FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Mengenang Daniel Bell



Hikmat Budiman



daniel-bell
Bagi yang ingin langsung membaca tulisan saya tentang sekilas sosok dan pemikiran Daniel Bell silakan langsung membuka halaman ini.

***



Hari Selasa, 25 Januari 2011 Daniel Bell menghadap illahi pada usia sekitar 91 tahun. Kabar ini saya ketahui dari sahabat saya Dr. Nico Harjanto yang menaut sebuah tulisan oleh Michael T. Kaufman dalam The New York Times ke halaman Facebook Yayasan Interseksi. Terima kasih Nico! Nico menaut berita tadi karena dia tahu persis saya telah diselamatkan oleh almarhum Daniel Bell dari kesulitan menyelesaikan kuliah S1 di jurusan Sosiologi UGM. Apalagi kalau bukan kesulitan menulis skripsi. Cerita singkatnya begini:

Sekitar 18 belas tahun yang lalu, seperti mahasiswa UGM umumnya, sehabis Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya kebingungan mau nulis skripsi tentang apa. Karena bukan mahasiswa yang tergolong pandai, dan tidak pernah tekun mengikuti perkuliahan, terus terang, saya tidak banyak paham apa yang disampaikan dosen-dosen sepanjang tiga setengah tahun masa perkuliahan sebelum KKN. Saya membaca beberapa judul skripsi orang-orang yang sudah lulus di perpustakaan, malah tambah tidak paham. Satu hal saja yang saya ingat: rata-rata judul skripsi mahasiswa sosiologi waktu itu pasti menggunakan kata "pengaruh". Rumus-rumus statistik yang dipakai juga kebanyakan itu-itu saja. Selain tidak begitu paham, ada satu hal lagi yang mempersulit saya waktu itu, yakni rasa bosan membaca judul-judul skripsi tadi.

Kebetulan saja, beberapa tahun sebelumnya saya sudah pernah membaca tiga karya Daniel Bell yang cukup terkenal: The End of Ideology; The Cultural Contradictions of Capitalism, dan; The Coming of Post-Industrial Society. Bohong kalau saya katakan saya sudah paham seluruh isi buku-buku tersebut. Seperti kalau saya membaca buku-buku lain, pemahaman saya atas isi buku-buku Daniel Bell itu hanya sepotong-sepotong saja waktu itu (bahkan sampai sekarang sebenarnya). Saya tambah bingung karena waktu itu di Yogyakarta orang sedang ramai mendiskusikan Postmodernisme. Tak mau ketinggalan kereta, saya juga ikut-ikutan membaca buku-buku yang berhubungan dengan postmodernisme itu.

Salah satu bacaan yang menautkan saya kembali kepada karya-karya Daniel Bell adalah sebuah esai Jürgen Habermas, yang aslinya merupakan naskah pidato ketika ia menerima penghargaan Adorno Prize di kota Frankfurt tahun 1980. Judul pidatonya, "Modernity--An Incomplete Project". Dalam salah satu paragraf tulisannya, Habermas menunjuk Daniel Bell sebagai pemikir sosial Amerika paling cemerlang waktu itu. Pikir saya waktu itu, wah keren juga ternyata si Daniel Bell ini. Tapi herannya, tidak satu kali pun saya dengar nama ini disebut dalam perkuliahan di jurusan Sosiologi. Tapi ini mungkin karena saya memang sangat jarang kuliah. Di antara sekian banyak kawan yang hebat-hebat bacaannya tentang postmodernisme waktu itu, saya juga jarang mendengar nama Daniel Bell disebut.

Lebih parah lagi, tulisan Daniel Bell dalam bahasa Indonesia yang bisa saya temukan waktu itu hanya kata pengantar Daniel Bell untuk buku The Coming of Post-Industrial Society yang diterjemahkan oleh almarhum Romo Mangunwijaya dan diterbitkan oleh Yayasan Obor dalam buku suntingan Romo Mangun berjudul Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Volume II (1985). Baru ketika dalam proses penulisan skripsi saya menemukan ternyata ada karya Daniel Bell lainnya yang sudah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia. Judulnya, Krisis Teori Ekonomi (LP3ES, 1988). Dalam buku ini Bell menjadi coeditor bersama Irving Kristol.

Dari campuraduk kebingungan itulah saya nekad mengajukan proposal skripsi tentang pemikiran Daniel Bell. Benar-benar modal nekad, karena mencari rujukan tentang sosok ini cukup sulit untuk saya waktu itu. Jangan menuduh saya pemalas (karena itu memang salah satu sifat saya), tapi kondisi Yogyakarta awal dekade 1990an jauh berbeda dibanding saat ini. Ketika nulis skripsi saya sama sekali belum mengenal internet, dan bacaan terbaru hanya mungkin didapat dari mereka yang kebetulan baru pulang studi di luar negeri. Sangat menyedihkan kalau diingat sekarang, tapi biasa-biasa saja ketika kami dahulu mengalaminya. Singkat cerita, skripsi saya adalah skripsi pertama yang membahas pemikiran tokoh dan bukan didasarkan penelitian empiris di lapangan, yang dibolehkan lulus dari ujian jurusan Sosiologi UGM. Mungkin karena dosen-dosen merasa iba dengan kebingungan saya saat itu. Beberapa tahun kemudian bahan dari skripsi tersebut diolah menjadi sebuah buku dengan judul yang juga membingungkan, Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionalitas Menurut Daniel Bell. Resepsi pembaca atas buku tersebut biasa-biasa saja, tapi lumayan untuk sebuah karya pemula (saya harus bisa menghibur diri sendiri bukan?).

Di kemudian hari, banyak mahasiswa yang jauh lebih cerdas yang, anehnya, memilih jalan salah yang sama: bukan memperkuat tradisi riset empiris dalam Sosiologi tapi malah menulis studi pemikiran tokoh. Atau jangan-jangan mereka pun sama bingungnya seperti saya.

Maka ketika Nico menaut sebuah artikel tentang Daniel Bell tadi, saya langsung ingat pada sebuah tulisan yang saya tulis hampir 8 tahun yang lalu. Awalnya, atas permintaan salah seorang kawan pengelolanya, tulisan ini dipersiapkan untuk Jurnal Sosiologi, Masyarakat, terbitan Laboratorium Sosiologi UI. Juga pernah saya posting pada situs personal saya yang sekarang sudah ditutup. Silakan dibaca. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Comments

Demokrasi untuk Si Miskin

Sudiarto (Program Officer, The Interseksi Foundation)

Selama 2005-2007, Indonesia telah menggelar PILKADA secara langsung 282 kali di tingkat kabupaten/kota. PILKADA langsung merupakan eksperimen baru berdemokrasi di Indonesia, setelah sebelumnya berpuluh-puluh tahun kepala daerah dipilih oleh DPRD. Selama kekuasaan Orde Baru (1966-1998), pemilihan di tingkat DPRD itu dilandasi atas dasar disukai oleh Suharto atau tidak. Tetapi setelah jatuhnya Suharto oleh gelombang demokratisasi pada 1998, Jakarta kehilangan kendali, sehingga kepala-kepala daerah betul-betul murni hasil pemilihan wakil-wakil rakyat di DPRD. Sejak 2005, atas desakan kuat desentralisasi, proses pemilihan diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat.

Electoral Hostility Index (EHI)
Berbeda dengan pemilu nasional pertama pasca-Orba pada 1999, dan selanjutnya pada 2004 dan 2009, yang relatif berjalan damai, tidak demikian dengan jalannya PILKADA yang diwarnai dengan kekerasan dan perseteruan dalam derajat yang berbeda-beda. Pemilihan presiden dan DPR nasional dipersepsikan berjarak dari kehidupan sehari-hari rakyat, sedangkan PILKADA adalah peristiwa lokal, terkait dengan isu lokal dan tokoh-tokoh lokal, sehingga pemilih cenderung lebih militan dan mudah dimobilisasi untuk PILKADA ketimbang pemilu nasional. Read More...
Comments

DECOMPRESSION #10:

PERJALANAN SEPULUH TAHUN SEBUAH RUANG INISIATIF

Indriani Widiastuti (Program Officer, The Interseksi Foundation)


"Gue pikir kalo RuangRupa bisa bertahan sampai 2 tahun aja, gue udah seneng…Jadi ke depan, kalo bisa bertahan sampe 10 tahun ya sukur aja, biar begini terus…" (Hafiz, Absolut Versus, 2002)


Di zaman yang serba terburu-buru ini, sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Teringat akan diskusi dengan beberapa orang teman mengenai berapa lama sebuah kolektif akan bertahan, "Sepuluh tahun, setelah itu jika mereka tidak terus memperbaharui isu-isu yang berkembang di dalamnya, kolektif itu akan menjadi basi," tukasnya. Tahun 2010 dan Ruangrupa genap berusia sepuluh tahun. Sepuluh tahun untuk bersama-sama merekam masa terpenting dalam pergerakan seni kontemporer di tengah perkembangan sosial budaya, gonjang-ganjing politik di tanah air dan dunia. Read More...
Comments

Seni dan Teknologi

Moh. Nurul Shobah (Finance, The Interseksi Foundation)


Jika kita berbicara masalah “Seni”, pikiran kita langsung tertuju pada sesuatu yang terkait dengan hiasan atau hiburan. Karena dua karakter itu sudah demikian melekat pada seni itu sendiri. Berkaitan dengan karakter tersebut, seni biasanya hanya digunakan sebagai sarana keindahan, keserasian, kenyamanan, kepuasan batin, apalagi jika kita dapat menikmatinya dengan bersantai sembari melupakan segala permasalahan hidup. Dengan menikmati seni, memang seakan-akan saat itu kita terlepas dari segala masalah yang dapat mengusik pikiran.

Seni bukan hanya sekedar untuk hiasan dan hiburan, lebih dari itu tak jarang terdapat makna tersembunyi dan mendalam dari sekedar keindahan bentuk tampilan karya seni secara fisik atau peragaan yang, katakanlah, hanya dapat dinikmati oleh mata telanjang. Selain itu, seni juga dapat digunakan seseorang untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, entah politik, berkaitan dengan budaya, atau bahkan keepentingan bisnis. Seni juga dapat dijadikan media alternatif untuk mengkampanyekan kepentingan-kepentingan untuk perubahan sosial. Read More...
Comments