Sekolah Perempuan
Saatnya Perempuan Menjadi Agen Perdamaian Bagi Dirinya Sendiri, Keluarga dan Lingkungannya."
Indriani Widiastuti
Program Officer the Interseksi Foundation

Seminar "Strategic Review Sekolah Perempuan untuk Perdamaian" ini ditujukan agar AMAN mendapat masukan dari pihak luar mengenai kegiatan yang sedang berlangsung hingga November 2010 ini di 4 (empat) tempat di Indonesia, yakni: Malei Lage dan Pamona (Poso), Kampung Sawah (Jakarta) dan Loji (Bogor). Sekolah Perempuan (SP) lahir dari inisiatif para perempuan pasca aksi bantuan bencana banjir di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Mereka berkeinginan menjaga tali silaturahmi dengan staf AMAN melalui sebuah forum. Sebelum bernama "Sekolah Perempuan", forum ini bernama "Az-Zahrah". Ternyata, forum tersebut bisa berkembang dan tidak terbatas pengajian saja, namun juga menjadi media perempuan saling bertukar pengalaman, menambah ilmu dan sarana bertukar informasi yang tidak mungkin disampaikan melalui media lain. Mungkin karena salah satu sifat dasar perempuan -yang saya rasakan juga dalam kelompok kecil saya tadi- yakni dapat saling percaya, mendukung dan menguatkan melalui interaksi dalam kelompok.
Dalam pelaksanaannya AMAN Indonesia memiliki tiga proses tahapan teknis pendidikan, yaitu: pra pembelajaran, proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Pra pembelajaran merupakan proses yang dilakukan sebelum memutuskan materi apa yang dirasa relevan untuk setiap wilayah, misalnya analisa struktur sosial pasca konflik di Poso. Proses pembelajaran adalah proses mediasi pengalaman-pengalaman perempuan menjadi pengetahuan bersama tentang pembangunan perdamaian. Dalam hal ini AMAN menyusun draft kurikulum yang harus diterapkan di setiap Sekolah Perempuan, untuk memastikan bahwa materi ajar yang diberikan adalah pengetahuan tentang perdamaian, bukan ekonomi atau politik. Sampai dengan hari diselenggarakannya seminar ini, kegiatan Sekolah Perempuan baru sampai pada tahap pembelajaran.
Sekolah Perempuan Poso
Wacana besar pembangunan perdamaian di Pamona adalah posisi perempuan dalam relasi masyarakat pengungsi dan lokal (Pamona), serta dalam relasi masyarakat beragama Islam dan Kristen (Malei Lage). Berdasarkan wacana ini maka AMAN menyajikan materi pendidikan perdamaian untuk wilayah konflik kekerasan dan ketegangan perbedaan etnik dan agama untuk Sekolah Perdamaian di kedua tempat ini. Pendekatan materi pengajaran di Poso memang lebih rumit jika dibandingkan dengan SP di Jakarta atau Bogor, karena langkah pertama dalam pendidikan bukan sekedar membangkitkan rasa percaya diri. Perempuan peserta SP di Poso jauh lebih percaya diri daripada di Jakarta dan Bogor, namun mereka terganjal oleh sekat komunikasi antar kelompok. Melalui SP inilah mereka perlahan membuka sekat itu dengan mengumpulkan perempuan dari kelompok pengungsi dan lokal, Islam dan Kristen. Benak perempuan-perempuan itu dipenuhi prasangka dan dendam karena mereka berada di ruangan yang sama dengan kelompok ataupun individu yang membunuh suami atau sanak saudara mereka. Setelah komunikasi di antara mereka mulai terbuka, maka saatnya mentransformasikan dendam mereka menjadi rasa percaya. Di sini para perempuan dimediasi untuk mengungkapkan kemarahan dan kesedihan mereka selama terjadinya konflik, karena melalui sharing para perempuan ini diharapkan mengerti sudut pandang masing-masing dan mau memaafkan.
Wacana lain adalah tentang potensi perempuan dalam berbagai institusi dan kelompok pemberdayaan ekonomi perempuan. Salah satu narasumber, Nur Imroatus menambahkan, sebelum terjadi kerusuhan Pamona adalah salah satu daerah dengan tingkat perekonomian yang cukup maju. Setelah kerusuhan, ketika kaum laki-laki masih berjaga-jaga dan waspada, justru kaum perempuanlah yang berinisiatif lebih dulu membuka pasar kebutuhan sehari-hari atas desakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. Di Pamona dan Malei Lage, SP berusaha meningkatkan kekuatan ekonomi perempuan melalui pengetahuan tentang manajemen keuangan dan analisis usaha. Minimal mereka tahu cara mengelola keuangan dalam keluarganya sendiri.
