lalu).

Bagaimana kita menyikapi era banjir informasi ini? Apakah yang dapat diperbuat oleh industri media “tradisional” untuk menghadapi era media baru yang serba cepat? Mari kita diskusikan bersama dalam acara Diskusi Dwi-Bulanan The Interseksi Foundation Oktober 2011 dengan pembicara seorang pakar media dan direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta, Ignatius Haryanto.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>