Dan Saya Memilih Penelitian Ini…

Penelitian ini merupakan hal yang baru bagi saya. Banyak pertimbangan bagi saya ketika akan menerima tawaran untuk mengikuti pelatihan ini. Pertimbangan pertama adalah tempat workshop itu sendiri. Jakarta adalah daerah yang masih sangat asing bagi saya. Saya pernah mengimpikan suatu saat ketika saya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, dengan dana sendiri saya akan datang ke kota ini. Tak pernah terbayangkan oleh saya akan datang ke kota ini dengan gratis.Pertimbangan kedua adalah masalah orang tua. Pada awalnya orang tua saya tidak mengizinkan dengan alasan kami tak memiliki keluarga dekat yang tinggal di jakarta. Beliau takut tidak ada yang mengurusi saya selama di sana. Orang tua saya termasuk agak protektif terhadap saya. Pertimbangan ketiga adalah, saya masih kuliah. Orang-orang terdekat meragukan apakah saya bisa membagi waktu nanti ketika penelitian dimulai.

Yang pertama saya lakukan adalah meyakinkan diri sendiri apakah saya akan mengikuti penelitian ini atau tidak. Setelah saya merasa yakin dengan keputusan saya, baru saya dapat meyakinkan orangtua saya. Dengan dibantu saran dan pertimbangan dari teman-teman akhirnya saya memantapkan diri untuk mengikuti pelatihan ini. Sore itu saya langsung menelpon orang tua saya. Di ujung telpon saya mendengar nada kecemasan beliau ketika mendengar saya mengatakan akan mengikuti penelitian ini. Hari Sabtunya saya disuruh pulang ke rumah untuk membicarakannya secara jelas dengan beliau.

Sebelum ke rumah saya membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada keluarga saya yang lain untuk mencari dukungan. Saya menceritakannya pertama kali kepada kakak sepupu saya. Alhasil, dia mendukung saya dan akan membantu menjelaskan kepada orang tua saya. Dukungan pertama sudah saya dapatkan. Saya merasa perlu mendapat dukungan dari tante saya, yaitu saudara ibu saya yang tinggal di kota yang sama dengan tempat saya kuliah. Jika tante saya ini setuju, akan semakin terbuka jalan bagi saya. Saya terkejut dengan jawaban tante ketika saya datang ke rumahnya dan belum menjelaskan secara rinci. Dia langsung mengatakan saya bodoh jika tidak mengambil kesempatan itu. Namun begitu saya tetap harus berjanji padanya, nilai kuliah saya tidak boleh menurun.

Ketika saya pulang ke rumah saya sudah dijejali berbagai pertanyaan. Meskipun tante saya sudah setuju, orang tua saya masih setengah hati melepas saya. Waktu itu beliau tidak langsung memutuskan, apakah saya diizinkan atau tidak. Bahkan ketika saya kembali ke kota tempat saya kuliah masih belum ada kepastian dari orang tua saya.

Beberapa hari setelah saya kembali kuliah, orang tua saya menelpon. Dengan suara bergetar beliau mengatakan, “Pergilah Nak. Mama sudah titipkan kamu ke Tuhan. Tak ada penjagaan yang lebih baik kecuali dia.” Saya meneteskan airmata mendengar jawaban itu. Sama seperti tante, saya harus berjanji indeks prestasi saya tidak boleh berkurang dari apa yang sudah saya raih selama ini. 3,5 harus saya pertahankan. Dengan mantap saya mengucapkan janji saya.

Seminggu lamanya saya mengerjakan proposal penelitian saya dengan sungguh-sungguh. Sebelum memutuskan judul penelitian yang akan diambil, saya melakukan diskusi dengan beberapa orang senior dan teman saya. Berkat dukungan dan semangat dari orang-orang terdekat saya, akhirnya proposal itu selesai saya kerjakan.

Hari keberangkatan saya datang. Ini merupakan perjalanan pertama saya menggunakan pesawat ke negeri yang sama sekali belum pernah saya datangi. Saya cemas, namun tetap optimis. Saya terus mengingat perkataan orang tua saya. Beliau telah menitipkan saya kepada Tuhan, Tuhan akan menjaga saya. Dan benar saja, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti selama diperjalanan dan selama worshop berlangsung dan sampai saya kembali ke kota saya.

Nyali saya agak kecut ketika mengetahui peserta pelatihan lain ternyata semua sudah diatas saya, baik dari segi umur, pendidikan maupun pengalaman. Dari segi umur, saya peserta yang paling muda, dari segi pendidikan saya juga satu-satunya peserta yang masih kuliah S1, bahkan masih semester 4. Tentu saja pengalaman mereka sudah lebih dari saya. Ketika saya menceritakan hal ini kepada orang-orang terdekat saya mereka mengatakan, “Berada diantara orang-orang yang memiliki pengalaman yang lebih dari kita, adalah sesuatu yang istimewa. Kamu adalah peserta yang istimewa, karena kamu yang paling muda. Maka tunjukkan kepada mereka bahwa kamu memang istimewa.” Huum, saya jadi ge-er sendiri mendengarkan celotehan mereka.

Sesuai dengan kontrak kerjasama, saya langsung terjun ke lapangan tanggal 1 Maret. Lapangan saya adalah pasar. Pedagang perempuan Pasar Raya Padang merupakan studi kasus saya. Maka, setiap hari saya bolak-balik ke pasar yang berjarak 15 kilo dari kampus saya. Sejak penelitian ini dimulai, saya baru bisa merasa betapa berharganya waktu.

Waktu penelitian bagi saya adalah sepulang kuliah, atau ketika jeda kuliah. Adakalanya saya kuliah dari pagi sampai jam 1 siang, maka penelitian saya lakukan setelah jam 1 sampai sore. Hari-hari tertentu saya kuliah mulai jam 2 siang, maka saya ke pasar dari pagi. Beberapa kali dalam seminggu, jadwal kuliah saya sangat padat yaitu dari pagi sampai jam 6 sore. Diantara jam kuliah yang panjang itu ada jeda beberapa jam yaitu dari jam 1 sampai jam 4. Maka waktu yang hanya tiga jam tersebut tetap saya gunakan untuk melakukan penelitian ke pasar. Walaupun hari itu saya hanya dapat mewawancarai 1 pedagang saja dan bahkan tidak ada sama sekali saya tidak peduli, kalau pun tidak bisa wawancara, observasi tetap harus dilaksanakan. Saya akan merasa sangat kecewa jika ada dosen yang tidak datang tanpa memberi pemberitahuan sebelumnya. Waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk pergi meneliti terbuang sia-sia menunggu dosen datang.

Banyak pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan ketika melakukan penelitian ini. Berbaur dengan pedagang tidaklah mudah. Akan saya ceritakan di sesi selanjutnya.