Awas! Nanti Dikira Teroris

Kamis, 31 Oktober 2013. Pagi pada akhir Oktober itu menjadi jadwal saya interim meeting. Akhir Oktober menjadi “musim” interim meeting bagi peserta Workshop Pelatihan Penelitian 2013, Demokrasi dan Kewarganegaraan angkatan IV. Penting, karena menjadi parameter untuk mengetahui progress penelitian. Setidaknya, melihat data apa saja telah terkumpul.

Interim meeting di Makassar menjadi istimewa sebab dihadiri langsung Chairperson The Interseksi Foundation, Bapak Hikmat Budiman. Maaf, bukan maksud memandang enteng interim meeting di provinsi lain. Interim meeting dilakukan di Makassar. Tempatnya, di kamar 209 Hotel La Macca dan warung ikan bakar. Tak perlu ruang rapat yang menjadikan bakal terasa sangat formal. Meeting ini dibawa Enjoy Aja (meminjam slogan iklan rokok).

Ada dua peserta interim meeting di Makassar, saya dan Hamzah, dari Sulawesi Barat. Agar lebih adil, meeting dimiulai dari Hamzah, Rabu, 30 Oktober, malam harinya. Dia harus presentasi lebih dulu karena datang dari daerah yang jauh dari Makassar. Butuh pengorbanan waktu, tenaga, materi untuk datang ke Makassar. Jarak Makassar-Polewali Mandar, tempat Hamzah meneliti, sekira 250 kilometer. Polewali, salah satu kabupaten di Sulawesi Barat.Sayang, karena kesibukan, tak sempat menyaksikan sesi Hamzah interim meeting di kamar 209. Malam itu, saya harus merampungkan sejumlah liputan dan bahan meeting. Awalnya, saya merasa butuh menyaksikan meeting, guna persiapan materinya untuk sesi presentasi. Harapan itu sirna karena banyak hal.

Prainterim meeting telah dieksekusi di warung makan ikan bakar, Rabu sore. Jarak warung dengan hotel sekira 1,5 kilometer. Sambil makan siang sekaligus makan malam dengan menu ikar bakar, perbincangan soal hasil interim meeting menjadi hangat. Ikan bakar di Makassar sangatlah khas. Esok harinya, giliran saya. Bahan meeting pun sudah siap. Poin-poin data temuan lapangan telah saya susun jauh hari sebelumnya.Meeting dilangsungkan di sela-sela waktu liputan. Kamis pagi, sebelum meeting, saya masih harus meliput bakti sosial DPD I Partai Golkar Sulsel di sekretariatnya, Jl Bontolempangan. Liputan itu sekaligus untuk mencari data tambahan soal dinasti Yasin Limpo. Syahrul adalah Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

Sambil menyelam, minum air. Sambil meliput, mencari data penelitian lain.Di sekretariat Golkar, saya sebenarnya mencari buku soal sejarah Golkar Sulsel. Almarhum Yasin Limpo merupakan pendiri Golkar Sulsel. Sungguh mengecewakan, ternyata buku soal itu belum pernah terbit sama sekali. Liputan rampung, selanjutnya giliran mencari kertas flip dan spidol di toko alat tulis. Kertas ukuran jumbo itu pengganti papan tulis di kamar. Maklum, hotel tak menyediakan papan tulis. Tak ada rotan, akar pun jadi.Setiba di kamar, di tengah cuaca mendung di luar, kertas dibentangkan, ditempel di dinding, di bawah televisi plasma.

Meeting, nanti saja. Pak Hikmat harus sarapan dulu sekaligus makan siang di warung ikan bakar, pilihannya kemarin. Menemani di warung, waktu santai itu dimanfaatkan untuk bincang-bincang soal penelitian. Tak berlama-lama di warung, kami harus segera kembali ke kamar untuk melanjutkan meeting. Fokus utama adalah meeting. Di kamar, memandangi bentangan kertas flip di dinding, serasa seperti merancang aksi besar untuk gerakan perjuangan. Merasa aneh, Pak Hikmat sempat berceletuk, “Nanti kita dikira teroris, merancang aksi pengeboman.”Saya pun tertawa terbahak. “Iya juga ya?!” Kondisi kamar 209 hampir mirip dengan kamar terduga teroris kala digrebek personel Densus 88 Antiteror. Perbandingan itu setidaknya didasarkan pada tayangan televisi.Andai sekarang masih zaman Orde Baru,  mungkin kami dibuntuti aparat karena dikira akan melakukan tindakan subversif, padahal bukan. Lantas untuk apa?

Beberapa lembaran kertas flip itu untuk menggambar silsilah keluarga Yasin Limpo. Menggambar silsilah keluarga dinasti, ternyata cukup merepotkan. Merepotkan karena generasi kedua Yasin Limpo membangun kekerabatan dengan keluarga dinasti lainnya. Silsilah pun bercabang ke mana-mana. Besar atau tidaknya suatu keluarga, dapat dilihat dari silsilahnya.Sebenarnya, inilah keluarga besar sesungguhnya, karena anggota keluarga yang sedarah maupun tidak cukup banyak. Mayoritas dari mereka adalah orang berkuasa. Fokus meeting hanya soal silsilah. Menggambar silsilah wajib dalam riset saya, sebab menjadi data pendukung utama. Awalnya, bukan silsilah direncanakan digambar untuk pendukung riset ini. Lantaran terbawa arus terhadap cara kerja pada media massa, malah infografis. Dari segi perwajahan, infografis meman menarik.

Riset ini bukan soal perwajahan, layaknya halaman koran, namun soal ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mengenalnya silsilah,bukan infografis.Itulah bedanya meliput dan meneliti, kendati sama-sama mencari data.***

 

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi