Bupati Maros dan Lapangan Tenis

Dalam tempo kurang dari 12 jam, saya dan Pak Hikmat Budiman harus menemui dua bupati, Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah dan Bupati Maros, Hatta Rahman. Pertemuan keduanya untuk mappatabe atau meminta izin (Bugis), jika di wilayah kekuasannya akan dilangsungkan penelitian Kota-kota di Sulawesi.

 

maros

Prosesi mappatabe dengan Bupati Bantaeng berlangsung dalam suasana tak formal. Saya tak menyangka jika, Kamis, 10 April 2014 malam, dirinya siap ditemui. Permintaan untuk audensi atau mappatabe hanya diputuskan melalui telepon. Saya pun datang menemui sang bupati bergelar profesor tak menggunakan uniform (seragam resmi). Mappatabe dengan Bupati Bantaeng difasilitasi Bapak Bunyamin, mantan atasanku di kantor yang kini jadi pengusaha sukses. Dia dekat dengan bupati, seperti bersaudara.

Sekitar tujuh jam setelah audidensi dengan Bupati Bantaeng, giliran audiensi dengan Bupati Maros. Namun, rencana audiensi itu gagal. Sebelumnya, Bupati Maros menyampaikan, akan meluangkan waktunya untuk audiensi, Jumat, 11 April 2014 pukul 08.00 wita. Dia pun telah disurati, beda dengan Bupati Bantaeng tak perlu surat sepucuk pun untuk audiensi. Prosedur sesuai dengan aturan keprotokoleran telah dipenuhi. Rencana audiensi dengan Bupati Maros, juga difasilitasi mantan rekan sekantor, Mursalim. Kini, dia staf pada ruang kerja bupati.

Jumat, sekitar pukul 07.00, sedan Toyota Limo milik Taksi Bosowa meluncur dengan kecepatan tinggi dari Hotel Baji Gau, di Jalan Baji Gau, Makassar, menuju Kantor Bupati Maros, di Kota Turikale. Perjalanan sejauh sekitar 25 kilometer dan melintasi jalan tol ditempuh hanya dalam waktu sekitar 45 menit.

Sopir taksi mengemudi dalam kondisi ngebut. Di jalan tol, sopir yang berpeci kebut-kebutan dengan sopir mobil Toyota Innova. Terbayang dengan adegan film Fast and Furious. Aksi ini pun menguji adrenalinku. Andai ini taksi Blue Bird, sopirnya mungkin tak senekat itu. Ini taksi Bosowa, raja taksi di Makassar.

Tiba di kantor bupati, di  bawah pancaran sinar matahari yang terasa hangat dan senam massal pegawai sekretariat daerah menyambut. Kantor bupati pun serasa ruang fitness. Ruang tunggu di ruang kerja bupati menjadi tempat pertama didatangi. Staf pun menyambut, menunggu bupati yang katanya masih di rumah jabatan. Jarak rumah jabatan dengan kantor bupati sekira 1,5 kilometer.

Bupati yang menjanjikan bertemu pukul 08.00 wita, ternyata saat ditunggu di kantornya, sedang main tenis, sebagaimana dituturkan oleh stafnya. Sebagai tamu, tentu harus menuruti kehendak tuan rumah. Saban Jumat, bupati berolahraga. Selain tenis, gowes.

Mengusir rasa bosan menunggu dan rasa kantuk mulai melanda, staf bupati menyuguhkan roti dan kopi susu. Maros terkenal dengan rotinya, roti maros. Kopi susu dalam cangkir putih sudah hampir habis, sejam lebih ditunggu, bupati belum datang. Melalui handy talkie, staf di ruang kerja bupati terdengar saling kontak dengan staf di rumah jabatan. Staf di rumah jabatan diingatkan jika tamunya sudah datang dan sedari tadi menunggu.

Sekian lama menunggu, saya pun kaget mendengar pemberitahuan yang datang tiba-tiba. “Pak Bupati minta maaf, tiba-tiba dia harus ke Makassar. Mendadak ada urusan,” kata seorang staf yang belum kukenal namanya.

Spontan, hatiku langsung berkat, “Sialan ini bupati, sudah ditunggu dari tadi, habiskan uang untuk bayar taksi, mendadak batalkan audiensi, padahal dia yang menjadwal sebelumnya.”

Seketika, saya membandingkan Bupati Bantaeng yang ditemui malam sebelumnya dengan Bupati Maros yang membatalkan pertemuan. Belum lagi, bertemu dengan Bupati Maros, harus mengenakan kemeja batik, suatu hal yang tak biasa bagiku, tampil formal. Beda dengan saat audiensi Bupati Bantaeng, mengenakan t-shirt tak masalah.

Batalnya audiensi dengan Bupati Maros, membawaku pada ingatan ketika seorang teman sebel lantaran sang bupati juga sulit ditemui jurnalis ketika ada kebutuhan wawancara langsung. Wawancara via telepon pun sulit sebab, kabarnya, tak seorang pun jurnalis mengetahui nomor telepon seluler sang bupati.

“Bagaimana ya, pola komunikasi antara pemimpin daerah dengan rakyatnya?” Bupati dipilih melalui suara rakyat, berkomunikasi dengan rakyat kok, sulit. Semoga dia bukan bukan “bupati baik” hanya ketika ada momentum politik atau ingin dipilih lagi.

Saya merasa amat penting bertemu dengan sang bupati sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional Kabupaten Maros itu terkait dengan penelitian saya di wilayahnya. Gagal atau berhasilnya audiensi itu menjadi catatan tentang bagaimana memandang pola kepemimpinan bupati yang baru satu periode menjabat.***

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi