Belajar Memimpin dari Tukang Jaga Sepeda

Sabtu, 19 April 2014, saya mengikuti kuliah kepemimpinan ala mantan Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla. Selama sekitar 45 menit, Pak JK menyampaikan “ceramah”di hadapan ratusan siswa pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dari sejumlah sekolah di Indonesia di Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolaliddo, Makassar. Saya hadir di acara itu guna menunaikan tugas kantor.

Pak JK bukan orang teoritis. Dia memberi contoh praktik, bagaimana menjadi pemimpin dari pengalaman empiris.Agar dapat menjadi pemimpin seperti dirinya, seseorang harus memulainya dari hal kecil dan berani gagal. Seseorang tak bisa langsung menjadi orang besar dan tak bisa pula langsung menjadi pemimpin.

Bangku sekolah menjadi titik awal untuk membangun diri  menjadi seorang pemimpin. JK mencontohkan, dimulai dari menjadi ketua kelas atau ketua panitia ulang tahun. Dari ketua kelas, lalu menjadi ketua OSIS. Begitu pula seterusnya. Namun, JK mulai belajar menjadi pemimpin tidak dari kelas. “Saya memulai dari jadi panitia ceramah. Tugas saya menjaga sepeda (jamaah),” tuturnya bercerita. Kala itu, sepeda motor menjadi barang mewah. Sepeda pun menjadi pilihan utama alat transportasi warga.

Tugas Pak JK menjaga sepeda diterima dari ayahnya, Hadji Kalla, seorang pedagang yang mulai merintis kesuksesan usahanya. Dari tugas ini, JK mendapatkan nilai tanggung jawab mengemban amanah. Ketika mampu bertanggung jawab, di situlah ada nilai kepemimpinan. Agar bisa menjadi pemimpin, JK juga mengajarkan siswa agar bisa berpidato. Dirinya kembali jadi contoh. “Kalau tak jadi ketua PII (Pelajar Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), bagaimana bisa pidato, kalau tak bisa pidato, bagaimana bisa jadi wapres,” katanya menyebut tahapan.

Ada anekdot soal kemampuan berpidato di kampung Pak JK. Suatu ketika, seorang pemuda di desa yang baru saja menyelesaikan kuliahnya (fresh graduate) diminta berpidato pada acara di desanya. Si pemuda pun menolak mentah permintaan warga. Mayoritas warga memandang, jika seseorang telah menyandang gelar sarjana, maka dapat berpidato. “Saya tak bisa pidato karena waktu kuliah tak pernah diajari pidato.” katanya menyampaikan alasannya dengan bahasa begitu polos. Si pemuda itu pun menjadi bahak olok-olokan warga.

Dalam berpidato, Pak JK tak pandai beretorika, layaknya penjual obat. Gaya bahasanya lugas dan ciri khasnya, berdialek Bugis-Makassar, serta diselilingi lelucon. Pidato maupun ceramah Pak JK, isinya jarang mengutip quote para tokoh, namun penuturannya sarat dengan makna. Dalam “ceramahnya”, Pak JK juga memompa semangat siswa agar berani bertarung. Seorang calon pemimpin harus berani gagal. Takut akan kegagalan menjadi penanda terjadi kegagalan sejati dalam diri sesorang.

Pak JK sukses karena pernah gagal. Dia, misalnya, gagal dalam pertarungan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2009-2014. Gagal terpilih, namun banyak yang merasa menyesal tak memili Pak JK, yang saat itu berpasangan dengan Wiranto. Ekspektasi terhadap pasangan SBY-Boediono selama hampir lima tahun memimpin masih banyak belum terpenuhi.

Dalam kuliah kepemimpinan itu, seorang siswa berceletuk, bertanya kepada Pak JK, jika berani gagal, apakah dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019 akan ikut bertarung lagi? Pak JK pun membalasnya dengan tawa. Usai kuliah umum, Pak JK pun ramai-ramai ditodong (wawancara door stop) jurnalis terkait dengan wacana pencapresannya, yang berpasangan dengan Joko Widodo. Pak JK mengaku belum memastikan, dia masih melihat berbagai perkembangan dari politik yang begitu dinamis. Wawancara dengan Pak JK dijaga pasukan pengamanan kepresidenan. Beginilah jadinya ketika menjadi pemimpin. Dulu, Pak JK belajar menjadi pemimpin dari tukang jaga, sekarang, saat menjadi pemimpin, giliran dirinya dijaga.

Ketika Tuhan menghendaki dirinya menjadi presiden atau wakil presiden, dia akan menjadi penjaga bagi negeri ini.***

 

 

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi