Jurnal Harian Bagansiapiapi (Bagian Tiga)

1 Juni 2011

Ada tiga agenda utama hari ini. Pertama mulai merumuskan kerangka laporan penelitian. Kedua, bertemu narasumber, seorang wartawan lokal dan ketiga, mempertegas lagi peta lanskap Kota Bagansiapiapi dengan melakukan observasi dengan mengelilingi kota pada malam hari, hal yang belum saya lakukan sebelumnya.

IMG_0460Membuat kerangka laporan memang tidak mudah, saya sudah membayangkan sebelumnya. Saya tahu persis bahwa menyusun kerangka saat ini tidak akan bisa seratus persen terpenuhi. Namun saya membutuhkan kerangka ini untuk memberi guideline dalam penggalian data. Selain itu, pekerjaan ini sengaja saya pilih karena pagi hari ini di kota sedang turun hujan dan tidak ada narasumber atau agenda observasi yang bisa dilakukan. Boleh dikatakan sambil mengisi waktu kosong, tidaklah rugi.

Sore harinya, saya bertemu narasumber, seorang wartawan koran lokal. Saya membayangkan yang bersangkutan pasti memiliki informasi yang cukup banyak mengenai komunitas Cina Bagansiapiapi. Selain itu, tentu kawan ini punya banyak kontak orang-orang Cina Bagan, mengingat profesinya adalah wartawan. Kami membuat janji pertemuan di sebuah kedai kopi dekat kelenteng tertua di Kota Bagansiapiapi. Dari sharing awal dengannya, saya memperoleh beberapa isu penting mengenai komunitas Cina Bagan. Selain wartawan, ternyata sebelumnya dia adalah peneliti di lembaga penelitian Universitas Riau, karena itu dia cukup akrab untuk menentukan isu-isu apa saja yang menarik. Beberapa masukannya saya catat sebagai bahan pendalaman nanti ketika bertemu narasumber dari masyarakat Cina. Sebelum berpisah, dia juga berkomitmen akan membantu mencarikan kontak-kontak narasumber yang menurutnya penting.

Selanjutnya, observasi kota di malam hari adalah pilihan yang paling realistis untuk malam ini. Saya perlu mendapat gambaran yang lebih akurat mengenai struktur dan lanskap kota, termasuk mengamati kehidupan kota di malam hari. Dalam observasi ini, saya menemukan beberapa hal menarik yang akan saya sampaikan dalam laporan nanti. Secara garis besar saya akan paparkan mengenai sistem jalan, pola pemukiman, struktur kota secara umum dan tentu saja aktifitas sosial dan ekonomi kota. Saya juga akan melaporkan beberapa temuan terkait politik pembauran di kota ini.

Setelah puas berkeliling kota, tanpa diduga saya kedatangan tamu seorang warga Pulau Panipahan, pulau yang juga didiami komunitas Cina yang cukup besar. Setelah berdiskusi dengannya, saya merasa perlu juga untuk berkunjung ke pulau tersebut sebagai bahan perbandingan.

2 Juni

IMG_0474Hari ini saya bertemu salah satu staf keuangan Dinas Perikanan Rokan Hilir. Pertimbangan utama untuk menemui yang bersangkutan adalah untuk mengetahui bagaimana instansi pemerintah seperti Dinas Perikanan menjalankan program-programnya sekaligus mengetahui formasi kepegawaian di instansi ini. Saya punya dugaan bahwa di instansi pemerintah ini tidak ada warga Tionghoa yang jadi pegawai. Dia menjelaskan mengenai anggaran Dinas Perikanan per tahun, apa saja alokasi anggaran tersebut dan tentu saja penjelasan yang membuktikan dugaan saya bahwa tidak ada orang Cina yang bekerja di lembaga ini.

Selanjutnya saya bertemu seorang melayu yang diangkat anak orang Cina Bagan bernama Tan a Kwang (nama aslinya Samsul). Dia bercerita ketika dia masih kecil diangkat anak orang Cina di Bagan karena anak perempuannya sudah dikasikan orang Melayu, nampaknya ditukar. Diberi nama Cina dan dibesarkan dalam keluarga Cina. Karena itu dia banyak tahu mengenai kebiasan, adat hingga problem-problem yang dihadapi etnis Cina Bagan khususnya dan Rokan Hilir pada umumnya.

