FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

CROSSING BOUNDARIES

Ini Medan Bung!


Cerita Roadshow "Crossing Boundaries" dari Medan, 13-14 Oktober 2010

Indriani Widiastuti (Program Officer The Interseksi Foundation)

DSC_0514
Medan, salah satu kota besar di Indonesia yang dapat dikatakan sebagai melting pot berbagai kebudayaan pendatang. Di kota ini adalah tempat dari para transmigran dan imigran dengan berbagai macam ciri khas dan gaya hidup sendiri. Tamil, Batak, Karo, Jawa dan Cina mungkin hanya sebagian dari penyumbang keragaman budaya terbesar terbesar dari berbagai jenis makanan, bangunan, tradisi dan bahasa di Medan. Roadshow "Crossing Boundaries" mengunjungi Medan tanggal 13-14 Oktober 2010 di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan dan FISIP Universitas Sumatera Utara.

Sejujurnya, kami sedikit terengah-engah dengan jadwal roadshow yang cukup padat. Setelah pulang dari Makassar kemarin, kami menyisipkan Roadshow di Jakarta, tepatnya di SMAN 81, Kalimalang, Jakarta Timur. Namun istirahat total selama beberapa hari cukup memulihkan tenaga kami. Roadshow pertama kami bertempat di Gedung Serba Guna Lt.2, FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Acara pemutaran film dan diskusi kali ini dipadati oleh siswa SMA dan mahasiswa dari Departemen Antropologi USU. Ruangan besar itu terisi para undangan pada pukul 09.30. Berbeda dengan Makassar, kali ini hanya beberapa hadirin yang berasal dari organisasi non pemerintah dan non akademis. Di acara ini kami kedatangan tamu yang cukup istimewa, yakni kepala kuil di Kampung Tamil yang juga menjadi "pemeran" dalam film "Tamil" karya Ronaldiaz Hartantyo. Interseksi diundang untuk datang berkunjung ke kuil mereka, tetapi kami tidak dapat memenuhi undangan ini. Kami cukup senang dengan hanya melihat Kampung Tamil dan kuil yang ada di film itu dalam perjalanan kami menuju lokasi-lokasi roadshow.

DSC_0547
Pemutaran film dan materi yang disampaikan oleh narasumber Rytha Tambunan, M.Si dan Irwansyah Harahap, M.A, membangkitkan pertanyaan hadirin mengenai bagaimana menyikapi kelompok sosial yang berbeda, juga mengenai hubungan antara agama, budaya dan konflik sebagai rantai sebab akibat dari berbagai konflik. Narasumber kami yang juga seorang etnomusikolog, Irwansyah Harahap, berpendapat bahwa film-film ini termasuk ke dalam etnografi visual. Rytha Tambunan -yang juga dosen di Antropologi USU- menyampaikan beberapa pengalaman orang Tamil yang ia peroleh dari hasil penelitiannya. Sampai saat ini orang Tamil masih sering menemukan kesulitan ketika mengurus KTP atau surat penting lainnya. Pemerintah masih menanyakan perihal kewarganegaraannya, mereka masih dianggap pendatang, meski mereka sudah lahir dan besar di Medan.

Dua orang partisipan terbaik hari itu mendapatkan masing-masing sebuah DVD kompilasi Crossing Boundaries. Kami juga membuat sayembara kecil berhadiah paket DVD bagi hadirin yang tidak sempat memberi komentar dalam acara hari itu, dapat mengirimkannya ke email Interseksi setelah acara berlangsung.

DSC_0667
Banyak dari kita yang mungkin salah kaprah dalam menggunakan istilah multikultur dan multikulturalisme. Pada roadshow kedua di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan, Direktur The Interseksi Foundation, Hikmat Budiman, menjabarkan perbedaan kedua hal ini. Beliau tampil menjadi pembicara karena Ben Pasaribu, yang seharusnya menjadi narasumber dalam roadshow di UNIMED ini, harus beristirahat karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Istilah multikulturalisme dapat diartikan sebagai cara atau politik yang dipakai untuk mengatur kelompok sosial (misalnya melalui kebijakan pemerintah atau rumusan filsafat sosial), sedangkan multikultur adalah kondisi di mana dalam satu kota atau negara terdapat banyak agama, etnik, ras dan sebagainya. Menurutnya, jika pemerintah setuju dengan multikulturalisme, maka pemerintah harus bersikap adil kepada semua golongan.

Dalam materi diskusi yang dipresentasikannya, Robert Sibarani -Rektor Universitas Dharma Agung dan narasumber dalam diskusi kali ini- berpendapat bahwa dalam sebuah masyarakat yang multikultur dibutuhkan sikap kesetiakawanan yang tinggi antar anggota masyarakat. Beliau tampak terharu melihat salah satu film yang dibuat oleh Tiara M. Salampessy mengenai kaum Pagandeng di Makassar, karena menurutnya etos kerja keras yang dimiliki oleh generasi muda saat ini sudah sangat kurang. Ia berharap, melalui film ini selain menyampaikan pesan perdamaian, juga dapat menggugah generasi muda untuk lebih giat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup.

Comments

Cerita Roadshow dari Makassar



Indriani Widiastuti (Program Officer The Interseksi Foundation)

roadshow_makassar
Ini adalah kali pertama Yayasan Interseksi mengadakan acara di luar pulau Jawa dan kami berangkat sebagai tim, tidak sendiri-sendiri seperti ketika kami melakukan penelitian. Kota tujuan roadshow kami yang pertama adalah Makassar, Sulawesi Selatan. Sengaja kami tiba sehari sebelum acara, agar kami dapat mempersiapkan acara ini semaksimal mungkin. Ternyata, kehadiran kami yang lebih awal juga mendatangkan berkah, karena kami dapat mengikuti sebuah diskusi yang menarik tentang keberagaman di Rumah Nusantara. Sedikit informasi tentang Rumah Nusantara, lembaga ini terbentuk dari bermacam kelompok etnis di Makassar dan bertujuan untuk menjadi jembatan komunikasi antar budaya dan kelompok sosial yang ada di sana.

screening
Sore itu, beberapa pembicara, di antaranya Dr. Andi Halilintar Lathief dan Ishak Ngeljaratan, M.A (kedua tokoh yang diundang untuk menjadi pembicara di roadshow kami) menyuguhkan sebuah perbincangan yang menarik. Meskipun demikian, kami yang sedikit kelelahan di perjalanan dan mulai dihinggapi kantuk, merasa kesulitan untuk menyimak diskusi itu dengan baik. Namun, tidak lama kantuk itu hilang ketika para panelis membicarakan soal sarung. "Sarung? Kok sarung yang dibahas?" pikir saya. Mata dan telinga saya mulai terbuka, ketika Dr. Halilintar Lathief (atau lebih akrab disapa Pak Halil) mulai menerangkan tentang fungsi sarung sebagai pengganti kamar di masyarakat Bugis. Jadi, para orang tua yang membutuhkan "ruang pribadi", mereka menggunakan kain agar tidak terlihat oleh anak-anak. Lain di Bugis, lain lagi di Minang, ternyata ukuran sarung yang lazim dipakai sekarang sempat menjadi masalah di masyarakat Minang yang terbiasa mengenakan sarung hingga batas dada, sedangkan ukuran sarung sekarang panjangnya akan pas jika dikenakan di perut. Kami pun tertawa.

Rabu, 29 September 2010, saat yang mendebarkan tiba. Pagi-pagi kami bergegas ke Universitas Negeri Makassar, kampus yang diberitakan sebagai kampus teranarkis tingkat nasional. Sesampainya di sana, kami tidak melihat tanda-tanda keliaran mahasiswa seperti di salah satu film peserta Crossing Boundaries, Paul. Bekas-bekas kerusuhan antar fakultas sekarang sudah berganti menjadi sebuah gedung tinggi yang masih belum selesai dibangun. Mahasiswa-mahasiswa dengan jaket almamaternya terlihat bergerombol di bawah spanduk mini roadshow kami. Kami sedikit lega, karena keadaan kampus tenang hari itu.

narasumber
Waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika kami mulai memutarkan film pertama, "Sutadi Sudah Tak di Sini", yang disambung dengan "Tamil" dan "Sebelum Subuh". Di sela-sela pemutaran kami memberikan sedikit penjelasan mengenai film yang akan diputar, baik latar belakang pembuatannya maupun tentang pembuat filmnya. Siswa-siswi SMA yang kami undang untuk hadir, datang beramai-ramai dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam pada sesi tanya jawab. Kami memberikan kejutan kepada hadirin yang telah berpartisipasi dalam diskusi berupa dua buah DVD kompilasi film Crossing Boundaries. Pemenang DVD ini adalah pilihan narasumber.

Dalam sesi diskusi, dua pembicara melihat video-video yang telah diputar dari dua perspektif yang berbeda bahkan bertolakbelakang. Sambil tetap memberi apresiasi pada upaya pemanfaatan medium video untuk menyebarkan pesan perdamaian, Ishak Ngeljaratan memberi kritik cukup tajam pada beberapa aspek seperti terlalu pendeknya durasi masing-masing video, kedalaman isu yang ditampilkan, dan aspek-aspek lain yang secara konvensional menjadi ukuran video dokumenter yang dikerjakan oleh kalangan profesional. Di pihak lain, Halilintar Latief justru tidak banyak mempersoalkan aspek-aspek semacam itu, melainkan lebih pada relevansi tema-tema yang diangkat dalam video-video tersebut dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Makassar, dewasa ini. Pertanyaan-pertanyaan peserta merentang panjang dari mulai pertanyaan tentang pesan apa yang ingin disampaikan sampai pada soal-soal teknis editing film.

rumah_nusantara
Keesokan harinya, 30 September 2010, roadshow berikutnya berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar. Beberapa saat sebelum kami tiba di Makassar, telah terjadi pembekuan sementara Badan Eksekutif Mahasiswa kampus UIN karena permasalahan internal antara mereka dan pihak kampus. Tentu saja hal ini membuat kami khawatir, karena kami banyak mengandalkan bantuan dari pihak BEM. Namun kami harus bersyukur karena tim lokal roadshow di sana sangat sigap dan cekatan, mereka membentuk tim baru lagi dan mengambil alih tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan oleh panitia BEM. Cuaca yang tidak menentu, tidak menghalangi pemutaran film ini, justru kami diuntungkan oleh hujan yang tiba-tiba turun deras sekali di akhir pemutaran. Hal ini terbukti mampu menahan penonton untuk tetap berada di dalam ruangan.

