Diskusi Dua-Bulanan: Batik Melawan Perdagangan Bebas
12/08/11 18:32 Filed in: BIMONTHLY DISCUSSION

Sumber gambar: Bakery Indonesia
Per Januari 2010, resmi berlaku kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). Kesepakatan ini akan membuka pasar bebas terbesar di dunia, mencakup 1,9 miliar penduduk. Banyak pihak menengarai, agresifnya China untuk mendesakkan ACFTA karena imbas krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa. Untuk mengalihkan pasar bagi produk-produknya, China melirik ASEAN yang penduduknya berjumlah sekitar 600 juta jiwa, jumlah yang sangat menggiurkan dan letaknya yang strategis di selatan China.
Dalam praktiknya, realisasi perdagangan antara negara-negara ASEAN dengan China bersifat asimetris, artinya tidak seimbang antara kedua belah pihak. China lebih banyak diuntungkan, mengingat selama beberapa dekade terakhir industri manufaktur di China sedang tumbuh sangat pesat, sementara ASEAN masih berjuang untuk melepaskan diri dari dampak krisis ekonomi 1997. Kesepakatan ACFTA hanya melegitimasi banjirnya impor secara ilegal produk-produk China yang sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.
Segera sesudah ACFTA dinyatakan berlaku, gelombang penolakan datang dari para pengusaha dan serikat-serikat buruh yang merasa terancam. Sektor-sektor yang paling terkena dampak antara lain tekstil, alas kaki dan mainan. Kalangan pengusaha berusaha menekan pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, untuk melakukan renegosiasi terhadap sejumlah pos tariff dalam ACFTA. Para wakil rakyat di DPR pun terlibat dengan membentuk Panja Daya Saing untuk mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, tidak saja terhadap ACFTA, tetapi juga terhadap kesepakatan-kesepakatan serupa seperti dengan India (AIFTA) dan Australia-Selandia Baru (AANZFTA).
Salah satu yang menjadi keprihatinan adalah ancaman terhadap industri batik, yang menjadi ciri khas Indonesia dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Membanjirnya tekstil bermotif batik dari China mengancam sentra-sentra industri batik di Pekalongan dan Solo. Namun para pengusaha batik merasa optimis dapat bersaing dengan produk serupa dari China. Batik China memang besar dalam volume perdagangan, tetapi coraknya sedikit, sementara batik lokal unggul dalam kekayaan motif. Tetapi tidak menutup kemungkinan China akan melakukan variasi terhadap motif-motif batik untuk menyesuaikan dengan kompetitor lokal.
Untuk mendiskusikan dampak kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement / FTA) terhadap industri nasional khususnya batik, Yayasan Interseksi mengadakan Diskusi Dwibulanan dengan menghadirkan pembicara seorang pemerhati budaya dan juga aktivis anti-globalisasi, Revitriyoso Husodo. Selain aktif di lembaga Institute for Global Justice (IGJ), beliau juga mendirikan Perkumpulan Budaya Bumi Bagus yang mengangkat isu budaya dalam upaya menyelamatkan kekayaan budaya Indonesia dalam upaya peningkatan daya saing menghadapi dampak globalisasi. Detail acaranya adalah sebagai berikut:
- Pembicara: Revitriyoso Husodo
- Hari/tgl: Kamis, 18 Agustus 2011
- Waktu: pukul 15:30-17:30 dan diakhiri dengan buka puasa bersama,
- Tempat: di kantor Yayasan Interseksi, Jl. Kompleks Batan No. BL E/17, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520, Phone/Fax : 021-788 39335