FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Jejak-jejak Perkembangan Pemerintahan dan Politik di Sulawesi



Halilintar Lathief

Universitas Negeri Makassar



prof_halil
Pulau Sulawesi didiami berbagai suku bangsa utama, yaitu Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Buton, Gorontalo, Duri, Mamasa, Mori, Mekongga, Kulawi, Kaili, Tolaki, Same Bajo, dan sebagainya. Tiap-tiap suku mempunyai bahasa dan kekhasan budaya. Manakala kita mencermati peta Sulawesi, maka kita akan melihat bentukan yang aneh dan kompleks yang acap digambarkan berbentuk anggrek, laba-laba mabuk, seekor kalajengking berbisa, raksasa tanpa kepala, atau merupakan seseorang yang tengah main pencak. Ia menghadap ke depan, ke Lautan Teduh yang maha luas itu, layaknya seorang pahlawan yang gagah perkasa dalam melakukan penjagaan terhadap wilayah NKRI.

Letak geografis Sulawesi memperlihatkan betapa Sulawesi berada dilintasan perjalanan baik secara regional maupun internasional. Jalur-jalur perjalanan telah terbentuk bahkan beberapa diantaranya telah digunakan secara berabad-abad. Peranan historis Makassar dan Buton sebagai pusat dari jalur rempah sejak abad pertengahan, memberi citra tersendiri dalam tradisi perjalanan dunia yang mencantumkan kawasan ini dalam peta-peta tua yang ada. Read More...
Comments

Komunitas Pintu Gerbang: Pengaruh Tipomorfologi Permukiman terhadap Pola Spasial Kota


Bambang Heryanto
Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota, Fakultas Tenik Universitas Hasanuddin-Makassar


bambang_heryanto
Satu diantara tujuan hidup dari pada masyarakat secara hakiki dan universal adalah mengejar kebahagian. Apabila dikaitkan dengan preferensi masyarakat untuk memilih tempat tinggal tujuan dapat dijabarkan dalam bentuk suatu permukiman yang memberi kenyamanan, keindahan, kesejukan, ketentraman, dan keamanan dalam mencapai tujuan tersebut. Ketiga preferensi pemilihan untuk memilih tempat tinggal tersebut secara langsung akan memberi dampak terhadap bentuk atau ruang kota dimana mereka tinggal. Globalisasi telah memberi pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat kota didunia termasuk dalam memilih bertempat tinggal. Kota-kota di Indonesia tidak luput dari pada bentuk permukiman baru yang telah tiga dekade berkembang di kota-kota Barat. Permukiman baru berupa komunitas pintu gerbang (KPG) pada akhir-akhir ini muncul di wilayah pusat kota maupun di wilayah pinggiran di sebagian besar kota-kota di Indonesia. Pola permukiman karateristik ini secara langsung memberi dampak terhadap pola sosial, ekonomi, dan spasial lingkungan di sekitarnya serta wilayah kota. Beberapa faktor yang dibahas antara lain pengaruhnya terhadap kota ditinjau dari lokasi, tipe, bentuk, fasilitas, dan dampak terhadap pola sosial, ekonomi, visual, dan spasial kota. Read More...
Comments

Konteks Sosial-Budaya Demokrasi di Sulawesi Selatan


Heddy Shri Ahimsa-Putra
Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta


heddy-ahimsa
Dalam sebuah tulisannya mengenai politik di kawasan Asia Tenggara James Scott (1978) pernah mangatakan bahwa situasi sosial politik Asia Tenggara di tahun 1950an tidak sama dengan situasi di kebanyakan negara di Barat. Kalau di Barat partai-partai politik merupakan unsur sistem politik yang sangat penting, dan seseorang mengikuti atau memilih partai tertentu karena alasan ideologis, atau karena memperhatikan ideologi yang diperjuangkan dan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah partai, tidak demikian halnya di Asia Tenggara di tahun 1950-1960an. Di kawasan ini partai-partai politik memang telah hadir dan ideologi serta nilai-nilai yang mereka anut juga cukup jelas, namun dua hal ini masih belum begitu kuat berakar dalam masyarakat. Umumnya warga masyarakat Asia Tenggara memilih sebuah partai tidak atas dasar iedologi partai, sehingga analisis politik dengan memusatkan perhatian pada partai dan kelompok politik akan terperangkap dalam sejumlah asumsi yang kurang sesuai dengan realitas yang ada. Read More...
Comments

Ketika Bapak dan Ibu Negara “Bermain-main” Media Sosial

Monica Dian Adelina
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta

Twitter-SBY
SBY dan Obama


Sejak berita akan diluncurkannya akun Twitter resmi Presiden SBY, muncul banyak pro dan kontra. Beberapa kalangan menyambut baik rencana ini, beberapa lainnya tidak hanya menanggapi nyinyir tetapi juga menganggap hal ini berlebihan dan tidak perlu. Banyak kalangan yang berkomentar soal rencana ini, mulai dari kalangan politisi sampai rakyat biasa.

Presiden sendiri beralasan bahwa peluncuran aku Twitter ini semata-mata agar ia dapat lebih dekat dengan rakyatnya. Seperti yang kita ketahui bahwa pengguna Twitter di Indonesia merupakan pengguna terbanyak kelima dan teraktif di dunia. Banyaknya orang Indonesia yang aktif menggunakan Twitter inilah yang kemudian dimanfaatkan entah oleh Presiden SBY sendiri atau penasehat politiknya untuk dapat menarik perhatian rakyat. Read More...
Comments

Dari Kuliah Umum Siti Ruhaini Dzuhayatin

Dilaporkan oleh Stephanie Djohar
Staf Program the Interseksi Foundation

Human-rights-rally-against-radical-islam2
Sumber Foto: Islam Watch


Tarik Tambang Antar HAM Universal dan Islam

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau yang di lingkungan internasional lebih dikenal sebagai Organization of Islamic Conference (OIC) merupakan asosiasi terbesar kedua di dunia setelah United Nation (PBB) yang beranggotakan 57 negara (www.oic-oci.org). Dalam perkembangannya, OKI menghasilkan Deklarasi Kairo (1990) sebagai wujud dari pernyataan komitmen terhadap isu hak asasi manusia (HAM). Hal ini berkembang dengan dibentuknya Komisi Independen Permanen Hak Asasi Manusia (HAM) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang beranggotakan 18 komisioner. Dalam komisi ini, empat orang diantaranya adalah perempuan, yaitu dari Malaysia, Sudan, Afganistan dan Indonesia.

Siti Ruhaini Dzuhayatin adalah salah satu anggota komisioner yang mewakili Indonesia dan menjadi salah satu dari empat anggota perempuan. Kuliah umum yang difasilitasi oleh Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia pada tgl. 11 April 2013 ini memperbincangkan HAM dan Islam dalam implementasi HAM di Negara-negara mayoritas muslim yang menjadi anggota OKI. Inti dari perbincangan ini adalah bagaimana mencari suatu titik temu antara perbedaan-perbedaan tafsir HAM universalitas dan Islam sehingga diharapkan dapat terjadi suatu proses harmonisasi yang bermuara kepada pengakuan substantif terhadap nilai-nilai universal, namun masih memberikan ruang pada nilai-nilai budaya setempat. Read More...
Comments