Catatan Penelitian, Bagian Dua

23 April 2011, sekitar pukul sebelas siang, Penulis menemui Kepala Desa Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Maksud penulis adalah untuk meminta buku monografi kelurahan. Bagi setiap peneliti, buku ini sangat berguna.

Awalnya, Kepala Desa Mekarsari (Muhammad Subur) tidak bersedia memberikan buku tersebut. Namun setelah melalui tahap negoisasi, buku itu diberikan. Maklum, ia sempat trauma dengan kehadiran beberapa LSM dan wartawan.

Pada bulan April 2010 lalu, berbagai aktivis HAM, LSM dan Wartawan berdatangan ke kelurahan Mekarsari. Kedatangan mereka terkait kasus penggusuran Cina Benteng yang tinggal di bantaran sungai Cisadane. Kasus tersebut mencuat menjadi isu nasional.

Muhammad Subur kecewa dengan beberapa aktivis HAM, LSM dan wartawan yang berdatangan pada saat itu. Menurutnya, pemberitaan yang muncul dalam media tidak sesuai dengan apa yang terjadi, “para wartawan terlalu mendramatisir dan mempolitisir penggusuran tersebut, sehingga saya harus banyak melakukan klarifikasi, padahal yang terjadi sesungguhnya bukan seperti pemberitaan media,” kata Subur.

Setelah penulis menjelaskan tentang maksud dan tujuan, serta menjamin apa yang ditulis nantinya tidak akan diselewengkan, muhammad Subur bersedia memberikan buku Monografi kelurahan. Bahkan penulis diberi waktu khusus untuk melakukan wawancara dengannya.

Setelah wawancara, dengan senang hati pak Subur mengantarkan penulis ke rumah Ali Husein, ketua RW 06 kelurahan Mekarsari, untuk melakukan wawancara.

Wawancara dengan Ali Husein sangat menyenangkan. Ia sangat ramah dan bijak. Setiap pertanyaan ia jawab dengan hati-hati dan gamblang. Jika ada pertanyaan terkait hal yang kontroversial, ia menjawab sembari memberi penjelasan bahwa itu adalah pendapat pribadinya, mungkin saja bisa berbeda dangan yang lain, “Coba saja kamu temui si A dan si B, agar mendapatkan informasi yang berimbang,” Imbuhnya.

Ia menyuguhkan banyak hal, bukan hanya informasi tentang Cina Benteng, tapi juga menyuguhkan makanan dan minuman. Padahal penulis baru pertama berkunjung ke rumahnya, tanpa membawa oleh-oleh apapun.

Istrinya juga ramah, sesekali ikut nongkrong dan “menyumbang” tawa. Hal itu menambah keakraban di antara kami.

Seusai wawancara, penulis duduk santai di depan kelenteng, sepuluh meter dari rumah Ali Husein. Penulis mengamati keadaan sekitar, sembari bersenyum kepada siapapun yang lewat, agar warga Cina Benteng tidak menaruh curiga dengan kedatangan penulis. Duduk di tempat itu memang sedikit menguntungkan, sebab banyak warga yang juga pada akhirnya ikut nimbrung, sehingga penulis bisa mencari informasi dari mereka.

Tak jauh dari tempat duduk, beberapa pedagang makanan sibuk melayani pembeli. Ada pedagang siomai, nasi dan gorengan. Tampak sekali kerutan lelah di wajah mereka, keringatnya membasahi pakaian yang sudah lusuh. Meski demikian, senyum dan sikap ramah selalu ditunjukkan kepada pembeli.

Mengamati kegiatan mereka, penulispun “terpikat” untuk memesan siomai. Dengan sigap si pedagang siomaipun berdiri merespon pesanan penulis. Segera ia mengambil piring, sendok dan membuka panci.

Penulis berjalan mendekat dan melihat isi panci itu. Tampaknya siomai sudah hampir habis, hanya tersisa beberapa telur, pare, dan beberapa butir siomai, sementara kikilnya masih tersisa lebih banyak.

Menjelang akhir penyajian satu porsi, si pedagang bertanya pada penulis, “Mau pakai kikil pak?”. Dengan penasaran, penulispun balik bertanya, ”Emang kikil apaan itu pak?” Ia menjawab, “Kikil babi, Pak.”

Seketika itu, penulis sadar akan dua hal. Pertama, pedagang tersebut adalah warga Cina Benteng yang sudah terbiasa dengan daging babi, sementara penulis sama sekali belum terbiasa dengan daging itu. Kedua, penulis beragama Islam yang melarang pemeluknya memakan daging bagi.

Akhirnya dengan cekatan penulis menjawab, “Gak usah pake kikil, Pak.” Awalnya, penulis berfikir akan memakan siomai itu tanpa kikil. Namun, penulis teringat salah satu ajaran Islam bahwa daging babi najis, dan barang apapun yang bersentuhan dengan babi, harus dicuci sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu. Tentu saja, siomai itu bersentuhan dan bercampur dengan kikil babi, berarti siomai dan beberapa telur itupun najis.

Akhirnya penulis membatalkan pesanan dengan menjelaskan bahwa penulis tidak memakan daging babi. Sebagai permintaan maaf, penulis tetap membayar seporsi siomai itu. Tak disangka, ternyata si padagang menolak uang siomai, dan bisa mengerti keadaan penulis. Ia bahkan sangat memahami muka penulis yang terlihat merasa bersalah. “Gak papa kok pak, sungguh,” kata padagang.

Dalam posisi yang demikian, pedagang itu masih bersikap bijak dan sopan. Tak ada guratan kekecewaan di wajahnya. Padahal ia sudah melepas senyum kepada penulis di tengah peluhan keringat dan terik matahari yang semestinya mendatangkan amarah.

Penulispun sadar, senyum itu bukan untuk memikat pembeli, melainkan naluri seorang warga Cina Benteng. Sikap itu juga ditunjukkan oleh Ali Husein saat melakukan wawancara. Sikap dua warga yang sulit ditemui, di masa kini.