Catatanku dari Tolotang

“Katakan pada orang-orang di sana bahwa di sini ada agama yang hebat”
“Seorang Warga Tolotang”

Meskipun saya terlahir di Butta Makassar, sejujurnya saya awam mengenai komunitas Tolotang. Umumnya mereka bermukim di Kel. Amparita, Kec. Tellu Limpoe, Kab Sidenreng Rappang (Sidrap). Saya, bahkan, secara khusus tidak pernah mengunjungi kota itu, kecuali seingatku pernah melewati jalanan protokol kota itu, rentang akhir tahun 80-an sampai medio 90-an, ketika saya beruntung mengikuti beberapa kali kegiatan sekolah di beberapa wilayah di Makassar, seperti Wajo—kota leluhur komunitas Tolotang. Dus, perkenalanku, atau lebih tepatnya pengetahuanku, mengenai Sidrap, tempat Tolotang, hanya kuperoleh di bangku pendidikan menengah, karena beberapa kawanku berasal dari sana. Saya tahu secuil saja Sidrap merupakan “lumbung” penghasil beras, dan juga melahirkan gadis-gadis keturunan Arab, yang berhidung mancung. Oopss, dulu saya pernah mengagumi seorang gadis berhidung mancung, teman sekolahku, dari kota ini. That’s all, Itu saja!. Belakangan saya tahu beberapa ulama besar Islam seperti Quraish Shihab, ahli tafsir yang terkenal itu, Najwa ….(presenter manis Metro TV) darah ibunya bersumber di kota ini. Belakangan lagi, saya baru mengetahui ada komunitas Tolotang yang memiliki kemampuan untuk bertahan hidup melintasi derasnya arus gelombang perubahan jaman di tanah air.

Program “Riset dan Advokasi Hak Minoritas” Interseksi tahun 2006/2007, memberiku dua “berkah” sekaligus. Pertama, kesempatan mengunjungi wilayah komunitas Tolotang, sebagai penyelia (supervisor). Kedua, mudik ke kampuang tercinta. Pada Senin, 2 Oktober 2006, saya bertolak ke Makassar menumpang maskapai penerbangan Adam Air yang tidak henti-hentinya membuatku “sport jantung”, karena buruknya take off dan landing pilotnya. Buruknya lagi, saya harus menunggu sekitar satu jam, karena pesawatnya delayed. Karenanya, untuk mengkompensasi perjalanan “kurang menyenangkan” tadi siang, maka, bersama keponakanku yang lagi kuliah di Makassar, kuhabiskan malam dengan menikmati wisata kuliner, khas kota angin Mammiri, yang jarang kucicipi di Jakarta, seperti es Pisang Ijo, Pisang Ngepe’ yang berlumur kuah durian dan gula merah, dan juga ikan bakar, konro dan sop saudara di Pantai Losari, yang tak kunjung henti berdenyut hingga pagi. Kota ini selalu membuatku damai.

Siang sebelum berangkat tadi, saya telah mengabarkan kedatanganku kepada Heru Prasetya. Malamnya, saya juga menyempatkan waktu mengunjungi Indry (peneliti hukum Interseksi) di hotel Sahid Makassar. Indri berada di kota ini untuk satu kegiatan kantornya (Elsam Jakarta). Sebelum saya ke Makassar, Indry dan saya telah mendiskusikan kemungkinan bagi dia mengunjungi komunitas Tolotang, dengan pertimbangan urgensi komparasi wilayah komunitas lokal sebagai basis kajian hukum. Kami, akhirnya, sepakat bahwa Indry akan ke komunitas Tolotang pada hari Jum’at selepas acara kantornya usai.

Rabu pagi, saya dengan sepupuku, Jeje, seorang pekerja tambak yang lagi ”reses”, bergegas menunggu mobil di jalan raya Kec. Segeri, kab. Pangkep—salah satu tempat komunitas Bissu—untuk menuju ke Amparita. Sebuah mobil Panther ke arah kota Rappang mengangkut kami berdua dengan biaya 20 ribu perkepala. Tidak banyak yang berubah di sepanjang jalan. Rumah-rumah panggung penduduk lokal, dan juga hamparan petak-petak sawah yang kerontang habis panen. Dus, akibat kemarau berkepanjangan hampir-hampir tidak menyajikan pemandangan menarik di sepanjang perjalanan. Akhirnya, setelah kurang lebih dua jam Panther meraung-raung di jalanan, tibalah kami di wilayah Rappang. Oleh sopir kami selanjutnya dioper ke sebuah mobil penumpang sederhana menuju Amparita dengan kondisi jalan yang sudah cukup baik, dibanding beberapa jalanan di pinggiran Jakarta, seperti jalanan di pasar Ciputat, tempatku menetap sekarang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 Km dengan berpeluh ria, maklum mobil kali ini tanpa AC, hanya angin jendela, kami berhenti di depan pasar Amparita yang kokoh seakan menyambut kedatangan kami. Saat itu cuaca benar-benar panas memanggang tubuh. Peluh seakan berlomba untuk keluar dari sekujur tubuh. Angin yang berhembus pun benar-benar kering dan tidak membantu. Dus, kerongkonganku begitu getir dan pahit. Puasa saya dalam bahaya!. Saya membatin, perjalanan di bulan ramadhan ini, yang ditingkahi kemarau panjang, bukanlah perjalanan yang nyaman. Tetapi, waktu yang sudah melewati pukul 13.00. WITENG menguatkan saya melanjutkan puasa, karena kondisiku masih cukup bugar. Ajaran Islam pun sejatinya memberikan kemudahan untuk berbuka puasa, jika benar-benar dalam kondisi yang payah.

Saya mencoba mengontak Heru yang telah berjanji menjemputku di depan pasar. Namun buruknya sinyal mengacaukan komunikasi kami. Saya memutuskan bertanya kepada seorang pemuda, seorang penjual kelontong, di depan pasar ”di mana gerangan rumah Wa’ Unga Setty?”, tempat Heru hampir sebulan ini menetap. Beruntung bagi kami, seorang pemuda menawarkan jasa untuk mengantar kami dengan mobil pick upnya. Sebagai orang yang cukup lama di Jakarta, saya mencurigai dia seorang ojeg yang sengaja menawarkan jasa dengan imbalan. Kami mulai bergerak memasuki jalanan yang tidak beraspal, sekitar 150 M dari pasar. Akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah yang lebih besar dibanding beberapa rumah di sekililingnya. Saya sempat mau membayar tumpangan mobil, tapi dia menampik tawaran saya. Rupanya dia adalah kemenakan dari Uwa’ yang sekarang menetap di daerah Gowa, Makassar. ”1 jutapun kamu mau bayar saya tidak mau terima”, ujarnya sambil ketawa dan berlalu. Saya hanya malu-malu, mendengar celotehnya.

Rumah yang kokoh itu tidak berbeda dengan umumnya rumah khas Makassar. Rumah Panggung. Karena Heru tidak berada di rumah, istri Uwa’, yang menyambut kami secara ramah. Di dalam ruang tamu banyak souvenir yang mengindikasikan pemiliknya sering melancong ke berbagai tempat di tanah air. TV di ruang tamu malah menyiarkan HBO, program film luar negeri yang bisa dijangkau dengan Indovision atau antene parabola. Maju benar orang Tolotang ini!, batinku. Setelah berbasa-basi dengan istri Uwa’, akhirnya Heru datang dengan kondisi yang payah. Rupanya dia baru pulang, dengan berjalan kaki sebelum seseorang menawarinya tumpangan, dari kebun, atau lebih tepatnya peternakan unggas milik Uwa’, yang letaknya cukup jauh dari rumah.

Heru dengan fasihnya menceritakan beberapa hal mengenai komunitas ini. Komunitas ini sangat introvert. Bahkan, untuk menjelaskan hal-ihwal Tolotang hanya melalui Wa’ Unga. Belakangan saya tahu bahwa posisi Uwa’ telah dialihkan kepada seorang Wa’ lain yang kini juga menjabat sebagai anggota DPRD. Heru juga menceritakan kesulitan untuk mengakses beberapa data tambahan mengenai wilayah tersebut, karena birokrasi yang rumit di kecamatan. Inilah yang pernah dikeluhkan oleh Max Weber, birokrasi telah menciptakan ”iron cage” dan pola-pola hubungan yang impersonal. Ironisnya, di era reformasi, pola-pola perijinan penelitian yang teguh berlaku pada masa orde baru, masih diterapkan oleh aparat di level kecamatan. Bagiku ini suatu bentuk pemasungan kreativitas yang sistematik, jika semua penelitian harus memperoleh ijin aparat pemerintahan. Tambahan pula, saya juga membicarakan mengenai isi temuan dan administrasi yang jadi concernku di Tolotang. Tak lupa saya juga membaca field note Heru yang telah tertera rapi di laptopnya.

Wa’ Unga sedang berada di luar rumah. Ia sedang ke kota Pangkajene membelikan obat untuk istrinya, ketika kami datang. Menjelang sore, saya diperkenalkan Heru dengan Wa’ Unga di ruang tengah, sebagai teman dari Interseksi, di Jakarta.

Menurutku, Wa’ Unga orang yang sangat ramah dan memiliki wawasan yang luas, tidak hanya mengenai Tolotang, namun juga masalah-masalah nasional dan internasional. Berikut ini adalah beberapa hal yang mendasar tentang Tolotang yang kudapat informasinya dari Wa’ Unga.

Pertama, Penelitian terdahulu mengenai Tolotang gagal memberikan suatu gambaran yang holistik mengenai Tolotang. Beberapa peneliti sebelumnya sering mencampuradukkan antara Tolotang Hindu (komunitas wa’ Unga) dengan komunitas Tolotang Islam. Kegagalan peneliti sebelumnya karena tidak memperoleh sumber pertama, tetapi mengulangi kesalahan yang sama dengan merujuk kepada buku-buku sebelumnya, yang juga telah keliru. Hanya saja, Wa’ sendiri sebagai juru bicara Tolotang tidak pernah menggugat hal tersebut. Dia mengatakan selama tidak menganggu kami, tidak masalah.

Kedua, orang selalu menyangka bahwa Tolotang terkait dengan La Galigo, kronik orang Bugis dan Makassar, yang banyak dikagumi Barat. Padahal tidak ada kaitannya sama sekali. Hanya saja, menurut Uwa’, mereka memetik hikmah-hikmah kehidupan dari La Galigo. 

Ketiga, telah terjadi minoritisasi dalam hal penunjukan untuk menduduki jabatan-jabatan publik. Ia menceritakan tentang digagalkannya penunjukan kepala sekolah dari komunitas ini. Baginya ini merupakan diskriminasi terselubung.

Keempat, mereka tidak mengenal sistem waris. Biasanya orang tua Tolotang ketika masih hidup mempercayakan anaknya mengelola sawah misalnya, maka dialah yang berhak mengelolanya. Kenyataan ini sering menimbulkan masalah waris antara keluarga. Biasanya diselesaikan oleh Uwa’.

Kelima, untuk menjaga kemurnian Tolotang, mereka tidak memperkenankan putri-putri mereka menikah dengan orang luar.

Keenam, beberapa kali pendeta datang menjanjikan bantuan dana yang besar untuk pengembangan komunitas ini, tapi dengan syarat dalam formulir tersebut disebutkan bahwa mereka beragama Kristen.

Pada sore harinya itu, kami berjalan-jalan melihat daerah Tolotang lebih dekat. Tidak ada yang berbeda dengan komunitas Islam yang menetap di sekitar tempat itu. Tidak ada border antara mereka. Rumah, pakaian, makanan tidak ada yang berbeda. Mereka berbaur di pasar Amparita. Bahkan orang Tolotang juga mengenakan peci dan sarung yang umumnya dipakai oleh orang Muslim. Yang berbeda hanyalah pada keyakinan. Menjelang bedug kami segera mencari makanan berbuka puasa di pasar Amparita. Setelah itu balik ke rumah Wa’. Kami kembali mendiskusikan isu-isu kritis, seperti kasus Poso, Bom Bali dll. Dalam kesempatan ini, Uwa’ menuturkan tentang harapannya agar riset ini dapat memberikan suatu gambaran yang holistik mengenai Tolotang yang selama ini bias. ”Heru paling beruntung dapat informasi yang melimpah dari saya”. Wa’ juga menceritakan bahwa dia sudah tidak mau diwawancarai lagi mengenai Tolotang. Untunglah dia menghargai jaringan kerja dengan Desantara dan Interseksi, yang dianggapanya dapat dipercaya dan merupakan lanjutan dari program sebelumnya. Setelah makan malam kami diajak nonton pesta panen, ”padendang”.

Sesampai di rumah kembali, Wa’ dan kami (saya, Heru dan Jeje) ngobrol mengenai berbagai hal hingga larut malam. Kami pamit tidur, ketika mata sudah tak konpromi lagi. Menjelang sahur kami dibangunkan untuk sahur. Menurutku Tolotang sangat toleran dan penuh kedamaian. Tentunya keyakinan mereka yang mengajarkan mereka seperti itu. Saya tiba-tiba teringat ucapan seorang warga Tolotang yang membisiki saya di pesta panen semalam, ” “Katakan pada orang-orang di sana bahwa di sini ada agama yang hebat”.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi