Dokumen yang Menyelamatkanku dari Bahasa Jawa

Kedatangan saya ke FPPB – Batang, pertama kali hanya dengan bekal bahwa saya pernah berkenalan dengan Mas Handoko, yang kebetulan pernah saya undang untuk menjadi salah satu pengajar tamu pada Sekolah Politik Reforma Agraria angkatan I, diawal tahun 2007. Kedatanganku ke FPPB juga dalam rangka mengantar seorang teman – kandidat Ph.D dari Toronto University, Toronto Canada – meminta aku untuk menemani di awal studi lapangannya di tempat yang sama. Kedua hal tersebut yang membuatku kemudian berkeinginan untuk mengkaji lebih jauh tentang FPPB. Jadi, FPPB adalah organisasi tani di Jawa Tengah yang ‘baru’ aku datangi. Jika sebelumnya pernah ‘bertemu’ dengan teman-teman FPPB, tentunya bukan untuk konteks kajian atau studi. Jadi, kedua hal tersebut merupakan alasan bagi saya untuk dapat mempelajari (kembali) organisasi tani lain yang ada di Indonesia, selain Serikat Petani Pasundan (SPP) dan Serikat Tani Bengkulu (STAB). Demikianlah, dalam konteks mempelajari seluk beluk organisasi, bagi saya, FPPB adalah organisasi tani ketiga yang saya pelajari.

Walaupun ketiga organisasi yang sudah dan sedang saya pelajari adalah Organisasi Tani, masing-masing memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satunya adalah bagaimana mereka melakukan upaya pendokumentasian seluruh korespondensi surat-menyurat antara organisasi dengan jaringan atau dengan pihak-pihak terkait didalam penyelesaian kasus (seperti Kepolisian, departemen terkait, institusi pengadilan dsb.). FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB. Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.

Bagi saya, yang terpenting adalah dokumen-dokumen itu telah membantu saya di tahap awal karena saya termasuk orang yang tidak berbahasa Jawa, sementara bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Jawa. Didalam situasi baru saling mengenal, sangat sungkan bagi saya untuk meminta mereka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, apalagi jika meminta seseorang untuk secara langsung mengulang apa yang mereka katakan dalam Bahasa Indonesia. Sebagai ‘pendatang’ baru, saya haruslah menjaga sikap dan harus berupaya masuk ke kehidupan mereka sebisa-bisanya. Di tengah-tengah sedang berpikir keras untuk mengingat kata demi kata dalam Bahasa Jawa, ketika saya memasukiruangan computer – begitu mereka menyebut salah satu ruangan di rumah tua yang dijadikan sekretariat FPPB – saya sangat gembira karena saya melihat barisan map yang bertuliskan nama kasus yang ada di FPPB atau nama OTL anggota FPPB. Segera saya bertanya kepada seseorang yang mengurus surat-menyurat tersebut, “Apakah saya boleh melihat dokumen-dokumen didalam map ini??”, secara spontan pula dia menjawab “silahkan.. ga usah sungkan..”.

Sesuai dengan kegemaranku, mulailah saya membuka satu persatu map yang berbaris dengan rapih di rak yang ada di ruang computer tersebut. Memang nasib sedang berpihak padaku, karena dengan membuka satu persatu seluruh map yang ada, maka saya dengan mudah mendapatkan gambaran awal tentang organisasi ini. Mereka begitu baik menyimpan seluruh dokumen organisasi sejak organisasi ini berdiri pada tahun 2000. Begitu juga dengan dokumen-dokumen yang berisi catatan diskusi di kampong-kampung yang ditulis dengan tulisan tangan.

Kurang lebih 1 minggu, saya membongkar dokumen-dokumen arsip mereka, sehingga akhirnya saya berhasil melakukan rekonstruksi beberapa kasus/konflik tanah yang dialami oleh 5 anggota FPPB. Selain itu, saya juga berhasil merekonstruksi berbagai perubahan dari waktu ke waktu, sehingga saya dapat memahami dengan baik bagaimana FPPB dikatakan telah ‘berhasil’ membangun strategi perjuangan sehingga dapat mendudukan kadernya menjadi kepala desa, hal ini pula yang kemudian FPPB sangat identik dengan semboyan “Dari Gerakan Sosial Menuju Gerakan Politik”.

Kembali ke soal bagaimana proses dokumentasi yang baik, setidaknya telah membantu saya di awal proses penelitian lapangan ini – khususnya dalam persoalan bahasa – tetapi dalam konteks penelitian yang lebih luas, dokumen yang sifatnya official seperti dokumen yang ada di FPPB dapat dijadikan data yang valid. Namun demikian, sepanjang pengalaman saya, banyak juga hal-hal yang tidak tercover didalam dokumen organisasi tersebut. Salah satunya adalah tidak tergambar sama sekali didalam dokumen yang saya pelajari, bahwa banyak pihak-pihak diluar organisasi tani yang membantu atau menjadi motor gerakan FPPB. Hal ini hanya bias didapatkan dengan cara melihat langsung kerja keseharian mereka, atau melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui siapa-siapa saja pihak yang terlibat di masa lalu dan tidak terlibat lagi di masa sekarang, dan mengapa. Tentunya banyak hal yang tidak terinci didalam dokumen, dan harus ditanyakan langsung, misalnya tentang strategi yang sedang berjalan, kenapa strategi bias berubah-ubah setiap saat, dan saat kapan strategi bias berubah dan untuk tujuan apa, dan terakhir yang selalu ingin saya tanyakan, apakah perubahan strategi yang dilakukan setiap saat akan mempengaruhi target besar perjuangan?

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008. Saat ini menjadi anggota Tim Peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi