Cerita Si Willy dan Kampung Naga yang ‘Mooi Indie’

Siapapun yang melakukan penelitian di Kampung Naga pada bulan-bulan terakhir ini akan mendengar sebuah cerita tentang si Willy. Datang pada tanggal 29 Oktober 2008, si Willy mencatatkan diri kepada petugas yang ditunjuk oleh sesepuh Kampung Naga dengan maksud hendak melakukan penelitian selama seminggu. Pak Endut, petugas yang sehari-hari memandu para tamu yang berkunjung ke Kampung Naga, tidak berpikir macam-macam terhadap si Willy ini. Selain karena sudah biasa dikunjungi orang-orang yang hendak melakukan penelitian atau sekedar untuk melancong, sikap dan penampilan si Willy yang pantas membuat Pak Endut menerimanya secara baik. Lebih lanjut, Pak Endut meminta si Willy untuk melapor kepada sesepuh Kampung Naga terlebih dahulu dan kemudian kepada ketua RT.

Singkat cerita, si Willy konon datang kepada Pak Henhen, salah seorang sesepuh Kampung Naga, untuk meminta izin penelitian. Pak Henhen mengizinkan dan menyuruh si Willy melapor kepada Pak Risman, sang ketua RT. Karena telah diizinkan oleh sesepuh, Pak Risman tentu menerima maksud si Willy. Pak Risman kemudian meminta si Willy melengkapi syarat-syarat untuk melakukan penelitian di Kampung Naga, seperti menyerahkan surat izin dari kabupaten dan aparat pemerintah yang terkait. Nah, ketika diminta syarat-syarat itu, si Willy tidak mempunyai surat izin yang dimaksud. Dia hanya membawa surat tugas penelitian dari sebuah lembaga yang—di dalam kop surat—berlokasi di sebuah gedung di lingkungan UNJ (Universitas Negeri Jakarta).

Setelah diterima oleh Pak Risman, si Willy menyewa sebuah kamar di rumah Pak Eso. Rumah itu terletak di luar Kampung Naga. Memang, telah sejak lama para sesepuh membuat peraturan yang tidak mengizinkan tamu menginap di Kampung Naga lebih dari satu malam. Karena adanya peraturan itu, siapapun yang hendak melakukan penelitian di Kampung Naga harus mencari kamar atau rumah di luar Kampung Naga. Kamar di rumah Pak Eso sudah lima kali disewa oleh para peneliti. Si Willy adalah yang ke enam. Karena sudah biasa menyewakan kamar, Pak Eso menerima si Willy tanpa berpanjang lebar. Prilaku dia yang terlihat agamis (rajin ke masjid) membuat Pak Eso dan orang-orang di Kampung Naga menaruh apresiasi terhadap si Willy ini. Apresiasi ini berlangsung pada hari pertama dan hari kedua kehadiran si Willy.

Pada hari ketiga, apresiasi terhadap si Willy berubah menjadi caci maki. Pagi hari si Willy berbicara kepada Pak Eso bahwa dirinya akan pergi ke kantor kecamatan untuk mengurus surat izin penelitian. Agar bisa diselesaikan dengan cepat, si Willy menyewa sepeda motor milik Pak Eso. Sebenarnya, sudah dari hari kedua si Willy menyewa motor dan tidak ada masalah apa-apa. Dia membayar ongkos sewa sebagaimana mestinya. Hari ketiga berbeda. Pagi hari itu, si Willy kembali menyewa sepeda motor Pak Eso. Bedanya lagi, pagi itu Pak Eso bahkan menyerahkan STNK sepeda motornya kepada si Willy. Pagi itu si Willy pergi membawa sepeda motor Pak Eso. Dan tak pernah kembali.

Menyadari sepeda motornya dicuri dan pencurinya adalah siapa lagi kalau bukan si Willy, Pak Eso segera memberi tahu Pak Risman. Warga Kampung Naga pun geger. Ada peneliti yang maling sepeda motor. Pak Risman panik, begitu juga Pak Endut. Mereka segera mencari-cari surat tugas penelitian yang dulu diserahkan si Willy. Di situ tertulis nama lengkap Willy Williandi. Alamat rumahnya di daerah Koja, Jakarta Utara. Di surat itu ada tanda tangan ketua RT dimana si Willy tinggal. Tak berpikir panjang-panjang, Pak Risman segera mengontak seorang mahasiswa UMJ yang dulu pernah melakukan penelitian di Kampung Naga. Pak Risman meminta sang mahasiswa itu mencari alamat si Willy. Pak Risman dan Pak Endut pergi bergegas ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, sang mahasiswa itu mengantar Pak Risman dan Pak Endut ke kantor polisi. Setelah menjelaskan segala sesuatunya, polisi mengantar Pak Risman dan Pak Endut ke alamat yang tertera dalam surat. Memang, alamat itu benar-benar ada, bukan fiktif, begitu juga nama ketua RT-nya. Akan tetapi, ketua RT dimana si Willy tinggal sebagaimana tercantum di surat itu tidak mengetahui si Willy. Tidak ada warga sini yang bernama Willy, kata ketua RT setelah mengecek buku warga. Pak Risman dan Pak Endut Pasrah. Mereka pulang ke Kampung Naga dengan lunglai.

Beberapa hari setelah itu, Pak Risman mendapat laporan bahwa di empat hotel di daerah kota Tasikmalaya telah hilang empat sepeda motor. Pelakunya siapa lagi kalau bukan si Willy. Kepada para pegawai hotel tersebut, si Willy mengaku sedang melakukan penelitian di Kampung Naga. Dan dengan modus operandi yang sama, si Willy membawa kabur sepeda motor yang disewanya. Sekarang jelas sudah, si Willy adalah seorang maling bangkotan yang beroperasi di wilayah Tasikmalaya. Dalam melakukan aksinya, dia memakai topeng peneliti.

Akibat dari perbuatan si Willy dirasakan oleh saya. Ketika untuk pertama kalinya menghubungi Pak Ucu, adik Kuncen kampung Naga, tentang maksud saya yang akan melakukan penelitian di Kampung naga, Pak Ucu tampak tidak antusias. Ketika itu saya belum tahu apa-apa. Beruntung saya berbicara dalam bahasa Sunda dan memperkenalkan diri sebagai orang Tasikmalaya. Bermodal status karena bawaan lahir itu, Pak Ucu tampaknya percaya bahwa saya benar-benar adalah sang peneliti. Ketika itu dia belum bercerita tentang si Willy. Dia hanya menyuruh saya untuk menemui langsung Pak Ade Suherlin, Kuncen Kampung Naga, di rumahnya di Salawu. Saya telah memberi tahu Pak Kuncen, kata Pak Ucu, jadi langsung saja ke rumahnya.

Rumah Pak Ade Suherlin, sering dipanggil Pak Elin, berlokasi di luar Kampung Naga, tepatnya di Salawu, tiga rumah ke sebelah timur dari Kantor Desa Salawu. Siang itu langit mendung dan akhirnya sore harinya hujan turun. Sesampainya di rumah Pak Elin, sang tuan rumah ternyata sedang keluar. Saya dipersilahkan menunggu oleh istri Pak Kuncen yang siang itu sedang bermain dengan cucunya. Sambil menunggu kedatangan Pak Elin, Bu Eming, demikian nama istri Pak Kuncen, bercerita tentang si Willy. Dari Bu Eming inilah saya untuk pertama kalinya mendengar cerita tentang si Willy. Setelah hampir dua jam ngobrol ngalor ngidul dengan Bu Eming, Pak Kuncen akhirnya datang juga. Setelah memperkenalkan diri dan singkat cerita saya diberi izin melakukan penelitian di Kampung Naga, Pak Kuncen menegaskan: awas jangan sampai seperti si Willy!

Cerita tentang si Willy adalah sebuah ilustrasi: betapa Kampung Naga sudah sedemikian terkemuka. Selain para pelancong, para peneliti telah sejak lama melihat Kampung Naga sebagai ‘objek’ yang mempesona. Lokasinya di sebuah lembah yang agak miring ke sebelah timur, taneuh bahe ngetan kalau dalam istilah orang Sunda, membuat Kampung Naga tampak elok sedap dipandang mata. Sungai Ciwulan yang menyisir sisi sebelah Timur seolah mengukuhkan kesan bahwa Kampung Naga memang benar-benar ‘mooi Indie’, Hindia yang molek. Rumah-rumah penduduknya sangat khas. Bentuknya panggung, atapnya ijuk, di dalamnya tidak ada meja dan kursi. Rumah-rumah di sini juga tidak menggunakan aliran listrik dari PLN. Warga yang mempunyai alat eletronik harus menggunakan tenaga accu yang disetrum di kampung tetangga. Bagi yang mempunyai handphone, biasanya anak-anak muda, mereka mau tidak mau harus naik turun tangga yang berjumlah 355 banyaknya hanya untuk sekedar men-charge ulang batre handphone mereka.

Pada bulan-bulan tertentu, Kampung Naga menyelenggarakan sebuah upacara adat yang bernama hajat sasih. Rerehan(keturunan) Kampung Naga dari mana-mana datang membawa tumpeng untuk diberkati. Akan tetapi, sebagian acaranya sendiri hanya milik laki-laki. Salah satu bagian dari acara ini, yaitu ziarah kubur ke makam leluhur, hanya boleh diikuti lelaki dewasa. Para wisatawan atau peneliti yang buka rerehan Naga juga tidak diperkenankan ikut ke lokasi makam yang jauhnya sekitar setengah kilometer ke arah Barat dari Kampung Naga. Saya beruntung bisa menghadiri acara hajat sasih ini. Diselenggarakan pada hari Minggu, 25 Januari 2008 yang bertepatan dengan tanggal 28 Muharram 1430 H, acara hajat sasih ini dimulai pada pukul 9 pagi. Para lelaki yang bertelanjang dada, yang hanya melilit tubuhnya dengan kain sarung tanpa celana dalam yang memang tidak diperbolehkan, bergegas diam ke Sungai Ciwulan setelah kentongan dibunyikan. Tak ada suara. Semuanya bisu, hampir syahdu. 15 menit kemudian, para lelaki itu kembali dari Sungai dan masuk ke rumah masing-masing untuk salin baju.

Tak lama kemudian mereka keluar memakai baju putih dan totopong (ikat kepala) khas Naga untuk kemudian berjalan cepat menuju masjid. Di situ mereka berdiam sejenak menunggu sang Kuncen yang akan memimpin mereka ke makam leluhur Embah Dalem Singaparna. Lalu mereka pun keluar dari masjid dengan memanggul sapu lidi di sebelah kanan bahu mereka. Masih tak ada suara. Satu jam kemudian, rombongan lelaki rerehan Naga itu pulang dari makam. Sebagian ada yang membersihkan beberapa tempat keramat di dalam kampung, sebagian yang lain langsung ke masjid. Setelah semuanya berkumpul di masjid, acara dipungkas dengan pembacaan doa dan mantra di depan lautan tumpeng yang sudah dipersiapkan kaum ibu sejak pagi buta. Acara berakhir sekitar jam 12 siang. Tumpeng-tumpeng yang telah diberkati lalu dibawa kembali ke rumah masing-masing warga. Sebagian disisakan di masjid untuk dimakan para tamu. Saya termasuk para tamu, selain Pak Koramil dan Pak Kapolsek, yang siang itu diajak ikut serta makan tumpeng, murak tumpeng dalam istilah setempat, yang memungkasi rangkaian acara hajat sasih kali ini.

Peneliti LIPI dan the Interseksi Foundation. Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat