Catatan Harian Joint-Research Bukittinggi, Sumatra

Minggu, 29 Mei 2011

Hari ini aku berangkat dari Jakarta pukul 15.45, mundur sekitar 30 menit dari yang dijadwalkan pukul 15.15. Ada kejadian menarik ketika aku berada di pesawat, sesaat sebelum pesawatku lepas landas. Ada seorang bapak yang duduk di depan sebelah kiriku mengangkat telepon, spontan bapak yang duduk di sebelah kiriku (yang berada persis di depan penelepon itu) berteriak “Hei bapak, matikan teleponnya, matikan sekarang!” Orang yang barusan menerima telepon tetap saja cuek, lantas bapak disampingku itu kembali berteriak, “Matikan ngga, pak, telponnya!” dengan nada yang mengancam. Beberapa menit orang-orang tertegun melihat orang ini. Tak lama setelah kejadian ini beberapa saat sebelum pesawat lepas landas, ada seorang bapak yang akan pergi ke kamar kecil, karena pesawat mau lepas landas, bapak itu diminta duduk di bangkunya, tapi bapak ini menolak dan marah-marah lantaran dia menunggu terlalu lama, pesawat tak kunjung terbang. Beberapa pramugari pun meminta bapak ini duduk, karena pesawat harus lepas landas. Akhirnya orang ini duduk.

Sesampainya di Padang pukul 18.00, aku naik Tranex dan bertemu Mega di Simpang Haru. Dari Simpang Haru aku menuju ke kost Mega. Sungguh tak kusangka kondisi kostnya, 1 kamar berukuran 3×3 meter diisi oleh dua orang (Mega dan Dindie), beralaskan papan kayu serta berisi dua kasur serta empat buah lemari. Aku menjadi tak enak, karena jika aku menumpang, akan bertambah sesaklah kamar itu. Kamar mandi dan tempat mencuci yang disediakan juga sangat buruk keadaannya, air terlihat berwarna hitam dan bak mandinya besar. Hanya ada satu kamar mandi untuk penghuni 4 kamar (total 8 orang), satu tempat mencuci dan tanpa ada tempat mencuci piring. Selama aku jadi anak kost di Yogyakarta, belum pernah aku temui ada kost dengan keadaan seperti ini, dimana anak mau satu kamar diisi oleh dua orang. Ada sih, tapi jarang, kecenderungannya satu kamar sendiri, karena menurut teman-temanku dulu, kamar itu privacy. Hanya saja aku salut karena melihat anak-anak kost ini, mereka rajin belajar, dengan keadaan yang menurutku seadanya, apalagi Mega. Dia ternyata salah satu penulis yang rajin memasukan tulisan cerita anak ke koran-koran daerah. Mereka belajar dan menulis, ada yang sambil tiduran di kamar, ada pula yang di serambi kost-kostan sambil menghadap ke Jalan Raya. Padahal untuk harga yang sama (Rp 300.000 per kamar atau Rp 150.000 per orang) di Yogya atau Jakarta akan mendapatkan kamar serta fasilitas yang lebih baik. Apakah karena di luar Pulau Jawa jadi fasilitasnya buruk?

Terkait penelitian Mega bercerita kalau pacarnya punya saudara di Bukittinggi. Pacarnya orang Jawa dan saudaranya tinggal di kampung Jawa di Bukittinggi. Menurut Nasrul, orang Jawa sering dilecehkan di sana. “Kalau memakai bahasa Jawa suka ditertawakan,” kata Nasrul yang berbicara denganku melalui telepon. Saya dan Mega berencana berangkat bersama dari Bukittinggi, karena Nasrul pernah sekolah di Bukittinggi. Dia dari Pekanbaru akan menemui kami di Bukittingi satu minggu yang akan datang. Karena hari Senin harus kuliah, Mega dan Nasrul akan pulang ke Padang pada hari minggu.

Malam harinya aku singgah dan berkenalan dengan teman-teman mega di sebelah kamar. Ada Nova anak fakultas Biologi, Ani anak FISIP, Dindie anak Ekonomi, serta satu anak Fakultas Peternakan yang aku lupa namanya. Awalnya anak yang kuliah di Fakultas peternakan ini meminta maaf kepada temannya Ani, karena botol minuman yang ia pinjam dari Ani hilang. Ia bercerita, dengan gaya bicaranya yang manja, tentang perjalanannya ke Bukittinggi yang dipenuhi dengan kesulitan. Teman-temannya menertawakan, karena memang cara penyampaiannya yang lucu. Misalnya ketika bercerita bus tak bisa naik di tanjakan, maka anak-anak yang ada di dalam diminta turun dan menunggu bus naik, serta beberapa cerita lain dalam bahasa Minang yang aku tidak begitu paham artinya apa. Perbincangan berikutnya dilanjutkan dengan cerita Ani si anak FISIP. Ani bercerita tentang konflik di fakultasnya antara BEM fakusltas dan BEM Universitas. Ketika BEM Universitas mengadakan pelantikan di gedung Fisip tanpa meminta persetujuan BEM Fakultas, BEM fakultas merasa tidak dihargai dan memprotes penggunaan gedung tersebut, sehingga pembatalan pelantikan pun terjadi. Ani bercerita kalau fakultasnya banyak dimusuhi anak-anak fakutas lain, anak fakultas kedokteran juga memusuhi mereka karena permainan sepakbola.

“Lagian anak FISIP PKI sih,” Nova lantas menjawab celoteh Ani.
“PKI? Maksudnya apa?” tanyaku ke Nova.
“Itu kak suka demo-demo trus pemikirannya aneh,” jawab Nova.
Ani lantas menjawab “Karena ‘kan kita ‘tu langsung mempraktekan apa yang ada di kuliah, kita juga belajar filsafat dan ngerti politik, jadi bawaannya tu curiga sama orang gitu, kak.”

Aku tersenyum mendengar celotehan mereka lantas kutanya,

“Memangnya Ketua BEM Universitas yang mau dilantik anak fakultas mana?”
“Anak fakultas teknik kak,” jawab Ani.
Nova lantas menyambut, “Anak teknik tu kompak, maju BEM-nya, soalnya anaknya rajin-rajin.”
“Habisnya di teknik dan MIPA dikuasai sama Jilbaber semua,” sambung Ani. “Memangnya mekanisme pencalonan BEM Universitas gimana?” tanyaku kembali.
“Ya itu kak, dari masing-masing fakultas mencalonkan diri. Kalau di MIPA tu udah didominasi ama Forum Studi Islam (FSI), jadi orang-orang ini yang mencalonkan diri”.
Jilbaber itu yang kaya apa sih?” tanyaku.
“Itu lo kak yang jilbabnya panjang-panjang, mereka itu kebanyakan dari Ihwatul Muslimin,” jelas Ani.
“O iya kaya di UI, MIPA juga banyak jilbaber,” celetukku.
“O iya bener di UI, di UGM juga banyak di MIPA, temanku ada yang kuliah di MIPA UGM, kenapa anak-anak MIPA yang disasar?” Dindie menyahut.
“Karena yang dicari orang-orang yang pinter kali,” balas Nova.

Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka serta melanjutkan pertanyaan, “Teman-teman ngga pada pengen gabung dengan kelompok jilbaber ini?”
Nova langsung menjawab, “Ngga ah kak, mereka itu pikirannya sempit, banyak larangan ama pantangannya, padahal mereka baik-baik lohh, care gitu, cuman ya sayang, pikiran mereka sempit.”
“Sempit gimana dik?” tanyaku.
“Sempit kak, memandang teman satu kelompoknya saudara, tapi kelompok yang lain musuh, terutama yang beda agama. Pernah di MIPA ada calon ketua BEM dari Non-muslim dipermasalahkan,” jawab Nova.
Ani menyambung, “Memangnya kenapa kalau Non-Muslim? aneh deh mereka.”

Obrolan kami pun bertambah seru. Aku kemudian menanyakan jumlah kelompok yang mereka sebut sebagai jilbaber kata mereka kalau diseluruh Universitas Andalas (UNAN) jumlah mereka sekitar 50%, tapi kalau di MIPA hampir 100%. Di FISIP masih sedikit.

“Disini diterapin perda wajib jilbab ngga?” tanyaku.
Ani langsung menjawab “Iya kak, cuman ya kalau aku sih cuek aja.”
Dindi menyambut, “Aku juga ngga mau kalau pake Jilbab setengah-setengah, karena dipaksa. Aku maunya ya kalau sudah siap pake jilbab selamanya, cuma sekarang kan aku belum siap.”
“Memangnya siapa yang memaksa?” tanyaku lagi.

“Dosen kak, dosen pendidikan agama memaksa kita pake jilbab, kalau engga, nilaiku ngga dikeluarin,” Ani menyahut, “Iya di tempatku juga gitu, katanya dosen agama katanya mendorong mahasiswanya biar dapet pahala kalau pake jilbab.” Pertanyaanku berikutnya, “Kalau temen-temen ngga setuju kenapa ngga mengungkapkan ke enggak-setujuannya?”

“Habisnya agama susah untuk ditolak, susah dikritik, udah deh kalau pake agama udah ngga bisa lagi disanggah. Kalau nyanggah katanya dosa kak, ahirnya ya kita ‘iya, iya’ aja,” sahut Ani. Perbincangan kami lantas menyinggung banyak hal dari mulai PSK, Waria dan sebagainya. Ketika kami asyik ngobrol kulihat Mega sudah terlelap mendengarkan diskusi kami. Perbincangan kami akhiri pukul 00.00 kami semua pergi tidur..Nice Day J

Senin, 30 Mei 2011

Rencana awalku adalah datang ke perpustakaan Universitas Andalas untuk mencari penelitian-penelitian sebelumnya pada hari ini. Namun karena harus menunggu Firdaus, saya dan Mega menunggu di kantin selama kurang lebih 1 jam. Setelah bertemu Firdaus, saya share tentang revisi dalam proposal saya. Saya meminta nomor kontak beberapa kenalan Daus yang paham tentang Adat Minang serta ABS-SBK. Setelah berbincang dengan Daus perpustakaan sudah tutup sehingga saya harus menunda pencarian saya.

Ada beberapa nama yang diberikan, dari beberapa nama tersebut saya memutuskan untuk mewawancarai bapak Edi Utama terlebih dahulu. Daus mengawali menghubungi Pak Edi, kemudian saya melanjutkan komunikasi tersebut dan Pak Edi mau bertemu malam itu juga. Saya dan Mega memutuskan menunggu Pak Edi di Gramedia, sambil melihat adakah buku tentang Bukittinggi yang belum saya punya. Ternyata saya tidak menemukan buku-buku tersebut, sehingga saya memutuskan hanya membeli atlas serta buku diskonan.

Saya bertemu Pak Edi sekitar pukul 19.30 di Padang. Pak Edi datang bersama istrinya, Bu Noni, yang kebetulan dosen Mega. Kami kemudian berkunjung ke salah satu warung kerabat Pak Edi, di warung tersebut saya share maksud kedatangan saya ke Bukittinggi. Lewat wawancara awal ini sebetulnya saya menjumpai relevansi penelitian saya terkait segregasi masyarakat berdasar etnis dan agama. Awalnya Pak Edi menjelaskan tidak ada permasalahan hubungan antar etnis dan agama di Bukittinggi dan menyarankan memindahkan lokasi penelitian ke Padang. Pak Edi juga bercerita kalau ada orang Batak mulai masuk, mereka membangun perekonomian dengan pertumbuhan yang cukup pesat. Orang Batak membangun perumahan, yang menurut Pak Edi, eksklusif. Ditambah lagi mereka berbeda agama dengan mayoritas orang Minang, sehingga sentimen ini mulai muncul. Ada masalah ketika orang Batak hendak membeli tanah untuk membangun pemakaman di Bukittinggi, orang Minang (bahkan walikota Bukittinggi) menyatakan bahwa jangan sampai menjual tanah kepada orang Batak. Selain info seputar masalah orang minang dengan orang Batak, saya juga menanyakan perihal formalisasi ABS-SBK yang ditolak oleh sebagian masyarakat termasuk Pak Edi. Baginya formalisasi ABS-SBK bukanlah solusi dalam pelestarian serta pelaksanaan nilai-nilai ini. Saya juga mendapatkan penegasan bahwa orang Minang pasti Islam, kalau ada orang Minang yang bukan Islam ia bukan lagi orang Minang, karena adat akan mengeluarkannya. Baginya sejak kapan berkembang pemahaman ini tidak penting, yang penting makna atau nilai dari pemahaman Islam.

Perbincangan kami berakhir pukul 21.00. Kamipun pulang dengan diantar Pak Edi dan Bu Noni, karena sudah malam dan hujan.

Selasa, 31 Mei 2011

Rencana awal hari ini saya akan pergi ke Universitas Andalas (UNAND) untuk masuk ke perpustakaan, namun rencana berubah ketika saya dihubungi oleh ayahnya Nike (teman saya orang Bukittinggi yang tinggal di Jakarta) yang bilang bahwa beliau sedang berada di Padang karena ada sidang PTUN. Saya memutuskan untuk bertemu ayah dan ibu Nike di PTUN daerah Jl. Diponegoro, Padang (dekat Taman Melati). Kami berangkat dari kost pukul 10.30 sampai PTUN pukul 11.15. Kami berbincang-bincang dengan ibu Nike di halaman PTUN, sambil menunggu ayahnya nike mengurus berkas-berkas didalam PTUN. Ibu Nike bercerita kalau dia sudah dihubungi Nike perihal kedatanganku ke Bukittinggi, dia juga cerita kalau dia punya banyak kenalan orang Batak, Jawa serta Cina. Ia menawarkan diri mengantarku berkenalan dengan mereka Sabtu esok. Kami berbicara banyak terutama membicarakan anak perempuannya, Nike, tentang keadaannya dan sebagainya.

Ayah Nike keluar dari pengadilan sekitar pukul 12.30, kami langsung diajak makan siang ke restoran Simpang Raya di daerah Pasar Raya Padang. Sambil makan kami mengobrol dan saya mengutarakan maksud kedatangan saya ke Bukittinggi. Mereka mempersilakan, hanya saja saya diperingatkan agar harus bisa menyesuaikan karena rumahnya seperti istana (sebenarnya yang dimaksud adalah sebaliknya). Bapak Nike cerita kalau di Bukit sebenarnya orangnya terbuka karena jiwa mereka adalah jiwa pedagang. Orang Cina nggak bisa berkembang di sana, karena tidak bisa menyaingi orang Minang. Namun pemilik usaha kelas atas tetaplah orang Cina. Kelas menengah kebawah barulah dikuasai orang minang. Kalau orang Batak menurutnya mereka itu jorok. Memang kebanyakan dari mereka berdagang, tapi banyak yang tidak suka, karena pelayanannya tidak baik dan jorok. Apalagi mereka suka memelihara anjing dan itu najis, jadi sering tidak disukai. Aku mendapatkan masukan yang hampir sama dengan yang disampaikan Pak Edi. Ia menanyakan butuh datang ke kantor apa (kantor instansi pemerintah maksudnya), mungkin ia bisa membantu mempertemukan dengan lembaga2 yang ingin saya temui, asal ada surat pengantar penelitiannya.

Selesai makan kami kembali menuju pengadilan mengantar bapak Nike mengambil berkas, karena kami menumpang mobil mereka. Setelah keluar dari pengadilan ia marah dengan pelayanan petugas PTUN, karena selalu merasa dipersulit dan kerjanya sangat lamban, pelayanan publiknya buruk, menurutnya di bukittinggi juga begitu. Setelah bertemu dengan bapak-ibu Nike, saya dan Mega memutuskan pergi ke Universitas Negeri Padang untuk mengunjungi perpustakaan pusat. Bapak Nike berniat mengantarkan kami sampai depan gerbang universitas Dalam perjalanan itu saya menanyakan berbagai kasus yang ditagani sang Bapak. Bapak sedang menggugat Keputusan Walikota tentang alih fungsi lahan untuk Ramayana, selain itu dia juga cerita kasus korupsi walikota Bukittinggi dalam perbaikan kebun binatang, serta Goa Jepang. Cerita itu berakhir setelah mobil yang kami tumpangi sampai di depan UNP.

Setelah berjalan di bawah terik matahari menuju perpustakaan, sambil menahan kencing, kami datang ke perpustakaan pusat UNP. Namun sayang Perpustakaan tutup dikarenakan ada SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kami menanyakan kapan buka kembali? Mahasiswa yang berada di depan perpustakaan tidak tahu kapan buka kembali. Kami memutuskan untuk pulang ke kost.

Rabu, 1 Juni 2011

Hari ini saya dan Mega pergi ke perpustakaan UNAND, kami berangkat pukul 09.30. sesampai di sana, ternyata perpustakaan juga tutup, kampus diliburkan untuk SNMPTN. Ahirnya kami memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan masing-masing di selasar perpustakaan. Agenda lain selain ke Perpustakaan adalah saya mengunjungi rumah orang tua temanku di Ulak Karang. Kebetulan teman saya ini Katholik dan ayahnya semasa kecil tinggal di Bukittinggi.

Saya dan Mega menuju Ulak Karang pukul 14.00, kami naik angkot warna hijau menuju pasar baru, setelah dari pasar baru berjalan kira-kira satu kilometer dan naik angkot warna jingga. Jujur saya tidak kuat dengan terik dan panasnya kota Padang, selain membuat kulit saya tambah hitam, teriknya sungguh memeras keringatku. Mengapa kota Padang panas? Menurut Mega karena kota ini dekat dengan pantai.

Kami tiba dirumah Ibu Slamet pukul 15.00. Berbekal jeruk 1,5 Kg kami berkunjung kesana. Bu dan Pak Slamet adalah transmigran dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pak Slamet pindah ke Sumatra khususnya Bukittinggi tahun 1964. Tahun 1970 Pak Slamet menikahi istrinya dan membawanya tururt serta ke Pindah ke Padang. Pak Slamet adalah petugas (PNS) yang mengurus tentang transmigrasi ke Sumatra, sementara bu slamet adalah guru SLTP. Mereka berdua telah pensiun dan kini menghabiskan waktu mereka sambil berjualan minyak tanah di rumah dinas pegawai transmigrasi.

Kami disambut dengan sangat ramah oleh Bapak dan Ibu Slamet, kami pun saling berkenalan. Saya bercerita kalau saya adalah teman Wiwi di gerakan keberagaman, kami sering bertemu dalam beberapa advokasi. Bapak dan Ibu Slamet dengan semangat bercerita tentang anak-anaknya. Bercerita dari sekolah, kerja, kuliah, sampai sekarang. Mereka bercerita sambil menunjukan foto anak-anak mereka.

Saya sedikit membuka tentang penelitian saya, saya kemudian menanyakan ada berapa gereja katholik di Padang? Menurut mereka ada 3 gereja Katholik. Tanpa kupertanyakan mereka bercerita tentang konflik di internal gereja Katholik dengan seorang Romo dari Ordo Xaverian yang memberikan bantuan langsung kepada umatnya tidak melalui ordo Xaverian. Bu Slamet mengaitkan sang romo dengan aliran gereja orthodox, “Romonya masih konservatif mbak, kalau dia bertemu dengan teman se-negara sementara disitu ada orang Indonesia dia tetap pakai bahasa Itali”.

Konflik antar agama

Menurut Pak Slamet, konflik berbau agama baru mulai muncul dari tahun 1990-an. “Konflik langsung sih tidak, cuman konflik atau sentimen-sentimen yang tersembunyi,” jelas Pak Slamet. Misalnya saja sering terjadi di Universitas Andalas, mahasiswa non-muslim sering dikucilkan atau disingkirkan oleh teman-temannya. “Tapi untungnya anak saya Wiwi nggak kenapa-kenapa, padahal dia dari semester satu ya pake kalung salib biasa, tapi nggak pernah ada konflik.” Lanjutnya,”Akhir-akhir ini saya sering dengar di Jumatan-jumatan itu, imam-imam kalau khotbah sering menyulut kebencian. Misalnya saja, ngga boleh nge-fans sama Agnes Monica soalnya dia Kristen. Terus ada lagi khotbah yang bilang begini, bapak-bapak diminta menyayangi anaknya, jangan dimarahi apalagi dipukul, kalau tidak mereka bisa jadi diambil oleh agama lain. Masa gitu to mbak, lah mereka kan nggak ngerti agama lain gimana ya? Ada juga yang bilang kalau ada 300 orang Minang yang dipindah ke Ambarawa itu untuk dibaptis. Lah saya ini orang ambarawa lho, dibaptis dimana? Tempat pembaptisan mana yang bisa menampung 300 orang?”

Ketika saya tanya tentang Peraturan Daerah yang berbau syariah, Pak Slamet ini dengan nada agak tinggi menjawab “Saya heran, memangnya gubernur itu cuma gubernurnya orang Islam apa? Masa bikin aturan wajib berjilbab, terus kemarin itu Walikota Bukittinggi, yang lagi kena kasus itu, melarang perayaan tahun baru sampai Jam Gadang ditutup. Memangnya tahun baru itu punya orang Kristen saja apa? ‘Kan yang datang merayakan juga anak muda-muda, nggak cuma orang Kristen.”

Lalu saya menanyakan berbagi hal tentang bukittinggi,“Yang merayakan tahun baru di Bukittinggi orang mana saja pak?”

“Ya orang mana-mana, ada orang Padang, Payakumbuh, Pariaman, jadi Bukittinggi itu memang pusat wisata, kaya daerah Puncak kalau di Jakarta. Kok anehnya Walikotanya gitu loo,” jawabnya.

Kemudian saya bertanya lagi,”Kalau waktu bapak kecil dulu, sudah ada peraturan seperti itu belum Pak?”

Ia menjawab, “Belum mbak, dulu sih aman-aman aja nggak ada masalah apa-apa, baru-baru ini lo mbak sekitar tahun 1990 an itu mulai ada gesekan-gesekan soal agama”.

Pengalaman menjadi umat Katholik di Padang

“Saya itu, ya mbak, dari tahun 1970 tinggal di sini tidak ada masalah apa-apa, Puji Tuhannya gitu. Kami pas pertama datang ke sini datang ke rumah-rumah tetangga, memperkenalkan diri juga kalau kami Kristen atau Katholik. Saya juga datang ke ketua RT kenalan dan ngasih tau kalau kami Katholik, jadi kalau sewaktu-waktu kami bikin acara ramai-ramai, itu namanya sembayangan. Kami juga ada tradisi misa pemberkatan rumah, jadi kami ngundang orang-orang untuk doakan rumah kami. Lalu bapak RT itu menjawab, katanya kalau yang rame-rame dan nyanyi-nyanyi itu jangan dulu kalau bisa. Sampai beberapa tahun kami tinggal disini, akhirnya orang terbiasa dan tahu kalau disini ada sembahyangan dan kami Katholik. Selama ini saya juga sempatkan mampir ke rumah tetangga kalau kami lewat, untuk sekedar bersilaturahmi. Kami ikut Halal bi Halal kalau lebaran mbak, walaupun kalau natalan tidak ada yang mengucapkan kepada kami. Namun kami bersyukur mbak, sekarang ini kalau saya duduk didepan merawat tanaman, ada saja yang memanggil, ada yang memanggil mbak, budhe, ibu, tante, terus kemarin itu waktu tujuh belasan, rumah kami ini dijadikan tempat untuk memasak, jadi banyak yang datang ke sini. Kami bersyukur sekali mbak, berarti ya kami tidak disisihkan oleh orang-orang sini” cerita Bu Slamet kepada kami

Ada orang Minang yang Katholik

Saya menanyakan pertanyaan ini kepada pasangan suami istri yang telah menikah selama 41 tahun ini. Menurut mereka ada satu orang Minang yang menjadi umat Keuskupan Agung Padang, dia adalah perempuan yang menikah dengan orang batak. Awalnya mereka disisihkan oleh kaumnya (keluarga) namun karena si menantu berhasil secara ekonomi, kemudian orangtua istri dinaikan haji, sekarang dia dihargai, bahkan keputusan keluarga selalu menunggu pendapatnya. Memang perempuan yang masuk Katholik ini tidak mendapatkan hak dalam pewarisan, tapi tetap diakui oleh kaumnya. “Kalau di Kristen Protestan banyak sepertinya orang Minang yang masuk sana, kalau ditempat Mega sendiri gimana?” jawab Mega dengan agak gugup menjawab “Iya, di tempat saya, kalau masuk Kristen ya Kristen Protestan.” Bu Slamet kemudian bertanya kepada Mega, “Kalau keluarga Mega, bagaimana memandang kami yang pendatang? Pernah ngga dilarang bergaul dengan orang Kristen?” Mega menjawab, “Biasa saja sih bu, tidak masalah, cuma memang waktu kecil sering dibilangin kalau punya teman yang Islam aja, jangan yang Kristen, kalau sudah besar ya terserah kita”.

Orang Batak

Orang Batak penjual jengkol“Jadi minoritas itu kan ya harus mau ngalah, dan melihat situasi di sekitar kita, kalau orang batak kan nggak, mereka itu biasanya nggak peduli dengan orang sekitar. Sudah tahu di sekitarnya Islam, masih motong anjing. Kalau memelihara saja sih nggak apa-apa (Orang Minang juga memelihara anjing untuk berburu babi hutan), tapi kalau motong ‘kan terganggu tetangganya. Sebenernya tergantung pinter-pinternya kita bergaul sih mbak, masyarakat biasanya bisa menerima kalau kita memahami mereka, cuman kadang pemimpin-pemimpin agama kaya ulama itu lho yang “menggosok-gosok” umatnya biar benci sama yang lain,” papar Bu Slamet.

Sekte (islam) yang mencurigakan

“Disekitar sini ada kelompok Islam yang kalau ibadah sendiri, nggak mau campur sama yang lainnya. Tapi saya nggak tau persis itu kelompok apa. Sempat diawasi aktivitasnya oleh Pemda. Sekarang sudah bubar sepertinya. Masa itu anggotanya ada yang suaminya belum masuk ke sekte itu, jadi diharamkan sama istrinya sendiri. Akhirnya mereka cerai deh,” jelas Bu Slamet mengenai sekte Islam yang ‘mencurigakan’.

Saya juga menanyakan adakah Pak Slamet punya kenalan orang Katholik di Bukittinggi? Beliau punya kenalan tetapi tidak punya nomor HP nya, saya dia minta mencari ke SD Kanisius didekat gereja Katholik Bukittinggi. Kami mengakhiri perbincangan dengan makan siang yang telah disiapkan Bu Slamet. Seperti biasanya saya menyampaikan pesan, kalau nantinya masih butuh data yang lebih lengkap saya akan kembali lagi. Bu Slamet berkata, bahwa rumah ini selalu terbuka untuk kami, kapan saja kami mau datang, tinggal meneleponnya.

Kami langsung pulang, dalam perjalanan Mega sempat bilang “Ngga mungkin mbak, ada orang minang yang Kristen. Orang Minang pasti islam, saya ingin buktiin itu mbak, apa benar ada.”

“Kenapa tidak mungkin Mega?” tanya saya.
“Karena syarat jadi Minang itu Islam, kalau bukan Islam, maka dia bukan minang lagi. Paling orang yang sudah lama tinggal di Minang, jadi mengakunya orang Minang, mbak,” jawab Mega.
“Kalau karena perkawinan, misalnya karena menikah dengan orang selain islam, mungkin ngga?”
“Mungkin sih mba, tapi pasti dikucilkan”.

Dalam perjalanan ini Mega meminta ikut ke gereja (karena besok adalah hari perayaan kenaikan Isa Almasih), saya mempersilakan Mega ikut -dengan pertimbangan Bu Slamet, banyak orang berjilbab dari UIN yang masuk gereja karena belajar tentang agama Katholik- dan memintanya untuk meyakinkan diri. Saya juga minta agar ia tetap mengenakan jilbabnya. Mega yakin, karena penasaran ingin tahu seperti apa gereja dan bagaimana perayaan di dalamnya.

Sebelum pulang kami mampir ke Pasar baru (Pukul 18.00) untuk membeli SD Card, Headset (karena yang saya bawa rusak) serta baterai untuk voice record. Saya terpikir untuk mengambil uang di BCA. Karena sedang tidak fokus dan kepanasan, saya memasukan PIN yang salah hingga kartu ATM BCA saya terblokir, sehingga saya harus mengurusnya ke Bank BCA Terdekat.

Kamis, 2 Juni 2011

Hari ini rencananya aku ingin ke kantor Pusaka Padang untuk melihat-lihat penelitian Pusaka, tapi sebelumnya aku memutuskan untuk ikut misa (ibadat dalam ajaran Katholik) perayaan naiknya Yesus Kristus. Aku berangkat bersama Mega Pukul 07.15 dari kost, naik bus (seperti minibus Kopaja di Jakarta) yang menuju ke arah kantor Gubernur. Yang berbeda dengan bus di Jakarta, bus di sini selalu berhiaskan gantungan boneka warna-warni, bahkan kain pantai bali. Selain itu, dalam setiap angkutan (terutama bus berpintu dua) selalu memutar music dengan volume tinggi, bus dilengkapi dengan 5 speaker. Satu di depan supir, dua di sisi kiri-kanan depan dan dua di sisi-kanan-kiri belakang bus. Apa ya kira-kira yang menyebabkan bus ini full music?

Sesampainya di Gereja (yang bertempat tepat di depan kantor Gubernur dan Kepolisian Daerah Sumatera-Barat), aku dan Mega duduk di bangku sebelah kanan, kira-kira dua baris dari belakang. Orang-orang yang masuk ke Gereja sebagian besar memandangi Mega. Aku bisikan ke Mega “Tenang aja dik, kamu jangan takut.” Aku mengikuti misa, sambil sesekali menjawab pertanyaan Mega tentang siapa Yesus Kristus, apakah ia Tuhan atau manusia, siapakah Bunda Maria dan Tuhan Mega dan Tuhan Mbak Viri sama atau berbeda.

Ada yang berbeda dengan misa kali ini dibandingkan dengan misa di Jakarta, Pertama, umat di gereja ini jauh lebih sedikit dibanding di Jakarta, umat hanya 3/4 dari seluruh bangku yang ada. Padahal hari ini adalah hari besar, biasanya umat yang datang ke Gereja lebih besar disbanding misa hari minggu (umat yang tak ikut misa hari minggu akan menyempatkan ke gereja pada hari besar). Kedua, ada intensi (permohonan) khusus perlindungan serta berkat bagi para anggota LSM, kalau di Jakarta tidak disebutkan secara langsung LSM tapi diganti dengan kata-kata lain seperti, orang yang bekerja untuk mewujudkan keadilan, dll. Ketiga, dalam khotbah romo menceritakan tentang keprihatinannya terhadap umat yang belum berani memberitakan kabar gembira kepada sahabat/tetangga/saudaranya (memberitakan kabar gembira berarti suatu misi untuk menambah umat, atau mengajak orang lain masuk Katholik). Keempat, ada intensi khusus bagi para misionaris yang ditolak di daerah yang mereka datangi. Kelima, Pastur Parokinya bukan orang Indonesia. Pertanyaan saya, mengapa masih ada misi misonaris disini? apa karena umatnyamasih sedikit? Mengapa mendoakan LSM, apa peran LSM begitu penting bagi umat Katholik di wilayah ini? Saya ingin membandingkan juga dengan misa yang ada di Bukittinggi.

Kami memutuskan keluar paling belakang, karena saya menunggu kabar dari teman Pusaka yang akan kami kunjungi. Dengan sangat sadar saya melihat semua orang yang keluar dari gereja melihat ke arah Mega, melihat hal ini saya bergegas mengajak Mega Keluar dan menemui Bu Slamet disamping gereja (yang lebih sepi disbanding halaman gereja). Saya dan Mega bersalaman dengan Bu Slamet, kemudian ibu ini menjelaskan kepada salah satu orang Jawa (berasal dari Semarang) “Ini lho tadi kan ada yang tanya kok ada anak berjilbab duduk di belakang, ini anak-anak saya, ini dari Jakarta, orang Katholik, peneliti juga. Kalau yang ini namanya Mega, Mahasiswa UNAND, nemenin mbak ini ikut penelitian, jangan pada salah sangka,” Ibu yang dari Semarang menjawab, “Anu bu, takutnya dibom.” “Enggak kok ini anak-anak saya, sini saya kenalin.” Kami kemudian berkenalan, saya juga bercerita kalau saya dari Jawa, perbincangan dengan bahasa Jawa pun terjadi. Tak lama setelah itu kami memutuskan untuk pulang, kemudian Bu Slamet berkata “Hati-hati ya, besok sebelum pulang ke Jakarta saya titip sesuatu buat Wiwik. Mega, kalau besok ngga ada Mbak Viri jangan lupa main-main ke rumah ibu, nanti tinggal sms, nomernya minta sama Mbak Viri. Sekarang sudah nggak penasaran kan? Yo wes hati-hati yaa”.

Setelah gereja agak sepi saya bertanya kepada Mega, “Kamu nggak apa-apa kan Mega?” Jujur saya takut, karena melihat ekspresi Mega,
“Ngga apa-apa sih mbak, cuman takut aja diusir dari gereja tadi.”
“Sudah nggak penasaran lagi kan? Gimana menurutmu orang Katholik?” “Nggak Mbak, wahh di gereja banyak nyanyinya ya? Aku takut aja, soalnya semua orang liatin aku, takut diapa-apain,”
“Kalau diapa-apain aku yang tanggung-jawab. Kalau adik mau tahu rasanya jadi minoritas kurang lebih ya kayak tadi itu, ‘dik, rasanya.” Jawabku.
“Iya ya mbak, nggak enak banget kalau jadi minoritas dan dibedain sama yang mayoritas.”
“Makanya harusnya negara nggak bedain mana yang mayoritas dan minoritas atau membedakan karena mereka minoritas.”

Karena tak ada jawaban dari teman dari Pusaka, kami memutuskan pulang. Saya dan Mega memutuskan untuk tetap di kost menyelesaikan laporan masing-masing.

Jumat, 3 Juni 2011

Aku dan Mega membatalkan kepergian ke Pusaka, karena Mas Darto yang akan kami temui pergi ke Padang Panjang. Aku memutuskan untuk menyelesaikan transkrip dan Mega menyelesaikan laporan penelitiannya. Setelah mengirimkan hasil transkrip masing-masing kami berkemas-kemas, memasukan barang-barang ke dalam tas dan koper. Aku membawa satu tas gendong dan satu tas jinjing, keduanya berisi buku-buku tentang Sumatra barat yang aku bawa dari Jakarta. Aku takut kalau tak kubawa akan kesulitan di lokasi penelitian. Sebelum berangkat ke Bukittinggi aku mengobrol dengan Mas Darto melalui telepon dan sms, menurutnya penelitian tentang segregasi sosial berdasar etnis dan dan agama belum pernah diteliti orang lain. Dia juga share terkait advokasinya di Bukittinggi membantu umat Kristen mendirikan rumah ibadah. Rumah ibadah yang disebutkan oleh Mas Darto adalah Gereja Bethel Indonesia (GBI). Aku diberikan kontak salah satu pendeta GBI yang ada di Bukittinggi.

Pukul 13.00 kami meninggalkan rumah menuju ke Ulak Karang, mengambil travel menuju Bukittinggi. Namun sebelumnya kami pergi ke BCA untuk membebaskan blokiran PIN kartu ATM-ku, Puji Tuhan PINku bisa bebas dari blokiran. Setelah dari BCA kami menuju tempat travel. Jujur saja kami kepayahan membawa tas, terutama tas gendongku yang sangat berat. Kami tiba di tempat travel pukul 14.30. Pukul 14.45, travel kami berangkat menuju Bukittinggi. Dalam perjalanan aku terkesan dengan pemandangan di sekitar lembah Anai, yang menurutku indah sekali. Kita bisa melihat air terjun sambil lewat, persis di pinggir jalan menuju Bukittinggi. Tebing-tebing tinggi menjulang di kiri jalan, sungai berbatu besar di sebelah kanan dan kiri jalan, monyet-monyet bergelantungan dan berjalan di tepi jalan. Namun yang agak menakutkan adalah sebagian tebing runtuh.

Kami tiba di Tanjung Alam sekitar pukul 18.00. Kami disambut oleh kedua orangtua Nike dan 3 adiknya. Setelah kami mandi dan makan malam, ada obrolan-obrolan singkat kami dengan tuan rumah.

Tanjung Alam Perbatasan menolak menjadi bagian Kota Bukittinggi

Saya menanyakan kepada Ibu Nike tentang rencana pemekaran Kota Bukittinggi, Ibu Nike langsung menjawab bahwa rencana pemekaran memang benar akan terjadi. Justru bapak Nike yang dengan tegas menolak pemekaran ini. Kata Ibu, kalau wilayah ini jadi kota, nanti akan masuk orang-orang lain dari luar. “Kalau jadi kota ‘kan bebas orang-orang bisa masuk, nanti tanah ini bisa dibeli ama Cina. Nanti bisa jadi tanah kita dikuasai sama Cina,” jelas ibu Nike disela-sela waktu istirahat kami. Selain itu jika setuju dengan perluasan daerah nanti pembayaran PBB, IMB jadi tinggi karena harus mengikuti wilayah kota.

Etnis Batak di tanah Bukittinggi

Selepas makan malam kami berbincang dengan keluarga Bapak Bahrizal, S.H. (Bapak Nike). Obrolan berkisar tentang rencana penelitianku. Aku menjelaskan bahwa penelitianku berkaitan dengan hubungan antar etnis. Menurutnya diantara etnis-etnis yang ada, hanya etnis batak yang bermasalah. Mereka memiliki strategi yang “licik” dalam menguasai tanah. Mula-mula dia membeli tanah orang minang dengan harga yang tinggi, setelah itu dia potong anjing dan kepala anjingnya ditaruh di tanahnya orang Minang. Karena enggan dengan keadaan ini orang Minang ahirnya menjual lagi tanahnya ke orang Batak. Oleh karena itu, orang Batak berkembang di sini. Ada yang berjualan cabai keliling menggunakan sepeda, ada yang menjadi rentenir, ada pula yang berjualan sayuran. Saya kemudian menanyakan,

“Apakah Bapak pernah melihat sendiri orang batak memotong anjing?”
“Nggak sih, tapi kalau kabar seperti itu disini cepat menyebar, melalui warung-warung”.
“Apa benar pak pernah ada anjuran untuk tidak menjual tanah pada orang Batak? “Oh iya, itu disiarkan di mesjid-mesjid, soalnya orang Batak itu suka bangun gereja, jadi kita tak ijinkan di tanah Minang ini ada gereja.”

Orang Jawa di tanah Bukittinggi

Menurut Bapak, orang Jawa yang tinggal di Bukittinggi kebanyakan jualan bakso dan jamu. Bapak salut dengan orang Jawa mereka pekerja keras. Tukang gali kabel kebanyakan juga orang jawa, karena orang jawa kuat mencangkul dibanding dengan orang Minang. Kalau orang Jawa ke Bukittinggi mencari kerja, tapi orang Minang ke jawa mencari duit. Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan uang sebesar-besarnya. Karena orang jawa mencari kerja, maka mereka akan bekerja dengan rajin, soal uang bukan yang utama yang dipikirkan.

Orang Mentawai

Dulu banyak juga orang Mentawai yang datang kesini (Ke Bukittinggi), hanya saja, sekarang diasingkan. Orang Mentawai itu nekad, pernah ada yang membunuh majikannya sekeluarga. Mereka suka makan sembarangan, anjing dan babi semua dimakan.

Pertahanan hak atas tanah

Orang Minang (termasuk yang ada di Bukittinggi) memegang teguh adat, satu tanah pusaka, satu tanah pekuburan, itu yang menyebabkan mereka suli menjual tanah pada siapa saja.

Orang Kurai Terpinggirkan

Bapak belajar dari orang Kurai, mereka bodoh karena menjual tanah kepada pendatang, ahirnya sekarang mereka terpinggirkan. Pemilik toko-toko besar hampir semua orang Agam, Ampek Angkek dan Tanjung Alam, sementara orang Kurai hidup di pinggiran.

Sabtu, 4 Juni 2011

Hari ini hari pertamaku di kota Bukittinggi. Hawa dingin terasa menusuk tulang, jauh berbeda dengan hawa di Padang. Pagi itu aku melihat anak-anak Pak Bahrizal shalat pagi hari, sejak malam sebenarnya aku melihat mereka selalu shalat 5 waktu. Setelah shalat (terutama Teguh, anak bapak yang paling kecil) selalu membaca Al-Quran. Biasanya Bunga dan Teguh masuk sekolah Pukul 07.30 pulang pukul 14.00, Pukul 16.00 mereka pergi mengaji. Karena pagi ini hujan, Bunga memutuskan untuk tidak berangkat sekolah dan mengantar aku serta Mega berkeliling Jam Gadang. Sebelum pergi saya menanyakan mengapa bapak menolak kalau wilayah Tanjung Alam menjadi bagian dari Bukittinggi. Pak Bahrizal menunjukan artikel tentang wacana pro kontra perluasan wilayah Kota Bukittinggi. Penjelasannya sebenarnya hampir sama dengan yang dijelaskan Ibu Nike. Bukittinggi sebenarnya kota orang Agam, ketika dipisah menjadi satu daerah adminsitratif tersendiri, seperti menjadi terpisah dengan Agam. Pemerintah kota cenderung meluaskan wilayahnya ke daerah-daerah yang memiliki potensi ekonomi tinggi. “Biarlah yang kampung ini tetap kampung”

Jam Gadang_4 Juni 2011_Paragraf 2Kami berangkat dari rumah pukul 10.00 menuju jam gadang. Sebenarnya kami sudah membuat janji dengan salah satu teman Mega yang 3 tahun tinggal di Bukittinggi, kebetulan orangtuanya orang Jawa (Ayah asal Kebumen, Ibu asal Pati) yang merantau ke Muara Bungo. Namanya Nasrul, dia bercerita tentang kisahnya selama dia di Bukittinggi. Ketika orang-orang Jawa masuk ke Bukittinggi banyak orang Minang yang mempertanyakan mengapa pindah ke Bukittinggi? Apakah dibuang oleh keluarga? Orang Jawa tertutup dengan orang lain, sehingga daripada ditolak di tempat lain, kecenderungannya mereka akan berkelompok dengan yang sedaerah. Dia sering dikucilkan karena orang Jawa.

Hari itu kami melanjutkan perajalanan kerumah bibi Nasrul di daerah simpang atas Ngarai, yang sejak tahun 1990 pindah ke Bukittinggi. Bibinya nasrul berasal dari Muara Bungo, ia menikah dengan orang Kebumen. Ketika kami sampai dirumah orang Jawa tersebut, dapur tetangga dan sebagian tembok dapur orang jawa ini ambruk. Semua orang panik, termasuk bibi Nasrul, dengan segera kami memindahkan barang-barang yang ada di dapur. Orang-orang Minang disekitar rumah melihat dan menanyakan kejadiannya. Setelah selesai mengeluarkan barang-barang yang ada di dapur, bibi pun bingung serta berpikir mencari rumah kontrakan yang baru, masalahnya wc sudah tidak bisa dipakai lagi. Tak lama sesudah itu, suaminya pulang, mereka berdua bingung mencari solusi dari peristiwa itu. Mereka sekeluarga belum punya rumah di Bukittinggi, mereka mengontrak rumah tersebut. Pemilik rumah kontrakan tinggal di Padang.

Kebetulan suami bibi Nasrul orang Kebumen, kami pun kemudian berkenalan. Aku cerita kalau aku temannya Nasrul, yang sementara tinggal di Bukittinggi. Dia bertanya orangtuaku bekerja apa, aku menjawab orangtuaku petani. Dia bilang petani di Jawa susah, bisa menyekolahkan SD aja sudah syukur. Kalau di Jawa enak, dia tidak mungkin pindah ke Bukittinggi. Bibi Nasrul merengek menanyakan solusi kepada suaminya perihal ambruknya tembok dapur. Dengan suara keras dia berkata jangan pindah dulu, tinggal saja di rumah itu karena susah mencari rumah baru. Kemudian ia meminta istrinya mencari rumah di sekitar daerah Simpang Atas Ngarai, karena ia bekerja. Tak lama setelah itu bibi Nasrul pergi dia menanyakan rumah-rumah kontrakan yang ada, setelah kembali dia bercerita kalau di wilayah itu ternyata tidak ada lagi rumah kontrakan. Kalau mau pindah RT pun, sekarang harus mengurus administrasi dari kartu keluarga sampai KTP.

“Gini Ri, tinggal di rantau, dulu dapur saya ambruk, sekarang pindah ke sini gitu juga,” keluh suami si bibi. Dia bercerita kalau harus selalu mengalah dengan penduduk asli, karena penduduk asli masih memegang teguh adat. Kalau punya harta lebih jangan ditunjukan itu hartanya, karena mengundang kecemburuan. Lalu orang Minang mau diberi, tetapi tidak mau memberi (pelit). Ketika pertama pindah ya susah cari tempatnya, ditanya-tanya mengapa pindah ke sini. Dia kembali pada perbincangan awal, “Kalau besok cari kontrakan, si Epi (anak pertamanya) sudah pulang ke Padang, moso dewekan nggolek kontrakan (masa mencari kontrakan sendirian),” ucapnya. Aku kemudian menawarkan diri menemaninya mencari kontrakan. Dia kemudian menyambut dengan gembira, “Wahh…adoh-adoh ketemu dulur wedok iki (waah sudah jauh-jauh ketemu saudara perempuan).” Karena hari sudah sore dan hujan sudah sedikit reda, kami memutuskan untuk pulang, terlebih karena aku tak tega dengan Bunga (yang baru berumur 10 tahun) kalau kehujanan. Kami pulang sambil hujan-hujanan dan tiba di rumah pukul 18.00.

Setelah mandi kami dan makan malam, kami (aku, Pak Bahrizal dan Mega) kembali ngobrol-ngobrol tentang hasil yang kudapat tadi, aku share kalau orang Jawa yang kutemui temboknya rubuh. Pak Bahrizal kemudian bercerita, memang orang Jawa banyak yang tinggal di simpang Atas Ngarai, hanya saja waktu gempa tempat itu longsor, ahirnya mereka pindah entah ke mana. “Orang Jawa pekerja yang tangguh,” ujarnya, sebagian besar dari mereka bekerja sebagai tukang jamu gendong, penjual bakso atau pekerja menggali tanah. Ada juga kumpulan orang Jawa yang tinggal di belakang lapangan kantin. Aku ditanya apa agamaku? Aku pun jujur, mengaku beragama katholik. Pak Bahrizal kemudian bercerita pengalamannya memasukan orang Katholik ke Islam.

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas Tahun 2009, dan anggota tim peneliti “Kota-Kota di Sumatra”, The Interseksi Foundation