Malam hari saya bertemu dua orang lagi: satu seorang Tionghoa mantan anggota DPRD Rokan Hilir bernama Sam Ko dan satu lagi bernama Ang Cing Wi. Tujuan saya bertemu kedua orang ini untuk mengetahui bagaimana interksi sosial waga Tionghoa di Bagan baik dengan sesama mereka maupun dengan warga etnis lain. Saya juga ingin tahu beberapa aspek dari budaya dan agama warga Tionghoa di Bagan. Juga mengenai keterlibatan mereka dalam instansi-instansi publik pemerintah setempat. Banyak hal menarik yang saya daptkan dari kedua orang ini. Antara lain: Sistem orang-orang Tionghoa di Bagan sangat memperhatikan aspek kosmologi dan budaya. Salah satu contohnya adalah, dalam membangun rumah, warga tionghoa Bagan akan selalu menempatkan pintu depan rumah itu di bagian tengah, begitu juga tangga, jembatan ke jalan raya atau altar pemujaan. Hal ini karena menurut pandangan tradisional mereka, keberadaan elemen-elemen tersebut harus netral untuk menjaga keseimbangan. Dalam kepercayaan orang-orang tua Tionghoa Bagan, sebelah kanan rumah terletak simbol harimau dan sebelah kiri naga. Kedua simbol ini harus sejalan dengan elemen-elemen rumah. Misalnya, harimau tidak cocok dengan air dimana tidak boleh menempatkan air di sebelah kanan rumah. Umumnya rumah di Bagan memiliki tong air tempat penampungan air hujan. Tong-tong ini selalu ditempatkan di sebelah kiri, karena air cocoknya dengan naga.

Seperti saya ceritakan sebelumnya, bahwa dalam sistem rumah-rumah orang Tionghoa di Bagan ada 5 bagian. Satu yang luput saya sebutkan adalah masih banyak rumah-rumah tradisional yang memiliki loteng yang juga berfungs sebagai kamar atau gudang, dan umumnya berbahan kayu. Pada tahun 1980-an ada surat edaran dari Camat Bangko mengenai larangan penempatan tong air di depan rumah karena dianggap mengganggu keindahan. Namun edaran itu sekarang sudah tidak berlaku karena masih banyak tong air di depan rumah.

IMG_0533Warga Tionghoa di bagan menguasai perdagangan. Semua rumah toko yang ada di Bagan kota pemiliknya warga Tionghoa. Bahkan di beberapa kota seperti Jakarta, Medan dan Pekanbaru beberapa konglomerat berasal dari Bagan. Salah satunya si raja baut Sugianto. Dinamakan raja baut karena dialah pemasok baut motor Yamaha se-Asia. Dia membangun rumah supermegah di depan kelenteng tertua di Bagan. Mereka juga sering mengajak pemuda-pemuda bagan untuk mengikuti mereka ke kota tempat mereka berusaha.

Orang-orang Tionghoa Bagan juga memiliki gen perantau. Hal itu tidak hanya ditunjukkan dengan perantauan mereka ke Bagansiapiapi. Setelah mereka menjadi penduduk Bagan pun, jiwa perantau tetap tidak bisa dipisahkan. Mereka ada di hampir semua kota besar di Indonesia. Bahkan di luar negeri seperti Hongkong, Singapura, Malaysia, London, banyak orang Bagan. Jiwa nelayan  menjadikan mereka eksis di berbagai wilayah pesisir di Indonesia. Bahkan hampir semua warga Tionghoa di pesisir Cilacap adalah warga Bagan. Mereka juga terkenal sebagai pembuat kapal yang handal. Meskipun saat ini galangan (dok) sudah tidak banyak karena semakin sulitnya bahan baku, masih banyak orang Tionghoa Bagan yang pandai membuat kapal. Kapal-kapal ini banyak dipesan oleh nelayan di berbagai daerah.

