Cerita dari Jakarta sampai Marisa

kantor_bupati_pohuwato

1 April 2014. Hari ini merupakan pertama kali saya datang ke kota Gorontalo. Pesawat dari Jakarta pukul 07.15 berangkat dari Bandar udara Soekarno-Hatta terlebih dulu mengantar para penumpang ke Kota Makassar. Setelah 25 menit transit di Makassar, pesawat langsung melaju ke Kota Gorontalo. Tiba di Bandar udara Sutan Jailuddin Gorontalo, hanya pesawat saya yang tiba di bandara kecil ini. Di sebelah bandar udara terdapat hamparan rumput dan ternak-ternak sapi serta perbukitan. Setelah menggambil koper, saya menelepon Bang Zulham untuk menginformasikan keberadaan saya.

Dengan taksi mobil avanza, saya dan Pak Acoon (supir taksi) deal mengantar saya ke Jalan Budi Utomo, di pusat kota Gorontalo untuk mencari penginapan. Ia merekomendasikan suatu nama penginapan murah dan bersih, yaitu “Hotel Salsabila”. Ternyata, dalam perjalanan, saya tidak sendiri berada di dalam mobil. Setelah saya naik mobil dan mengambil bangku depan, teman-teman supir itu naik sejumlah empat orang. Tadinya saya sempat berpikiran buruk. Namun, selama perjalanan mereka ternyata sopan, ramah, dan ramai sendiri.

Perjalanan dari bandar udara ke pusat kota sekitar 1 jam. Pemandangan selama perjalanan merupakan gambaran kota kecil pinggiran dan melintasi danau Limboto. Rumah-rumah warga terletak di pinggir jalan dan ada beberapa kantor berbentuk rumah biasa, selebihnya hamparan kebun kelapa. Becak motor (bentor) berseliweran di jalan mengangkut anak-anak sekolah SMP yang nampaknya baru pulang sekolah. Selama di perjalanan teman-teman bapak supir ini asik mengobrol macam-macam. Salah satunya adalah kegiatan yang hangat yang akan digelar se-Indonesia. Pemilihan calon legislatif.

Di perjalanan, salah seorang penumpang mengatakan bahwa Fadel akan menjadi gubernur Gorontalo lagi. Ketiga temannya bertanya kepada yang punya berita ini, dan sang pencerita berhasil meyakinkan teman-temannya. Mereka bilang, sejak Januari jarang pengunjung yang datang ke Gorontalo. Dilihat dari orderan taksi mereka, misalnya, sebulan hanya 20-30 kali mengantar orang. Dulu waktu jaman Fadel, katanya banyak investor asing yang datang, jadi banyak pula kunjungan kemari yang dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Salah satu teman mereka bertanya saya berasal dari mana. Begitu saya bilang saya berasal dari Jakarta, mereka bertanya apakah saya mendukung jika Jokowi jadi presiden? Saya hanya ketawa-ketawa saja, lalu bertanya pendapat mereka. Setelah pertanyaan itu, mereka berempat lalu berdebat sendiri dan saya hanya sebagai pendengar. Orang yang bertanya pada saya ternyata adalah orang Jakarta yang punya rumah di daerah Senen dan sudah 10 tahun tinggal di Gorontalo. Ia bilang memang di Jakarta ada perubahan, tapi rumahnya masih saja banjir.  Jadi menurutnya Jokowi terlalu terburu-buru mencalonkan diri. Satu diantara tiga teman lainnya, ada yang bersilang pendapat dengannya.

Temannya yang orang asli Gorontalo mengaku menyimak setiap berita tentang Jakarta mengatakan kalau nanti diganti Ahok, kan Jakarta bisa bagus, sementara Jokowi jadi presiden. Ia mencontohkan satu kasus yaitu salah satu walikota Jakarta dipecat oleh Ahok yang tertidur pada saat rapat. Di antara pembicaraan mereka berempat, mereka mengagumi Ahok yang memiliki sikap khas sebagai penjabat daerah. Salah satu teman mereka bilang bahwa karakter Ahok yang keras memang bagus. Obrolan mereka diakhiri dengan salah satu orang yang bertanya pada teman-temannya, “nanti kalau Jokowi jadi presiden, mau gak ya ke pelosok-pelosok kayak disini?”. Salah satunya meyakinkan teman-temannya, “maulah, dia karakter orangnya begitu kok”. Selama pembicaraan dengan mereka, saya tidak terkendala bahasa. Mereka masih menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Sulawesi tetapi ada beberapa kata dari bahasa lokal yang saya tidak mengerti sama sekali.

Keesokan paginya, saya langsung menyetop bentor dan menawar harga untuk keliling kota Gorontalo.Mulai dari arah Selatan, saya pergi ke pelabuhan Gorontalo. Disana hanya ada sebuah kapal yang memuat logistic, selebihnya ada kapal nelayan dan kapal cepat (speedboat) untuk keperluan wisata. Setelah itu saya melintasi tempat orang biasa berekreasi yang dinamakan tangga 2000, lalu masuk ke pemukiman penduduk pinggir laut yang dekat pelabuhan yang katanya itu adalah lokasi prostitusi di Gorontalo. Lokasi prostitusi itu bercampur dengan pemukiman warga dan warung-warung pinggir pelabuhan.

Menurut supir bentor, tempat tersebut banyak dipunyai oleh orang Gorontalo yang pekerjanya banyak dari Manado. Karena ia pernah beberapa kali punya penumpang perempuan-perempuan yang bekerja di sana. Ketika saya bertanya nama lokasinya, ia tidak tahu, katanya memang tidak ada istilahnya. Tapi biasanya orang-orang yang memang mau ke sana, sudah tahu lokasinya, yaitu setelah tangga 2000, di ujung pelabuhan. Tadinya tempat tersebut banyak mendapat protes dari warga, tetapi entah mengapa dapat terus berjalan bisnisnya. Ketika saya tanyakan, “adakah di Gorontalo komunitas yang suka sweeping, seperti FPI ke tempat-tempat seperti itu?”. Ia mengatakan sejauh ini tidak ada yang seperti itu di Gorontalo, tidak ada islam-islam fanatik seperti itu.

Di dekat pelabuhan ada sebuah Klenteng Cina. Rata-rata pedangang di sini adalah orang Cina, dan Selatan (sebutan mereka untuk orang dari Makassar). Orang Gorontalo sendiri banyak yang memilih jadi PNS. Pada jalan-jalan tertentu dekat lapangan taruna, terdapat gereja-gereja. Ketika saya tanyakan, mengapa komplek gereja berdekatan dan berada di satu jalan, Kata supir bentor, “orang Gorontalo tidak ada yang tidak muslim”. Di jalan tersebut banyak gereja karena disana merupakan tempat militer. Sebelum Gorontalo berpisah dengan sulut, banyak para militer yang orang Manado.

Penghasilan supir bentor sekitar 600 ribu sebulan. Itu tidak cukup untuk hidup disini, katanya. Memang ada jamkesmas dan sekolah anak gratis sampai SMP. Namun, harga sembako dirasa sangat mahal. Bantuan BLT yang seharusnya setahun 4 kali hanya ia terima sekali sebanyak 300rb di tahun 2013 melalui antrian di kantor pos yang amat ramai orang. Gubernur Gorontalo yang sekarang adalah seorang pengusaha kontraktor dan menguasai usaha kontraktor di seluruh Gorontalo. Tadinya ketika hujan sehari, biasanya jalan-jalan Gorontalo ada yang banjir, namun sekarang sudah mulai berkurang.

Selama di perjalanan saya melihat konvoi partai dari caleg Hanura. Mereka menyetop kendaraan para warga untuk dapat berjalan-jalan di kota. Sang caleg berdiri di sebuah kendaraan terbuka sambil melambai-lambaikan tangan seperti miss universe. Lalu para manusia pendukung kampanye meramaikan arak-arakan sang caleg dengan memutar musik yang kencang ditengah hari yang terik ini. Menurut supir bentor, ia sering ditawari untuk pawai, tetapi ia tidak mau dan ingin idealis. Tarif untuk pawai sebesar 50 ribu untuk setengah hari.

Di perjalanan, supir bentor bercerita mengenai kota Gorontalo yang sekarang sedang ada masalah tentang nama jalan yang sedang diubah-ubah oleh walikota yang baru. Contohnya jalan Agus Salim yang sekarang jadi H.B Jassin. Hal ini banyak menimbulkan masalah, seperti seorang temannya yang akhirnya bermasalah dengan kebijakan tersebut, karena untuk kepemilikan rumah harus mengurus lagi. Katanya, alasan walikota merubah nama jalan agar dapat mengadopsi nama tokoh-tokoh dari Gorontalo. Kebijakaan itu berasal dari walikota sekarang yang berasal dari non-partai (independen).

Sekarang, walikota Gorontalo masih dijabat oleh penjabat sementara karena ada konflik akibat pemilihan walikota maret kemarin. Si walikota independen ini yang katanya dulu adalah seorang guru, mengalami permasalahan pemilihan suara dengan lawannya dari Partai Golkar. Menurut bang Zulham, dulu si independen ini adalah orang Golkar, namun ia ada masalah dengan Golkar dan Fadel. Jadi sekarang ia menjadi calon independen yang melawan partainya dulu. Konflik pemilihan ini dikarenakan si calon independen dilaporkan memiliki ijazah palsu tingkat SD, karena ketika ia masih bersekolah, hanya ada ijasah SR. Sekarang, si calon independen meminta bantuan Yusril untuk memenangkan perkaranya.

Untuk kedua kalinya, saya ditanya mengenai Jokowi di Jakarta oleh orang Gorontalo. Ketika saya mengatakan, kalau hubungan dengan partai, sepertinya saya suka Jokowi, tapi bukan partainya. Si Supir bentor langsung menimpali bahwa Fadel Muhammad di sini seperti Jokowi di Jakarta. Warga menyukai orangnya, bukan partainya. Ketika melihat poster salah satu calon presiden, supir bentor langsung mengoceh kalau pemilihan presiden ia akan mendukung WIN-HT karena istri Wiranto adalah orang Gorontalo. Dia rasa orang Gorontalo yang lain sama dengannya, karena masih ada rasa memilih atas dasar sama-sama orang Gorontalo.

Dari pembicaraan saya dengan supir bentor dan supir taksi kemarin, saya merasa isu politik di Gorontalo adalah milik semua orang. Kata Pak Rahman, di Gorontalo, orang-orang dari semua kalangan sering bicara politik di warung-warung kopi pada pagi dan sore hari. Setelah bertemu Bang Zulham, ia mengatakan bahwa para supir bentor di Gorontalo sering membaca Koran setiap pagi di perempatan. Sambil menuggu penumpang, banyak para tukang bentor yang mengisi hari-harinya dengan membaca koran. Namun sayangnya, koran di Gorontalo yaitu Radar Gorontalo dan Gorontalo Pos merupakan produk dari Jawa Pos yang sudah banyak berita-berita pesanan penjabat.

(3 April 2014) Pada pagi hari saya bergegas ke Universitas Negeri Gorontalo untuk mencari penelitian yang berkaitan dengan kota Marisa, Pohuwato ataupun jagung. Ketika pertama kali datang, dengan santun saya berkata bahwa saya pengunjung umum. Petugas front office perpustakaan menyuruh saya membuat kartu anggota dulu agar dapat masuk. Setelah saya meletakan tas di tempat penitipan yang disediakan, yang tempatnya tidak ada penjaga maupun lemari. Dengan mengambil semua barang berharga saya, lalu mendaftar kartu anggota perpustakaan. Petugas itu menanyakan pasfoto untuk kartu anggota. Ketika saya bilang tidak bawa, si petugas langsung bilang bahwa tidak bisa masuk.

Menurut pengalaman saya, untuk orang umum, masuk ke perpustakaan universitas (khusus) harusnya disediakan tanda ‘pengunjung’ dan membayar sejumlah uang yang tidak akan lebih dari 10.000. Itulah yang terjadi jika saya mengunjungi perpustakaan UI dan IPB. Namun, sepertinya tidak ada solusi dari petugas front officenya. Dengan pura-pura menelepon seseorang, saya dengan tegas bilang kepada petugas itu bahwa saya peneliti dari Jakarta, saya bawa surat pengantar, dan saya dapat ijin dari seorang guru besar di UNG yang bekerja sama dengan Yayasan Interseksi. Begitu mendengar nama guru besar tersebut, sang petugas front office langsung menyodorkan saya buku tamu. Begitu saya ingin menunjukan surat pengantar, ia bilang “tidak usah bu, saya pikir ibu warga sekitar sini”.

Di tempat skripsi dan tesis, saya tidak menanyakan apakah sudah ada mesin pencari otomatis, ternyata juga tidak ada. Satu lemari penuh tesis saya bongkar-bongkar dan tidak menemukan yang saya cari. Untuk skripsi saya cari secara acak tetapi tetap tidak ada. Tanpa membuang waktu saya pulang ke kosan dan segera menuju Kota Marisa.

Perjalanan saya dari kota Gorontalo menuju Marisa memakan waktu selama empat jam. Dari Gorontalo menuju Marisa hanya tersedia tiga pilihan angkutan. Yaitu, mobil jenis angkot yang tempat duduknya menghadap kedepan (per kepala/50ribu). Yang kedua adalah mobil travel yang berupa avanza. Jika duduk didepan membayar 70ribu, ditengah 60ribu, dan dibelakang 50ribu. Serta pilihan yang terakhir adalah dengan menggunakan mobil pribadi atau disewa (300-400 rb/hari).

Sebenarnya saya pesan untuk duduk ditengah, namun sudah penuh semua. Dengan koper dan tas ransel saya harus tabah duduk dibelakang ditempat yang sempit tersebut. Ketika dijemput dari penginapan dan naik mobil, di kursi paling depan (muka, kalau orang sini bilang), duduk seorang perempuan. Di tengah ada seorang ibu-ibu yang cukup berumur dan ibu-ibu muda yang tampaknya adalah anaknya dan seorang bayi. Setelah menjemput saya, ternyata si travel harus menjemput satu orang lagi. Satu orang ini adalah ibu-ibu yang bilang bahwa ia akan ikut kampanye Golkar di Marisa. Di bangku belakang, sang sopir mendapat titipan dua kardus indomie berisi bendera partai yang akan dikirimkan ke Marisa.

Selama perjalanan dari Gorontalo ke Marisa, sebagian jalan masih baik, dan sebagian jalan mengalami perbaikan. Dari jalan yang mengalami perbaikan, ada yang perbaikan dikerjakan oleh PU dan AusAid, ada yang nampaknya diperbaiki oleh warga sekitar yang bekerja lalu meminta sumbangan. Perjalanan tanpa makan siang ini membuat saya tidak bisa tidur karena si pengemudi melaju mobilnya dengan kencang. Beberapa waktu ia menyalip truk hingga membuat motor yang berada di jalur lain sampai keluar pada jalurnya.

Di sepanjang perjalanan saya banyak melihat pohon-pohon kelapa dan jagung-jagung yang telah bewarna coklat. Pada hari itu adalah jadwal kampanye Golkar, sepertinya travel saya dan mobil lainnya dialihkan jalannya dari jalanan utama Trans Sulawesi. Jika melihat pada peta, pengalihan jalan tersebut terjadi antara lokasi antara Karuyaan sampai Pentadu.

Saya tiba di kota Marisa pukul 16.30 dan berhenti di warung padang untuk mengisi perut yang sudah bikin badan lemas ini. Seorang teman yang bernama Irwan, seorang dosen agribisnis UNISAN Pohuwato, menjemput saya. Segera kami ke tempat yang akan saya tinggali yaitu sebuah rumah di perumahan Marisa Indah yang terletak di blok perkantoran Kota Marisa. Kami membeli kasur dulu, dan makan bersama sambil mengobrol. Rumah ini adalah kepunyaan dosen Unisan bernama Bu Esse yang sekarang berada di Makassar dan baru pulang akhir april nanti. Malam ini Irwan menemani saya sampai jam 11, lalu pulang. Ada sedikit ketakutan karena langsung menginap sendiri di sini.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation