Belajar Spradley di Jati Mulya

“Semua itu harus ditulis. Apapun… jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis. Suatu saat pasti berguna.”
Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, Lentera Dipantara, Jakarta, 2004

Tiba-tiba, saya jadi merasa begitu kecil setelah membaca tulisan James P. Spradley soal etnografi. Semula, saya membayangkan bahwa, dengan membuka mata, memasang telinga dan berkeliling di kompleks perumahan Jati Mulya serta melakukan wawancara, akan mendapatkan temuan seperti para peneliti lainnya. Tetapi, ternyata, setelah saya membaca tulisan Spradley itu, betapa masih banyak hal yang harus dilakukan selain tiga hal di atas.

Karena, demikian Spradley, etnografi harus bisa memahami kandungan dari kode-kode bahasa yang disampaikan, bisa menafsiri dari perilaku bahkan hanya dengan menunjukkan gesture tertentu pun, bisa memahami maksud yang ingin diungkap. Memahami semua itu, tentu hanya bisa didapat jika kita intens dengan komunitas dan terutama, immerse. Sementara, apa yang saya lakukan selama ini, masih terlalu jauh dari apa yang disebut dengan metode etnografi a la Spreadly ini.

Tetapi, meski saya tak seketat apa yang diancangkan Spradley, saya mencoba untuk setidaknya, menggunakan apa yang pernah disarankan Pram, “Tulis, tulis, tulis. Suatu saat pasti berguna.” Saya pun juga mencoba, sebisa mungkin menangkap semua dari apa yang saya lihat dan dengar. Saya juga mencoba mendekat dengan, ikut berjamaah, misalnya, saat waktu shalat tiba. Dan hal lalin, kalau memungkinkan, saya akan melakukan wawancara. Bahkan, seusai sesi wawancara, saya meminta waktu lagi untuk wawancara lagi serta meminta rekomendasi, kemana dan kepada siapa lagi saya bisa melakukan wawancara lanjutan.

Jarak Jati Mulya, dari kantor saya di Depok membutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam sekali jalan. Dari Depok sendiri, saya harus berganti empat kali moda angkutan serta untuk sampai ke Jati Mulya.

Saya, masuk ke Jati Mulya pertama kali untuk melakukan wawancara guna memverifikasi dari apa yang saya temukan dari dunia maya atas penutupan gereja di Jati Mulya, kecamatan Tambun Selatan kabupaten Bekasi sebagai bagian dari pemantauan atas kasus-kasus diskriminasi dan intoleransi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat.

Dari sanalah kemudian, saya merasa apa yang terjadi di Jati Mulya menarik untuk ditelisik. Karena, dalam amatan saya, apa yang terjadi di Jati Mulya, tampaknya mewakili tipikal beberapa penutupan gereja di tempat lain, terutama di Bekasi yang setidaknya, memiliki kesamaan dalam hal, adanya beberapa gereja dalam satu kawasan yang kemudian ditutup oleh warga.

Berbeda dengan kedatangan saya sebelumnya, yang memang khusus wawancara dengan Pendeta Pestarya Br. Hutajulu, Pendeta Gekindo Getsemane, salah satu dari tiga gereja yang ditutup di Jati Mulya, untuk penelitian ini, saat datang ke Jati Mulya, saya sengaja turun di Jalan Melati Raya, jalan ke arah Gereja Gekindo Getsemane dan Gereja HKBP Getsemane berada.

Saya sengaja berhenti tepat di jalan masuk yang gapuranya tergantung nama sekolah Thariq bin Ziyad, sekolah Islam bergengsi yang pemiliknya adalah Bupati Bekasi, Sa’duddin. Sekolah ini, persis membelakangi dua gereja, Gekindo dan HKBP Getsemane. Saya berjalan untuk mengukur jarak, seberapa jauh antara pertigaan Jalan Raya Jati Mulya dengan jalan Melati Ujung, tempat dua gereja berada.

Mendekati gereja, persis di depan sekolah at Thariq, saya berhenti. Saya memang tidak ingin masuk ke gereja karena, gereja sendiri sudah dua tahun tak terpakai. Dan saat saya ke sana beberapa waktu sebelumnya, kondisi bangunan rusak berat. Pintu, kaca nako dan kabel-kabel listrik lenyap. Sebagian atapnya juga terbuka, karena dibongkar oleh trantib pertengahan Juni lalu.

Secara kebetulan, saat berada di pertigaan itu, saya mendengar adzan dari masjid al-Muttaqin yang berada di depan at thariq. Saya pun kemudian menuju masjid al Muttaqin. Masjid al Muttaqin sendiri, bukan lah Masjid besar. Ia pun kalah gagah dengan masjid at Thariq yang menaranya saja tampak menjulang.

Masjid al Muttaqin, hampir seperti rumah biasa, bentuknya memanjang. Saat saya masuk masjid, terasnya terlihat tak terlalu bersih. Kamar kecilnya juga terkunci, dan hanya tempat wudlu saja yang dibuka.

Di dalam masjid al Muttaqin, di sebelah kiri, terdapat papan pengumuman. Tertempel di situ, tulisan-tulisan soal Front Pembela Islam (FPI). Ada tiga tulisan yang tampak di sana. Pertama soal klarifikasi FPI atas tiadanya izin dari negara atas lembaganya. Di situ juga dituliskan soal kenapa FPI tidak memiliki badan hukum, bahwa, demikian isi tulisan, ketiadaan izin bukan karena FPI tidak berniat memiliki badan hukum. Tetapi, sikap-sikap FPI yang tak mau kompromi dan juga karena berazas Islam yang membuat, FPI susah, dihalangi, bahkan difitnah sehingga tidak bisa memiliki izin. Di situ juga disebutkan soal donasi, jika ingin mendonasikan ke nomor rekening yang tertulis di bawahnya. Yang kedua, soal penggerebekan FPI terhadap warung remang-remang di kawasan Tambun Selatan.

Masjid al Muttaqin juga memiliki perpustakaan. Tempatnya di pojok sebelah kiri. Bukunya tidak terlalu banyak. Sekitar 20-an buku selain al-Qur’an, beberapa buku, serta majalah Suara Muhammadiyah di sana. Setelah itu, saya berjalan keliling di kompleks perumahan itu.

Sore harinya, saya mampir ke rumah Pendeta Pestarya Hutajulu. Sayang, pendeta sedang tak di rumah karena mendadak ada acara di Jakarta. Untunglah saya bisa berbincang dengan Ibu Yeti, adik pendeta yang aktiv di lembaga al Kitab, dan selalu mengawal Pendeta Hutajulu saat melakukan kebaktian di jalan selama delapan minggu akibat gereja ditutup dan disegel tahun 2005 lalu.

Ibu Yeti banyak bercerita, terutama soal peristiwa kebaktian di jalan. Terkadang, ia agak tersendat saat menceritakan penutupan itu. Bahkan suatu ketika, ia berkata, “Terus terang, kalau kita lewat Melati Ujung itu, sedih. Itu kita membeli bata satu-satu. Sampai anak-anak sekolah minggu itu nabung, satu keluarga, itu satu sak semen untuk membangun. Tetapi Tuhan punya rencana. Dan yang paling sakit, janji pemerintah itu tidak pernah ditepati, padahal itu tertulis.”

Dari dia pula, saya mendengar, bagaimana para mubalig di masjid-masjid di kompleks Jati Mulya berceramah. Ia berkata, ada beberapa masjid yang saat ceramah terdengar keras dan membawa-bawa dari luar negeri ke ke sini. Tetapi, dari apa yang ia tangkap, di masjid at Taubah, yang berada di belakang rumah tinggalnya, hampir ia tak mendengar suara keras.

Pada kedatangan berikutnya, saat hari Jum’at saya ke Jati Mulya. Mulanya, saya ingin jum’atan di masjid al-Muttaqin, di tempat yang sebelumnya, saya melihat selebaran-selebaran FPI dan majalah suara Muhammadiyah di dalam masjid itu. Saya ingin mendengar khotbah di al Muttaqin. Siapa tahu, ada inspirasi yang bisa diambil sekaligus mengamati berapa banyak jemaah dan mengenali beberapa orang yang bisa diajak ‘ngobrol’ di sana. Tetapi, hasrat hati berbanding dengan hasrat arus bawah. Khawatir tak terbuka kamar kecilnya, saya memilih pergi ke masjid at Taubah.

Tetapi, tak salah juga sebetulnya saya jum’atan di masjid al Taubah, karena saya bisa menangkap gerak kultural masjid yang memiliki tradisi seperti lazimnya orang-orang NU. Seperti adzan, misalnya, di masjid al Taubah, dua kali adzan saat jum’atan. Seusai shalat, jamaah juga wiridan dan salaman bersama, sehingga mirip dengan kebiasaan di kampung saya.

Setelah makan siang, saya kembali ke masjid at Taubah. Pasalnya, untuk kedatangan kali ini, saya belum mengadakan perjanjian dengan siapapun. Saya melihat seseorang yang lagi membaca Yasin yang di sampul depannya, bertuliskan hadiah dari keluarga orang yang meninggal. Saya pun mendekat. Menyapa dan mulai bertanya. Saya juga sedikit mengutarakan keinginan saya ke tempat itu.

Syukurlah, saya mendapatkan jawaban sebagaimana bayangan saya. Meski ia tak mau saya membuka rekaman, ia yang bernama Ibrahim (64) itu, berasal dari Manado. Ia memiliki pandangan yang, dalam pandangan saya moderat. Ia memakai celana pendek di atas lutut, berkopiah hitam dengan garis-garis renda hijau.

Saat saya tanya tentang penutupan gereja, ia menyayangkan penutupan itu. Ia berkata, bahwa orang boleh saja berbeda, dan terutama, tidak mengganggu. Ia juga memposisikan diri berbeda dengan orang yang ia sebut kelompok fanatik. “Nggak apa-apa orang berbeda. Kenapa harus ditutup? Mungkin karena iri, sehingga ditutup, atau kemasukan orang luar,” katanya. Ia juga sempat bercerita bagaimana kondisi keberagamaan di Manado. Di hari Jumat, misalnya, saat beribadah, di jaga oleh ‘orang lain’. Begitu juga kalau di hari Minggu, saat mereka beribadah, juga gantian dijaga.

Di hari yang lain, saat saya mendapat rekomendasi untuk melakukan wawancara dengan tetangga gereja. Saya melakukan wawancara dengan Pak Syamsul. Pria kelahiran Cirebon 48 tahun silam itu, pernah menjadi santri di pesantren Kempek, Babakan, Ciwaringin Cirebon dan Lirboyo Kediri.

Ia, menunjukkan bahwa ia pengagum Gus Dur. Meski, dalam wawancara itu, ia juga acap bertanya soal isu, dari apa yang ia dengar dari orang-orang, bahwa di kampung itu tidak ada orang Kristen. Meski ada satu atau dua, kenapa justru beribadahnya tidak di Jati Mulya, tetapi di luar. Sehingga, mungkin, kenapa gereja ditutup. Sedikit banyak, pertanyaan Pak Syamsul memang menyangkut soal denominasi. Ini memang bagian yang juga ingin saya dalami serta masalah-masalah lain. Saya juga belum menemui orang-orang yang berperan aktif atas penutupan gereja, sebagaimana muncul di media seperti Ustadz Mukhlas Fauzi. Atau, ketua RT 18, Pak Sholihin. Saya juga belum menemui Pak Jamun, pejabat sementara lurah Jati Mulya. Dan tentu saja, menemui yang lain lagi, atau wawancara ulang, dengan yang sudah saya dapat dan datangi sebelumnya.

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.