Bomo, Saksi Perubahan

Seorang Bomo dalam struktur masyarakat Sakai sejak masa lalu merupakan seorang yang istimewa memperantarai dunia manusia dan dunia para hantu. Seorang Bomo berpengaruh dalam menentukan jalan pikiran masyarakat melalui lembaga yang mengurusi keyakinan animisme atau tradisi yang bersangkutan dengan alam atau mahluk halus termasuk pengobatan (dikir). Setelah masuknya Islam Bomo hanya tinggal memegang peran pengobatan, sedangkan upacara keagamaan dipegang oleh kholifah. Masuknya agama Islam tidak hanya mengurangi wewenang Bomo, bahkan ketika gerakan islam Wahabiah yaitu aliran ahlusunah Wal jamaah masuk dari Sumatra bagian Barat, praktik pengobatan dikir dilarang.

Akan tetapi aliran apapun dalam agama Islam yang masuk pada masyarakat Sakai sejak masa kesultanan Siak Sri Indrapura, yang sangat terkenal adalah Naqsabandyah yang diajarkan oleh Abdul Wahab Rokan, tradisi pengobatan dikir tetap dilakukan oleh masyarakat Sakai. Seperti yang ditulis oleh Parsudi Suparlan (1995), karena aliran keagamaan ini belum lama berada pada kehidupan orang Sakai, konflik-konflik antar aliran keagamaan cepat mereda. Sebagian orang Sakai tidak terlibat dalam konflik-konflik tersebut karena mereka tidak merasa menjadi bagian dari dua aliran yang sedang berkembang. Mereka masih lebih percaya pada keyakinan mereka sendiri yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Sakai yang digambarkan Parsudi Suparlan sepuluh tahun yang lalu mungkin telah mengalami perubahan. Bagaimana Bomo masa kini memandang masyarakat Sakai melewati perubahan-perubahan waktu dan transformasi sosial budaya di dalam diri mereka.

Bomo yang malam itu mengobati Pak Bayan bernama Mansyur. Umurnya kurang lebih 60 tahun. Ia tinggal tidak jauh dari Pusksmas kecamatan Pinggir dan mushala yang sedang menjadi tempat diadakannya Suluk. Rumahnya setengah permanen.Di dalam rumahnya terdapat kipas angin, televisi yang diletakkan di atas bufet. Saya ke sana satu malam setelah malam sebelumnya ia mengobati Pak Bayan. Ia dan keluarga sedang menonton sinetron saat itu. Saya memilih duduk di lantai yang dialasi karpet plastik. Ketika perbincangan seputar dikir telah jauh pada pertanyaan saya seputar ilmu sihir hitam yang dipakai untuk mencelakai orang atau memikat hati dan pikiran orang lain, Pak Mansyur mengelak bahwa di Sakai tidak ada lagi ilmu semacam itu. Ia berbalik bertanya pada saya tentang keberadaan ilmu hitam tersebut di Jawa. Ia memakai bukti bahwa di televisi di sinetron, orang Jawa, Jakarta memakai ilmu sihir untuk mencelakai orang. Saya tidak mengiyakan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari fenomena tersebut ada, tetapi tampilnya cerita-cerita tersebut di film-film memang benar bahkan begitu marak.

Saya mengutarakan bahwa sejak awal ketika saya bertemu dengan pemuda-pemuda Sakai yang mereka ceritakan adalah ilmu magis Sakai selain pengobatan Dikir. Bomo yang terlihat tenang itu kemudian bercerita, bahwa pada masa lalu, ilmu tersebut memang ada. Tapi pada zaman sekarang ilmu hitam sudah dilarang. Orang Sakai di masa lalu tidak mengetahui agama. Masyarakat Sakai baru dapat belajar agama setelah Islam dan Kristen masuk dan berdiri masjid atau gereja. Tokoh-tokoh agama yang disebut kholifah tidak melarang pengobatan dikir. Bagi warga yang penting si sakit dapat hidup sehat dan sejahtera. Kholifah itu pun menyadari secara ekonomi sulit bagi orang Sakai dapat menjangkau pengobatan dokter.
Tetapi masa sekarang untuk menyelenggarakan dikir juga mahal karena obat yang terbuat dari daun, akar dan kayu sudah sulit didapat. Jenis-jenisnya hanya dapat ditemui di dalam hutan, sedangkan hutan sudah jarang. Jika ada keluarga si sakit yang akan menyelenggarakan upacara dikir biasanya mereka memesan pada orang yang akan mencarinya ke hutan. Saat hutan masih rimbun dan luas orang Sakai tidak membeli keperluan-keperluan mendasar meskipun tidak mempunyai uang. Sekarang setelah semua begitu jarang ditemukan, uang juga sulit dicari. Ubi Mangalo, makanan sehari-hari warga Sakai lebih mahal harganya dibanding beras. Satu cupak (cangkir) berharga Rp.7000, sedangkan beras satu liter dapat dibeli dengan Rp.3000. Tetapi itu bukan beras yang bagus.Rasanya keras dan warnanya kuning.

Anak-anak Pak Mansyur ikut mendengar ayahnya bercerita tentang kehidupan orang Sakai di masa lalu yang tidak kenal waktu atau jam. Anak Pak Mansyur 3 orang, semua telah dewasa, sedikit di atas saya. Mereka mendengar cerita itu sama antusiasnya dengan saya tentang suatu masa dimana nenek moyang mereka pernah mengalaminya. Masa itu dan kehidupan Sakai masa lalu tersebut terlihat telah begitu berjarak dengan kehidupan mereka sekarang dan mereka juga sama herannya dengan saya tentang kehidupan masa lalu yang bagi Pak Mansyur lebih enak.

Ketika Jepang berada di dekat tanah mereka, Pak Mansyur masih berusia 15 tahun. Karena belum ada jalan aspal, transportasi dilalui di atas jalur sungai Mandau dan anak-anak sungainya atau berjalan kaki menyusuri jalan setapak di dalam hutan. Ia mencontohkan kalau dulu perjalanan dari Duri ke Balai Pungut memakan waktu 1 hari. Saat itu yang mereka takuti kalau di perjalanan bertemu dengan orang yanng berasal dari sebelah Utara, yang sekarang disebut orang Batak.

Pada zaman itu warga menanam padi yang ditukar dengan uang pada Jepang. Tetapi hasil perkebunan semua harus diserahkan pada mereka. Kondisi keuangan warga baik, jumlah uang banyak tetapi tidak ada barang yang dapat dibeli. Seperti masyarakat lain yang miskin, semua berpakaian kulit kayu. Tak ada bedanya orang Sakai dengan orang dari suku lain. Tetapi kemudian pada masa Indonesia orang Sakai masih berpakaian kulit kayu. Dulu semua tidak berpendidikan. Tetapi pada masa sekarang hanya orang yang mempunyai uang yang sanggup sekolah dan hanya orang yang sekolah yang mempunyai uang dan tanah yang banyak. Pak Mansyur kemudian menceritakan bagaimana warga Sakai telah banyak kehilangan ladang. Ia memiliki ladang 1 ha2 yang ditanami kelapa sawit. Penghasilannya Rp.700.000 untuk menghidupi seorang istri dan 3 orang anak.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 di komunitas Orang Sakai, Riau