Dua Hari Bersama Uzair di Medan

Meskipun kedatangan saya tanggal 23-25 September yang lalu tidak untuk kepentingan interseksi, namun saya menyempatkan diri untuk melihat perkembangan Uzair melakukan penelitian di Parmalim, Sumatera Utara. Diam-diam saya mencermati bagaimana Uzair bekerja, dan membagi waktu tiga puluh hari sebaik mungkin untuk kemudian bisa menemukan masalah penelitian sebagaimana kita inginkan. Menurut cerita Uzair ia menghabiskan waktu pertama untuk beberapa hari di Medan. Uzair perlu menemui beberapa orang untuk dijadikan referensi, petunjuk dan bisa jadi teman diskusi sebelum ia memutuskan pergi ke lapangan. Dalam beberapa hal, Uzair cukup rapi dan sistematis membagi waktunya. Saya kira rencana Uzair tidak ada yang salah. Dan selama berada di kota Medan Uzair juga melakukan sebagaimana rencananya. Dia bertemu dengan beberapa orang; dosen, peneliti, kelompok LSM, seniman dan beberapa orang yang cukup dianggap bisa memberitahukan berbagai hal mengenai Parmalim.

Yang menarik, Uzair sendiri merasa dimudahkan karena begitu bertemu dengan seseorang ia langsung mengenalkan diri sebagai teman Desantara, dan teman Mas Bisri Effendi. Nyaris semua orang yang ditemui Uzair mengenal dengan baik nama Desantara dan Bisri Effendi. Begitu mengontak langsung kepada Sirait (adik ipar dari Mona Naipospos; pemimpin tertinggi agama Parmalim Hotatinggi), Uzair disambut dengan baik. Bahkan sempat dijenguk oleh Bang Rait di penginapannya. Dalam diskusi kami (aku dan Mas Bisri effendi), Uzair bercerita banyak mengenai pertemuannya dengan beberapa orang ini, dan juga mendiskusikan hasil bacaannya untuk sementara waktu mengenai komunitas Parmalim. Pertama, Uzair menceritakan bahwa tulisan mengenai Parmalim sudah banyak dilakukan oleh peneliti mahasiswa, dan dosen. Namun demikian, penelitian ini sebagian besar mengambil kasus di komunitas Parmalim Hotatinggi, suatu komunitas Parmalim terbesar dan memang paling dikenal oleh orang di Medan (dan mungkin juga di dunia akamedisi). Kekosongan ini ingin diisi oleh Uzair. Dia menceritakan beberapa tempat yang menjadi basis komunitas Parmalim: Selain Hotatinggi, ada juga komunitas yang bermukim di Barus dan beberapa tempat di sekitar daerah Tapanuli Selatan. Saya senang, dan langsung apresiatif dengan usulan ini. Yang ada dibenakku, Barus adalah daerah pantai yang mungkin karena aku sendiri belum pernah kesana, semakin menganjurkan Uzair untuk ke Barus. Siapa tahu nanti ketika aku menjadi evaluator, aku bisa berkunjung dan sekaligus menikmati kota Barus ini.

Aku sendiri pernah membacara Barus di suatu tulisan mengenai sejarah masuknya orang-orang Islam dari India Selatan yang masuk ke nusantara dan singgah ke kota ini sekitar abad ke-11. Selebihnya saya tidak tahu kenapa, dan bagaimana proses islamisasi ini berlangsung. Sebaliknya, kalau kita mengunjungi komunitas-komunitas India di Medan, sebagian besar malah beragama Hindu-Shiwa. Apa hubungannya dengan Islam? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas di Barus hidup berbagai kelompok beragama. Nyaris hampir mirip seperti Medan; ada Islam, Kristen, India-Keling, Cina dan Parmalim. Saya mendorong Uzair ke tempat ini karena juga soal keanekaragaman ini. Siapa tahu kita menemukan banyak informasi mengenai perilaku negara dan agama-agama besar di Barus dalam melihat persoalan hubungan antar agama dan antar kebudayaan.

Selain itu ketika mendiskusikan masalah Parmalim di Medan, saya bertemu dengan Selwa. Sosok Selwa bagi Desantara dan saya pribadi memang sangat istimewa. Kepopuleran Desantara di kota Medan tidak lepas dari Selwa. Selwa banyak bercerita ke semua orang mengenai keberadaan Desantara dan program-programnya. Selwa adalah PR yang baik, memiliki banyak jaringan dan berkomimen dengan pkerjaan seperti ini.

Nampaknya terlalu banyak cerita menarik bersama Selwa. Kembali ke persoalan penelitian Uzair, saya sendiri bisa memahami adanya pergantian topik atau wilayah komunitas yang karena berbagai sebab, memang harus dirubah. Namun selain sedikit rencana mengenai perubahan wilayah penelitian, Uzair ternyata juga sempat mendengar persoalan konflik pembangunan ibadah di kota Medan antara orang Parmalim dengan HKBP. Konflik ini sebenarnya sudah lama. Saya sendiri pernah terlibat membantu sedikit untuk memperjelas persoalan. Waktu itu saya dikirim surat lengkap dari Bang Sirait mengenai masalah konflik ini. Surat ini dikirim ke Desantara. Isinya mengenai surat-surat forokopi dari HKBP, dan surat bersama dari orang /warga setempat yang keberatan dengan pembangunan ibadah orang Parmalim. Tragis, dan ironis karena setelah dilacak lebih detil masalah yang sesungguhnya bertambah rumit. Bukan saja soal bahwa agama Parmalim itu dianggap ajaran asing (mengimajinasikan sebagai agama asing saja sudah menjuruskan kepada konotasi negatif), namun juga soal pandangan birokrasi yang simpang siur, dan termasuk pandangan pemuka Kristen sendiri yang berbeda-beda.

Dua hal saya kira sama-sama menarik. Parmalim di Barus, dan Parmalim di Medan. Saya kira Uzair memang harus segera memilih secepatnya. Dia harus berhitung dengan waktu penelitian yang begitu pendek. Terlalu berlama-lama di Medan tanpa adan keputusan untuk fokus ke komunitas Parmalim tertentu, saya kira hanya membaung-buang waktu terlalu banyak. Menurut saya pribadi ada dua keuntungan dan kerugian kalau Uzair memilih antara Barus dan Parmalin di Medan yang kini lagi terlibat kasus konflik masalah peribadatan.

Pertama, jika Uzair memilih Barus, Uzair jelas menemukan suatu komunitas Parmalim yang sebelumnya jarang dilirik para peneliti (bahkan belum sama sekali). Dengan memilih Barus Uzair juga akan mendapatkan informasi banyak, dan mungkin juga baru bagaimana suatu negara (di konteks tertentu) menghadapi keanekaragaman agama dan budaya, dan perlu juga dicermati negara dalam konteks ini sebetulnya jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta. Pertanyaannya adakah beda antara negara di Jakarta dengan remote area seperti di Barus ketika menghadapi hubungan antar agama dan kebudayaan? Disini kita akan berhadapan dengan ide-ide mengenai marjinalitas, pribumisasi pembangunan (lebih spesifik lagi kebijakan agama/ dan kebudayaan), dst. Dihubungkan dengan topik penelitian interseksi tahun ini, mungkin pilihan di Barus tidak banyak informasi mengenai modal-modal ekonomi – karena disana setahu saya tidak ada masalah tanah seperti komunitas Tengger, tapi modal ekonomi yang ditransmutasi sebagai kebijakan agama dan kebudayaan saya kira masih sangat menarik dan bisa jadi akan sangat banyak dijumpai di Barus.

Namun demikian, karena jarak yang masih jauh – bahkan dari Medanpun, pilihan Uzair di Barus bisa jadi mengandung beberapa risiko. Risiko pertama adalah sulitnya medan yang harus ditempuh. Uzair harus menyiapkan beberapa energi untuk beberapa hari hanya untuk melakukan pendekatan ke beberapa orang Parmalim di Barus. Jika pendekatan saja memerlukan waktu beberapa hari, mungkin waktu uzair melakukan penelitian di tempat ini akan semakin pendek. Pasti hasilnya akan kurang baik. Sebaliknya, jika Uzair memilih tempat lokasi penelitian di kota Medan, dengan memasuki topik konflik peribadatan, mungkin Uzair akan banyak dimudahkan untuk mendapatkan data. Selain orang-orang Parmalin sendiri sangat mudah dihubungi, dari segi biaya dan tenaga Uzair lebih maksimal. Topik Interseksi bisa dielaborasi melalui kasus riel yang kini dihadapi oleh Parmalim di Medan. Dengan mengambil kasus konflik tempat ibadah ini misalnya kita bisa melacak lebih jauh hubungan antar lembaga di birokrasi, reaksi dan respon elite-elite agama (Kristen), dan bagaimana imajinasi/ konstruksi mengenai Parmalim ini disengketakan dikalangan elite dan massa rakyat. Tentu menjadi kajian menarik, dan pasti akan memberikan perdebatan dan implikasi baru bagi seluruh masyarakat Medan dalam memahami masalah Parmalim.

Kerugiannya??? Mungkin kalau di Kota Medan, Uzair malah kurang bisa menjumpai kampung spesifik dari komunitas Parmalim sendiri. Di Medan orang-orang Parmalim hidup seperti masyarakat lain. Tidak ada kampung spesifik atau area spesifik yang menjadi pusat keberadaannya. Tapi justru itu jadi menarik. Bagaimana orang-orang kota Medan memperlakukan Parmalim seperti kelompok-kelompok yang lain. Kesan saya selama beberapa hari di medan, aku merasakan sifat terbuka dan suka suka bicara adanya dari orang-orang Medan. Sifat yang tidak memandang status seseorang, tapi lebih melihat kepada “urusan-urusan yang lebih pragmatis”.

Saya kira kasus pelarangan tempat orang Parmalim di Kota Medan ini menarik, karena sepanjang kita telusuri ke berbagai kebijakan yang ada di kota Medan, nyaris tidak ada kebijakan yang harus memperlakukan orang-orang minoritas secara spesifik. Persisnya saya memang tidak tahu, yang jelas bangunan vihara, Masjid dan gereja banyak bertebaran di sepanjang jalan, tanpa ada yang peduli bahwa diantara mereka ada yang menjadi kelompok minoritas. Tapi mungkin bagi pemerintah daerah soal agama ini bisa dipersepsikan secara lain. Misalnya, beberapa kebijakan nasional yang banyak meminoritaskan kelompok Cina di Indonesia (padahal di Medan kelompok Cina masih terbilang mayoritas), sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh birokrasi setempat di Medan untuk memeras kelompok-kelompok Cina di kota ini. Termasuk saya kira sulitnya mendirikan bangunan untuk peribadatan parmalim masalah paling utama saya kira ada di birokrasi. Imajinasi dan konstruksi orang-orang yang ada di birokrasi ini bisa jadi sekarang mulai berubah, dan bisa jadi variasi perbedaan pemikiran diantara semakin kelihatan. Di kalangan birokrasi sendiri misalnya, ada yang bersimpati dengan kasusnya orang Parmalim ini, tapi masalahnya kenapa sampai sekarang masih terkatung-katung??

Ini masalah penting, semoga juga menjadi perhatian Uzair dalam penelitiannya…

Gitu saja catatan saya, semoga menarik dibaca…..

Anggota Tim Supervisi Penelitian Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3. Peneliti Yayasan Interseksi