Salah seorang narasumber diskusi, Wahyuddin Halim dari Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, menggarisbawahi keberhasilan utama program Crossing-Boundaries 2010 ini dari sisi bagaimana melalui video-video yang telah dibuat program tersebut berusaha mengangkat sejarah orang-orang biasa atau orang kebanyakan yang justru jarang diungkap oleh film-film komersial atau media massa mainstream. Subjek-subjek dalam video-video tersebut bukanlah orang-orang terkenal melainkan orang-orang yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti tukang ojeg speda, penjual sayur di pasar, atau suasana dalam kedai tuak (lapo).

diskusi
Sungguh di luar perkiraan, antusiasme masyarakat Makassar terhadap program lintas budaya sangat besar. Setelah selesai mengadakan roadshow di kampus-kampus, Yayasan Interseksi diminta untuk mengadakan diskusi dengan topik serupa, namun dengan skala yang lebih kecil di Rumah Nusantara. Menurut salah seorang peserta diskusi, langkah Interseksi dalam mengadakan program seperti Crossing Boundaries sudah selangkah lebih maju daripada yang telah dilakukan oleh mereka di Makassar, yang baru memulai tahap-tahap pembentukan wacana tentang pentingnya memelihara sikap saling hormat antar kelompok sosial. Mereka sangat mendukung kegiatan ini dengan mulai bersemangat untuk meneruskan pembuatan film tentang seorang anak perempuan dari pemimpin adat komunitas adat Kajang yang sedang bergelut dengan tarik-tolak antara tradisi yang membesarkannya di dalam komunitas dan tantangan-tantangan baru yang dihadapinya di luar ketika ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Makassar. Halilintar Latief bahkan sempat mendiskusikan pembuatan video lintas-budaya sebagai salah satu upaya melihat bagaimana masing-masing kelompok mengekspresikan dirinya.

Comments

Roadshow Medan

Posted by Webmaster


vw_combie
Setelah sukses menyelenggarakan roadshow dan diskusi publik di kota Makassar tgl. 29-30 September 2010 yang lalu (laporan detailnya masih sedang dipersiapkan), mulai tanggal 13 sampai 14 Oktober 2010 Yayasan Interseksi akan berangkat ke Medan untuk tujuan yang sama, yakni roadshow dan diskusi publik program Crossing Boundaries: Cross Culture Video Project for Peace 2010. Aktivitasnya meliputi pemutaran video-video yang dihasilkan oleh para peserta program Crossing Boundaries, dan dilanjutkan dengan diskusi publik tentang isu-isu relasi antar kelompok sosial yang berbeda dalam konteks penciptaan dan pemeliharaan perdamaian di Indonesia. Di kota Medan, kami bekerjasama dengan Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Negeri Medan (Unimed).

Sudah cukup banyak diketahui bahwa Medan adalah salah satu contoh tipikal dari setting masyarakat multikultural di Indonesia. Penduduk kota ini tersusun dari beberapa pengelompokan sosial berdasarkan etnis bahkan ras yang berbeda. Ras. etnis, dan agama warga yang berbeda tentu saja juga ada di kota-kota lain, tapi pengelompokan sosial yang dalam banyak kasus juga ditandai oleh pembagian teritori berdasarkan pengelompokan tersebut sehingga menyerupai kantong-kantong kultural yang terpisah tidaklah terlalu banyak jumlahnya di Indonesia. Medan adalah salah satunya. Dan seperti halnya Makassar, Medan juga merupakan salah satu lokasi tempat proses pengambilan gambar video program Crossing Boundaries 2010 berlangsung.

Ada dua video dokumenter yang dibuat oleh peserta program Crossing Boundaries 2010 yang mengambil setting multikultural medan. Yang pertama adalah Lapo oleh Andang Kelana, dan yang kedua adalah Tamil yang dikerjakan oleh Ronaldiaz Hartantyo. Di samping video-video lainnya, dua video dokumenter tersebut tentu saja akan diputar dan didiskusikan di Medan tgl. 13-14 Oktober 2010 ini.

Comments

Fresh from the Oven

Posted by Webmaster

dvd_crossing_half
Just in case you were too engrossed with real life to notice, here's the quick background. In April 2010 we kicked off our Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010. We selected participants from Papua and Aceh to make videos in Jakarta; participant from Ambon make video in Makassar; and participants from Jakarta and Bandung in Medan and Makassar. We had a participant from Palu (Central Sulawesi), but he withdrew his participation in the program due to a health issue. We trained them all in a five-day pre-production workshop before dispatched them to the production sites. Read our previous posts to see more information.

After the fieldwork, we then regroup all the participants in a 10-day workshop on post-production activities in July, and they all had come back to their respective hometown after the workshop was concluded. The next step for us is to finalize the videos that participants has painstakingly composed during the workshop, and to compile and package them into a single DVD-video. At the initial stage, we are going to distribute the DVD to some of our partners while we are screening the videos for public discussion in Makassar, Jakarta, and Medan.

Hundreds of hours have passed here in our office, and now the DVD is already forming a golden master ready to be duplicated. It contains 6 (six) documentary videos with the themes range from Lapo (traditional Batakese tavern) and Indian Tamil-bloodline Medanese in North Sumatra to Spaniard Portuguese-pedigreed Betawi People in Kampung Tugu in Jakarta to the traditional Buginese vegetables street vendor in Makassar.

If some of you were interested with the videos, the DVD will be available on a Print-on-Demand basis. The pricing is not yet available as of this writing.


Comments

Mini Roadshow

Posted by Webmaster


Timetable and Agenda for Our MiniRoadshow in Makassar and Medan
Crossing Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace 2010


curvereel


MAKASSAR

29 Sept 2010 : 09.30 – 12.30
Ruang sidang Rektorat Universitas Negeri Makassar (UNM)

Video Screening:

  • Sutadi Sudah Tak Di Sini
  • Lapo
  • Sebelum Adzan Subuh
  • Tamil

Public Discussion

Resource Persons:
  • Dr. Andi Halilintar Lathief (Head of State University of Makassar Research Institute)
  • Ishak Ngeljaratan, M.A (Lecturer, Hasanuddin University, Makassar)
  • Moderator: Syamsurijal Adhan (Researcher, Makassar-based LAPAR)
30 Sept 2010: 09.30 – 12.30
Gedung LT Kampus 2, UIN Alauddin, Makassar

Video Screening:

  • Tamil
  • Kampung Tugu, Bayang Masa Lalu
  • Lapo
  • Sebelum Adzan Subuh

Public Discussion:

Resource Persons:
  • Dr. Andi Halilintar Lathief (Head of State University of Makassar Research Institute)
  • Wahyudin Halim, MA (Lecturer, Faculty of Philosophy, Makassar Islamic State University)
  • Moderator : Syamsu Rizal Adhan (Researcher, Makassar-based LAPAR)

MEDAN

13th October 2010 : 09.30 – 12.30
Gedung Serba Guna Lt.2, FISIP Universitas Sumatera Utara

Video Screening

  • Lapo
  • Tamil
  • Kampung Tugu, Bayang Masa Lalu
  • Sutadi, Sudah Tak Di Sini

Public Discussion:

Resource Persons:
  • Irwansyah Harahap, M.A (Ethnomusicologist, University of North Sumatra)
  • Rytha Tambunan, M.Si (Anthropologist, University of North Sumatra)
  • Moderator: Syafrin, MA. (Lecturer, Law Faculty, University of North Sumatra)
14th October 2010 : 09.30 – 12.30
Aula Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Medan

Video Screening:

  • Kemarin
  • Sebelum Adan Subuh
  • Tamil
  • Lapo

Public Discussion:

Resource Persons:
  • Ben Pasaribu, M.A (Ethnomusicologist, Medan State University)
  • Prof. Dr. Robert Sibarani, (Rektor of Universitas Dharma Agung Medan/ Anthropologist)
  • Moderator : Indriani Widiastuti (Yayasan Interseksi)


JAKARTA 28 - 29 October 2010*

*) Waiting for confirmation


Comments

Makassar


Syaiful Anwar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi




paul
"Sejumlah kelompok mahasiswa terlibat tawuran. Tidak ada informasi pasti penyebab tawuran tersebut." Mungkin potongan kalimat tersebut seringkali muncul di beberapa media, dan hadir di kepala kita menjadi ingatan. Mungkin itu juga ingatan kita tentang Makassar. Mengapa?

Mungkin hampir bisa dibilang sebuah “kecelakaan” ketika saya memilih tawuran mahasiswa di Makassar sebagai ide filem yang saya buat di sini. Karena sebelum memilih ide tersebut, saya pribadi berangkat ke Makassar ingin membuat karya visual tentang sepakbola, entah dari segi apa. Itupun dengan kekurangan materi riset bertema sepakbola. Maklum saya peserta terakhir dari workshop Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi.

Ya, ide ini datang ketika saya berbincang dengan Pak Halilintar Latief. Tanpa sengaja obrolan yang bertempat di Rumah Nusantara, mengarah ke situasi panasnya pasca penyerangan kampus. Apalagi ditambah ada tiga atau empat mahasiswi yang sedang mencari persembunyian yang aman untuk dirinya. Ternyata situasi pasca tawuran antar-mahasiswa dan keributan disertai pembakaran gedung membawa dampak ke setiap mahasiswa dan mahasiswinya. Bayangkan, para mahasiswa dan mahasiswi dicari oleh sebagian kelompok yang tak dikenal sebagai aksi balas dendam karena kematian Dodo Rifaldi. Kelompok ini diduga masih terikat dalam hubungan kerabat keluarga dan teman sefakultas korban, katanya di obrolan sore itu.
Read More...
Comments

Lapo: Ruang Bincang Masyarakat

Sedikit Cerita tentang Kota Medan

Andang Kelana
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi




"Dengan menenggak tuak, orang-orang tak dikenal ini meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada".

Narasi pembuka dalam film dokumenterku, Lapo.


andang
Minuman tradisi menjadi salah satu penanda untuk sebuah kota. Di beberapa daerah di Indonesia orang mengenal Ciu, Cong Yang, Arak Tuban, Arak dan Brem Bali, Tuak, Sopi, Cap Tikus, Kamput dan sebagainya. Sebagian dari minuman tradisi ini adalah jamuan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat setempat.

"Kalau kata orang Barat bilang, orang Batak itu seperti durian katanya, mukanya kan kasar-kasar . . . Tapi kalau udah dibelah macam mana? Tambah bung, tambah . . .", kata salah satu pengunjung lapo di dekat Bang Iwan.



Tapi minuman-minuman tadi juga menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. Secara umum bagi orang Batak sekarang ini, tuak berdasarkan sumbernya dibagi dalam dua kategori, yakni Tuak Bagot dan Tuak Kalapa. Tapi berdasarkan proses pembuatannya minuman yang sama dikategorikan menjadi Tuak Raru dan Tuak Na Tonggi. Adapula yang disebut Tuak Tangkasan1, yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.2
Read More...
Comments

Kampung Tugu


Teuku M. Umar
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi



t_umar
Hari pertama setelah proses pengambilan gambar dimulai, yang pertama saya lakukan adalah pergi ke Tanjung Priuk, mencari Kampung Tugu, yang konon dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis. Hampir dua jam perjalanan saya tempuh menuju terminal Tanjung Priuk, menumpangi bus jurusan Depok-Tanjung Priuk. Saya memang berangkat dari kantor Interseksi yang terletak di Lenteng Agung, di seberang stasiun kereta api Tanjung Barat.

Saat bus memasuki terminal Tanjung Priuk, saya mulai bertanya alamat Kampung Tugu. Awalnya saya bertanya kepada kernet bus, tapi dia menjawab tidak tahu. Kemudian ada dua orang penumpang yang menyahut, sepertinya mereka pernah mendengar nama kampung itu, tapi tidak tahu persis alamatnya di mana. Ketika bus sudah berhenti di terminal, salah seorang dari mereka mencoba membantu saya bertanya kepada orang-orang (tukang ojek) yang ada di terminal. Sudah beberapa orang ditanyai, tidak ada juga yang tahu tentang Kampung Tugu. Saya mulai bingung, dan penumpang yang menolong saya tadi pun harus pergi meninggalkan saya, padahal belum lagi jelas kemana arah saya pergi. Tak lama kemudian, datang seorang bapak (tukang Ojek). Ia mengatakan bahwa kalau Gereja Tugu memang ada, tapi Kampung Tugu belum pernah dia dengar. "Gereja Tugu itu jauh dari sini", kata si Bapak, dan dia mulai nawarkan jasa ojeknya kepada saya. Untuk sampai di Gereja Tugu ongkosnya Rp. 30.000. Namun saya berkilah, bahwa karena saya sedang melakukan penelitian tentang Kampung Tugu, saya harus tahu jarak dan jenis anggukatan untuk menuju ke sana. Setelah mendengar alasan tersebut, ia memberi tahu saya angkutan apa yang bisa dipakai (angkot no. 41), dan bahwa saya harus turun di perempatan simper. "Nah dari situ kamu naik ojek lagi. Rp. 5000 paling", jelas bapak tukang ojek.
Read More...
Comments

Tamil Medan


Ronaldiaz Hartantyo
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi


aldy
Medan, kota yang saya buta sama sekali keadaannya seperti apa. Saya mengikuti program “Crossing Boundaries: Cross Culture Video-making Project for Peace” ini dengan kepala kosong dan pandangan yang sangat stereotipe -baik tentang konflik maupun tentang film dokumenter itu sendiri- secara definisi, maupun cara menikmatinya. Maklum anak muda zaman sekarang terlalu banyak dicekoki oleh film-film yang sangat didramatisir dan supernatural-maksudnya di luar batas normal, dan sulit terjadi di kehidupan nyata. Entah mengapa concept paper saya lolos. Akhirnya saya dan teman-teman wakil dari kotanya masing-masing, dipersiapkan sebelum pergi ke Medan. “Dikurung” selama 7 hari di daerah Gadog Puncak untuk Workshop Pra-produksi. Di workshop ini mata saya dibuka lebar-lebar lagi, bahwa film itu mungkin adalah karya seni terbesar yang pernah dimiliki manusia (seperti kata-kata dalam film “Janji Joni”). Bahasa visual yang sangat bermakna, simbol-simbol kecil yang mewakili hal-hal yang tak terbayangkan besarnya. Dan tentu saja tentang Medan tempat tujuan saya.
Read More...
Comments

Syurga Dunia, Short Time!


Marthen Luther Sesa
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi



martin
Ketika aku sebut Papua, maka pikiran kebanyakan orang akan langsung tertuju pada TPN/OPM, rambut keriting, kulit hitam dan daerah tertinggal. Paradise Island, itulah sebutan lain dari tanah yang diberkati ini, karena selain keindahan dan kemolekan burung cenderawasih (Bird of Paradise) terdapat banyak eksotisme alam lainnya, dari bawah laut di kepulauan Raja Ampat hingga ke puncak Cartenz yang hingga kini puncaknya masih tertutup es beku di Kawasan Pegunungan Jayawijaya, dari lempengan tembaga dan emas di Freeport Timika hingga berjuta-juta kubik Liquefied Natural Gas (LNG) di British Petroleum’s (BP) Teluk Bintuni. Inilah Papua, Alam penuh nikmat yang tak pernah bisa dinikmati oleh masyarakat kasta paling bawah di Papua.

Berbagai upaya untuk bisa menikmati anugerah tanah yang diberkati ini akan selalu dicap sparatis dan makar. Sebut saja Arnold Ap, Thomas Wanggai, Theys H. Eluay, Opinus Tabuni dan terakhir Kelly Kwalik yang mati dibunuh oleh pemerintah Jakarta (Indonesia).
Read More...
Comments

Sutadi Sudah Tak Di Sini


Marthen Luther Sesa
Peserta Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project For Peace 2010 dari Papua.

martin
Pagi itu, matahari dengan gagahnya bertengger, seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dialah yang paling super, yang siap membakar siapa saja yang berani menghalangnya. Jam di salah satu sudut dinding rumah itu menunjukkan pukul 08.15 ketika kupaksa mata ini terbuka, aku terpaksa harus egois untuk tak menuruti kemauannya setelah semalaman ku ajak memelototi layar kaca televisi, menyaksikan team dari berbagai belahan bumi berkompetisi menunjukkan bahwa negara mereka-lah yang paling jago soal bermain bola kaki.

