Catatan Penelitian Pilihan

11 Maret 2011

Hari Jumat ini merupakan hari kelima di Porong. Semenjak tinggal di lapangan saya berusaha untuk membangun kebiasaan bangun pagi dan pantang untuk terlelap lagi. Awalnya berat tapi alah bisa karena biasa. Saya berencana untuk berkunjung ke SD Negeri Renokenongo 2 yang menjadi korban bencana industri lumpur Lapindo. Ada suatu kenikmatan tersendiri ketika berjalan kaki menyusuri Sungai Porong yang masih diselimuti embun. Pemandangan berbeda sewaktu sampai di Jalan Raya Porong yang begitu hiruk-pikuk. Berpuluh truk, bis, angkot, mobil dan kendaraan motor berjejalan memenuhi jalan. Saya mengalami kesulitan untuk menyebrang. Ada seorang nenek yang membawa bakul dan merasakan hal yang serupa. Beruntung ada seorang polisi yang menolong kemudian saya menggandeng tangan si nenek dan menyebrang jalan bersama sambil setengah berlari. Nenek tersebut mengucapkan terima kasih dalam Bahasa Jawa dan saya merasa lega dapat memberikan kegembiraan kecil bagi orang lain. Saya melakukan observasi di sepanjang jalan yang dilewati. Ada toko-toko berdiri di sepanjang Jalan Raya Porong yang merupakan jalur utama menuju kota Malang dan Pasuruan. Masih nampak jelas sisa kejayaan kawasan pertokoan tersebut yang kini lebih banyak yang tutup. Hanya sekitar setengah kilometer berdiri tanggul penahan lumpur Lapindo yang menenggelamkan nyaris 3 kecamatan. Tentu saja hal ini berpengaruh besar bagi aspek perekonomian masyarakat disana. Belum lagi dampak sosial yang  lain seperti pendidikan. Beratus bangunan sekolah terkubur lumpur termasuk SD N Renokenongo 2 yang kini menumpang  di SDLB Porong yang terletak tak jauh dari Pasar Porong Baru yang pernah menjadi tempat pengungsian korban lumpur Lapindo. Kini pasar itu telah berfungsi normal.

Dari luar tak begitu kentara jika ada dua sekolah yang berbeda. Tiga orang ibu guru sedang berkumpul di kantor ketika saya sampai di sana. Setelah saya memperkenalkan diri, mengalirlah cerita dari salah seorang ibu guru yang mengajar pendidikan agama Islam bernama Bu Muslimah tanpa saya perlu banyak bertanya. Kondisi SD N Renokenongo 2 yang menginduk pada SDLB begitu seadanya. Setelah lumpur Lapindo menenggelamkan sekolah mereka membuat SD yang dulunya favorit ini beberapa kali pindah tempat hingga akhirnya diputuskan semester ini menjadi semester terakhir dalam sejarah SD N Renokenongo 2. Jumlah siswa kini tinggal 24 anak, terdiri dari 13 siswa kelas III, 2 siswa kelas IV, 2 siswa kelas V dan 7 siswa kelas VI. Jumlah personil guru dan karyawan ada 9 orang, guru kelas 4 orang, guru bahasa Inggris 1 orang, guru agama Islam 1 orang, guru komputer 1 orang ditambah  penjaga sekolah 1 orang. Semua guru adalah perempuan.

Menurut penuturan Kepala Sekolah Ibu Winarsih, siswa kelas 3 saat ini justru sedang semangat-semangatnya belajar. Sayang sekali tidak ada pilihan untuk terus belajar bersama di sekolah ini pada tahun ajaran baru nanti. Anak-anak mau tak mau harus pasrah pindah ke sekolah yang jaraknya lebih dekat dengan tempat tinggal keluarga mereka. Saya diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan murid kelas III dan mereka tetap menjadi anak-anak yang ceria. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Setiap senin pagi siswa-siswi SD N Renokenongo 2 melaksanakan upacara bendera bersama dengan murid-murid SDLB. Disini mereka belajar untuk tetap bersyukur dengan kondisi sekolah mereka dan toleransi dengan teman-teman SDLB. Para petugas upacara diserahkan pada siswa-siswi SD N Renokenongo 2. Itulah sisi lain dari potret pendidikan pasca-bencana lumpur Lapindo.

Selesai observasi dan wawancara, saya kembali ke posko advokasi kampanye korban Lapindo di Desa Mindi, sekitar 1 km dari danau lumpur Lapindo. Tempat tinggal saya selama riset di Porong. Ada beberapa korban Lapindo yang datang dan pergi silih berganti. Mereka semua memperjuangkan hak-haknya lewat cara saling berkoordinasi, rapat, lobi sana-sini, aksi demonstrasi, dan liputan berbagai media. Para korban dari beragam asal desa dan latar belakang disatukan kasus ketidakadilan ganti rugi baik oleh pihak Lapindo maupun pemerintah. Tapi bukan berarti hubungan di antara mereka baik-baik saja. Terkadang kita tidak benar-benar mengerti mana yang menjadi kawan dan mana yang menjadi lawan.

Di sela-sela agenda riset saya menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan ringan bersama kawan-kawan di posko seperti memancing di pertambakan ikan yang lokasinya sekitar 7 km dari Desa Mindi. Dulu Sidoarjo sangat terkenal dengan tambak udang. Setelah adanya bencana lumpur banyak tambak yang akhirnya tercemar dan gulung tikar. Mas Paring, kawan yang menjadi pendamping korban lumpur bercerita tentang akar permasalahan masyarakat porong yang menjadi korban Lapindo. Pertama, mereka tidak memiliki tradisi yang kuat untuk bersama melawan rezim tirani Lapindo. Kedua, karakter mereka sebagai masyarakat sub-urban bukan agraris yang cenderung materialistis  dan makin menjadi-jadi oleh kebijakan Lapindo yang sepihak. Ketiga, masyarakat dan segala elemennya yang terpecah-pecah. Keempat, kebijakan pemerintah yang juga terkesan lamban dan tidak berpihak pada masyarakat. misalnya kebijakan transmigrasi yang rencananya akan diprioritaskan untuk korban lumpur. Jika ditelisik dari kebiasaan masyarakat Porong yang jarang sekali bepergian jauh sepertinya mustahil. Dulu jauh sebelum adanya tragedi lula kawasan Porong sangat subur. Hasil alamnya melimpah mulai dari tambak udang yang sangat besar hingga lambang sidoarjo terkenal dengan udangnya. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak mau begitu saja jauh-jauh dari tanah asal mereka. Kebiasaan kawin mawin antar tetangga bahkan saudara membuat mereka hanya berputar di daerah sekitarnya saja. Hampir 4 tahun Mas Paring mendampingi korban dari tinggal bersama di pengungsian pasar porong baru hingga sekarang mengontrak rumah untuk dijadikan posko advokasi di Mindi. Tentu butuh militansi yang tinggi untuk bisa bertahan di lokasi yang rawan konflik tersebut.

13 Maret 2011

Hari Minggu, hari ketujuh. Setelah selesai membereskan pakaian kotor dan memasukannya ke laundry, saya memberanikan diri untuk mengendarai motor sendiri ke Desa Besuki Timur yang terletak sekitar 5 km dari Mindi. Terdapat sebuah sanggar anak-anak korban lumpur yang bernama Sanggar Al-Faz. Sanggar Al-Faz yang didirikan sejak tahun 2009 ini berlokasi hanya puluhan meter dari tanggul penahan danau lumpur Lapindo. Adalah Cak Irsyad sebagai pionirnya. Sanggar ini didirikan atas dasar keprihatinan pada kondisi anak-anak di sekitar Besuki Timur. Setelah ditelisik ternyata nama sanggar Al-Faz diadopsi dari nama ibu Cak Irsyad yang bernama (alm) Ibu Fauziyah. Fauziyah yang bermakna kegembiraan disingkat menjadi Al-Faz Beliau semasa hidupnya memiliki impian untuk membangun tempat bagi para anak yatim piatu atau anak-anak yang kurang beruntung. Kini impian itu yang menjadi energi positif bagi Cak Irsyad untuk mendirikan sanggar Al-Faz. Cak Irsyad mengajarkan setiap anak pasti memiliki bakatnya masing-masing. Hal penting itu harus ditemukan sedini mungkin supaya kelak dapat dijadikan bekal di masa mendatang. Belajar dapat di bidang apa saja yang sesuai dengan kemauan si anak. Anak-anak harus dibiarkan menjalani kegiatan apa saja yang mereka minati asal membuat senang dan  bahagia.

Polemik yang makin pelik

Dampak dari adanya bencana “Lula” (lumpur Lapindo) selain para orang tua kehilangan mata pencahariannya yakni anak-anak kehilangan teman sepermainannya yang kini telah berpindah tempat tinggal. Dulu kala sebelum adanya jalan tol pada tahun 1980-an, Desa Besuki  menjadi satu akan tetapi setelah jalan tol didirikan di tengah-tengah desa mereka, Besuki terbagi menjadi timur dan barat. Potensi alam Desa Besuki sawah puluhan hektar yang begitu subur serta tambak. Semuanya hancur seketika ketika lumpur panas Lapindo menerjang areal persawahan dan pemukiman pada Agustus 2006. Saat ini kurang lebih 28 hektar sawah sangat tidak produktif dan hanya ditumbuhi rumput-rumput yang liar menjulang. Nasib masyarakat Besuki Timur sangat berbeda dengan warga Besuki Barat. Warga Besuki Barat yang berbatasan langsung dengan tanggul lumpur panas Lapindo telah menerima ganti rugi dari dana APBN. Warga Besuki Timur yang mendapatkan dampak secara tidak langsung seperti air yang sangat tidak layak digunakan untuk MCK apalagi dikonsumsi. Rasanya asin, berwarna keruh dan berbau. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari masyarakat Besuki Timur harus rela membeli seharga Rp 1500 per 20 liter. Air tersebut dijual oleh salah seorang warga Besuki Timur yang diambil dari mata air Prigen. Persoalan selanjutnya soal udara bermuatan metana yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Udara yang menyesakkan itu terkadang membuat emosi meningkat. Hembusannya tidak mengenal waktu tergantung kemana arah angin berhembus. Belum lagi persoalan pengangguran yang meningkat pasca bencana Lula yang berimbas juga pada tingkat kriminalitas.

Tentang LSM

Menjadi hal yang sangat mengherankan ketika bencana besar Lapindo tak serta merta mendatangkan LSM yang berbondong-bondong membawa misi pendampingan masyarakat atau tujuan tersembunyi lainnya. Hanya ada segelintir LSM yang akhirnya dapat masuk ke Porong meski tetap mendapatkan tatapan penuh curiga oleh masyarakat.

Karakter masyarakat

Kultur masyarakat Jawa Timur khususnya di Porong, Sidoarjo sangat kental dengan tradisi NU (Nahdlatul Ulama). NU sangat mengagungkan peran ketokohan seorang kyai, termasuk di Besuki Timur. Apapun titah Pak Kyai sudah selayaknya dipatuhi. Beberapa kyai berhubungan akrab dengan para aparat kepolisian dan pemerintah. Ternyata masuknya LSM ke Porong telah dihadang oleh aparat  tersebut yang memberikan perintah supaya sebisa mungkin LSM tidak melibatkan diri dalam menangani korban bencana lumpur Lapindo. Oleh karenanya kedekatan Cak Irsyad dengan LSM kerap menimbulkan persoalan. Sampai-sampai Cak Irsyad dijuluki “ulere masyarakat”.

Demikianlah informasi yang berhasil saya dapatkan dari kunjungan pertama ke Sanggar Al-Faz. Selanjutnya di waktu Sore hari saya gaul di Pasar Porong Baru, melihat polah tingkah orang-orang yang sungguh kocak. Begitu menghibur. Seorang lelaki setengah baya menjajakan dagangannya yang berupa kopyah putih sembari berteriak “teeelong ewu oleh berkat”(dengan membayar tiga ribu dapat bingkisan yang biasanya diberikan selepas pengajian atau yasinan hanya dengan syarat mengenakan kopyah putih). Ada pula 3 orang nenek yang masih sangat setia dengan pekerjaannya, berjualan rujak, plastik dan sayuran segar. Ketiga nenek itu terlihat cantik dan berkarakter kuat. Jadi kepengen ngapelin lagi laen kali, hihihi…. Selepas itu sholat ashar di masjid besar porong. Hujan deras mengguyur bumi. Saya manfaatkan waktu untuk baca baca sejenak. Habis isya tidur bentar terus bangun ngadep laptop sambil ngedengerin kisahnya Nijar –seorang kawan di posko- tentang kegandrungannya dengan dangdut. Hari akan terasa hambar jika tak mendengar musik kesayangannya itu meski sebentar. Nijar adalah potret pemuda tanggung yang menjadi korban lumpur yang masih dalam tahapan pencarian identitas. Sehari-harinya dia membantu persoalan teknis di posko Mindi. Tiba-tiba saya terinspirasi untuk membuat  tulisan yang berjudul peran strategis orkes melayu dangdut koplo dalam sinergi integrasi masyarakat Porong, Sidoarjo. Ahahay…, spektakuler bukan buatanJ. Humoris menjadi salah satu karakter khas masyarakat Jawa Timur terkadang dengan guyonan sarkastiknya. Dilarang keras untuk mudah sakit hati disini karena mereka tak bermaksud buruk sama sekali.