FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Ini Medan Bung!


Cerita Roadshow "Crossing Boundaries" dari Medan, 13-14 Oktober 2010

Indriani Widiastuti (Program Officer The Interseksi Foundation)

DSC_0514
Medan, salah satu kota besar di Indonesia yang dapat dikatakan sebagai melting pot berbagai kebudayaan pendatang. Di kota ini adalah tempat dari para transmigran dan imigran dengan berbagai macam ciri khas dan gaya hidup sendiri. Tamil, Batak, Karo, Jawa dan Cina mungkin hanya sebagian dari penyumbang keragaman budaya terbesar terbesar dari berbagai jenis makanan, bangunan, tradisi dan bahasa di Medan. Roadshow "Crossing Boundaries" mengunjungi Medan tanggal 13-14 Oktober 2010 di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan dan FISIP Universitas Sumatera Utara.

Sejujurnya, kami sedikit terengah-engah dengan jadwal roadshow yang cukup padat. Setelah pulang dari Makassar kemarin, kami menyisipkan Roadshow di Jakarta, tepatnya di SMAN 81, Kalimalang, Jakarta Timur. Namun istirahat total selama beberapa hari cukup memulihkan tenaga kami. Roadshow pertama kami bertempat di Gedung Serba Guna Lt.2, FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Acara pemutaran film dan diskusi kali ini dipadati oleh siswa SMA dan mahasiswa dari Departemen Antropologi USU. Ruangan besar itu terisi para undangan pada pukul 09.30. Berbeda dengan Makassar, kali ini hanya beberapa hadirin yang berasal dari organisasi non pemerintah dan non akademis. Di acara ini kami kedatangan tamu yang cukup istimewa, yakni kepala kuil di Kampung Tamil yang juga menjadi "pemeran" dalam film "Tamil" karya Ronaldiaz Hartantyo. Interseksi diundang untuk datang berkunjung ke kuil mereka, tetapi kami tidak dapat memenuhi undangan ini. Kami cukup senang dengan hanya melihat Kampung Tamil dan kuil yang ada di film itu dalam perjalanan kami menuju lokasi-lokasi roadshow.

DSC_0547
Pemutaran film dan materi yang disampaikan oleh narasumber Rytha Tambunan, M.Si dan Irwansyah Harahap, M.A, membangkitkan pertanyaan hadirin mengenai bagaimana menyikapi kelompok sosial yang berbeda, juga mengenai hubungan antara agama, budaya dan konflik sebagai rantai sebab akibat dari berbagai konflik. Narasumber kami yang juga seorang etnomusikolog, Irwansyah Harahap, berpendapat bahwa film-film ini termasuk ke dalam etnografi visual. Rytha Tambunan -yang juga dosen di Antropologi USU- menyampaikan beberapa pengalaman orang Tamil yang ia peroleh dari hasil penelitiannya. Sampai saat ini orang Tamil masih sering menemukan kesulitan ketika mengurus KTP atau surat penting lainnya. Pemerintah masih menanyakan perihal kewarganegaraannya, mereka masih dianggap pendatang, meski mereka sudah lahir dan besar di Medan.

Dua orang partisipan terbaik hari itu mendapatkan masing-masing sebuah DVD kompilasi Crossing Boundaries. Kami juga membuat sayembara kecil berhadiah paket DVD bagi hadirin yang tidak sempat memberi komentar dalam acara hari itu, dapat mengirimkannya ke email Interseksi setelah acara berlangsung.

DSC_0667
Banyak dari kita yang mungkin salah kaprah dalam menggunakan istilah multikultur dan multikulturalisme. Pada roadshow kedua di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan, Direktur The Interseksi Foundation, Hikmat Budiman, menjabarkan perbedaan kedua hal ini. Beliau tampil menjadi pembicara karena Ben Pasaribu, yang seharusnya menjadi narasumber dalam roadshow di UNIMED ini, harus beristirahat karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Istilah multikulturalisme dapat diartikan sebagai cara atau politik yang dipakai untuk mengatur kelompok sosial (misalnya melalui kebijakan pemerintah atau rumusan filsafat sosial), sedangkan multikultur adalah kondisi di mana dalam satu kota atau negara terdapat banyak agama, etnik, ras dan sebagainya. Menurutnya, jika pemerintah setuju dengan multikulturalisme, maka pemerintah harus bersikap adil kepada semua golongan.

Dalam materi diskusi yang dipresentasikannya, Robert Sibarani -Rektor Universitas Dharma Agung dan narasumber dalam diskusi kali ini- berpendapat bahwa dalam sebuah masyarakat yang multikultur dibutuhkan sikap kesetiakawanan yang tinggi antar anggota masyarakat. Beliau tampak terharu melihat salah satu film yang dibuat oleh Tiara M. Salampessy mengenai kaum Pagandeng di Makassar, karena menurutnya etos kerja keras yang dimiliki oleh generasi muda saat ini sudah sangat kurang. Ia berharap, melalui film ini selain menyampaikan pesan perdamaian, juga dapat menggugah generasi muda untuk lebih giat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup.

Comments