Catatan dari Amparita: Setting Etnografi Komunitas Tolotang Towani

Di awal persiapan penelitian, saya membayangkan komunitas tolotang towani berada di wilayah terpencil yang jauh dari sentuhan modernitas ditambah dengan sikap hidup yang cenderung menolak kehidupan modern. Namun kesan semacam itu berubah setelah saya mendapat informasi yang cukup memadai tentang keberadaan komunitas ini. Sejumlah buku dan percakapan dengan beberapa orang di makasar menginformasikan bahwa pusat komunitas ini ada di sebuah desa yang menjadi kota kecamatan di wilayah kabupaten Sidenreng Rappang sulawesi selatan. Sebuah ibu kota kecamatan tentu merupakan wilayah yang paling dekat dengan modernitas, paling tidak di kawasan kecamatan tersebut. Kesan ini semakin tertegaskan ketika saya menginjakkan kaki di Amparita.

Amparita terletak sekitar 8 kilometer dari Pangkajene, Ibu Kota kabupaten Sidenreng Rappang. Dari Makasar jaraknya sekitar 231 kilometer. Jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum. Angkutan umum dari Makasar ke Pangkajene atau ke Amparita menggunakan kendaraan sejenis panther atau kijang dengan penumpang sebanyak 7 orang. Angkutan yang langsung menuju Amparita lebih jarang dijumpai ketimbang yang menuju Pangkajene. Saya sendiri naik jurusan Pangkajene dengan ongkos 30 ribu rupiah, kemudian naik angkot (masyarakat sulsel menyebutnya pete-pete) menuju Amparita dengan ongkos 3 ribu rupiah.

Amparita secara administratif berbentuk kelurahan dan dipimpin oleh lurah yang diangkat oleh Bupati. Di sebelah timur, kelurahan Amparita berbatasan dengan dengan Desa Teteaji, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Allakuang dan Toddang Pollu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Masseppe dan sebelah utara berbatasan dengan Arateng. Dari catatan BPS Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2005, luas wilayah Amparita adalah 6, 69 km2 . Pada musim kemarau seperti sekarang ini kawasan Amparita dan sekitarnya tampak berdebu, kering, kusam, dan sangat terik. Tapi, konon, kata seorang penduduk di sini, jika musim penghujan tiba, air akan menggenang di mana-mana membuat jalanan menjadi becek tak terurus.

Amparita termasuk wilayah yang sangat mudah dijangkau. Jalan menuju tempat ini berkondisi mulus sebab jalur yang melintasi Amparita termasuk jalan poros Pangkajene-Soppeng. Jalanan yang menghubungkan dengan desa-desa tetangga juga relatif bagus. Meski demikian, jalanan di lorong-lorong pemukiman masih berupa jalan tanah yang berlubang dan tidak rata. Di Amparita juga terdapat pasar yang cukup besar. Secara administratif pasar ini terletak di wilayah Kelurahan Toddang Pulu, namun jaraknya tak lebih dari sepelemparan batu dari wilayah Amparita. Bahkan nama pasar itu sendiri tetap bernama Pasar Amparita.

Dari data Kecamatan Telluu LimpoE dalam Angka, Kelurahan Amparita terdiri atas dua lingkungan yaitu Amparita I dan Amparita II dengan jumlah RW (Rukun Warga) sebanyak 6 (enam) dan RT (Rukun Tentangga) sebanyak 18 (delapan belas).

Fasilitas pendididikan di sini saya kira cukup memadai. Setidaknya ada 2 TK, 1 Sekolah Dasar, dan 1 SMP. Ada pula MI, Mts, dan MA. Saya amati letak sekolah-sekolah tersebut tidak terlalu jauh dari pemukiman. Di Amparita ini memang tidak ada SMA. Namuun letak sekolah tingkat atas di kecamatan Tellu LimpoE ini juga tak terlalu jauh dari Amparita.

Dari data BPS, jumlah penduduk Amparita hinga tahun 2004 adalah 4044 jiwa. Jumlah laki-laki di wilayah ini lebih sedikit ketimbang jumlah penduduk perempuan. Laki-laki hanya berjumlah 1854 sementara perempuan 2190. Pertambahan penduduk di wilayah ini cenderung stabil sebagaimana rata-tata pertambahan penduduk di kabupaten sidenreng rapang yang cuma 1,05 persen. Dari jumlah penduduk tersebut di atas, pemeluk Hindu berjumlah 2.105, Islam berjumlah 1932, protestan 7 jiwa dan tidak ada penganut Budha dan Katolik di Amparita ini. Dari data BPS tersebut, bisa dipastikan bahwa pemeluk agama Hidnu yang tercatat di sana seluruhnya adalah pemeluk Tolotang karensa sejatinya—dari informasi masyarakat sini—tak ada penganut Hindu di kawasan ini. Dengan demikian, di kelurahan Amparita jumlah pemeluk Towani Tolotang lebih banyak ketimbang pemeluk Islam.

Para penganut Tolotang ini tidak hanya tinggal di Amparita, namun juga tersebar di seluruh wilayah Sidenreng Rappang. Di kecamatan Tellu LimpoE sendiri jumlahnya lebih dari 6000 orang. Di seluruh kabupaten—dari data sensus 2000- ada 20.000an orang. Data sensus ini memang tak menunjuk secara pasti jumlah penganut tolotang karena rancunya klasifikasi dengan pemeluk Hindu-Bali yang mungkin ada di Sidenreng Rappang. Dalam catatan sensus tahun 2000 tersebut tercatat jumlah pemeluk hindu adalah 1479 sedangkan yang tergolong pada kolom “lainnya” adalah 19888 orang. Kategori “lainnya” ini dimaksudkan untuk penganut kepercayaan. Dari data ini memang susah untuk mengetahui secara definitif jumlah penganut Tolotang di kabupaten ini. Sebab yang tercatat dalam kategori Hindu bisa jadi tidak semua adalah Tolotang namun juga ada Hindu Bali, demikian juga untuk catatan kategori penganut kepercayaan. Ketika saya tanyakan hal ini pada seorang petugas BPS di kantor BPS Kabupaten, ia menjelaskan bahwa biasanya tolotang dimasukan ke dalam penghayat kepercayaan namun ada pula sebagian yang dimasukkan ke kolom Hindu. Dari sini bisa dikira-kira jumlah penganut tolotang di wilayah Sidenreng Rappang ini adalah berjumlah sekitar 20.000an. Estimasi uwa la unga, seorang pemuka tolotang di Amparita, jumlah kaum tolotang mencapai sekitar 50.000, sementara tokoh tolotang yang lain menyebut 70.000 orang. Menemukan jumlah definitif penganut tolotang memang susah karena tak ada catatan pastinya, namun bisa dikatakan bahwa jumlahnya mencapai puluhan ribu orang di wilayah Sidenreng Rappang saja.

