Catatan Penelitian, Bagian Pertama

Tak perlu penasaran dengan tulisan ini, tak ada yang menarik di dalamnya. Yang unik juga tak ada. Penulisnyapun bukan seorang doktor, bukan pula novelis, lebih-lebih profesor. Ini hanya sebuah catatan dari anak muda yang terlibat dalam pelatihan penelitian. Oleh sebab itu, jika pembaca sedang sibuk, tinggalkanlah tulisan ini, lebih baik pembaca mengarjakan tugasnya saja.

Tulisan ini hanya berisi pengalaman singkat penelitian yang berawal dari kegundahan tentang komunitas masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang. Banyak peneliti mengatakan bahwa masyarakat Cina Benteng adalah komunitas unik. Disebut unik karena berbeda dengan komunitas lain yang ada di Indonesia.

Secara kultur, Cina Benteng sudah berasimilasi dengan kultur lokal. Secara ekonomi, mereka berbeda dengan komunitas Cina lain. Secara fisik, mereka juga berbeda dengan komunitas Cina yang lain. Oleh sebab itu, penulis ingin sekali melihat fakta secara langsung disana, kemudian menuliskan dalam sebuah laporan penelitian.

21 April 2010, penulis mendatangi lokasi pemukiman Cina Benteng, tepatnya di kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Penulis sempat nyasar, sebab ternyata banyak komunitas Cina Benteng di Tangerang. Mereka tersebar di berbagai kecamatan di Tangerang. Awalnya, penulis mengira, komunitas Cina Benteng hanya berada di satu tempat saja.

Ketika itu, penulis berangkat dengan menggunakan motor, dari Pamulang menuju Komunitas Cina Benteng. Penulis bertanya kepada tukang becak yang mangkal di Pasar Baru, Tangerang, dimanakah posisi komunitas Cina Benteng. Saat itu, si tukang becak menunjukan arah desa Sukarasa, di mana ada Cina Benteng di dalamnya.

Sampai di kelurahan Sukarasa, penulis kembali menanyakan posisi Cina Benteng kepada salah satu pedagang kaki lima. Namun penulis mendapatkan informasi yang berlawanan dengan jawaban si tukang becak di Sukarasa. Pedagang itu mengatakan bahwa komunitas Cina Benteng berada di jalan Benteng Raya, Kota Tangerang.

Dengan sedikit kesal, penulis menuju arah yang ditunjukan si pedagang kaki lima itu. Setelah sampai di Benteng Raya, terlihat begitu ramai. Terdapat taman Cisadane yang menjadi paru-paru kota. Semilir angin membuat orang yang lewat sedikit lega. Dan tidak sedikit pula yang mampir untuk duduk sebentar, sembari menikmati kesejukan udaranya.

Di tengah keramaian jalan Benteng Raya, penulis bertanya kepada seorang warga :”Pak, Cina Benteng itu ada di mana ya?”, warga tersebut malah balik bertanya “Cina Benteng yang mana? di sini ada banyak Cina Benteng, ada yang di Kecamatan Neglasari, ada yang tinggal di Kecamatan Karawaci, dan ada yang di Kecamatan Tangerang.

Dari keterangan tersebut, baru penulis menyadari, Cina Benteng ternyata tersebar di seluruh daerah. Lalu, penulis meluncur ke salah satu komunitas Cina Benteng yang tinggal di bantaran sungai Cisadane, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari.

Di sana terlihat sebuah papan tertulis “Klenteng Tio Bek Sun” di sebuah gapura berwarna merah. Gapura itu tampaknya menjadi gerbang masuk komunitas Cina Benteng di kelurahan itu. Setelah masuk melewati gerbang tersebut, terlihat kepadatan rumah mereka. Beberapa kandang babi dan ayam menimbulkan bau tak sedap. Tampaknya warga di situ sudah terbiasa dengan bau tersebut.

Tiga meter di belakang rumah mereka, mengalir sungai Cisadane. Airnya keruh. Alirannya tak begitu deras karena terdapat sampah yang menggunung di beberapa tempat. Meskipun demikian, beberapa warga masih memanfaatkan sungai tersebut untuk membuang hajat, ataupun sekedar mencuci binatang ternak.

Di depan rumah mereka, terdapat tanggul sebagai penghalau banjir sekaligus menjadi jalan pedesaan. Jalan itu dulunya –menurut penuturan Ali Husein—beraspal dan halus. Namun sekarang jalan itu rusak dan berbatu.

Tak ada tanda jalan itu akan diperbaiki, banyak bebatuan terlepas dari “cengkraman” tanah. Serangan air hujan menjadikannya licin.  Beberapa lubang di tengah jalan itu terlihat menganga, tergenang air hujan. Jika ada kendaraan berjalan sedikit kencang saja, air yang tergenang akan muncrat ke rumah warga Cina Benteng.  Maklum, rumah mereka jauh lebih rendah dari tanggul yang dimanfaatkan sebagai jalan itu. Merekapun tak menghiraukan keadaan tersebut.

Siapa peduli, tak ada. Buat apa mikirin mereka, tak ada gunanya.  Mungkin logika itu yang digunakan pemerintah untuk menggusur mereka. Nah, penulispun kehabisan kata sampai di paragraf ini. Betulkan apa yang penulis katakan sejak awal, membaca tulisan ini hanya akan membuang waktu saja. Sekarang segeralah kembali ke dunia anda, mengerjakan yang bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan saya yang kedua, yang lebih tidak ada gunanya lagi.