Debu yang Meresahkan

Dentuman bunyi detonator serasa guntur yang menyambar siang itu, Jumat (25/03/2010). Suara itulah yang paling pertama aku dengar ketika pertama menginjakkan kaki di lokasi pabrik PT Semen Tonasa. Sebelum dilakukan peledakan terdengar bunyi sirene menandakan akan terjadi ledakan dari bongkahan batu yang akan diolah menjadi semen.

Getaran yang ditimbulkan dari balsting (peledakan) mengguncang desa sekitar. Tim ahli yang ditugaskan melakukan blasting telah memperhitungkan titik terjauh dari retakan yang ditimbulkan oleh detonator yang hendak diledakkan.

Meski demikian, debu-debu yang keluar baik yang disebabkan oleh peledakan maupun kendaraan pengangkut semen yang lalu lalang terasa sangat mengganggu. Sebentar saja baju yang kami kenakan telah dihinggapi debu hingga tampak kotor. Di salah satu rumah warga yang saya tempati menginap, setiap saatnya harus menyapu teras rumahnya untuk menghilangkan debu-debu yang tak hentinya menutupi rumah dan perabotannya. Saya yang belum terbiasa dengan situasi lingkungan setempat kesulitan untuk bernapas. Selain itu, mata juga terasa perih akibat terkena debu yang berasal dari pabrik Semen Tonasa. Kerugian lain yang dirasakan warga adalah tanaman yang mereka tanam kesulitan melakukan fotosintesis karena debu-debu telah menutupi daun sehingga sinar matahari tidak dapat maksimal diterima oleh tanaman.

Tanpa ditanya, warga yang ada di Biring Ere (lokasi Semen Tonasa) dengan senang hati akan menceritakan setiap keluhan dan kerugian yang mereka alami. Di hari pertama saya berkunjung di desa ini saya disambut dengan ramah dan akrab. Sejenak saya menjadi pusat perhatian warga yang mungkin karena saya adalah orang baru di tempat itu. Namun setelah saya utarakan maksud dan tujuan saya melakukan penelitian desa mereka, maka penduduk pun menyambut saya dengan baik. Bahkan beberapa warga meminta saya untuk menginap di rumahnya saja.

Pada akhirnya saya memilih rumah salah seorang Muksin (65) yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Secara kebetulan saat itu bertepatan dengan musim panen. Penduduk menanam padi di sawah-sawah yang ada di sekitar rumah mereka. pagi-pagi sekali penduduk Biring Ere telah meninggalkan rumah menuju ke sawah masing-masing. Hasil panen padi yang didapatkan adalah tumpuan warga untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Namun, gangguan debu yang menutupi dedaunan tanaman secara signifikan telah menghambat proses potosintesa sehingga mengurangi produktivitas tanaman. Penurunan produktivitas tanaman tidak hanya terjadi pada tanaman padi. Akan tetapi tanaman yang ada di pekarangan rumah juga menjadi mandul karenanya. Hal inilah yang membuat penduduk tidak lagi bisa mengandalkan hasil pertanian mereka. Karena itu mereka mencoba mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhannya. Muksin memilih menjadi sopir angkutan Makassar-Pangkep. Pendapatan yang ia peroleh sedikit bisa meringankan belanja untuk keperluan sehari-harinya termasuk untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Salah satu anak Muksin yang bernama Abdullah telah duduk di kelas 3 SMP. Dulla, sapaan akrabnya, disekolahkan di ibukota kecamatan Bungoro yang letaknya cukup jauh dari rumahnya meski di sekitar tempat tinggalnya terdapat SMP Swasta Semen Tonasa. Alasan Muksin karena sekolah yang dekat dari rumahnya itu biayanya sangat mahal dan tidak mampu di jangkau dengan penghasilannya yang pas-pasan.

Di sekitar kompleks perumahan Tonasa memang terdapat beberapa fasilitas seperti sekolah dan rumah sakit. Namun rumah sakit yang ada pun tidaklah bisa dinikmati masyarakat sekitar non-karyawan. Hal ini bukan karena rumah sakit ini tertutup untuk umum, akan tetapi biaya yang harus di keluarkan terlalu mahal. Terkait hal ini, warga pernah menanyakan persoalan mahalnya ongkos berobat di rumah sakit ini kepada pihak Semen Tonasa. Menurut Semen Tonasa yang diwakili oleh Sekretaris Perusahaan H. Sayfruddin mengatakan bahwa mahalnya ongkos pengobatan Rumah Sakit Tonasa adalah untuk menghindari persaingan dengan rumah sakit lain. Sebab menurutnya Dinas kesehatan akan menegurnya jikalau orang yang sakit semuanya menuju ke Rumah Sakit Tonasa.

Oleh karena itu, penduduk yang menderita sakit akibat terpapar polusi debu pabrik lebih memilih berjalan jauh melewati Rumah Sakit Tonasa untuk menemukan Puskesmas yang bisa merawatnya.