ESSAYS
Pemetaan Isu-Isu Kontemporer di Provinsi Gorontalo
02/06/13 21:36
Pawennari Hijjang, Muhammad Basir, dan Ahmad Ismail

Kantor Gubernur Provinsi Gorontalo. Sumber Foto: Berita Manado.Com
Suku Gorontalo merupakan penghuni asli bagian Utara Pulau Sulawesi, tepatnya di Provinsi Gorontalo, provinsi ke-32 Indonesia, yang pada tahun 2000 memekarkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara. Hari ini, jumlah peduduk Gorontalo diperkirakan lebih dari 1 juta orang atau merupakan etnis mayoritas (90%) di tanah Gorontalo. Sementara, sejumlah etnis lainnya yang merupakan minoritas adalah Suku Suwawa, Suku Bone, Suku Atingola, dan Suku Mongondow. Beberapa anggapan berkembang mengenai etimologi kata Gorontalo. Ada yang menyebut Gorontalo berasal dari kata "hulontalo", yang juga berasal dari kata "hulontalangi", yang berarti "pengembara yang turun dari langit". Angapan ini berdasarkan pada mitologi yang berkembang di tengah masyarakat, yang mengisahkan tentang Hulontalangi, yang dianggap sebagai orang pertama di Gorontalo, yang berdiam di kaki gunung Tilongkabila. Sejumlah teori lain menduga, Gorontalo berasal dari kata "Hua Lolontalango", yang artinya "gua" yang digunakan untuk berjalan bolak-balik", "Pongolatalo" atau "Pohulatalo", yang berarti "tempat menunggu", "gunung telu", yang berarti "gunung tiga", dan masih banyak lagi asumsi-asumsi yang lain. Read More...

Kantor Gubernur Provinsi Gorontalo. Sumber Foto: Berita Manado.Com
Suku Gorontalo merupakan penghuni asli bagian Utara Pulau Sulawesi, tepatnya di Provinsi Gorontalo, provinsi ke-32 Indonesia, yang pada tahun 2000 memekarkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara. Hari ini, jumlah peduduk Gorontalo diperkirakan lebih dari 1 juta orang atau merupakan etnis mayoritas (90%) di tanah Gorontalo. Sementara, sejumlah etnis lainnya yang merupakan minoritas adalah Suku Suwawa, Suku Bone, Suku Atingola, dan Suku Mongondow. Beberapa anggapan berkembang mengenai etimologi kata Gorontalo. Ada yang menyebut Gorontalo berasal dari kata "hulontalo", yang juga berasal dari kata "hulontalangi", yang berarti "pengembara yang turun dari langit". Angapan ini berdasarkan pada mitologi yang berkembang di tengah masyarakat, yang mengisahkan tentang Hulontalangi, yang dianggap sebagai orang pertama di Gorontalo, yang berdiam di kaki gunung Tilongkabila. Sejumlah teori lain menduga, Gorontalo berasal dari kata "Hua Lolontalango", yang artinya "gua" yang digunakan untuk berjalan bolak-balik", "Pongolatalo" atau "Pohulatalo", yang berarti "tempat menunggu", "gunung telu", yang berarti "gunung tiga", dan masih banyak lagi asumsi-asumsi yang lain. Read More...
Comments
Menelisik Mandar Sulawesi Barat
23/05/13 21:42
Muh. Idham Khalid Bodi
Litbang Kementrian Agama Sulawesi Selatan

Turunan dari hasil pernikahan putera-puteri Pongkapadang dan Torije'ne yang berjumlah sebelas orang atau tau sampulo mesa (dan turunan-turunan selanjutnya) inilah yang kemudian menyebar dan mendiami wilayah-wilayah yang dikenal dengan sebutan pitu ba'bana binanga, pitu ulunna salu, dan karua tiparitti'na uhai yang saat ini dikenal sebagai bagian dari wilayah Sulawesi Barat (Polman, Mamasa, Majene, Mamuju, Mamuju Utara, dan Mamuju Tengah). Read More...
Sulawesi Tengah: Perspektif Sosiokultural, Demokrasi, dan Konflik
22/05/13 11:39
Juraid Abdul Latief
Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah

Berkaca pada situasi Sulawesi Tengah yang demikian adanya, maka tidak mengherankan apabila daerah ini dipersepsikan sebagai "sarang teroris". Persepsi yang masih perlu ditelusuri secara mendalam lagi. Sebab persepsi yang menyimpang atau tidak diterima sepenuhnya diterima masyarakat dapat menjadi pemantik timbulnya persoalan lain. Apalagi jika masyarakat belum mampu berpikir secara dewasa, persoalan baru sangat mudah terjadi. Read More...
Dominasi Kuasa Sultan di Sulawesi Tenggara
20/05/13 12:13
La Ode Rabani
Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Surabaya
Fakta historis Sulawesi Tenggara hingga hari ini masih diwarnai oleh dinamika social dan politik. Masyarakat di wilayah itu tidak pernah lepas dari beban sejarah penguasa yang mengiringi jalan hidup mereka, meskipun sebenarnya terdapat keinginan kuat menghilangkannya. Reproduksi isu etnis dan sejarah yang terjadi pada masa lalu yang dihembuskan oleh elite politik local dan pendidik ikut menjadi penghabat upaya harmoni social yang terjadi di setiap level masyarakat Sulawesi Tenggara.
Realitas itu pada akhirnya akan menjadi benang merah yang selalu kusut tanpa bisa menjadi benang putih yang bisa terurai hingga menjadi perajut harmoni social masyarakat di Sulawesi Tenggara, karena sejarah yang terus diwariskan di satu sisi, sementara ikatan cultural sebagai suatu kawasan budaya masih melekat kuat di sanubari masyarakat Sulawesi Tenggara pada sisi yang lain. Sebuah ironi.
Polarisasi social dan etnisitas yang terjadi ketika proses pemilu atau pemilihan pimpinan di lembaga birokrasi dan pendidikan hingga tingkat mahasiswa menjadi cermin betapa kuatnya potensi gesekan yang setiap saat bisa terjadi. Di ranah budaya, justru berbanding terbalik, seluruh komponen social justru menyatu dalam keluarga yang utuh (berkeluarga). Read More...
Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Surabaya

Realitas itu pada akhirnya akan menjadi benang merah yang selalu kusut tanpa bisa menjadi benang putih yang bisa terurai hingga menjadi perajut harmoni social masyarakat di Sulawesi Tenggara, karena sejarah yang terus diwariskan di satu sisi, sementara ikatan cultural sebagai suatu kawasan budaya masih melekat kuat di sanubari masyarakat Sulawesi Tenggara pada sisi yang lain. Sebuah ironi.
Polarisasi social dan etnisitas yang terjadi ketika proses pemilu atau pemilihan pimpinan di lembaga birokrasi dan pendidikan hingga tingkat mahasiswa menjadi cermin betapa kuatnya potensi gesekan yang setiap saat bisa terjadi. Di ranah budaya, justru berbanding terbalik, seluruh komponen social justru menyatu dalam keluarga yang utuh (berkeluarga). Read More...
Jejak-jejak Perkembangan Pemerintahan dan Politik di Sulawesi
14/05/13 13:48
Halilintar Lathief
Universitas Negeri Makassar

Letak geografis Sulawesi memperlihatkan betapa Sulawesi berada dilintasan perjalanan baik secara regional maupun internasional. Jalur-jalur perjalanan telah terbentuk bahkan beberapa diantaranya telah digunakan secara berabad-abad. Peranan historis Makassar dan Buton sebagai pusat dari jalur rempah sejak abad pertengahan, memberi citra tersendiri dalam tradisi perjalanan dunia yang mencantumkan kawasan ini dalam peta-peta tua yang ada. Read More...
Komunitas Pintu Gerbang: Pengaruh Tipomorfologi Permukiman terhadap Pola Spasial Kota
14/05/13 00:34
Bambang Heryanto
Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota, Fakultas Tenik Universitas Hasanuddin-Makassar

Konteks Sosial-Budaya Demokrasi di Sulawesi Selatan
14/05/13 00:30
Heddy Shri Ahimsa-Putra
Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Ketika Bapak dan Ibu Negara “Bermain-main” Media Sosial
28/04/13 18:20
Monica Dian Adelina
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta

SBY dan Obama
Sejak berita akan diluncurkannya akun Twitter resmi Presiden SBY, muncul banyak pro dan kontra. Beberapa kalangan menyambut baik rencana ini, beberapa lainnya tidak hanya menanggapi nyinyir tetapi juga menganggap hal ini berlebihan dan tidak perlu. Banyak kalangan yang berkomentar soal rencana ini, mulai dari kalangan politisi sampai rakyat biasa.
Presiden sendiri beralasan bahwa peluncuran aku Twitter ini semata-mata agar ia dapat lebih dekat dengan rakyatnya. Seperti yang kita ketahui bahwa pengguna Twitter di Indonesia merupakan pengguna terbanyak kelima dan teraktif di dunia. Banyaknya orang Indonesia yang aktif menggunakan Twitter inilah yang kemudian dimanfaatkan entah oleh Presiden SBY sendiri atau penasehat politiknya untuk dapat menarik perhatian rakyat. Read More...
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta

SBY dan Obama
Sejak berita akan diluncurkannya akun Twitter resmi Presiden SBY, muncul banyak pro dan kontra. Beberapa kalangan menyambut baik rencana ini, beberapa lainnya tidak hanya menanggapi nyinyir tetapi juga menganggap hal ini berlebihan dan tidak perlu. Banyak kalangan yang berkomentar soal rencana ini, mulai dari kalangan politisi sampai rakyat biasa.
Presiden sendiri beralasan bahwa peluncuran aku Twitter ini semata-mata agar ia dapat lebih dekat dengan rakyatnya. Seperti yang kita ketahui bahwa pengguna Twitter di Indonesia merupakan pengguna terbanyak kelima dan teraktif di dunia. Banyaknya orang Indonesia yang aktif menggunakan Twitter inilah yang kemudian dimanfaatkan entah oleh Presiden SBY sendiri atau penasehat politiknya untuk dapat menarik perhatian rakyat. Read More...
Media, Isu Terorisme, Stereotipe, dan Sikap Diskriminatif
26/04/13 00:21
Monica Dian Adelina
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta
Para penstudi ilmu komunikasi dari dulu sampai sekarang berbeda pendapat mengenai kekuatan media massa dalam memengaruhi pendapat khalayak. Sebagian mengatakan sesungguhnya media itu sangat powerfull. Media tidak hanya sanggup memengaruhi opini publik, tapi juga tindakan publik. Di sisi lain, pengaruh media dikatakan terbatas, tergantung pada konteks ruang dan waktu, dan di mana media itu bekerja. Bagi mereka yang menganggap the media is powerfull, kemudian melahirkan beberapa teori komunikasi massa yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat dan budaya, salah satunya yaitu Teori Peluru (Bullet Theory).
Teori Peluru adalah nama yang diberikan oleh peneliti terhadap konsepsi pertama tentang efek komunikasi massa. Ia biasa juga disebut teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau sabuk transmisi (transmision belt theory). Pada dasarnya pandangan ini naif dan simplistik, yang menganggap efek-efek pesan komunikasi massa demikian kuat dan kurang lebih bersifat universal pada seluruh audiens yang mendapat terpaan media. Menurut teori ini, media menyajikan stimulasi kuat yang secara seragam diperhatikan oleh audiens. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh audiens. Setiap audiens memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa. Karena teori ini mengasumsikan audiens yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa. Read More….
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta
Para penstudi ilmu komunikasi dari dulu sampai sekarang berbeda pendapat mengenai kekuatan media massa dalam memengaruhi pendapat khalayak. Sebagian mengatakan sesungguhnya media itu sangat powerfull. Media tidak hanya sanggup memengaruhi opini publik, tapi juga tindakan publik. Di sisi lain, pengaruh media dikatakan terbatas, tergantung pada konteks ruang dan waktu, dan di mana media itu bekerja. Bagi mereka yang menganggap the media is powerfull, kemudian melahirkan beberapa teori komunikasi massa yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat dan budaya, salah satunya yaitu Teori Peluru (Bullet Theory).
Teori Peluru adalah nama yang diberikan oleh peneliti terhadap konsepsi pertama tentang efek komunikasi massa. Ia biasa juga disebut teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau sabuk transmisi (transmision belt theory). Pada dasarnya pandangan ini naif dan simplistik, yang menganggap efek-efek pesan komunikasi massa demikian kuat dan kurang lebih bersifat universal pada seluruh audiens yang mendapat terpaan media. Menurut teori ini, media menyajikan stimulasi kuat yang secara seragam diperhatikan oleh audiens. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh audiens. Setiap audiens memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa. Karena teori ini mengasumsikan audiens yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa. Read More….
Melawan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia
20/04/13 02:21
Sofian Munawar Asgart
Research Associate, the Interseksi Foundation, Jakarta

Serangan bom yang mematikan yang terjadi dalam lomba lari maraton di kota Boston, AS, tgl. 15 April 2013. Foto: EPA
Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh "baru" umat manusia. Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai "musuh kontemporer" sekaligus sebagai "musuh abadi". Banyak pihak mengembangkan spekulasi secara tendensius bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. Tak heran jika kemudian Islam seringkali dijadikan 'kambing hitam'. Termasuk dan terutama pada kasus bom paling fenomenal: WTC dan kasus termutakhir bom "Boston Marathon".
Namun demikian, tidak sedikit pula yang percaya bahwa motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Kesadaran ini membawa keinsyafan bahwa upaya penanganannya juga tidak bersifat parsial, namun perlu pendekatan komprehensif secara integral.
Peran negara dalam menjamin rasa aman warga negara menjadi demikian vital. Karena itu, beragam peristiwa yang melahirkan ketidakamanan seperti teror peledakan bom perlu mendapat perhatian tersendiri. Negara harus benar-benar serius memikirkan upaya untuk melawan radikalisme dan terorisme yang kini kian menggejala. Beberapa agenda strategis yang dapat disiapkan antara lain: reformasi sektor keamanan, pembenahan regulasi keamanan, reorientasi pendidikan, dan kampanye sosial-kultural secara massif. Agenda ini boleh jadi bukan sesuatu yang baru, tapi sudah menjadi bagian program yang telah dan sedang dilakukan oleh beberapa pihak. Namun demikian, point terpenting dari upaya untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme adalah dengan memperkuat dan mempererat "rantai" keinsyafan bersama baik di level struktural maupun di ranah societal untuk menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama. Read More….
Research Associate, the Interseksi Foundation, Jakarta

Serangan bom yang mematikan yang terjadi dalam lomba lari maraton di kota Boston, AS, tgl. 15 April 2013. Foto: EPA
Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh "baru" umat manusia. Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai "musuh kontemporer" sekaligus sebagai "musuh abadi". Banyak pihak mengembangkan spekulasi secara tendensius bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. Tak heran jika kemudian Islam seringkali dijadikan 'kambing hitam'. Termasuk dan terutama pada kasus bom paling fenomenal: WTC dan kasus termutakhir bom "Boston Marathon".
Namun demikian, tidak sedikit pula yang percaya bahwa motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Kesadaran ini membawa keinsyafan bahwa upaya penanganannya juga tidak bersifat parsial, namun perlu pendekatan komprehensif secara integral.
Peran negara dalam menjamin rasa aman warga negara menjadi demikian vital. Karena itu, beragam peristiwa yang melahirkan ketidakamanan seperti teror peledakan bom perlu mendapat perhatian tersendiri. Negara harus benar-benar serius memikirkan upaya untuk melawan radikalisme dan terorisme yang kini kian menggejala. Beberapa agenda strategis yang dapat disiapkan antara lain: reformasi sektor keamanan, pembenahan regulasi keamanan, reorientasi pendidikan, dan kampanye sosial-kultural secara massif. Agenda ini boleh jadi bukan sesuatu yang baru, tapi sudah menjadi bagian program yang telah dan sedang dilakukan oleh beberapa pihak. Namun demikian, point terpenting dari upaya untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme adalah dengan memperkuat dan mempererat "rantai" keinsyafan bersama baik di level struktural maupun di ranah societal untuk menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama. Read More….
Demokrasi untuk Si Miskin
21/01/11 16:43
Sudiarto (Program Officer, The Interseksi Foundation)
Selama 2005-2007, Indonesia telah menggelar PILKADA secara langsung 282 kali di tingkat kabupaten/kota. PILKADA langsung merupakan eksperimen baru berdemokrasi di Indonesia, setelah sebelumnya berpuluh-puluh tahun kepala daerah dipilih oleh DPRD. Selama kekuasaan Orde Baru (1966-1998), pemilihan di tingkat DPRD itu dilandasi atas dasar disukai oleh Suharto atau tidak. Tetapi setelah jatuhnya Suharto oleh gelombang demokratisasi pada 1998, Jakarta kehilangan kendali, sehingga kepala-kepala daerah betul-betul murni hasil pemilihan wakil-wakil rakyat di DPRD. Sejak 2005, atas desakan kuat desentralisasi, proses pemilihan diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat.
Electoral Hostility Index (EHI)
Berbeda dengan pemilu nasional pertama pasca-Orba pada 1999, dan selanjutnya pada 2004 dan 2009, yang relatif berjalan damai, tidak demikian dengan jalannya PILKADA yang diwarnai dengan kekerasan dan perseteruan dalam derajat yang berbeda-beda. Pemilihan presiden dan DPR nasional dipersepsikan berjarak dari kehidupan sehari-hari rakyat, sedangkan PILKADA adalah peristiwa lokal, terkait dengan isu lokal dan tokoh-tokoh lokal, sehingga pemilih cenderung lebih militan dan mudah dimobilisasi untuk PILKADA ketimbang pemilu nasional. Read More...
Selama 2005-2007, Indonesia telah menggelar PILKADA secara langsung 282 kali di tingkat kabupaten/kota. PILKADA langsung merupakan eksperimen baru berdemokrasi di Indonesia, setelah sebelumnya berpuluh-puluh tahun kepala daerah dipilih oleh DPRD. Selama kekuasaan Orde Baru (1966-1998), pemilihan di tingkat DPRD itu dilandasi atas dasar disukai oleh Suharto atau tidak. Tetapi setelah jatuhnya Suharto oleh gelombang demokratisasi pada 1998, Jakarta kehilangan kendali, sehingga kepala-kepala daerah betul-betul murni hasil pemilihan wakil-wakil rakyat di DPRD. Sejak 2005, atas desakan kuat desentralisasi, proses pemilihan diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat.
Electoral Hostility Index (EHI)
Berbeda dengan pemilu nasional pertama pasca-Orba pada 1999, dan selanjutnya pada 2004 dan 2009, yang relatif berjalan damai, tidak demikian dengan jalannya PILKADA yang diwarnai dengan kekerasan dan perseteruan dalam derajat yang berbeda-beda. Pemilihan presiden dan DPR nasional dipersepsikan berjarak dari kehidupan sehari-hari rakyat, sedangkan PILKADA adalah peristiwa lokal, terkait dengan isu lokal dan tokoh-tokoh lokal, sehingga pemilih cenderung lebih militan dan mudah dimobilisasi untuk PILKADA ketimbang pemilu nasional. Read More...