Sekolah Perempuan Kampung Sawah, Jakarta
Perebutan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan menjadi wacana di Kampung Sawah, karena kedua wacana ini bersinggungan langsung dengan keterlibatan perempuan di wilayah domestik, seperti pola pengasuhan dan kebersihan lingkungan. Sebelum seminar ini dimulai, kami disuguhi video footage kegiatan Sekolah Perempuan di keempat daerah, terdapat sebuah wawancara dengan seorang bapak yang istrinya mengikuti SP. Responnya positif dan mendukung kegiatan istrinya selama yang diikuti bermanfaat. SP juga memberikan perubahan pola asuh dan penyampaian pendapat kepada suami (istri menjadi berani bersuara dan memiliki pendapat sendiri). Namun masih terjadi ketidakadilan gender ketika kampung ini harus mengambil keputusan dalam skala besar (misalnya pembangunan jembatan), suara perempuan tidak diperhitungkan kecuali yang memiliki status khusus saja yang bisa terlibat (seperti bu Haji). Ibu-ibu yang secara langsung turun dalam kegiatan memelihara lingkungan, hanya diberitahu hasil rapat kampung melalui suaminya dan hanya mampu bersuara lewat suami mereka.Sekolah Perempuan Loji, Bogor
Di Loji, posisi dan peran wanita di ruang publik kurang diakui, sehingga tingkat kepercayaan diri mereka rendah dan merasa tidak bisa melakukan apa-apa, semua kendali dipegang oleh suami atau laki-laki. Wacana ini melahirkan beberapa masalah lain yang berhasil diidentifikasi oleh AMAN (lebih bersifat ekonomi dan domestik), seperti: rendahnya pendapatan keluarga, kurangnya kesadaran perempuan terhadap kesehatannya sendiri dan pola pengasuhan anak. Kehadiran SP di sini dikonsentrasikan untuk menaikkan rasa kepercayaan diri para perempuan, karena secara kapasitas perempuan di wilayah ini memiliki kapasitas personal yang memadai dan tidak memiliki kesulitan dalam kemampuan berbicara.Malei Lage, Pamona, Loji dan Kampung Sawah adalah empat daerah yang memiliki karakteristik permasalahan yang berbeda, namun hampir semuanya memiliki permasalahan relasi gender dan prasangka terhadap kelompok lain. Pendampingan yang dilakukan oleh AMAN dengan membuka sekat komunikasi di tingkat keluarga dan lingkungan tempat tinggal, tampak membuahkan hasil yang cukup signifikan. Perempuan-perempuan di tempat-tempat tersebut sudah berani bersuara. Mengatasi masalah perdamaian melalui medium perempuan ternyata efektif, karena entah disadari atau tidak, banyak keputusan yang berkaitan dengan kemajuan ekonomi dan pemeliharaan lingkungan dipegang oleh perempuan. Metode yang digunakan juga tampaknya sudah tepat, disesuaikan dengan karakteristik perempuan di tiap daerah, misalnya di daerah Jakarta dan Bogor lebih senang sharing dan permainan, sementara di Poso lebih tertarik dengan training yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Di satu sisi saya merasa begitu gembira dengan inisiatif AMAN dalam wujud Sekolah Perempuan, dengan begitu setidaknya para perempuan atau istri menyadari haknya. Namun di sisi lain timbul keraguan dalam benak saya mengenai program ini. Jika pendampingan hanya dilakukan terhadap satu kelompok (misalkan perempuan saja), dikhawatirkan kegiatan ini justru memicu konflik rumah tangga, karena kecenderungan perempuan yang mendapat pengetahuan baru akan merasa lebih banyak tahu dan mampu. Menjadi masalah, jika laki-laki tidak bisa menerima perubahan yang terjadi pada istrinya dan menganggap program AMAN ini mengintervensi kehidupan rumah tangganya terlalu jauh. Sebaiknya ada pendampingan juga untuk laki-laki. Dalam konteks konflik antar kelompok agama, tidak hanya kelompok Islam saja, tetapi juga Kristen, atau kelompok pengungsi bergantian dengan kelompok lokal. Kemudian akan seberapa efektifkah pengetahuan yang mereka dapat untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari, ketika harus kembali ke dalam otoritas suami sebagai pemimpin dalam keluarga yang tidak bisa dibantah dan harus dilayani?