Catatan tentang Perjalanan Wawancara ke Malang

Tanggal 20 Agustus 2008 jam 17:30 sore hari, aku tiba di stasiun Gambir. Aku langusung menunggu kereta Gajayana yang akan membawaku ke Malang ke tempat Bapak dan Ibu Utomo. Beliau adalah orang tua dari Bimo Petrus, salah satu aktivis yang dihilangkan secara paksa pada tahun 1997/1998. Ini adalah kali pertama aku pergi dengan kereta api. Ada sedikit perasaan takut dan khawatir kala itu, tapi aku yakin aku akan baik-baik saja selama perjalanan. Ketika kereta tiba aku langsung masuk ke dalam gerbong pertama. Sebelumya aku bertanya-bertanya dulu dengan menunjukan tiketku kepada orang lain dimana aku duduk, ternyata aku ada di gerbong pertama dan tempat dudukku nomor 9C. Begitu menemukan tempat duduk, aku langsung duduk dan merapikan barangku dengan menaruhnya di bagasi atas.

Kereta api Gajayana akhirnya berjalan setelah berhenti selama lima menit di stasiun. Aku mulai menikmati perjalanan ini meskipun memiliki sedikit perasaan takut dan khawatir. Terkadang aku ngobrol dengan seorang ibu-ibu yang berusia sekitar enam puluhan yang duduk di sebelahku. Beliau ingin kembali ke Malang setelah mengunjungi anaknya yang bekerja di Jakarta selama tiga minggu. Sesekali aku bertanya tentang alamat yang akan aku tuju, yaitu jalan Lahor tempat bapak dan ibu Utomo tinggal, dan beliau menjawab “wah, itu bisa pake becak kok mbak kalau mau ke sana, paling mahal cuma lima ribu aja. Kalau naek angkot cuma dua ribu lima ratus. Tapi memang lebih enak pake becak, dan tukang becak juga semua tau kok jalan Lahor.” Setelah itu, tidak banyak percakapan terjadi karena aku lebih menikmati perjalanan dengan melihat ke luar jendela.

Perjalanan Jakarta-Malang, ternyata begitu jauh. Ditempuh dengan kereta api memakan waktu sekitar lima belas jam. Di malam hari, kereta api tersebut berhenti di setiap stasiun tapi aku hanya ingat kereta berhenti di stasiun Jogja dan Kediri. Selebihnya aku tidak tahu, karena malam sangat pekat di luar sana. Malam hari di kereta sangat dingin, selimut yang diberikan oleh petugas kereta api pun tak sanggup mengusir rasa dingin yang menyerbu tubuhku. Hal ini membuatku tak mampu memejamkan mataku untuk waktu yang lama. Aku melihat ke sekelilingku, pada penumpang lain yang tertidur begitu lelap. Aku heran, bagaimana mereka bisa tertidur begitu lelap sementara di dalam kereta sangat dingin. Tengah malam ketika aku mulai mengantuk, aku di kagetkan dengan suara para pedagang yang masuk ke dalam kereta api untuk menjajakan dagangannya, padahal kereta api yang kunaiki seharusnya tidak boleh ada pedagang yang masuk untuk berjualan ke dalam. Tapi sudahlah aku tidak merasa marah, hanya merasa miris melihat mereka yang masih harus mengais rejeki di tengah malam hari.

Jam Sembilan pagi aku sampai di stasiun Malang. Aku begitu terkesan dengan kota sederhana ini. Aku hanya diberikan alamat rumah oleh pak Utomo, tapi beliau tidak mengatakan akan menjemputku sesampainya aku di stasiun Malang. Ketika turun dari kereta api ada seorang bapak yang menawariku untuk naik becaknya. Bapak tersebut berkata “becaknya mbak”. Aku bertanya kepada bapak tersebut, “bapak tau jalan lahor pak?” tanyaku, seketika wajah bapak tersebut tersenyum sambil mengangguk tanda bahwa ia tahu jalan tersebut. Bapak tersebut langsung membawakan tas yang aku pegang ke becaknya di depan stasiun, tapi sebelum sampai di becaknya ternyata pak Utomo sudah menungguku di depan stasiun. Ah, aku begitu lega melihat beliau berdiri sambil tersenyum padaku.

Jalan Lahor ternyata tidak begitu jauh dari stasiun kereta api. Pak Utomo memboncengku dengan motor tuanya ke rumahnya. Rumah pak Utomo begitu sederhana dan sangat nyaman. Beliau dan keluarga adalah keluarga Katolik yang sangat religius. Karena begitu memasuki rumahnya, sangat banyak lukisan dan patung Bunda Maria.

Sesampainya aku dirumah keluarga bapak Utomo, aku disambut ibu Utomo yang sedang memasak di dapur. Beliau langsung menyuruhku untuk menempati kamar depan untuk istirahat. Setelah merapihkan barang-barangku, aku langsung bergabung dengan mereka di dapur untuk berbincang-bincang. Ibu Utomo berkata “ ya beginilah keseharian kami mbak, setiap hari saya masak untuk anak-anak kos di rumah kami.” Aku langsung bertanya, “oh, jadi ada yang kos di sini?” . “Iya, ada tiga orang semuanya masih kecil-kecil. Tapi mereka tidak menginap, nanti setelah sekolah mereka datang setelah itu makan, lalu tidur siang dan sore hari mereka pulang,” jawab ibu Utomo. “Apakah rumah mereka jauh sehingga mereka harus kos seperti ini?” tanyaku. “Tidak jauh sih, tapi karena orang tua mereka bekerja akhirnya kami yang mengurus mereka. Lagipula tidak apalah karena kita juga kan tidak ada pekerjaan apa-apa dan mereka sudah saya anggap sebagai cucu sendiri, sebentar lagi mereka juga datang mbak.” jawab ibu Utomo.

Jam dua belas tiga puluh, anak-anak tersebut datang dengan di jemput oleh pak Utomo dari sekolah mereka. Ada tiga anak ternyata. Yang pertama namanya Rio kelas satu SMP, yang kedua Riki kelas lima SD, dan yang ketiga Gabriella kelas tiga SD. Mereka sekolah di satu sekolah yang sama yaitu sekolah Frateran di Malang. Bapak dan Ibu Utomo menyambut mereka dengan bahagia. Aku memperhatikan mereka yang memperlakukan anak-anak itu bagai cucunya sendiri. Seketika aku berkomentar pada ibu dan bapak “wah sudah seperti cucu sendiri ya pak”. Bapak dan ibu beserta ketiga anak tersebut langsung tertawa mendengar komentar ku, “ini sebetulnya memang cucu kami kok mbak, kamu ditipu sama bapak dan ibu,” jawab ibu Utomo. Kami langsung tertawa. Ternyata mereka adalah sepasang suami-istri harmonis yang penuh dengan humor.

Jam tujuh malam, bapak dan ibu Utomo mendapat kabar tentang keponakan ibu yang meninggal di rumah sakit karena sakit mendadak. Kami langsung ke rumah kakak beliau yang letaknya tidak jauh dari rumah bapak dan ibu Utomo. Awalnya aku kira semua keluarga ibu dan bapak Utomo adalah Katolik, tapi ternyata hanya ibu Utomo yang beragama katolik. Kakak ibu Utomo yang pertama adalah seorang Muslim, dan ketiga adik ibu Utomo juga adalah muslim termasuk almarhun orang tua ibu Utomo. Aku sangat kagum dengan keluarga mereka yang begitu plularis. Keluarga mereka bisa menerima keputusan ibu Utomo dengan baik untuk pindah agama.

Keesokan malamnya, aku beserta bapak dan ibu Utomo baru bisa berbicara serius tentang maksud dan tujuan penelitian yang aku lakukan. Bapak dan ibu ternyata tidak keberatan selama itu bisa bermanfaat. Beliau hanya menyampaikan agar tidak ada yang dilebih-lebihkan, dan tidak menyebarkan apa yang menurut beliau rahasia untuk aku sendiri. Selama proses wawancara, bapak dan ibu terlihat sedikit lebih tegang dibandingkan dengan ketika mengobrol secara informal di dapur atau sambil menonton televisi atau ketika aku ikut minum kopi bersama bapak di dapur sambil merokok.

Aku akui tidak semua pertanyaan terjawab dengan baik. Itu karena aku juga sangat berhati-hati ketika bertanya tentang kasus yang dialami oleh Bimo Petrus anaknya. Bapak memang sangat sensitif. Jika aku salah bertanya atau salah menjawab pertanyaannya, hubungan emosional yang aku bangun bisa tidak harmonis lagi. Seringkali ketika ibu berpendapat tentang perasaannya, bapak tiba-tiba berkomentar sehingga membuat ibu enggan untuk kembali mengeluarkan pendapatnya. Inginku memang mewawancarainya secara terpisah, karena aku ingin mendengar pendapat mereka masing-masing. Tapi tampaknya itu cukup sulit, karena ketika aku ngobrol dengan ibu di dapur bapak pasti ikut berbicara bersama kami. Tapi tak apalah, aku anggap itu adalah pembelajaran bagiku untuk kedepannya. Karena maklum saja, aku adalah pemula dibandingkan beberapa kawanku yang juga melakukan penelitian bersama yayasan Interseksi.

Keesokan harinya, sebelum aku berangkat ke Solo untuk bertemu dengan keluarga Wiji Thukul, salah satu aktivis yang dihilangkan juga secara paksa di tahun 1997 menjelang 1998, Ibu Utomo memperlihatkan surat-surat dari Bimo yang dikirimkan sebelum Bimo Hilang. Beliau juga memperlihatkan sebuah puisi yang digubah dari sebuah ayat suci. Ibu mengaku bahwa puisi ini ditemukan justru setelah Bimo dihilangkan secara paksa. Ibu menemukannya setelah merapihkan barang-barang milik Bimo di kamarnya. Berikut adalah Puisi yang dibuat oleh Bimo, semoga memberikan inspirasi kepada kawan-kawan yang membacanya.

Bapa Kami
(Petrus Bima Anugerah)
Bapa Kami Yang Ada di Surga
Engkaulah Allah yang memihak orang melarat
bukan pada orang yang gila harta
Engkaulah Allah yang berdiri pada di sisi orang yang tertindas
bukan pada orang yang gila kuasa
Engkaulah Allah yagn berbelas kasih pada orang yang hina
bukan pada orang yang gila hormat
Di Muliakanlah Namamu
Di antara petani
yang menggarap sawah-sawah tergadai
Di lingkungan para buruh
yang harus berteduh di gubuk kumuh
Di kalangan anak asongan
yang harus mandi di sungai tercemar
Di antara rakyat kecil yang tergusur demi suksesnya pembangunanDatanglah Kerajaan-Mu.
Yakni dunia baru
yang berlandaskan cinta kasih
yangberhalauan kebebasan
yang bertatanan keadilan
Jadilah kehendak-mu di atas bumi
Untuk memberi makan pada yang lapar
Untuk memberi minum pada yang haus
Untuk memberi tumpangan pada para pendatang
Untuk memberi pakaian pada yang telanjang
Untuk melawat mereka yang sakit
Untuk mengunjungi mereka yang ada dalam penjara
Untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertimpa ketidak adilan
Seperti di Dalam Surga
Yang berpihak pada rakyat kecil
Yang mengutuk segala bentuk intimidasi
Yang menghilangkan segala upaya pembodohan masyarakat
Yang membongkar segala praktik bisnis tanpa moral
Yang mendobrak segala praktik penyalahgunaan kekuasaan
Berilah Kami Rejeki Pada Hari ini
Agar kuat dan berkobar dalam membangun budaya bisu
Agar kuat dan pantang mundur dalam melawan budaya takut
Agar kuat dan berani melawan budaya pakewuh.
Dan Ampunilah Kesalahan Kami
Karena kami diam
ketika hutan-hutan dibabat untuk arena balap mobil
Karena kami bungkam
ketika rumah dan ladang digusur untuk lapangan golf
Ketika kami bisu
ketika sawah-sawah dirampas untuk rumah mewah
Karena kami acuh
ketika rakyat kecil disingkirkan demi gemerlapnya keindahan kota
Seperti Kami pun Mengampuni
Mereka yang bersalah kepada rakyat
melalui system pembodohan nasional
sehingga rakyat hanya mampu berakta “ya, ya, dan ya”
Janganlah masukan kami kedalam percobaan
Sehingga kami ikut melakukan kekerasan
seperti mereka yang tidak mengenal Tuhan
Sehingga kami hanya mampu melontarkan kritik
tanpa kami sendiri bertindak adil, jujur dan bertanggung jawab
Sehingga kami berpihak dan membantu orang kecil
tetapi kami sendiri tidak terlepas dari permainan manipulasi
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Yakni pikiran untuk memonopoli kekayaan alam
perkataan untuk memanipulasi pendapat umum
perbuatan yang melecehkan rakyatss

Amin

 

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.