Catatanku sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara

Sabtu, 7 Oktober 2006

Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait –salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari hari senin, 9 Oktober 2006. Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan. Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek, pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.

***

Aku datang di Medan siang, sekitar Jam 11.00. Uzair menjemput saya di bandar Udara Polonia. Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. Karena di pesawat tiba-tiba badanku lemas, dan kepalaku nyaris pusing. Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan. Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya. Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. Tidak ada rasa canggung, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja . Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. Biasanya warung-warung muslim tetap dibuka, tapi sedikit ditutupi, agar kelihatan tidak mencolok.

Aku dan Uzair mampir beberapa jam di salah satu warung di bandara Polonia. Diselingi minum dan makanan kecil saya mendiskusikan berbagai kesulitan temuan-temuan Uzair di lapangan. Saya menegaskan pentingnya fokus penelitian di Medan, dengan mengambil kasus spesifik; konflik peribadatan antara Parmalim dengan kelompok gereja Kristen di Medan (HKBP). Selain data dan hasil penelitian ini sangat berarti bagi usaha-usaha advokasi di kemudian hari, penelitian spesifik mengenai masalah aktual yang dihadapi komunitas minoritas seperti Parmalim menurutku masih sangat sedikit. Bahkan Uzair juga melihat sendiri selama penelusuran hasil-hasil penelitiannya mengenai parmalim. Nyaris seluruh penelitian mengenai Parmalim sebagian besar masih menggunakan perspektif antropologi lama. Mereka lebih banyak menguraikan aspek-aspek kebudayaan spesifik Parmalim dan berbagai fenomena kebudayaan yang selalu diminati sebagai usaha untuk melihat “the other”. Padalah “the other” ini dalam tradisi modernisasionist (para penganjur teori modernisasi) selalu dilihat dalam perpsektif yang negatif, peyoratif; irasional, primitif, tidak beragama, dll. Kita tahu sebagian penelitian mengenai Parmalim dihasilkan pada masa Orde Baru; suatu rezim yang begitu giat menerapkan teori-teori modernisasi terutama dalam melihat aspek-aspek kebudayaan di Indonesia yang sangat beragam itu.

Dalam kasus Parmalim saya kembali mengingatkan kepada Uzair untuk lebih kritis melihat kasus konflik peribadatan ini. Konflik ini berada di wilayah perkotaan dimana hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lain pasti dipenuhi oleh pergesekan yang tinggi, persaingan bahkan perkelahian diantara mereka. Konflik-konflik komunal di perkotaan mudah terjadi terutama dalam konteks perebutan lahan (ruang). Konflik keruangan inilah yang menarik untuk dilihat lebih jeli dalam konteks konflik peribadatan Parmalim. Karena seperti yang sudah dituturkan baik oleh Maruli Sirait maupun Monang Naipospos (keduanya adalah elite/ petinggi komunitas Parmalim yang berkiblat di Hutatinggi), masalah pembangunan peribadatan Parmalim di tempat-tempat lain tidak mendapatkan pertentangan keras dari kelompok lain. Misalnya Maruli Sirait menceritakan pembangunan di Lumbanjulu, dekat danau Toba, nyaris tidak ada perlawanan dan bantuan dan dorongan didapatkan dari beberapa komunitas agama lain. Kenapa di Medan kita dilawan bahkan didemo oleh orang lain? Tanya Bang Rait kesal. Kekesalan Bang Rait ini sudah sering diutarakan kepadaku. Aku memang sudah berkali-kali bertemu dia, dan mencoba untuk terus menyemangati apa yang selama ini menjadi persoalan di Parmalim.

Dari beberapa data yang kita dapatkan dari Bang Rait ini pula aku melihat kasus konflik peribadatan ini sebagai soal spesifik. Spesifik karena areanya berada di wilayah perkotaan. Jika penelitian kita sebelumnya mengenai komunitas lokal berada di remote area, suatu daerah pedalaman yang jauh dari pusat perkotaan, kini masalah komunitas Parmalim, yang pusatnya ada di Hutatinggi ini malah kesandung sial di kota Medan. Lebih-lebih yang menarik, proses terakhir dari eksekusi untuk melarang pembangunan ini datang melalui keputusan dari dinas tata kota Medan. Dalam hati saya ini kasus yang sungguh aneh, namun benar-benar terjadi. Bagaimana mungkin kasus yang semula sudah jelas berbasis masalah keagamaan tiba-tiba harus dieksekusi oleh lembaga yang sama sekali tidak berwenang dengan isu keagamaan ini. Maka berdasarkan atas data-data ini aku sendiri mengasumsikan ada dua hal yang berada di balik seluruh proses pelarangan tempat peribadatan Parmalim ini.

Pertama bisa jadi yang terjadi di birokrasi sedemikian rupa yang memungkinkan konspirasi atar kelompok-kelompok di birokrasi dan para elite agama (kristen) untuk mencegah kehadiran tempat-tempat ibadah parmalim di medan. Kedua, mungkin teori konspirasi ini perlu kita kesampingkan. Tapi yang terjadi adalah ketidaktahuan dan ketidakpahaman orang-orang di dinasi tata kota sendiri. Ketidaktahuan ini maksud saya adalah ketololan yang dipelihara oleh pejabat dinas tata kota untuk mengekesekusi tempat peribadatan. Apakah eksekusi ini dengan mudah bisa diberikan hanya karena alasan teknis adminsitratif? Bukankah menurut pengakuan orang Parmalim sendiri, seluruh prasarat administratif sudah dipenuhinya?

Jadi yang menarik adalah kenapa konstruksi ideologi keagamaan bisa mempengaruhi dan mengarahkan pejabat teknis seperti dinas tata kota???? Sebagai soal penelitian ini sangat menarik, terutama penelusuran ini akan membuka tabir gelap yang selama ini menyelubungi berbagai pejabat di birokrasi. Sejauhmana sesungguhnya, sikap ideologi keagamaan ini bisa tetap terpelihara dalam keputusan-keputusan publik di pemerintahan. Dalam konteks ini saya teringat dengan sinyalemen Bang Maruli Sirait mengenai cerita kebesaran Soekarno. Menurut dia, Soekarno sudah baik dan begitu cemerlang bisa menciptakan falsafah bangsa; “Bhinneka Tunggal Ika? Kenapa pada masa sesudahnya falsafah ini justru tidak berkembang dimatikan oleh kepentingan-kepentingan tertentu?? Nampaknya Bang Maruli Sirait juga lupa, bahwa selama Soekarno menjabat menjadi presiden sekitar tahun 1955an, dia toh tidak mampu mengakomodasi desakan dari kelompok Kejawen masa itu yang meminta supaya Kejawen dijadikan salah satu agama selain; Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Agama nampaknya terlalu penting untuk dikesampingkan sebagai salah unsur penting bagi proses perubahan di Indonesia.

Dalam konteks hubungan antara konstruksi ideologi keagamaan, sistem tata kota dan penataan ruang di perkotaan, serta hubungan-hubungan yang terjadi antar komunitas etnis, dan agama di kota Medan inilah nampaknya merupakan kasus yang sangat penting untuk ditelusuri kembali. Disini saya kira kasusnya memang tidak spesifik mengenai komunitas lokal Parmalim. Tapi, saya kira sudah menjurus kearah penataan politik kewargaan di Indonesia. Politik mengenai kebudayaan yang mengatur dan mengelola bagaimana hubungan antar kebudayaan (agama, etnis) harus ditempatkan dalam konteks sistem kewarganegaraan di Indonesia. Inilah pentingnya Uzair memilih medan dengan kasus konflik peribadatan di Air Bersih Medan.

Selain penting untuk memilih wilayah penelitian di kota Medan, saya rasa memang terlalu spekulatif untuk mendorong Uzair melakukan penelitian di tempat yang sama sekali jauh dari perkotaan, dan bahkan kita sendiri tidak mempunyai kontak perorangan di daerah ini. Dalam diskusiku dengan Uzair beberapa waktu yang lalu memang sempat ada rencana untuk mengambil fokus penelitian di daerah Barus, suatu wilayah pantai di Sumatera bagian Barat yang belum pernah disentuh dan diteliti oleh orang lain. Barus memang sudah banyak dikenal, bahkan aku pernah membaca sedikit mengenai profil kota ini di suatu koran nasional di Jakarta. Beberapa buku juga sudah menyebut kebudayaan dan sejarah kota ini. Karena referensi-referensi yang sudah aku terima mengenai kota ini, di benakku sudah membayangkan barus pastilah kota multikultural; disana ada beragam etnis yang hidup berdampingan meskipun letaknya jauh dari ibukota propinsi. Di kota inilah hidup beberapa keluarga yang menganut agama parmalim.

Namun rencana ini kita urungkan. Aku sudah membawa beberapa surat dari HKBP yang berisi protes keras pembangunan tempat ibadah parmalim. Dalam surat itu juga dilampirkan beberapa surat pernyataan warga dan surat dari TR/RW setempat. Distempel resmi atas nama lembaga publik. Surat ini kubawa atas anjuran Uzair yang sampai hari ini belum sempat bertemu dengan Maruli Sirait, dan apalagi berbicara panjang lebar dengan Bang Rait __ panggilan Maruli Sirait. Surat-surat ini sendiri dikirim oleh Bang Rait yang dibantu oleh teman-teman Madrasah Institute ke desantara beberapa bulan yang lalu. Surat ini sengaja disebarkan oleh Bang Rait supaya mereka (komunitas Parmalim di Medan) mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Dari bacaan dan diskusiku dengan Uzair di bandara ini semakin meyakinkan uzair untuk fokus dengan kasus konflik ini. Lebih-lebih selama beberapa hari Uzair juga masih bermukim di Medan, dan belum sempat mencari dan menelusuri data mengenai Parmalim di tempat lain.

Aku terus menjaga suasana diskusi dengan Uzair agar Uzair semakin mendaptkan berbagai masukan dan referensi yang saya rasa sangat berguna untuk mempertajam penelusuran data, dan analisisnya di kemudian hari. Diskusi terus berlangsung dari satu topik ke topik berikutnya, tidak ada batas formal dan memang aku sangat tidak menyukai formalitas. Hari ini aku dan Uzair menrencanakan bertemu dengan dua orang; Zulkifli Lubis, dan Maruli Sirait. Zulkifli Lubis adalah kepala jurusan Antropolgi Universitas Sumatera utara, dan Maruli Sirait adalah kepala perkauman Parmalim kota Medan. Maruli Sirait adalah adik ipar Monang Naipospos, alias Raja Marnakok, pemimpin besar komunitas Parmalim yang berkiblat di hutatinggi.

Beberapa jam kemudian aku dan Uzer bergegas ke luar bandara menuju penginapan. AKu mampir sebentar ke penginapan Uzair. Dia menginap di tempat menginap Selwakumar. Di suatu kantor pengacara yang merangkap sebagai kantor LSM yang mengurusi masalah pertanahan. Saya senang Uzair sudah bisa bergaul dengan teman-teman Selwakumar. Beberapa diantaranya adalah mantan aktifis Muslim Institute (MI), yang dulu pernah bekerjasama dengan Desantara menyelenggarakan diskusi kebudayaan di Pulau Samosir Sumatera Utara.

Rencananya saya menginap di Penginapan Sudirman, wisma yang pernah ditempati Uzair sebelumnya. Ternyata gagal karena sudah penuh. Akhirnya aku menginap di penginapan .Cheril Hotel, penginapan yang tidak jauh dari wisma Sudirman, namun harganya lebih mahal, Rp. 130.000 per kamar. Suasananya sangat bising, ada bangunan di sebelah yang sedang direnovasi. Kamarnya pun sangat kecil, dan tidak terlalu rapi. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mencari penginapan lagi di tempat lain. Karena, aku harus mempersiapkan beberapa agenda penting untuk membantu penelitian Uzair.

Di hotel ini aku berdiskusi panjang dengan Uzair mengenai perjalanan penelitiannya. Selama dua minggu lebih Uzair sendiri masih kelihatan gamang untuk menentukan fokus penelitian antara penelitian Parmalim sebagai suatu komunitas dengan berbagai dinamikanya, dengan fokus ke masalah aktual yang saat ini dihadapi oleh parmalim di Air Bersih, Medan. Meskipun saya tahu bahwa Uzair sudah mulai memikirkan kemungkinan fokus dengan penelitian masalah Parmalim di kota Medan, tapi saya melihat Uzair terlalu lambat mengambil tindakan taktis dan efisien untuk mendapatkan sejumlah data yang panting, dan menghubungi tokoh-tokoh kunci di Medan Sumatera Utara. Saya bisa memahami ini, karena proses untuk mendapatkan data memang tidak mudah untuk dipecepat sesuai dengan harapan kita. Apalagi pengalaman Uzair di lapangan terlampau minim, dan lebih-lebih Uzair hanya mengandalkan jaringan Desantara di Sumatera utara.