Para pemeluk tolotang ini memang tidak hanya tingal di wilayah Amparita atau di kabupaten Sidenreng Rappang saja, namun telah banyak yang merantau ke berbagai wilayah di tanah air. Ada sejumlah orang di Makasar, di Bali, di Jawa, dan di Kalimantan. Meski telah merantau kemana-mana namun mereka tetap terikat pada locus yang sama: Amparita. Sebab di Amparita inilah terdapat pranata tolotang seperti para uwatta dan juga tempat ritual sipulung yang ada di perrinyameng di sebelah barat Amparita. Seorang tolotang tidak bisa tidak harus pulang ke Amparita untuk menghadiri ritual-ritual khusus tolotang di tempat ini. Menjadi seorang tolotang, maka ia harus terhubung dengan para uwatta dan lokasi-lokasi ritual di Amparita. “Home” bagi penganut tolotang adalah Amparita. Persebaran pemeluk tolotang ini juga tidak bisa dikatakan sebagai diaspora, sebab di wilayah yang baru, meski beranak pinak, mereka tidak bisa membuat pranata keagamaannya sendiri seperti mengangkat pimpinan spiritual atau membuat tempat peribadatan baru. Oleh karena itu, kendati berjumlah banyak, mereka tetap tak bisa dipisahkan dengan pimpinan spiritual dan pranata kepercayaan yang ada di Amparita. Saya kira inilah yang membedakan dengan agama-agama besar seperti Islam dan Kristen yang tak harus punya lokus tertentu yang dimaknai sebagai pusat. Islam memang punya Ka’bah, namun seseorang bisa menjadi islam tanpa sekalipun menjejakkan kaki di tanah Arab. Sementara untuk menjadi tolotang,dia harus terikat dan terhubung dengan para uwatta di Amparita dan dengan situs-situs ritual mereka di sekitaran Amparita.

Uwatta yang saya sebut di atas adalah para pimpinan tolotang yang menjadi semacam “perantara” untuk menghubungkan individu tolotang dengan Tuhan atau Dewata Seuwae. Informasi saya menganai uwatta ini masih sangat sedikit. Di lain kesempatan akan saya ceritakan lebih banyak mengenai kelembagaan agama tolotang ini.

Secara etnis, kebanyakan masyarakat Amparita adalah bugis. Ada beberapa pendatang dari etnis Toraja, Makasar, dan Jawa. Para pemeluk Tolotang sendiri adalah dari etnis bugis. Bahasa yang mereka gunakan juga bahasa bugis. Tidak ada bahasa khusus untuk pemeluk tolotang. Demikian pula tidak ada pakian khusus yang membedakan mereka dengan komunitas lain. Jadi secara fisik tidak bisa dibedakan mana penganut tolotang dan mana yang bukan. Kadang pembedaan yang kasat mata bisa dilakukan ketika mereka sedang melakukan ritual tertentu. Itupun terbatas karena tak semua warga tolotang melakukan ritual di rumah uwatta secara bersama-sama. Ritual bersama hanya terjadi setahun sekali di bulan Januari. Demikian juga, para penganut islam bisa dilihat ketika mereka sedang ke masjid. Namun dalam keseharian, di pasar misalnya, nyaris mustahil untuk memilah mana penganut tolotang dan mana yang bukan.

Kebanyakan pendududk Amparita adalah petani. Tanah di kawasan Amparita dan secara umum di Sidenreng Rappang memang cocok untuk lahan pertanian. Bahkan konon kabuaten Sidenreng Rappang adalah lumbung padi tersbesar di kawasan Indonesia Timur. Luas lahan pertanian di Amparita adalah 478,10 Ha jauh lebih luas dari luas pekarangan yang hanya 37, 10 Ha. Selain bertani, sebagian masyarakat juga bekerja sebagai peternak. Selain itu ada pula yang menjadi guru dan pegawai. Masyarakat tolotang memang tidak punya profesi khusus yang harus ditekuni sebagaimana masyarakat sedulur sikep yang mesti menjadi petani. Tidak ada ajaran tolotang yang melarang atau mengharuskan orang untuk menekuni profesi tertentu. Tentu saja ada larangan untuk mencuri dan perbuatan kriminal lainnya. Oleh karena itu para penganut tolotang mempunyai profesi yang sangat beragam. Mulai dari petani hingga menjadi tentara atau pengusaha. Tingkat pendidikan komunitas Tolotang juga relatif tinggi, saya jarang menjumpai anak putus sekolah si tingkat SMP. Kebannyakan di kalangan muda sudah lulus SLTA bahkan banyak pula yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.

Dari sini bisa dikatakan bahwa komunitas ini sangat terbuka dengan modernitas. Informasi dari pemeluk tolotang memang menyatakan bahwa tak ada larangan khusus terhadap pencerapan bentuk-bentuk kemajuan seperti pembangunan dan modernisasi. Tolotang hanya sebatas pada sikap kepercayaan dan ritual. Sepanjang kepercayaan dan ritual tetap terjaga, maka sseorang tidak akan kehilangan maknanya sebagai seorang tolotang. Seorang peserta seleksi AFI yang sempat lolos hingga jakarta, namanya Tenri Ukke, adalah seorang penganut tolotang. Ayahnya, Uwa Tasi’, termasuk tokoh terkemuka di Amparita ini. Tenri Ukke sendiri adalah penyanyi daerah yang cukup ternama di Sulawesi Selatan ini. Pemuda Tolotang lainnya, Alloi Tahir, adalah penjaga gawang PSM Makasar saat menjuarai liga sepakbola PSSI perserikatan periode 1991/1992. Dengan bangga ia sering bercerita masa-masa jayanya pada saya. Saya juga mendapat informasi bahwa ada seorang penganut tolotang kini menjabat sebagai komandan kodim di wilayah Bali.

Dari segi ekonomi, sejauh pengamatan sekilas saya, bisa dikatakan bahwa kalangan pemeluk tolotang—terutama elit-elitnya—adalah orang yang cukup berada. Mereka punya modal ekonomi dan modal sosial yang lebih dari memadai. Saya sendiri tinggal di rumah seorang pemeluk tolotang yang merupakan pengusaha ternak sukses di wilayah ini. Ia setidaknya punay 7000 ayam petelor yang bisa punya omset sekitar 60 juta tiap bulan. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten selama dua periode. Pergaulannya sangat luas dan punya hubungan erat dengan elit-elit di wilayah kabupaten ini. Tempo hari saya juga menyinggahi pemeluk Tolotang yang mempunyai tiga buah usaha penggilingan padi besar di Pangkajene. Bahkan pada periode 2004-2009 ada dua pemeluk Tolotang yang menjadi anggota DPRD di kabupaten Sidenrang Rappang ini. Tiga kafe di wilayah pangkajene juga dikelola oleh penganut tolotang (namun kafe dalam pengertian di Amparita sini adalah sekedar warung minum di malam hari dengan hiburan karaoke dan gadis-gadis pelayan. Sebuah kafe yang sempat saya datangi terletak di pinggir kampung dengan bangunan sederhana beratapkan seng dan berdinidng kayu). Sejumlah elit tolotang termasuk menjadi orang yang disegani di Sidenreng Rappang ini. Jalinannya yang erat dengan aparat dan pejabat pemerintah membuatnya punya akses ke berbagai sumberdaya.

Kondisi ini, ditambah dengan hubungan kekerabatan yang sangat kuat, membuat para penganut tolotang menjadi sebuah komunitas yang cukup kokoh. Sejak kesepakatan untuk sepenuhnya mendukung Golkar pada aakhir 70-an, intervensi pemerintah teradap komunitas ini sudah sangat jauh menurun dibanding akhir 60-an atau awal 70-an. Terlebih jumlah penganut tolotang yang sangat banyak, membuat posisi tawar mereka menjadi sangat tinggi.

Meski demikian, yang masih mengganjal bagi komunitas ini adalah ketika sejak tahun 1966 hingga sekarang mereka harus dikategorikan sebagai Hindu. Padahal, menurut mereka, tak secuilpun keyakinan dan sistem kepercayaan mereka yang merupakan bagian dari Hinduisme. Hingga sekarang, jika untuk urusan administratif, seperti KTP, Pernikahan, atau untuk masuk sekolah, para penganut tolotang ini mengidentifikasikan diri atau diidentifikasi sebagai pemeluk Hindu.

Mengenai dinamika sejarah terbentuknya komunitas ini dan perjumpaannya dengan islam, akan saya ceritakan pada kesempatan lain…

Amparita, 21 September 2006

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi