Masyarakat Perkotaan dan Budaya Kosmopolitan
di Tiga Kota Asia Tenggara Era Kolonial
15/01/12 13:24 Filed in: REPORT
Sudiarto, Program Officer Yayasan Interseksi

Sumber foto: Rujak Center for Urban Studies
Dalam sejarah Asia Tenggara, kota-kota pelabuhan merupakan pusat-pusat perdagangan bahari yang menjadi ruang hidup bersama bagi beragam kelompok etnik. Bagaimana perkembangan masyarakat perkotaan tersebut? Apakah kelompok-kelompok etnik itu saling berinteraksi, ataukah hidup terpisah seperti yang disebut cendekiawan kolonial sebagai “masyarakat plural”? Bagaimana pengaruh yang terjadi selama masa kolonialisme? Rujak Center for Urban Studies mengadakan diskusi di Goethe Haus, Jakarta (20/12/2011), memperbincangkan evolusi tata kota pada masa kolonial dengan fokus pada ruang bersama bagi kelompok-kelompok etnik yang turut menyumbang bagi lahirnya ranah publik baru, dalam ruang publik, perkumpulan, melalui media cetak, sekolah-sekolah, dan berbagi pengalaman budaya modern dan populer.
Berbicara dalam diskusi, Dr. Su Lin Lewis, profesor asisten tamu di Departemen Studi Asia Selatan dan Tenggara Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, lebih banyak memfokuskan pada kota Yangon (Myanmar), Bangkok (Thailand) dan Penang (Malaysia), dengan sedikit merujuk ke Singapura, Batavia atau Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Menurut Lewis, sejarah kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara sudah sangat panjang. Globalisasi merupakan fenomena yang sudah berlangsung lama dalam sejarah perdagangan di Samudera Hindia, hingga masuknya pedagang-pedagang Barat dengan bendera perusahaan dagang Hindia Timur, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris). Read More...

Sumber foto: Rujak Center for Urban Studies
Dalam sejarah Asia Tenggara, kota-kota pelabuhan merupakan pusat-pusat perdagangan bahari yang menjadi ruang hidup bersama bagi beragam kelompok etnik. Bagaimana perkembangan masyarakat perkotaan tersebut? Apakah kelompok-kelompok etnik itu saling berinteraksi, ataukah hidup terpisah seperti yang disebut cendekiawan kolonial sebagai “masyarakat plural”? Bagaimana pengaruh yang terjadi selama masa kolonialisme? Rujak Center for Urban Studies mengadakan diskusi di Goethe Haus, Jakarta (20/12/2011), memperbincangkan evolusi tata kota pada masa kolonial dengan fokus pada ruang bersama bagi kelompok-kelompok etnik yang turut menyumbang bagi lahirnya ranah publik baru, dalam ruang publik, perkumpulan, melalui media cetak, sekolah-sekolah, dan berbagi pengalaman budaya modern dan populer.
Berbicara dalam diskusi, Dr. Su Lin Lewis, profesor asisten tamu di Departemen Studi Asia Selatan dan Tenggara Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, lebih banyak memfokuskan pada kota Yangon (Myanmar), Bangkok (Thailand) dan Penang (Malaysia), dengan sedikit merujuk ke Singapura, Batavia atau Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Menurut Lewis, sejarah kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara sudah sangat panjang. Globalisasi merupakan fenomena yang sudah berlangsung lama dalam sejarah perdagangan di Samudera Hindia, hingga masuknya pedagang-pedagang Barat dengan bendera perusahaan dagang Hindia Timur, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris). Read More...
Comments
Workshop Penulisan Laporan Penelitian “Kota-kota di Sumatra"
Indriani Widiastuti, Program Officer Yayasan Interseksi
Beberapa peserta terlihat lega setelah workshop berakhir, karena menurut penilaian mereka workshop ini seperti film thriller, tegangnya tidak habis-habis.
Pada hari Senin dan Selasa, 12-13 Desember 2011 yang lalu, para peserta joint-research “Kota-Kota di Sumatera” mempresentasikan dan mendiskusikan laporan penelitiannya acara Workshop Penulisan Laporan Hasil Penelitian “Kota-kota di Sumatera”. Acara ini diselenggarakan di GG House, Gadog. Jawa Barat, diikuti oleh tujuh peneliti, pembaca makalah dan para undangan.
Firdaus, peneliti dengan wilayah penelitian Binjai, Sumatera Utara, mendapat kesempatan pertama. Fokus penelitiannya pada kota Binjai yang harmonis, aman dan nyaris tanpa konflik. Kalaupun ada, mungkin hanya konflik perebutan lahan parkir, tidak seperti di daerah lain yang berpotensi konflik antar-etnis. Penduduk asli kota tersebut adalah dari suku bangsa Melayu dari Hinai (sebuah kecamatan di Kabupaten Langkat). Saat ini yang mendiami kota Binjai memang sudah generasi ke-6 atau ke-7, sehingga banyak yang tidak terlalu mementingkan identitas kesukuan. Mereka dengan bangga mengungkapkan identitas bahwa “Kami orang Binjai” dan berkmounikasi dengan bahasa Indonesia, tidak lagi menggunakan bahasa ibu (Mandarin, India atau Jawa). Inilah salah satu faktor pemicu keharmonisan di Binjai. Di sesi tanya jawab, Ignatius Haryanto (LSPP) mempertanyakan tentang kehadiran media lokal, apakah ada koran lokal atau rubrik khusus di koran mengenai kota Binjai. Ia kembali menjelaskan bahwa melalui media, bahkan dari menjamurnya lapak DVD, dapat menceritakan perkembangan suatu daerah. Amin Mudzakkir dari LIPI mempersoalkan judul laporan yang menggunakan kata harmonis, atas dasar apa warga kota Binjai harmonis, apakah ini sekedar praduga atau memang dulunya harmonis dan sekarang tidak? Kata harmonis atau harmonisasi pada judul paper (“Kami Orang Binjei”: Harmonisasi Agama dan Etnis di Kota Binjai) bisa menjadikan peneliti stuck hanya mengutak-atik harmoni dan berusaha mencocok-cocokkan kata tersebut dengan data temuan di lapangan.Read More...
Beberapa peserta terlihat lega setelah workshop berakhir, karena menurut penilaian mereka workshop ini seperti film thriller, tegangnya tidak habis-habis.
Pada hari Senin dan Selasa, 12-13 Desember 2011 yang lalu, para peserta joint-research “Kota-Kota di Sumatera” mempresentasikan dan mendiskusikan laporan penelitiannya acara Workshop Penulisan Laporan Hasil Penelitian “Kota-kota di Sumatera”. Acara ini diselenggarakan di GG House, Gadog. Jawa Barat, diikuti oleh tujuh peneliti, pembaca makalah dan para undangan.

Dari Koentjaraningrat untuk Dialog Papua
14/12/11 21:31 Filed in: REPORT
Sudiarto, Program Officer Yayasan Interseksi

Kekerasan yang kembali terjadi akhir-akhir ini di Papua sekali lagi menghadirkan wajah Indonesia yang mengancam dan wajah kekerasan militerisme, alih-alih merangkul dan melindungi identitas kepapuaan. Keindonesiaan hadir dalam bentuk korupsi di tubuh birokrasi dan elite politik lokal tanpa menyejahterakan masyarakat Papua, dengan sekolah-sekolah yang bermutu rendah karena kekurangan guru dan fasilitas, serta puskesmas yang hampir kosong tanpa dokter atau paramedis lainnya. Singkatnya, keindonesiaan dipandang sebagai eksploitasi dan penjajahan, antitesis dari mimpi ideal kepapuaan oleh orang asli Papua.
Sejak awal proses masuknya Papua ke dalam konsep Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, ilmu antropologi di Indonesia telah menjadikan Papua sebagai lapangan penelitian utama. Menurut Mulyawan Karim, ketua Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI), pada tahun 1963 Profesor Koentjaraningrat bersama Harsja W. Bachtiar, doktor sejarah yang kemudian menjadi guru besar di Fakultas Sastera Universitas Indonesia (UI), menyunting buku berjudul Penduduk Irian Barat, sebuah literatur antropologi pertama tentang manusia dan kebudayaan Papua yang terbit pasca-kemerdekaan. Dalam salah satu tulisan di buku tersebut, “Reaksi Penduduk terhadap Perobahan Zaman”, Koentjaraningrat menganalisis fenomena kehadiran orang asing kulit putih di Papua dan perubahan besar yang mereka bawa, tentang gerakan spiritual cargo cult, semacam gerakan ratu adil di wilayah budaya Melanesia dan Oseania, yang kemudian menjadi tempat berseminya gagasan dan gerakan kemerdekaan Papua. Read More...

Kekerasan yang kembali terjadi akhir-akhir ini di Papua sekali lagi menghadirkan wajah Indonesia yang mengancam dan wajah kekerasan militerisme, alih-alih merangkul dan melindungi identitas kepapuaan. Keindonesiaan hadir dalam bentuk korupsi di tubuh birokrasi dan elite politik lokal tanpa menyejahterakan masyarakat Papua, dengan sekolah-sekolah yang bermutu rendah karena kekurangan guru dan fasilitas, serta puskesmas yang hampir kosong tanpa dokter atau paramedis lainnya. Singkatnya, keindonesiaan dipandang sebagai eksploitasi dan penjajahan, antitesis dari mimpi ideal kepapuaan oleh orang asli Papua.
Sejak awal proses masuknya Papua ke dalam konsep Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, ilmu antropologi di Indonesia telah menjadikan Papua sebagai lapangan penelitian utama. Menurut Mulyawan Karim, ketua Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI), pada tahun 1963 Profesor Koentjaraningrat bersama Harsja W. Bachtiar, doktor sejarah yang kemudian menjadi guru besar di Fakultas Sastera Universitas Indonesia (UI), menyunting buku berjudul Penduduk Irian Barat, sebuah literatur antropologi pertama tentang manusia dan kebudayaan Papua yang terbit pasca-kemerdekaan. Dalam salah satu tulisan di buku tersebut, “Reaksi Penduduk terhadap Perobahan Zaman”, Koentjaraningrat menganalisis fenomena kehadiran orang asing kulit putih di Papua dan perubahan besar yang mereka bawa, tentang gerakan spiritual cargo cult, semacam gerakan ratu adil di wilayah budaya Melanesia dan Oseania, yang kemudian menjadi tempat berseminya gagasan dan gerakan kemerdekaan Papua. Read More...
Catatan dari Pelatihan Advokasi Hak Minoritas di Bangkok
14/12/11 21:29 Filed in: REPORT
Sudiarto, Program Officer Yayasan Interseksi

Setelah mengikuti pelatihan secara online, saya berkesempatan untuk datang ke Bangkok, Thailand, dalam program Pelatihan Regional Global Advocacy Programme (GAP) yang diselenggarakan oleh Minority Rights Group International (MRG). Pelatihan berlangsung selama empat hari, 18-21 November 2011, diikuti oleh 21 peserta yang mewakili berbagai organisasi masyarakat sipil di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang bergiat di isu hak-hak kelompok minoritas. Secara teknis, pelatihan ini dikoordinasikan oleh Asisten GAP Asia, Kheetanat Wannaboworn. Dalam sesi pengantar, Carl Soderbergh dari MRG London menekankan bahwa dengan mengikuti program ini berarti para peserta telah menjadi bagian dari komunitas global. Sebagian di antara peserta pelatihan akan mendapat kesempatan mengikuti program lanjutan di Jenewa, Swiss, bersama-sama peserta dari kawasan Eropa dan Afrika. Berbeda dengan isu hak-hak indigenous people yang relatif sudah terorganisasikan dengan baik, MRG bersama dengan Uni Eropa masih mengembangkan forum aktivis dan komunitas hak-hak minoritas, sejalan dengan Forum on Minority Issues yang diadakan oleh Kantor Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau OCHCR di Jenewa. Read More...

Setelah mengikuti pelatihan secara online, saya berkesempatan untuk datang ke Bangkok, Thailand, dalam program Pelatihan Regional Global Advocacy Programme (GAP) yang diselenggarakan oleh Minority Rights Group International (MRG). Pelatihan berlangsung selama empat hari, 18-21 November 2011, diikuti oleh 21 peserta yang mewakili berbagai organisasi masyarakat sipil di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang bergiat di isu hak-hak kelompok minoritas. Secara teknis, pelatihan ini dikoordinasikan oleh Asisten GAP Asia, Kheetanat Wannaboworn. Dalam sesi pengantar, Carl Soderbergh dari MRG London menekankan bahwa dengan mengikuti program ini berarti para peserta telah menjadi bagian dari komunitas global. Sebagian di antara peserta pelatihan akan mendapat kesempatan mengikuti program lanjutan di Jenewa, Swiss, bersama-sama peserta dari kawasan Eropa dan Afrika. Berbeda dengan isu hak-hak indigenous people yang relatif sudah terorganisasikan dengan baik, MRG bersama dengan Uni Eropa masih mengembangkan forum aktivis dan komunitas hak-hak minoritas, sejalan dengan Forum on Minority Issues yang diadakan oleh Kantor Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau OCHCR di Jenewa. Read More...
Benturan Ijtihad Di bawah Bayang-bayang Kritik Anti-Wall Street
02/11/11 23:40 Filed in: REPORT
Sudiarto, Program Officer Yayasan Interseksi
Fundamentalisme lahir dari upaya manusia mencari identitas, di tengah-tengah krisis yang menciptakan ketidakstabilan, demikian menurut Hisanori Kato, peneliti tentang Indonesia dari Jepang, dalam Diskusi Buku The Clash of Ijtihad: Fundamentalist Versus Liberal Muslims (The Development of Islamic Thinking in Contemporary Indonesia), Jumat (28/10/2011) di Wahid Institute, Jakarta. Faktor ekonomi seperti kemiskinan bisa mendorong pencarian identitas, dan agama dapat dengan mudah berubah menjadi isme, memenuhi kebutuhan akan identitas. Hal serupa dinyatakan oleh Ahmad Suaedy, peneliti senior Wahid Institute dalam diskusi. Fundamentalisme cenderung subur di tempat-tempat di mana demokrasi sedang tumbuh, tetapi gagal memberikan janji keadilan dan lemahnya penegakan hukum. Read More...
Fundamentalisme lahir dari upaya manusia mencari identitas, di tengah-tengah krisis yang menciptakan ketidakstabilan, demikian menurut Hisanori Kato, peneliti tentang Indonesia dari Jepang, dalam Diskusi Buku The Clash of Ijtihad: Fundamentalist Versus Liberal Muslims (The Development of Islamic Thinking in Contemporary Indonesia), Jumat (28/10/2011) di Wahid Institute, Jakarta. Faktor ekonomi seperti kemiskinan bisa mendorong pencarian identitas, dan agama dapat dengan mudah berubah menjadi isme, memenuhi kebutuhan akan identitas. Hal serupa dinyatakan oleh Ahmad Suaedy, peneliti senior Wahid Institute dalam diskusi. Fundamentalisme cenderung subur di tempat-tempat di mana demokrasi sedang tumbuh, tetapi gagal memberikan janji keadilan dan lemahnya penegakan hukum. Read More...