Setelah beberapa saat aku bersiap, metromini 62 menjemputku, membawaku meninggalkan balai berhias patung jenderal Sudirman menuju sebuah terminal yang diambil dari salah satu nama daerah di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Manggarai. Dengan membeli tiket Rp. 3.500,- aku berniat untuk berdesak-desakan dengan para penumpang busway, salah satu alat transportasi umum yang terbilang megah di ibukota Jakarta. Aku menjadi manusia asing dalam sorotan mata orang-orang yang duduk berderet dihadapanku. Kuperhatikan, antara mereka, satu dan yang lainnya juga saling terasing, tak ada percakapan, obrolan bahkan gurauan.
Read More...
Comments

Mendapat Durian Runtuh


Tiara Salampessy
Peserta Program Cross Culture Video Project for Peace 2010 dari Ambon


tiara
Seperti kata pepatah, "Dapat Durian Runtuh", sebuah kesempatan langka akhirnya bisa aku dapatkan. Yaitu mengikuti kegiatan Pembuatan Film Dokumenter Lintas Kultur untuk Perdamaian. Sebenarnya aku sudah dapat informasi kegiatannya seminggu sebelumnya, cuma karena sibuk dengan ujian kenaikan kelas di SMA Negeri 1 Ambon, aku tidak sempat mendaftar untuk ikut kegiatan tersebut.

Rasa gak pede untuk mendaftar, walau didesak terus sama teman-teman di Lembaga Antar Iman Maluku dan Institute Tifa Damai Maluku, membuat aku agak ragu-ragu mendaftar. Mungkin juga karena selama ini cuma terbiasa dengan kamera foto, belum terbiasa dengan kamera video. Barulah di hari terakhir pendaftaran aku coba kirimkan persyaratan yang diminta. Itu juga gak berharap keterima untuk ikut kegiatan itu.

Tapi ya itu tadi, kayak "dapat durian runtuh" aku kaget waktu dapat SMS dari teman-teman panitia kalau aku lolos seleksi untuk ikut kegiatan ini. Lebih kaget lagi setelah tahu, aku satu-satunya peserta cewek, dari enam peserta yang ada. Sudah begitu aku peserta yang termuda pula. Wuiiihhhh, gima jadinya nanti. Rasanya deg-degan juga. Dan akhirnya aku tiba juga di Bogor untuk ikut workshop awal sebelum turun ke lapangan.
Read More...
Comments

Sayonara Workshop


Indriani Widiastuti


DSC_0047
Dua hari menjelang pertandingan final Piala Dunia 2010, tepatnya tanggal 10 Juli 2010, workshop pasca produksi program pembuatan video untuk perdamaian "Crossing Boundaries" berakhir. Sepuluh hari sejak tanggal 1 Juli para peserta di dalam bootcamp penyuntingan. Bermalam-malam menghadap layar monitor dan telinga ditutupi headphone. Tiga malam terakhir sejak saya terakhir menulis reportase, kami bekerja lebih keras, dibantu oleh seeorang konsultan teknis, Ari Dina Krestiawan. Proses finalisasi tidak hanya sekedar menyempurnakan film yang telah diedit oleh peserta, menambahkan "aksesoris" seperti transisi fade-in dan fade-out atau menambahkan musik latar. Namun juga menyiapkan transkrip, credit title, mengedit audio dan yang paling susah: mencari judul!
Read More...
Comments

Workshop Hari Ketujuh

Dilaporkan oleh Indriani Widiastuti

P7063807
Workshop Pasca-Produksi program pembuatan video "Crossing Boundaries" saat ini telah memasuki hari ketujuh. Semangat peserta seakan tidak pernah surut, sama seperti ketika kami pertama sampai di sini. Pada tanggal 1 Juli 2010, enam peserta dan panitia berangkat bersama-sama dari kantor Interseksi pukul 14.00. Kami menempuh perjalanan dengan durasi yang tidak sebentar yakni dua jam! Untuk jarak yang tidak terlalu jauh, waktu tempuh ini terasa keterlaluan. Di mulut tol Ciawi, kami harus menunggu hingga pukul 18.00 untuk naik ke atas. Namun kami dapat memaklumi, karena pada musim liburan seperti sekarang ini, kawasan Puncak luar biasa padat.
Read More...
Comments

Workshop Pasca-Produksi

Tgl. 30 Juni 2010, Para peserta program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010 baru saja selesai melakukan pengambilan gambar di tiga lokasi secara paralel: Jakarta, Medan, dan Makassar. Pasti ada banyak cerita yang mereka bawa pulang dari pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda dari tempat hidupnya sehari-hari. Lebih dari itu, akan ada banyak data audio-visual atau footage yang mereka bawa pulang sebagai bahan membuat sebuah video dokumenter tentang masing-masing subjek yang mereka pilih. Bagaimana Tiara yang berasal dari Ambon dan Saiful yang asli Jakarta melihat dan menafsirkan pertemuannya dengan komunitas masyarakat di Makassar, atau bagaimana Umar yang dari Aceh masuk ke dalam kehidupan orang-orang "Betawi" keturunan Portugis di kampung Tugu, Jakarta? Bagaimana pula dengan Reza yang tumbuh dewasa di Papua melihat salah satu sisi kehidupan di Jakarta, atau Aldi yang sehari-hari tinggal di Bandung dan kuliah di jurusan arsitektur ITB menafsirkan sisi-sisi kehidupan kota Medan bersama Andang yang asal Jakarta?

