Belajar dari Senjatanya Orang-Orang yang Kalah

Memahami apa yang dituliskan James C. Scott dalam ”Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah” adalah kesulitan tersendiri bagi saya. Setiap kata yang James tuliskan membutuhkan beberapa menit bagi saya untuk dapat mencernanya dan hasilnya saya harus mengulang kembali kata-kata itu sampai beberapa kali. Begitulah yang saya rasakan sampai kemudian saya dapat memahaminya tanpa perlu mengulangnya kembali. Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. Saya keluhkan ini kepadanya dan ia memberi saran agar saya membacanya dalam situasi yang tenang bukan saja ruang dan waktu tetapi juga fikiran dan konsentrasi saya.

Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.

Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. Ini mempermudah kita juga untuk berkonsentrasi pada hal lain. Sempat Dina meledek saya, katanya biasanya dalam melakukan penelitian terlebih dahulu dituliskan transkripnya baru analisisnya. Sementara saya terbalik, analisisnya sudah saya buat sebelum transkrip itu saya tuliskan.

Dari pemahaman saya setelah membaca buku James, apa yang ia tuliskan tentang gerakan petani di Sedaka, memiliki pola yang hampir sama dengan apa yang dilakukan warga rusun Amplas. Karakteristik orang Batak yang sering digambarkan sebagai orang yang keras, tidak mau kalah dan ahli berdebat (meski kadang tanpa disertai alasan) menjadi salah satu alat dalam melawan hegemoni yang dilancarkan PD. Pembangunan Kota Medan. Hipotesis ini saya ungkapkan mengingat apa yang pernah disampaikan oleh staf PD. Pembangunan ketika mereka berkunjung ke YPRP sekitar 3 bulan yang lalu. Ketika itu PD. Pembangunan mencoba mengajak YPRP untuk berdialog tentang persoalan rumah susun Amplas. Warga rusun sendiri mengakui bahwa mereka tidak ingin nurut dengan PD. Pembangunan, mereka mengeluarkan kata-kata dengan suara yang jauh lebih keras jika PD. Pembangunan mencoba menggertak mereka. Bahkan beberapa warga menyatakan kalau harus gelot (beradu fisik) mereka juga siap walau mereka seorang perempuan.

Sikap kasar dan keras kepala warga rusun, sekilas memang menorehkan citra buruk bagi mereka. Sebahagian masyarakat bahkan menganggap bahwa warga rusun adalah warga liar, hanya mau menang sendiri dan tidak peduli dengan kewajibannya. Kata-kata itu saya cuplik dari pernyataan kepala lingkungan (kepling) lingkungan III, kelurahan Amplas yang menyatakan sikapnya ketika saya berkoordinasi senin lalu kepadanya lewat HP soal Badan Pusat Statistik (BPS) untuk survey tingkat kemiskinan. Menurut pak Kepling, warga rusun adalah orang yang tidak mau mengikuti aturan pemerintah, dicontohkan olehnya soal pengurusan KTP. Ketika saya katakan bahwa warga rusun sudah mengurus KTP, tetapi blankonya yang tidak ada, ia menjawab bahwa sekarang ini memang blanko tidak ada, tetapi dari dahulu jika diminta membuat KTP mereka tidak pernah mau, dan ketika ada masalah baru ramai-ramai mereka sibuk mengurus. Bahkan ia menambahkan pihak kelurahan sendiri sebenarnya sudah malas mengurus mereka.

Selain membaca tulisan James, saya juga baru tahu kalau beberapa model pendekatan PD. Pembangunan dalam upaya menggusur warga adalah bagian dari hegemoni PD. Pembangunan. Ini saya ketahui saat Dina menerangkan kepada saya tentang teori hegemoni-nya Antonio Gramsci dan ia merekomendasikan kepada saya untuk menggunakan teori itu didalam penelitian saya. Sayang buku itu tidak ada ketika kami mencarinya di toko buku. Dina berjanji akan mengirimi buku itu kepada saya via pos setibanya ia di Jakarta.

Membaca James C. Scott dan Hegemoni-nya Antonio Gramsci (beberapa hari kemudian buku itu sudah saya terima) saya banyak belajar untuk kasus KWRS Amplas terutama belajar dari senjatanya orang-orang yang kalah.

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.