Sebagai warga negara, orang-orang Tionghoa di Bagan masih mengalami diskriminasi dalam beberapa aspek. Salah satunya adalah dalam birokrasi di Rokan Hilir. Dalam hitungan sumber ini, se-Rokan Hilir hanya ada 6 orang PNS dan 7 orang tenaga honorer. Dimana dari 6 PNS tersebut, 5 orangnya adalah dokter, hanya seorang dari jumlah itu adalah kepala puskesmas.

Minimnya jumlah PNS warga Tionghoa ini karena sejak orde baru orang Tionghoa tidak diberi peluang untuk masuk birokrasi sehingga merekapun tidak berminat masuk pegawai negeri sipil. Praktek itu secara formal sudah tidak ada, namun faktanya sekarang masih ada. Ada kesan kalau sedikit orang Tionghoa menjadi PNS, tidak akan menjadi ancaman bagi etnis lain khususnya warga Melayu.

Kawan Tionghoa ini juga bercerita mengenai orang-orang Tionghoa Bagan yang sangat kental memegang tradisi. Bakar Tongkang misalnya selalu dirayakan setiap tahun meskipun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Setiap tahun ribuan tamu hadir dari berbagai daerah bahkan dari mancanegara. Panitia juga sering mengundang artis-artis dari Malaysia, Singapura bahkan Taiwan. Tahun lalu, tamu yang datang ke Bagan mencapai 34.000 orang. Tahun sebelumnya bahkan mencapai 60.000 orang. Perayaan ini memang menjadi hari besar bagi warga Tionghoa Bagansiapiapi. Mereka yang berada di luar Bagansiapiapi merasa perlu untuk pulang karena hari ini adalah salah satu hari terpenting. Dua moment terpenting lainnya adalah Imlek dan sembahyang kubur.

Sistem kekerabatan warga Tionghoa Bagan menganut garis laki-laki. Dalam sistem marga mengikuti garis bapak. Begitupula dalam hal pembagian warisan, anak perempuan tidak memperoleh harta warisan, hanya laki-laki yang mendapat warisan.

Anak perempuan ditanggung hidupnya oleh saudara laki-laki sampai waktunya menikah dan mengikuti suami. Anak laki-laki lebih utama dan lebih disenangi karena dianggap sebagai penerus marga. Karena itu di era sebelum tahun 80-an, banyak anak-anak perempuan Tionghoa Bagan yang dijual ke orang Melayu. Orang Melayu sendiri senang karena bisa punya anak berkulit kuning. Hal lain yang berkait dengan kekerabatan adalah, pantangan menikah sesama marga karena dianggap perkawinan sedarah.

IMG_0576Aspek budaya yang lain, dalam hal kematian, ada ketentuan dalam keyakinan tradisional mereka bahwa apabila ada saudara yang meninggal dunia, masa berkabung keluarga yang masih hidup adalah 1 tahun. Dalam masa berkabung ini, keluarga yang masih hidup menyematkan tanda tertentu di tangan agar mudah diketahui orang lain. Begitupula selama masa berkabung tersebut keluarga yang ditinggal tidak boleh mengenakan pakaian warna merah karena dianggap pertanda kebahagiaan, tidak boleh melakukan pesta dan selamatan. Hal ini karena orang yang berkabung dianggap orang yang belum suci. Setiap orang yang meninggal, derajat dan statusnya dapat dilihat dari jumlah lapis bajunya: 4 lapis untuk kakek (putih, hitam, biru dan hijau), Bapak 3 lapis, anak 2 lapis dan anak-anak 1 lapis karena dianggap masih suci. Bagi tetangga atau orang-orang yang rumahnya dilewati mayat, mereka biasanya menutup pintu untuk menolak kesialan masuk ke rumah mereka. Praktek ini memang belum bisa saya buktikan secara langsung karena belum ada yang meninggal sampai saat ini.

A Wi juga bercerita mengenai konflik yang terjadi pada tahun 1946. Konflik ini menurutnya adalah akibat kesalahpahaman. Karena minimnya informasi, orang-orang Tionghoa bagan mengibarkan bendera Kuomintang karena mengira setelah Jepang kalah, Cina akan menguasai Asia termasuk menguasai Taiwan. Oleh karena itu untuk mengantisipasi kekalahan Taiwan sekaligus melawan kekuasaan Cina daratan, mereka mengibarkan bendera Kuomintang di Kota Bagan. Pada waktu itu, orang-orang Tionghoa Bagan masih sangat kuat keterikatannya dengan tanah leluhur mereka di Fujian, sebagaimana orang-orang Cina pada umumnya yang masih mengikatkan dirinya pada Cina daratan meskipun mereka sudah jadi wagra Indonesia. Bahkan sampai saat ini, ada orang-orang generasi kedua yang masih hidup rindu kampung halaman, hingga apabila meninggal nanti ingin dikubur di Cina. Hal lain, bahasa Hokkian yang mereka gunakan saat ini di Bagan sama dengan bahasa Hokkian di negeri asalnya sana. Barangkali ini mirip orang Suriname dengan bahasa dan tradisi Jawanya.

Dari cerita A Wi, masih banyak orang Tionghoa Bagan yang miskin. Di Sinaboi Misalnya, ada 40 KK warga tionghoa yang tidak berbaur sama sekali dengan etnis lain. Mereka umumnya keluarga miskin. Meskipun baru temuan awal, secara garis besar beberapa gambaran tentang masyarakat Tionghoa di Bagan dapat terlihat. Saya menganggap temuan ini sebagai bahan pemetaan problem untuk bahan wawancara dengan narasumber warga Tionghoa yang lain.

3 Juni

Hari ini saya ada janji untuk bertemu dengan Kepala Dinas Perikanan Rokan Hilir (Rohil). Janji pertemuan ini tidak secara langsung saya peroleh, namun melalui salah satu staf keuangan Dinas ini. Dalam pertemuan ini, saya mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain mengenai payung hukum Dinas, apa saja programnya dan juga beberapa hal menyangkut statistik perikanan di Rohil. Sang Kepala Dinas nampaknya kurang memiliki visi yang jelas mengenai pengelolaan sumber daya laut di Rokan Hilir. Ia hanya menjelaskan, bahwa program Dinas yang rutin hanya tiga yakni pengawasan pengairan dan Pulau Jemur, bantuan-bantuan alat tangkap dan armada, dan mengenai perizinan. Pertemuan tidak terlalu lama karena hari ini hari Jumat. Saya mengingat pengalaman minggu lalu dimana hari jumat di Riau dan sekitarnya menjadi sangat pendek. Setelah memperoleh beberapa informasi, saya meninggalkan kantor dinas.

IMG_0929Saya juga hari ini sengaja memilih untuk shalat Jumat di masjid Agung yang terletak sekitar ½ km sebelah barat Kantor Bupati. Masjid ini tergolong megah dengan arsitektur khas Mesir bercampur Turki. Shalat ini memang tidak begitu terkait dengan tema penelitian ini. Namun melihat letak masjid ini yang berada di perkampungan etnis Tionghoa, ada beberapa tafisr yang muncul. Bisa jadi pendirian masjid ini sebagai bentuk pembauran warga antar etnis, dimana warga non-muslim juga diharapkan memiliki toleransi terhadap perbedaa. Namun bisa juga sebagai bentuk pembauran yang dipaksakan, karena konsentrasi masyarakat muslim sesungguhnya bukan di tempat ini, melainkan di sebelah selatan dan timur Kantor Bupati. Ada satu lagi alasan yang barangkali tak pernah masuk hitungan adalah, karena tanah yang tersedia hanya di lokasi ini. Meskipun saya memiliki kecendrungan alasan yang kedua. Karena nampak sekali orang-orang yang shalat jumat di masjid ini datang dari wilayah timur dan selatan. Sementara dari wilayah sekitar masjid tidak terlalu banyak.

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta. Peneliti dalam Program Riset “Kota-Kota di Sumatra Awal Abad 21”, The Interseksi Foundation