Sampai hari Sabtu, 7 Oktober ini Uzair ternyata belum bisa menghubungi Maruli Sirait, tokoh kunci yang dapat memberikan data penting mengenai kasus parmalim di Air Bersih Medan Sumatera Utara. Berkali-kali dikontak via telepon (HP) bang Sirait kelihatan mengulur-ngulur waktu. Pernah suatu kali Uzair bertekad ke rumah Bang Rait, ternyata dia tidak ada di rumah, dan belum pulang dari kerjanya. Sebenarnya saya menangkap gelagat tidak enak di kepala Bang Sirait ini. Saya dan Uzair bertanya-tanya mengenai tokoh Parmalim di Medan ini. “Jangan jangan memang Uzair masih belum bisa diterima di kalangan mereka”, begitu pikiran saya malam ini. Tapi saya mengurungkan niat untuk berprasangka buruk ke orang lain. Saya dan Uzair pergi Zulkifli Lubis, kepala jurusan antropologi Univ. Sumatera Utara.

Di rumah Bang Zul – panggilan saya ke Zulkifli Lubis – saya diterima dengan baik dan hangat. Saya berbicara dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan mengenai sejarah dan dinamika kebudayaan di masyarakat Batak. Bang Zul adalah marga Batak dari Tapanuli Selatan. Dia adalah muslim yang taat, sama seperti keluarga batak lain di Tapanuli Selatan. Bang Zul adalah sosok yang rendah hati, bicaranya datar dan menyenangkan. Namun begitu kita mulai mendiskusikan hubungan antara Tapanuli Selatan dan Utara, saya melihat posisi Bang Zul yang lain. Seperti orang-orang Tapanuli Selatan pada umumnya, dia menolak dan enggan dihubungkan dengan Si Raja Batak, sosok yang dianggap sebagai dinasti pertama yang membangun kemargaan Batak. Meskipun demikian, di Batak, baik di Tapanuli Utara maupun Selatan sebagian besar masyarakatnya sangat taat memegang teguh kemargaannya. Setiap anak yang kelak lahir dewasa pasti akan diberitakan oleh orang tuanya mengenai silsilah dan hubungan darah mereka berdasarkan marga. Bang Zul misalnya, diberitahu oleh ayahnya – berdasarkan catatan keluarga – posisi generasi dia sudah sampai kepada generasi keberapa dari marga Lubis. Kepada anak Bang Zul, dia juga pasti akan memberi pengetahuan seperti ini. Kenyataan ini berlaku bagi seluruh orang-orang Batak. Tidak peduli apakah di berada di perantauan atau bukan. Pernah suatu kali Bang Zul didatangi oleh salah seorang warga negara negara malaysia keturunan Batak. Dia menceritakan bahwa dia berasal dari marga nasution, dan berniat menelusuri kembali asal-usul keluarganya di Sumatera. Dia (bang Zul) diminta membantu menelusuri marganya yang masih tersisa di di Sumatera Utara. Jadi, betapa penting makna genealogi (asal-usul berdasarkan silsilah darah) ini bagi orang-orang Batak.

Mungkin penelitian yang belum dilakukan adalah dari mana dan mengapa makna genealogi ini begitu penting di dalam tradisi dan kebudayaan orang Batak. Setahuku kebudayaan lain seperti Melayu di Riau tidak terlalu “peduli” dengan sistem hubungan darah ini. Semisal Hassan Yunus, salah seorang keturunan dari Raja Ali Haji (kerajaan Riau Lingga) bahkan suka marah jika namanya dihubunghubungkan dengan silsilah nenek moyangnya.