Mulai tgl. 1 - 10 Juli 2010, mereka akan terlibat penuh dalam workshop pasca-produksi di tempat yang sama ketika mereka mengikuti workshop pra-produksi beberapa minggu yang lalu. Dalam workshop kali ini, semua pengalaman dan tangkapan audio-visual para peserta akan dibahas, didiskusikan, ditataulang agar bisa disajikan menjadi sebuah video dokumenter yang bukan hanya layak ditonton melainkan juga kritis dan dapat menjadi bahan refleksi ke dalam bagi pembuatnya sendiri.

Sebagian besar rombongan akan berangkat bersama-sama dari kantor Interseksi siang menjelang sore hari tgl. 1 Juli 2010. Berbeda dengan workshop sebelumnya, workshop pasca-produksi hampir secara eksklusif hanya akan diikuti oleh peserta program, fasilitator, konsultan teknis, dan panitia. Kami tidak melibatkan pihak lain di luar itu karena ingin memberi ruang dan waktu kepada peserta untuk bisa berkonsentrasi melakukan penyuntingan video.
Comments

Dari Workshop Pra-Produksi

DSC_0030
Siang hampir habis ketika rombongan berangkat dari halaman kantor Interseksi di Taanjung Barat, Jakarta Selatan, menuju GG. House Happy Valley di wilayah Gunung Geulis, Bogor, tgl. 9 Juni 2010 yang lalu. Rombongan terdiri dari beberapa peserta yang akan mengikuti Workshop Pra-produksi dan Diskusi tentang Relasi Antar Kelompok Sosial program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries 2010. Keberangkatan sempat tertunda beberapa jam, karena masih banyak urusan administrasi yang harus diselesaikan. Untungnya para peserta cukup sabar menunggu dan melewatkan waktu sambil mengobrol sesama mereka. Kami juga mendapat berita sangat mengejutkan: salah seorang peserta, Erwin dari Palu, mendadak membatalkan keikutsertaannya dalam program pelatihan ini karena harus dirawat di rumah sakit pada hari itu juga. Padahal panitia sudah merencanakan semua keperluannya selama mengikuti program ini. Akibatnya, kami harus membatalkan paling tidak tiga tike pesawat atas nama Erwin, sekaligus harus mencari peserta pengganti yang sangat tidak mudah. Pencarian ini baru membuahkan hasil pada hari-hari terakhir pelaksanaan workshop. Untuk Erwin kami menyampaikan simpati dan doa agar cepat sembuh seperti sedia kala. Read More...
Comments

Workshop Pra-produksi

231021745_dcd0964e45
Tgl. 9 - 16 Juni 2010, Yayasan Interseksi akan mengorganisir sebuah diskusi tentang relasi antar kelompok dan Workshop Pra-produksi Pembuatan Video Dokumenter. Dua aktivitas tersebut merupakan bagian awal dari pelaksanaan program Crossing Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace 2010. Diadakan di GG House Happy Valley, kawasan Gadog, Bogor, Jawa Barat (lihat denah), Workshop dan Diskusi dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada para peserta program tentang substansi tema relasi antar kelompok dalam relasinya dengan upaya menciptakan dan memelihara perdamaian, dan pembekalan teknis pembuatan video untuk kebutuhan spesifik seperti itu. Lihat upadate Agenda Workshop terbaru. Read More...
Comments

Rute ke Lokasi Workshop

Bagi peserta Workshop Pra-produksi program Crossing-Boundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace yang berencana berangkat bersama panitia, Yayasan Interseksi menyediakan kendaraan angkutan dari kantor Yayasan Interseksi menuju lokasi Workshop. Lokasi kantor Interseksi dapat dilihat dalam Peta Google ini. Sementara bagi mereka yang memilih berangkat sendiri ke lokasi Workshop di GG. House Happy Valley, Bogor, Jawa Barat, berikut adalah rute dan peta/denah menuju lokasi.

klik pada masing-masing gambar untuk melihat peta/denah yang lebih besar

peta_gghouse                       denahGGhouse


Denah/peta di atas dapat pula di-download pada halaman Download.

  • Rute dari Bandar Udata Sukarno-Hatta
    Bagi peserta dari luar Jawa (Papua, Ambon, Palu, dan Aceh), rute menuju lokasi Workshop adalah sebagai berikut: Dari Bandara Sukarno Hatta Anda dapat menggunakan Bus DAMRI jurusan Bandara-Bogor. Turun di terminal Baranangsiang, Bogor. Dari Baranangsiang Anda naik angkutan umum ke arah Cisarua atau Puncak. Katakan pada supir Anda minta turun di hotel Pramesti. Menyebrang jalan ke arah sebuah jalan kecil yang menuju hotel Pramesti. Dari sana, kalau tidak ada jasa Ojeg, Anda hanya perlu waktu sekitar 20 menit berjalan kaki menuju lokasi GG. House.
  • Rute Dari Jakarta
    Bagi peserta Workshop dari Jakarta, ada beberapa pilihan moda transportasi yang bisa digunakan. Kalau Anda menggunakan Taxi Anda hanya tinggal menunjukkan peta/denah di atas kepada pengemudi. Pastikan Anda memilih Taxi dari perusahaan yang dapat dipercaya. Alternatif berikutnya adalah menggunakan bus umum. Untuk rute ini, setelah sampai di terminal Baranangsiang Anda tinggal mengikuti rute untuk peserta dari luar Jawa di atas. Alternatif paling murah adalah menggunakan kreta api dan berhenti di stasiun kereta api Bogor. Dari stasiun kereta Anda harus mencari angkutan umum menuju terminal bus Baranangsiang. Dari Baranangsiang, rute Anda sama dengan peserta dari luar Jawa di atas.


Pastikan Anda selalu berhati-hati dalam perjalanan. Berikut adalah nomor-nomor kontak panita yang bisa dihubungi kalau Anda mengalami kesulitan menemukan lokasi Workshop.
  • 08990033422 dan 0813 85 177 359

Comments

Agenda Pra-produksi

Sebagai bagian dari pelaksanaan Program Cross Culture Video Making Project for Peace: Crossing Boundaries, pada tgl. 9 -16 Juni 2010, Yayasan Interseksi akan mengadakan Diskusi tentang Relasi Antar Kelompok dan Workshop Pra-produksi di GG. House, Gadog, Bogor, Jawa Barat.

Secara garis besar, aktivitas tersebut meliputi tiga struktur kegiatan:
  • pembekalan materi substansi tentang relasi antar kelompok sosial dan potensi serta tantangan masyarakat multikultur dalam menciptakan dan memelihara perdamaian.
  • pembekalan materi teknis pembuatan film/video; dan
  • praktek pengambilan gambar dan pematangan konsep film/video yang akan dilakukan oleh masing-masing peserta pada masing-masing lokasi yang telah ditentukan.

Susunan lengkap Agenda Kegiatan dapat diperoleh pada halaman Download.
Comments

Peserta Terpilih

Pada tanggal 28 Mei 2010, Tim Seleksi Yayasan Interseksi telah memutuskan nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi penerimaan peserta program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project for Peace 2010. Penilaian dididasarkan pada beberapa kriteria berikut:
  • kualitas makalah konsep (concept paper) yang ditulis oleh masing-masing calon peserta
  • kualitas karya video yang pernah dibuat oleh calon peserta
  • representasi wilayah partisipasi
Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut di atas, mereka yang dinyatakan terpilih adalah sebagai berikut.

No. Nama Jenis Kelamin Alamat Asal Lembaga Email
1. Erwin Laudjeng Laki-laki Jl.Tg.Satu No.59, Palu, Sulawesi Tengah JALIN(Jaringan Film Independen) Sulawesi Tengah ewin_pls@yahoo.com
2. Ronaldiaz Hartantyo Laki-laki Jl.Situsari VII No.35 Cijagra Buahbatu, Bandung Komunitas Sahabat Kota ronaldiazhartantyo@gmail.com
3. Andang Kelana Laki-laki Jl.Palapa IV No.13 RT.010/RW.02, Lenteng Agung, Jakarta Selatan Forum Lenteng andangkelana@forumlentengjakarta.org
4. Tiara Melinda Andhianny Salampessy Perempuan Jl.Galunggung No.34 RT.002?RW.006 Kelurahan Batumerah Kecamatan Sirimau, Ambon Lembaga antar Iman Maluku tiarasalampessy@gmail.com
5. Marthen Luther Sesa Laki-laki Jl.Raya Sentani No.92 Padang Bulan Jayapura, Papua Aliansi Demokrasi untuk Papua marthenluther_sesa@yahoo.com
6. T. Umar Laki-laki Jl.Kuwera 1 No.9 Lamprit, Banda Aceh Komunitas Panteu, Banda Aceh rajamulieng@gmail.com


Kami menyampaikan selamat kepada para calon peserta yang sudah terpilih, dan berterima kasih kepada seluruh pelamar yang telah mengirimkan aplikasinya.
Comments

Meretas Batas


Posted by Hikmat Budiman

origami_right


Mulai bulan April sampai bulan November 2010 nanti, Interseksi akan mengorganisir sebuah program yang relatif baru. Dalam program tersebut, kami berusaha menggabungkan beberapa hal yang pernah kami kerjakan sebelumnya ke dalam format yang lebih aplikatif. Konkretnya, kami mencoba mendekati persoalan relasi antar kelompok sosial dalam masyarakat multikultur melalui jalan penggunaan medium film untuk mempromosikan nilai, ikut membangun dan memelihara perdamaian di negeri ini. Seperti diketahui bersama, sudah sejak tahun 2004 kami berusaha mendalami isu-isu krusial dalam masyarakat Indonesia yang multikultur, dan sejak tahun 2008 kami mulai menggunakan medium film/video untuk menampilkan problematik kelompok-kelompok etnik/agama minoritas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dari hasil beberapa kajian yang pernah kami lakukan tadi, yang semuanya sudah pula kami publikasikan dalam bentuk buku serial Hak Minoritas yang terbit dalam tiga volume itu, salah satu hal penting yang kami temukan adalah kenyataan bahwa sebagian dari kita, mungkin termasuk kami sendiri, cenderung hidup dalam kurungan batas-batas yang meskipun mampu memberi rasa aman dalam hidup tapi seringkali tidak sehat dalam konteks relasi antar kelompok. Kita seperti hidup di dalam sebuah kepompong, yang melindungi kita dari gangguan pihak lain tapi sekaligus menanamkan purbasangka yang sering membuat kita cenderung kurang hormat terhadap orang atau kelompok orang di luar kepompong kita itu. Batas atau kepompong itu bisa berupa etnik, budaya, agama atau bahkan klaim teritorial. Read More...
Comments