Ini Medan Bung!

Sejak pertama aku mendengar kabar dari Pak Hikmat, aku menggantikan beliau untuk berangkat ke Medan menjadi supervisor Romi, aku bahagia sekali. Ini tugas pertamaku ke daerah dan aku merasa beruntung mendapat kesempatan ke lapangan—suatu hal yang jarang dilakukan andai aku memilih bekerja di universitas.

medan1Sebelum ke Medan aku merasa sudah tidak enak badan. Aku juga terus berpikir, perjalanan nanti adalah perjalanan pertamaku menggunakan pesawat terbang, aku takut sebenarnya. Sebuah ketakutan yang wajar karena memori ini memang hanya diisi oleh peristiwa kecelakaan pesawat yang puluhan kali sudah terjadi dengan mengenaskan. Tapi aku tidak boleh menyerah, tidak boleh sakit, nanti tidak jadi ke Medan!

Pesawat di Bandara berangkat pukul 11.00. Sekujur tubuhku dibalut dingin begitu diumumkan sebentar lagi take off. Berkali-kali aku merasa gelisah memeriksa seatbelt, mengencangkannya, sampai benar-benar kencang, hingga kurasakan perutku kejang dan mual entah oleh ikatan yang begitu kuat atau oleh deraan rasa cemas. Tapi kukira dua-duanya. Pesawat mulai naik, aku tidak takut ketinggian—aku terbiasa naik gunung—tapi dalam pesawat ini perasaanku melayang, jantungku berdetak sangat kencang dan aku hanya bisa berdoa. Aku harus percaya pada pilot yang mengendalikan pesawat, aku harus percaya pada Lion air yang kutumpangi—meskipun begitu buruk citra penerbangan Indonesia—dan terlebih lagi harus percaya, hanya Tuhan yang mempunyai nyawa. Yang harus terjadi terjadilah! Tapi aku memohon aku selamat tak kurang suatu apa sampai di Medan.

Dua jam berlalu sangat lama. Aku bosan. Hampir tidak bisa memejamkan mata. Awan-awan yang ada di bawahku memang cukup menghibur. Ia sempat menarik suatu imajinasi indah tentang permadani putih yang dapat dijadikan arena bermain anak-anak, karena tanah di atas bumi sudah sangat sempit. Awan-awan bisa menjadi negeri baru tempat manusia membangun peradaban. Tanah di bawah sana karena sempitnya menjadi biang keributan, perkelahian sesama dan bahkan untuk satu kehidupan rela menghisap kehidupan yang lain. Semua sudah digusur. Kuburan digusur. Bagaimana kalau kuburan dipindahkan di awan? Ohh…..aku terkesiap sendiri. Jangan berpikir kuburan di awan. Jangan berpikir kematian di pesawat terbang! Maka aku melihat awan yang semula indah menjadi sangat membosankan, menakutkan, dan warna putihnya menyilaukan mata.

Begitu pesawat mulai turun, kembali aku diguyur takut, tapi aku sangat berharap, di bawah sana aku sudah melihat hijaunya hutan yang kutebak wilayah bukit barisan. Bagaimanapun bumi tempat kehidupan manusia. Aku lebih suka hidup di sana, tempat penuh pertikaian itu, tempat penderitaan itu, dari pada hidup di angkasa di atas awan yang semuanya putih dan membosankan.

medan2Tepat pukul 13.00 pesawat telah mendarat. Aku menyalakan HP, menghubungi Romiana. Aku sms Romi, “Di Medan, aku tak kenal siapapun. Mulai detik ini, selama di Medan, hidupku hanya untuk melayani kamu.” Romi membalas dengan tertawa dan mengatakan, sebentar lagi berangkat ke Bandara.

Dua puluh menit aku menunggu Romi di ruang tunggu yang tak ada tempat duduknya. Polonia hanya bandara keciln dibanding Sukarno-Hatta. Aku menumpang duduk di depan toko di Bandara. Berkali-kali sopir taksi menawariku, dan selalu kujawab, “sudah ada yang jemput.” Ada seorang sopir taksi yang menawari tumpangan taksi dengan bahasa Jawa. Dalam hati aku tertawa, “Pede banget dia, tahu darimana aku bisa bahasa Jawa?”

Romiana dari jauh melambai-lambaikan tangan. Ia mengenakan kaos merah.

Sopir taksi yang sejak tadi tampaknya menguntit Romi, menawari tumpangan. Temanku itu menjawab tegas ala Medan, “Nggak Pak, kami naik kereta.” Aku kira setelah ini, kami memang harus naik kereta. Tapi aku tertawa ketika diajak Romi ke parkir motor dan mengatakan bahwa “kereta” di sini berarti “motor”. Sepanjang jalan aku dan Romi tertawa, menyebut beberapa istilah yang di luar dugaanku. Memang aneh.

“Ini Medan, Bung!” Tiba-tiba aku seperti diingatkan tulisan selamat datang di kota Medan dalam Film “Nagabonar (Jadi) 2”.

Semula aku meminta Romi mengantarku ke hotel yang terletak di kawasan yang tinggal 1 kali naik angkot ke Amplas. Tapi perjalanan dengan kereta sudah setengah jam. Perutku mengingatkan, aku belum makan siang. Aku mengajak Romi makan siang dimanapun. Setelah berputar-putar lagi kami menemukan rumah makan padang. Perjalanan dilanjutkan hanya setelah setengah jam kami makan. Tapi kami tidak jadi pergi ke hotel. Aku meminta Romi untuk bersamaku menginap di hotel, supaya sampai larut malam pun bisa berdiskusi. Romi sepakat sebenarnya, hanya di rumahnya sedang tidak ada orang, dan keponakannya menunggui rumah sendirian. Gadis Medan itu menawarkan rumahnya sebagai pengganti hotel. Aku setuju saja demi kelancaran semua. Aku pikir dari pada aku tidur di hotel sendirian, sepi, tidak tahu tempat, lebih baik aku menginap di Romi dengan harapan aku bisa tahu bagaimana bahasa Batak sehari-hari. Selama kenal Romi, aku menangkap dialek bahasa Melayu yang diucapkan Romi, bukan Batak yang kukenal.

Hari pertama di Medan itu, kami memutuskan ke kantor Romi di YRPP yang ternyata berada di daerah agak pinggiran. Tetapi sebelumnya aku diajak mampir di Kontras Medan. Letak YRPP yang justru bukan di pusat keramaian membuat kantor itu menarik. Kantor YRPP cukup besar, terdiri dari banyak ruang dan besar-besar. Aku diperkenalkan dengan teman-teman Romi satu-satu. Dan sampai sekarang hanya beberapa nama saja yang dapat aku ingat. Teman sekantor Romi banyak sekali. Aku istirahat di kursi plastik. Kata Romi, jam 16.00, dia ada keperluan. Aku memilih menunggu di warnet yang letaknya di depan dekat jalan raya—yang ditempuh dengan jalan kaki kira-kira 300 m. Di warnet aku membuka-buka situs interseksi, chatting dengan beberapa teman di Jakarta dan Bandung. Dua jam berlalu di dunia maya tanpa terasa padahal kakiku menginjak bumi Medan. Kalau Romi tidak muncul lagi di hadapanku, kesadaran ruangku benar-benar terganggu.

medan3Kami melanjutkan perjalanan ke Rumah Romi dengan angkot yang disebut “motor”. Sebenarnya kata Romi bisa ditempuh dengan satu kali angkot, tapi angkot ke Tanjung Anom langka, terpaksa kita menempuh dua kali moda angkutan umum. Wah, rumah Romi jauh, kantor YRPP katanya sudah masuk pinggiran, dan Tanjung Anom ternyata lebih pinggir lagi. Romi mengajak berbelanja dulu di sebuah pasar kecil untuk makan malam sambil menunggu keponakannya menjemput dengan “kereta”. Kami bertiga berboncengan seperti ikan tongkol yang kecil-kecil dijajar di atas sadel motor. Aku terkesima, aku seperti pernah melewati tempat-tempat ini. Jalanan memanjang dengan kanan kiri ladang-ladang yang sepi. Aku mendongak ke langit yang ditaburi beberapa bintang, udara malam yang sejuk. Tak salah lagi, perjalanan ini mengingatkanku ke tempat kakek di pedalaman Lampung Timur—tempat para transmigran bermukim. Kata Romi, perumahan tempat mereka tinggal adalah perumahan baru, maklum kalau masih sepi. Aku menghela nafas, kalau disuruh jalan sendirian di tempat begini, naik ojegpun aku tidak akan berani.

Di rumah Romi aku tidak bisa langsung tidur. Kebiasaan burukku agak susah tidur di tempat yang baru pertama kudatangi. Saat itu kupikir waktu yang tepat mendengar cerita-cerita Romi dari lapangan di Amplas. Aku lebih paham situasinya ketika Romi sudah bercerita panjang lebar. Kami mengobrol sampai larut, jam 1 dinihari aku baru bisa memejamkan mata.

Jam 9 pagi kami menuju YRPP. Sebelum berangkat Romi mengajakku melihat sungai besar di dekat perumahan mereka. Sungai itu berbatu-batu sehingga airnya cukup jernih. Sayang tidak ada kesempatan mandi di sungai. Aku hanya bisa memotret-motret dengan rasa iri. Jam 12 siang kami baru pergi ke Amplas setelah Romi menyelesaikan beberapa urusan di kantor. Kami ke Amplas dengan becak motor.

Rumah Susun itu terletak tak jauh dari terminal Amplas. Dari kejauhan aku sudah melihat kesuramannya. Di gank menuju perumahan tersebut, Romi bertemu dengan warga rusun yang sedang mencuci plastik di air selokan yang mengalir. Plastik-plastik bekas tersebut dicuci, dikeringkan lalu dijual. Ia bersama anak gadis melakukan pekerjaan tersebut sebagai bagian mencari nafkah. Aku teringat plastik-plastikku di indekos. Aku pernah sekali bersama teman-teman mengumpilkan plastik bekas untuk diberi lagi ke penjual. Tapi setelah bapak yang bertugas bersih-bersih di rumah membuang plastik-plastik tersebut, kami merasa pekerjaaan itu tidak berguna. Kami tahu itu lebih bermanfaat, tapi malas bertengkar dengan bapak yang meskipun tak sekolah tapi pandai berargumen:

“buang saja. Dibakar. Ini sampah. Sampah masalah nasional. Kita mengurusi sampah sendirian.” Kami hanya menyengir, sebab kalau kami bicara percuma, bapak tersebut sudah tua dan tuli.

Melihat plastik-plastik ini perasaanku jadi trenyuh antara membenarkan tindakannya sebagai upaya mencari nafkah, mengurangi masalah sampah dan global warming tapi sekaligus jijik. Di kepalaku terbayang pertanyaan darimana plastik yang dipakai membungkus makanan kami, anak-anak kos yang suka beli makan di warung? Jangan-jangan plastik bekas yang dcuci di air seperti ini. Aku memotret peristiwa ibu, anak gadis dan plastik sampah itu dengan perasaan miris. Aku juga memotret anak kecil yang mandi di sumur umum yang tanpa penutup. Romi kemudian mengajakku terus berjalan menuju rumah susun di petak milik Ibu Napitupulu, pemimpin KWRS Amplas.

Ada tamu lain yang sedang mengunjungi Ibu Napitupolu. Tamu-tamu tersebut sedang dijamu makan siang. Begitu kami datang, Ibu Napit—begitu panggilannya—segera menyuruh temannya mengambilkan piring. Rumah petak di rusun itu hanya berukuran 2-x4 yang terbagi dalam ruang depan tempat kami—para tamu—duduk, dua kamar tidur yang tampakny tak berjendela dan tak berfentilasi, secuil dapur dan mungkin dibelakang ada secuil lagi wc. Ruang tamu itu hanya cukup berisi 7 orang dalam keadaan duduk di atas karpet. Karpet itu pun sudah sangat lusuh.

Karena Romi memenyendokkan nasi ke piringnya, mau tidak mau aku harus ikut. Nalarku segera tahu, ini cara tamu menghormati tuan rumah di Medan. Walaupun perut sudah lapar, jadwal makan siang, tapi aku tidak bisa menelan makanan yang sudah masuk dalam mulutku. Aku hanya mengambil nasi kira-kira tiga sendok makan di atas piring dan mengambil lauk sambal teri, agar beban makan cepat kuselesaikan. Tapi aku tak bisa berbohong, makanan itu tak bisa kutelan.

“Kenapa temennya nggak mau ngambil ayam Rom, anggaplah rumah sendiri.” Aku tersenyum. Untung Romi segera menjawab: “ Dina nggak makan ayam.” Padahal tentu bukan karena aku tidak makan daging ayam, tapi aku tidak tega memakan ayam yang disuguhkan mereka. Makanan dengan menu ini belum tentu dalam tiga hari atau bahkan seminggu dimakan oleh mereka.

Sambil makan, Romi mengobrol dengan mereka. Aku dapat melihat kecakapan Romi menggali informasi dari warga rusun Amplas ini. Mereka menceritakan tentang aksi yang terakhir yang dilakukan KWRS Amplas, kisah menginap di DPR, bagaimana diejek oleh warga rusun lain yang tidak sepaham dengan mereka dll. Begitu Bu Napit melihatku selesai makan, ia bertanya layaknya tuan rumah memperhatikan tamunya. Aku memperkenalkan diri dari Interseksi di Jakarta yang sedang bertugas membantu Romi di sini. Kemudian Bu Napit mulai menceritakan secara garis besar keadaan warga di rusun, termasuk air bersih yang sulit didapat sehingga kulit mereka gatal-gatal. Tapi untuk makan dan minum beliau mengatakan “kami beli air bersih.” Pernyataan itu secara spontan membuatku malu karena sempat terpikir bagaimana air yang digunakan untuk memasak makanan yang sedang kumakan tadi. Bu Napit juga bercerita tentang kasus pemadaman listrik dan bagaimana mereka memikirkan nasib anak-anak yang terganggu belajarnya, sehingga memutuskan untuk mulai melakukan aksi.

Ketika obrolan semakin asyik, seorang pemuda yang sejak tadi tidur terbangun. Dia mulai ikut mengobrol. Dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa USU semester akhir yang terlibat dalam aksi di KWRS Amplas. Begitu ia tahu aku dari Jakarta, ia mengambil alih juru cerita. Ia banyak bicara tentang penggusuran-penggusuran, managemen aksi, bagaimana mendidik kader di KWRS Amplas, bagaimana membuat kader tidak bergantung pada gerakan mahasiswa dll. Ketika aku dan pemuda itu asyik mengobrol, Romi sedang bicara dengan Namboru, tetangga bu Napit, sehingga tak ada pilihan lain bagi Bu Napit selain mendengar aku dan pemuda itu bicara. Pemuda itu semakin lama semakin latah menggunakan bahasa-bahasa kampus. Aku mulai tidak enak dengan Bu Napit yang merasa dibicarakan tapi tiak diberi ruang lagi untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Aku menangkap gelagat sedikit kecemburuan. Aku kembali bertanya pada Bu Napit seputar pengalamannnya sebagai pemimpin aksi, dan beliau menjawab dengan antusias, berkali-kali memuji pemuda yang duduk di hadapannya, kalau tidak karena mahasiswa ini, teman-teman YRPP, kami tak bisa jalan, kata beliau.

Kami hampir melampaui jam 14.00 siang, ketika akhirnya Romi mengajakku mengundurkan diri. Rencana kami berikutnya mengunjungi Ibu yang tinggalnya masih di rusun tetapi mengambil sikap bersebrangan dengan Ibu Napit. Sayang, yang dituju tidak ada di rumah, sehingga kami mengunjungi ibu yang lain yang menurut Romi “bersaudara” dengan Pemuda Pancasila. Dari ibu tersebut Romi dapat mengetahui bagaimana orang-orang tertentu di rusun Amplas sebagian disogok oleh PD Pembangunan.

Kami menyelesaikan wawancara itu jam tigaan. Perutku sudah perih. Aku dan Romi mencari tempat makan. Tetapi kami tidak memutuskan makan di terminal Amplas, sehingga kami menahan diri lagi makan siang sampai di kantor YRPP jam 16.00. Sore kami melanjutkan perjalanan ke toko buku di seputar USU. Jalanan begitu macet. Aku dan Romi sudah tidak bisa mengobrol lagi karena lelah. Toh pada akhirnya buku yang kami cari tidak ditemukan. Magrib baru kami memutuskan pulang ke Tanjung Anom. Jam 8.30 malam, di rumah Romi langsung membuka laptop yang tadi siang sempat dipinjam dari temannya. Ia mulai menulis jurnal harian hasil wawancara lapangan, hasil pertengkaran dengan PD Pembangunan, dan begitu banyak peristiwa yang sejak dulu hanya terpendam dalam ingatan. Jam 22.00. aku sudah terlelap. Pukul 23.00 aku dibangunkan Romi. Antara sadar dan tidak aku menjawab pertanyaan Romi tentang bagaimana menulis laporan, dan jatuh tertidur lagi. Kata Romi ia baru tertidur pukul 01.00 dini hari.

Tanggal 29, hari terakhirku di Medan. Aku dan Romi berangkat pagi-pagi, laptop harus sudah berpindah pada peminjam lain. Romi sendiri ada pekerjaan mengantar surat. Keponakan Romi yang kemarin menjemput, hari itu sekolah pagi. Kereta Romi karena baru belum dipasang plat polisi, jadi kami harus berbesar hati untuk jalan kaki menyusuri ladang jambu dan kakao. Di tengah jalan kadang kami bertemu dengan segerombolan sapi, atau ibu-ibu yang mencari kayu bakar. Langkah kaki kami yang pendek-pendek ditambah kebiasaan bercanda membuat perjalanan kami agak lama tapi cukup menyenangkan. Kami tiba di kantor YRPP jam 9.30. Romi langsung meneruskan ketikan yang semalam. Kami berdiskusi lagi, memberi gambaran tentang pembuatan laporan baik jurnal harian maupun penulisan laporan akhir. Kami bekerja sampai jam 13.00.

Mencari oleh-oleh adalah tugas berikutnya. Kami berputar-putar dari pasar ke pasar, masuk mall hanya numpang mendinginkan badan setelah kepanasan. Akhirnya aku menemukan ide untuk memberi kenang-kenangan pada Romi. Pot bunga. Ibunya sangat menyukai tanaman. Aku sendiri cukup membeli selendang ulos untuk wisuda yang harganya hanya Rp.50.000-an, itupun kata Romi bisa ditawar, beli kue buat Interseksi dan teman-teman sekos. Jam 15.30, Romi mengantarku ke Bandara. Pesawat harusnya berangkat jam 17.45, tapi entah mengapa semua begitu lama, bahkan ketika aku sudah berada di dalam Lion Ai. Di bawah terdengar suara barang-barang yang sedang dimasukkan dalam bagasi pesawat. Tiba-tiba aroma durian tercium, aku langsung tahu barang apa yang dimasukkan dalam bagasi. Aku teringat cerita Romi tentang kecelakaan pesawat Mandala yang membawa gubernur Sumut kala itu karena terlalu banyak membawa durian. Aku mulai deg-degan. Ketika pesawat akhirnya take off, aku hanya berharap selamat sampai di Jakarta, sampai di kos dan besok bertemu teman-teman lagi. Aku melihat ke jendela, melihat tanah yang jauh di bawah sana. “Ini Medan, Bung!” Aku teringat pesawat mandala itu lagi, membayangkan ketika sedang naik begini kecelakaan itu terjadi. Tak tahan dengan imajinasiku sendiri, akhirnya aku memejamkan mata. Tuhan, aku hanya imgin selamat sampai Jakarta.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 di komunitas Orang Sakai, Riau