Di Gampong Mangue Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar

Pertama sekali ke lapangan, rasanya senang dan malu dalam hatiku, ini hal yang pertama sekali saya lakukan seumur hidupku, bagaimana aku bisa berkoordinasi dengan masyarakat langsung.

Untuk kegiatan hari pertama saya turun ke lapangan, kegiatan berjalan dengan lancar,tidak ada hambatan yang saya temukan, dikarenakan masyarakat tempat saya mengambil sampel sangat ramah dan bersahabat.

Wawancara dengan Bang Nuzul Bahri, Tanggal 5 Maret 2011

Aceh terkenal terkenal tempat nongkrong yang tidak habis-habisnya orang, disalah satu warung kopi, ini merupakan ciri khas kehidupan orang aceh, dimana di warung kopi, baik dari segi informasi, berita teraktual dan bahkan bisnis mereka melakukannya atau transaksi kegiatan mereka di warung kopi.

Di sela-sela sore sekitar jam 16: 00 WIB, saya menghampiri warung kopi tersebut. Disana saya ketemu dengan bapak yang bernama Nuzul Bahri yang biasanya di panggil Nyak Cut (sebutan untuk anak yang terakhir di dalam keluarga mereka, baik anak laki-laki maupun anak perempuan). Kebetulan saya sudah kenal lama dengan masyarakat Gampong Mangeu. Kali ini agenda saya lain, tidak sama seperti agenda saya seperti biasanya yaitu, dimana kalau hari-hari biasanya saya selalu berkunjung ke Gampong Mangeu dalam rangka observasi lapangan dan kegiatan yang kami lakukan dengan masyarakat, tentang penguatan dan mekanisme hukum adat. Tapi kali ini beda misi dan agenda saya. Tidak lama kemudian Bapak Nuzul Bahri menegur saya. Seharusnya saya yang menegur beliau, karena saya masih malu-malu dan harus menyesuaikan kondisi masyarakat, saya tidak berani sembarangan menegur mereka. Tidak lama setelah berbasi-basi, sayapun langsung menanyakan,“Apakah disini ada yang dikatakan panglima uteun?”. Dan ternyata jawaban Bapak Nuzul Bahri sangat semangat dan antusias menjawab. Lalu dia dengan tengas menanyakan kepada saya, ”Kok kamu tahu tentang dulunya ada panglima uteun, terus siapa yang kasih tahu sama kamu, dan kira-kira untuk apa ya?” Begitulah kalimat singkat dia bertanya kepada saya.

Dengan sangat antusias dan penuh dengan rasa gugup sayapun menjelaskan tentang penelitian dan tujuan penelitian yang sedang saya lakukan. Tanpa ditunggu pertanyaan dia sudah mulai bercerita panjang lebar tentang keberadaan panglima uteun sama saya. Dan tidak lama kemudian, satu persatu masyarakat yang dari pertama duduk dengan saya jauh mulai merapatkan diri mereka, mendengar tentang apa yang kami bicarakan. Suasanapun sangat meriah, ditambah sahutan sekali-kali dari masyarakat yang mendengar. Cerita punya cerita bahwa Bapak Nuzul Bahri ini dulunya juga salah satu bagian atau sub yang berada di bawah panglima uteun. Beliau berperan di bagian “pawang babi” ( atau dalam Bahasa Aceh disebut dengan Pawang Bui).

Lika Liku Kehidupan Masyarakat

Mangeu adalah salah satu gampong yang berada di perdalaman Aceh Besar, khususnya di Kecamatan Seulimum. Walau dekat dengan kecamatan, akan tetapi Gampong Mangeu adalah gampong yang tertinggal dari kemajuan zaman, dan masyarakat yang berada di Mangeu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat yang berada di tempat.

Kearifan Lokal yang Masih Hidup

Selama melakukan kegiatan penelitian di dua gampong yang menjadi sasaran penelitian saya, metode yang saya pakai dalam mengali informasi dan wawancara dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal yang ada di dua gampong tersebut. Misalnya saya menggunakan pendekatan apa yang masyarakat lakukan di dalam masyarakat. Kebetulan di Gampong Mangeu dan Gampong Merue Bueng Ue sedang gencar-gencarnya turun kesawah. Metode yang saya pakai, saya turun dan mendalami aktivitas yang ada didalam masyarakat. Disela-sela masyarakat asyik dengan pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari, di sinilah saya mengunakan kesempatan saya untuk menanyakan apa yang mesti saya lakukan.

Perjalanan saya ke Aceh Timur dalam Melakukan Studi Banding Keberadaan Panglima Uteun, Tanggal 5 April 2011

Aceh Timur adalah salah satu kabupaten yang ada di propinsi Aceh, yang jarak tempuh dari Kota Banda Aceh 8 jam perjalanan, sedang ke Kota Medan 3 jam perjalanan lagi. Salah satu yang menjadi gampong sasaran saya pada waktu itu bernama Gampong Bayu Kecamatan Nurussalam Kabupaten Aceh Timur, tepatnya dari Kota Nurussalam kurang lebih 30 kilometer masuk kedalam. Di sana masyarakat adat dan adat istiadat masih berlaku dan masih kental.

Hari Selasa malam pukul 20:00 WIB,saya dan teman saya bernama Bapak Irsyadi berkunjung kerumah Teungku Diauddin yang biasanya di panggil dengan sebutan Abu. Abu adalah salah satu panggilan orang Aceh yang dituakan di dalam masyarakat adat, bisa dikarenakan mempuyai karismatik atau dia mempuyai dayah (pesantren) di rumahnya. Beliau adalah salah satu mukim Ulee Glee yang berada di bawah Kecamatan Nurussalam Aceh Timur.

Pembukaan saya yang pertama saya menjelaskan maksud dan kedatangan saya ke tempat belia. Dan ketika saya sudah menjelaskan semua tentang maksud dan tujuan saya secara rinci, tidak lama kemudian beliau menjawab dengan jawaban, “Saya tidak siap untuk diwawancarai malam ini, dikarenakan saya baru selesai dioperasi, karena tenggorokan saya baru dioperasi”. Sayapun terkejut dan penasaran kenapa beliau tidak mau diwawancara dan ditanya-tanyai tentang adat secara umum dan panglima uteun secara khusus. Tidak lama kemudian sayapun masih melamun dan terbengong-bengong sendiri. Saya pun mengalihkan pembicaraan tentang apa yang ingin saya bahas di pembukaan pertama. Jadi saya masuk melalui pertanyaan sederhana yaitu, “Biasanya kalau bapak ke kantor camat, Pak Camat bicara apa saja mengenai peraturan-peraturan untuk gampong selama ini. Ada tidak Bapak Camat bicara tentang adanya Qanun-qanun Pemerintah Aceh yang baru beberapa bulan ini”. Dengan sangat samangat dia menjelaskan tentang dia melakukan apa saja ketika ke kantor camat, dan Bapak Camat bicara apa saja. Pelan-pelan saya mencoba mengarahkan pembicaraan saya kepada pembicaraan pokok saya tentang panglima uteun yang pernah ada di Aceh Timur. Tanpa sadar dia memberikan penjelasan yang sangat detail dan akurat.

Padahal cerita punya cerita, Teungku Diauddin tersebut tidak mau memberikan informasi di awal pertemuan dengan saya dikarenakan beliau takut salah menjawab dan tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan nantinya. Langsung beliau menjawab dengan jawaban,“saya baru dioperasi.” Dia beranggapan saya adalah orang yang lagi mengumpulkan informasi untuk kepolisian dan sejenisnya. Sehingga kalau salah-salah dalam memberikan keterangan beliau takut ditangkap. Karena di akhir penutupan cerita dengan beliau, beliau menerangkan semua hal tentang kekhawatiran beliau dan ketakutan beliau.

12 April 2011, Secangkir Kopi sore di Teunom, Kecamatan Teunom Kabaputen Aceh Jaya.

Teunom adalah salah satu kecamatan yang berada di Aceh Jaya. Aceh Jaya adalah pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat yang jarak tempuhnya 10 jam dari Kota Banda Aceh. Lamno adalah salah satu kecamatan di Aceh Jaya yang terkenal dengan Si Mata Biru. Kunjungan saya keTeunom kali ini dengan alasan saya ingin berkunjung ke tempat kawan lama saya yang sudah lama tidak berjumpa. Kebetulan saya malamnya membuat janji dengan para pejabat pemerintahan di daerah Teunom tersebut melalui kawan saya. Kebetulan kawan saya bekerja di kantor camat Teunom, untuk membahas malasah adat. Jadi saya pertama sekali tidak membahas masalah kontek penelitian saya kepada kawan saya. Saya hanya bicara tentang adat dan sejarah perjalanan adat yang ada di Aceh. Jadi kebetulan malamnya kami berkumpul di sebuah warung kopi yang dekat dengan pusat kota Teunom, kalau tidak salah nama warung kopinya “Dua Kembar”. Dalam suasana sambil bercanda-canda dan minum kopi, saya menanyakan pertanyaan saya kepada Bapak Adnan. Kebetulan beliau adalah sekretaris camat. Biasanya beliau dipanggil dengan sebutan bang Nas. Entah kenapa beliau di panggil dengan sebutan Bang Nas, sayapun tidak tahu.

Dalam berbicangan perbincangan kami dengan beliau pelan-pelan pertanyaan saya mengarah kepada tujuan penelitian saya. Dan bang Nas tampa sadar juga menceritakan tentang apa yang sedang terjadi di Teunom ini khususnya tentang perlakuan terhadap panglima uteun yang ada di daerah Teunom. Bahwa kalau sebelum tsunami panglima uteun di sini masih didengar dan dipatuhi oleh masyarakat. Tapi sekarang apa yang panglima uteun sampaikan dan buat peraturan semua sudah tidak didengar lagi. Bahkan aturan yang sudah dibuat, masyakarat yang ada kekuasaan dulu yang melanggar. Dan Bang Nas pun bercerita, “Kalau saya sekarang walau bekerja di kantor camat, saya tidak bisa berbuat apa-apa dan bisa memberikan apa-apa tentang apa yang dulu pernah dijalankan oleh panglima uteun dengan sekarang. Karena kalau sedikit ada masalah dengan hutan masyarakat langsung melaporkannya kepada polisi hutan. Seharusnya saya yang berada bekerja di kecamatan. Kalau bicara mukim itu kan di bawah kekuasaan saya, malah saya banyak tidak tahu apa-apa”.

Begitulah sepenggal cerita yang dapat saya berbagi bersama teman-teman peneliti muda lainnya. Bahwa kalaupun tidak diakui lagi oleh pemerintah mereka,“terkadang di hati masyarakat panglima uteun tersebut masih di cintai dan disayangi”. Peraturan yang mengharuskan mereka tidak ada lagi, bukan karena masyarakat tidak membutuhkannya.

Dan sampai sekarang walaupun penelitian telah satu bulan berjalan, akan tetapi sampai sekarang hubungan saya dengan masyarakat masih berlanjut dan tetap saya bina.

Banda Aceh, 20 April 2011
Salam Pemulihan