Maka hampir semua penelitian mengenai Batak memang tidak bisa lepas dari referensi mengenai tradisi batak dengan sistem marganya ini (dikenal sebagai Parhudondom). Orang-orang Batak juga masih memegang tradisi perkawinan berdasarkan hubungan darah ini. Mereka membangun sistem kekerabatan, memperkuat sistem ini melalui perkawinan antar marga. Masuknya modernisasi melalui zending (kristenisasi) dan islamisasi nampaknya tidak melunturkan sikap mereka di dalam memelihara dan mempertahankan sistem marga ini. Modernisasi melalui agama ini memang menimbulkan berbagai dampak luar biasa dan perubahan yang drastis dalam kehidupan orang-orang Batak. Namun sistem dan tradisi yang berubah tidak melunturkan jaringan kekerabatan berdasarkan sistem marga ini.

Bang Zul bahkan menyarankan supaya penelitian Uzer mengenai konflik tempat peibadatan Parmalim di air bersih ini dihubungkan dengan relasi antar marga di kota Medan. Dalam beberapa kasus konflik di kalangan orang-orang Batak, masalah marga seringkali dijadikan pemicu dan benteng perlawanan antar satu kelompok dengan kelompok lain. Hubungan kekerabatan ini juga bisa bersifat positif yakni memediasi kelompok-kelompok yang bertikai jika dikalangan kelompok yang bertikai itu masih dekat hubungan marganya. Aku rasa ini usulan menarik, asal Uzair tidak terlalu perlu tergerus ke dalam tradisi “kulturalis”. Karena seperti yang sudah aku diskusikan dengan Uzair sebelumnya, masalah perkotaan, atau tepatnya sosiologi perkotaan jangan-jangan sangat sesuai untuk melihat kasus konflik ini. Saya kira memang terlalu cepat menyimpulkan, lebih-lebih dengan hanya melihat fakta-fakta yang terlalu sedikit. kita perlu menunggu pencarian data Uzair secara lebih baik. Masih banyak data yang harus dicari dan ditelusuri lebih jauh untuk melihat potret yang lebih utuh mengenai kasus konflik ini.

Aku dan Uzair berpamitan dengan Bang Zul setelah kita dijamu dengan hidangan berbuka puasa – meskipun kita tidak puasa hari ini. Selama perjalanan menuju rumah Maruli sirait pikiran kita dipenuhi oleh berbagai hal mengenai Bang rait ini. Kenapa Uzair begitu susah untuk mendapatkan data, bahkan bertemu saja belum juga kesampaian. Apakah orang-orang parmalim sudah tidak percaya lagi dengan orang-orang luar yang berniat ingin membantu mereka? Apakah sudah sedemikian parah citra LSM di mata orang-orang komunitas lokal, sehingga menimbulkan antipati yang begitu mendalam? Aku terus mendiskusikan dengan Uzair dan mencari berbagai kemungkinan-kemungkinan jika memang nanti juga susah bertemu dengan bang Rait.

Begitu sampai di depan rumah, seluruh pikiran kita sebelumnya mengenai Bang Rait ini buyar seketika. Kita disambut hangat oleh tuan rumah. Di rumahnya yang asri saya disambut kerabat-kerabatnya dari Parmalim. Kebetulan malam ini ada acara perpisahan putrinya dengan teman dan kerabat dekatnya. Putrinya yang dipersunting oleh putra batak dari Lumbanjulu telah bekerja di Jakarta. Jadi mereka ingin merayakan perpisahan ini sebelum ia dan suaminya bertolak ke Jakarta, mengikuti sang suami yang sudah bermukim di sana beberapa tahun yang lalu.

Percakapan kita dengan bang Rait ditemani dengan beberapa kerabatnya. Bang Rait dengan ramah mengenalkan saya dan Uzair dengan kerabat dan kawan lain sekomunitas Parmalim. Bang Rait bilang saya dan Uzair dari Desantara, dan dengan lancar dia menguraikan kegiatan-kegiatan Desantara yang pernah dia ikuti. Beberapa orang yang dia kenalkan kepada kami kebetulan juga sudah pernah saling jumpa sebelumnya. Sayangnya saya tidak bisa mengenalinya satupersatu. Terus terang dalam suasana seperti ini agak merasa kesulitan untuk mengenalkan lebih jauh mengenai interseksi. Uzair juga tidak bisa berbuat banyak. Kami saling mamahami, bahwa terlalu beresiko mengenalkan suatu lembaga baru LSM, ketika suasana orang-orang Parmalim sendiri sudah begitu pahit dan antipati dengan pengalaman masa lalu ketika bekerjasama dengan LSM. Saya bisa menyadari dan memakluminya, terutama memang harus diakui tradisi dan kerja-kerja LSM di Medan sebagian besar buruk.

Saya langsung mendiskusikan dan meminta pendapatnya sehubungan dengan rencana penelitian Uzair yang akan mengambil kasus Air Bersih ini. Sambil berbicara dengan nada yang agak tinggi saya menekankan betapa penting penelitian seperti yang dilakukan Uzair. Saya memang sengaja mengambil inisiatif untuk langsung mendiskusikan kepada pangkal persoalan yang saat ini dihadapi oleh orang-orang Parmalim. Aku sengaja melakukannya biar mendapatkan kesan langsung dari mereka, sehubungan rencana penelitian Uzair ini. Nampaknya mereka menyambut dengan baik. Namun beberapa keluhan juga mereka utarakan sehubungan dengan kerja-kerja LSM yang Cuma mengumbar janji. Aku dan Uzair sudah menyadari pernyataan ini pasti bakal muncul dalam percakapan kita. Aku sendiri tidak pernah menolak keluhan-keluhan ini, lontaran mereka yang tajam dan bahkan menyakitkan kita terima dengan lapang dada. Tapi di sela-sela diskusi itu saya juga menyampaikan beberapa pekerjaan teman-teman LSM, khususnya yang berkiprah di bidang isu kebebasan beragama yang sudah berinisiatif untuk bertemu dengan para DPR yang mendiskusikan. Sambil saya juga melihat keterbatasan kerja-kerja LSM, saya tetap menyatakan dengan argumentasi yang mungkin bisa meyakinkan mereka bahwa kerja-kerja LSM ini tetap perlu – apapun kekurangannya. Saya mengatakan bahwa sejak tahun 1970an kasus-kasus mengenai kebebasan beragama yang dibawa ke lembaga peradilan tidak satupun yang dimenangkan perkaranya. “Jadi, Parmalim tidak seharusnya berkecil hati, kaena banyak temannya”, kata ku kepada mereka. “Kita menghadapi tembok yang begitu tebal dan bebal, jadi kita harus terus bekerja sama”, kataku kemudian sambil menceritakan berbagai persoalan mengenai komunitas lokal di Indonesia yang tidak cukup diselesaikan hanya melalui proses hukum.

Suasana teman-teman Parmalim di dalam pertemuan ini memang masih dipenuhi perasaan marah dan kecewa. Saya bisa memaklumi ini. Tapi sebagai orang luar dengan tujuan yang spesifik aku harus fokus dengan rencana semula. Aku terus mengajak diskusi sampai larut malam, demi mencairkan situasi dan membuat hubungan kita (khususnya dengan Uzair) dengan teman-teman Parmalim lebih tidak berjarak. Akhirnya Uzair mendapatkan seluruh data yang diharapkan. Uzair mendapatkan surat-surat terbaru dari pejabat-pejabat daerah, yang isinya bernada memaki dan tidak setuju dengan rencana pembangunan peribadatan Parmalim. Surat ini dikumpulkan dengan rapi oleh Maruli Sirait. Kita dengan bebas membaca surat-surat ini dan memfotokopinya. Uzair nampak bergembira karena apa yang segera ingin dia dapatkan sudah ada di depan mata.

Dalam perjalanan pulang ke penginapanku aku bahkan mengatakan kepada Uzair, penelitian yang hanya melihat data dari surat-surat keputusan ini juga sangat menarik. Dalam riset etnografi, paradigma posstrukturalis juga melihat bagaimana surat-surat, tulisan, dan hasil rekaman perbincangan mengenai tema yang kita angkat dapat kita jadikan sebagai suatu lapangan penelitian (fields) itu sendiri. Tentu saja percakapan ini saya lakukan sambil bercanda, sekadar mengingatkan betapa surat-surat seperti ini begitu penting untuk dikesampingkan. Di dalamnya kita bisa melihat konstruksi negara yang terpatri dalam teks-teks surat itu. Misalnya, salah seorang pejabat lurah menyatakan dalam surat resminya yang turut mendukung pelarangan pembangunan tempat ibadah Parmalim, karena menganggap ajaran dan sistem keagamaan mereka sebagai sesuatu yang asing? Sungguh aneh bukan?

Anggota Tim Supervisi Penelitian Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3. Peneliti Yayasan Interseksi