Bingung Aku!

Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Menuliskan jurnal harian yang kerap “ditagih” pak Hikmat melalui Dina, bagiku terasa berat sekali. Setiap kali aku selesai menulis, aku selalu tidak puas dengan hasil tulisanku, sehingga kuulang, kuulang dan kuulang. Akhirnya semua menumpuk tak satupun yang jelas.

Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data ke lapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku.

Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang tidak asing bagiku. Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP – KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. Karena memang selain melakukan penelitian, sejak awal aku sudah menjadi bagian yang ikut dalam advokasi kasus ini. Tapi lagi-lagi untuk menuliskannya menjadi sebuah laporan, cerita atau jurnal atau apalah aku kerap berucap “ampun”.

Huh…!!!, kadang-kadang aku berfikir lebih baik aku mewawancarai mereka saja terus dan terus tapi jangan suruh aku menulisannya.hehe.

KWRS Amplas berjuang mempertahankan rusun agar tidak digusur oleh PD. Pembangunan sejak akhir Februari lalu. Dalam gerakan yang mereka lakukan, banyak sekali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bisa memuluskkan penelitianku. Hanya saja aku merasa (seperti biasa) belum mendapatkan format yang tepat untuk menuliskannya dan membaginya pada Interseksi.

Kesulitan lain yang kuhadapi adalah pada saat aku menulis, emosiku muncul. Aku marah, sedih, dan ikut merasa sakit ketika rekaman cerita warga rusun kuulang lagi. Padahal saat workshop Agustus lalu kami sudah diwanti-wanti agar jangan menulis dengan “marah” dan saat itu aku yakin bahwa aku bisa melakukannya, tapi dugaanku salah, nyatanya aku masih belum bisa melakukannya seobjektif mungkin.

Warga rusun Amplas, terdiri dari 2 kelompok. Kelompok pertama adalah warga yang berjuang mempertahankan rumah susun yang tergabung dalam KWRS Amplas dan kelompok kedua yaitu kelompok warga yang pro pada kebijakan yang dibuat oleh PD. Pembangunan. Perbedaan misi kedua kelompok ini menjadi sebuah konflik horizontal yang terus terbangun.

Menghadapi 2 kelompok ini, aku juga bingung harus berada pada posisi yang bagaimana. Satu sisi aku tidak bisa melepaskan diri sebagai pendamping dan lembagaku memberi tugas agar aku bisa menjadi pemersatu bagi perseteruan mereka. Aku harus bisa merubah orientasi warga yang pro PD. Pembangunan sehingga sadar akan hak-haknya dan ikut sama-sama berjuang sehingga konflik yang selama ini terbangun bisa terkikis habis.

Ketika aku melakukan wawancara pada kelompok warga yang pro PD. Pembangunan, aku menemukan banyak data untuk penelitianku, dan aku juga menemukan strategi yang dipakai PD. Pembangunan. Disini aku mulai bingung apakah informasi tentang strategi tersebut perlu aku sher ke kawan-kawan KWRS, yang tentu saja jika itu kusampaikan dapat membantu mempermudah gerakan mereka dalam menyusun strategi tandingan ini jika melihat kebutuhanku sebagai pendamping, tapi kalau itu kulakukan menurutku (sebagai peneliti) tidak etis. Aku merasa menghianati informanku dan sudah merusak kepercayaan yang mereka berikan kepadaku. Aku juga tidak mau karena informasi yang kusampaikan kepada KWRS malah memperuncing perseteruan mereka. Kedua kelompok ini sangat sensitive, selalu punya padangan yang buruk terhadap lawan-lawannya.

Kebingungan-kebingungan di atas jika terus kubiarkan sangat kusadari dapat menghambat dua pekerjaanku. Aku sebagai seorang pendamping dan aku sebagai peneliti. Semua itu tidak lain karena hanya kurekam dalam kepalaku, kubiarkan menumpuk dan kalaupun sudah kutuliskan lalu kusembunyikan dan kunikmati sendiri. Tampaknya aku harus mulai berani mengeluarkan tulisanku dari persembunyiannya. Semoga..

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.