Jurnal Harian Riset Bagansiapiapi (Bagian Dua)

30 Mei

Hari ini saya juga bertemu dua orang. Orang yang pertama warga melayu asli Bagan, bekerja freelance sebagai kontraktor proyek-proyek Pemda dan yang kedua, seorang

Batak pendatang tapi sudah cukup lama tinggal di Bagan. Dia juga menjabat salah satu ketua lembaga NU di kota ini. Kedua orang ini juga cukup paham problem-problem di Bagan. Kawan Melayu ini bercerita tentang tingginya potongan tidak resmi proyek yang dilakukan oknum-oknum birokrasi di Bagan. Pasti ada potongan sebesar 30% apabila rekanan Pemda ingin mengerjakan proyek-proyek. Potongan ini kemana? Mulai dari bupati sampai aparat-aparat di tingkat dinas dapat bagian, “Ratalah,” katanya. Ironisnya, apabila ada masalah dalam pengerjaan proyek tersebut, mereka lepas tangan dan tanggungjawab akan ditimpakan ke rekanan. Ia juga bercerita tentang model kepemimpinan bupati yang menurutnya persis Soeharto, otoriter. Bupati ini baru memulai periode kedua kepemimpinannya di Bagan.

Sementara kawan Batak yang juga seorang guru kewarganegaraan ini cerita tentang berbagai hal mulai ekonomi, sosial hingga politik. Ada satu masalah yang menurutnya menarik diteliti terkait komunitas Cina di Bagan yaitu masalah rasa kebangsaan mereka. Isu ini menarik karena menurutnya beberapa praktek sosial ekonomi kalangan Cina Bagan kurang menunjukkan rasa ke-Indonesia-an mereka. “Kalau ditanya apakah mereka merasa orang Indonesia mereka pasti mengaku orang Indonesia, tapi coba periksa apakah mereka punya KTP atau tidak,” katanya. Selain itu di Kota Bagan ini banyak produk-produk buatan Malaysia bebas beredar dan umumnya dibawa orang-orang Cina Bagan. Produk-produk seperti semen produksi Malaysia masuk Bagan secara ilegal. Menariknya, semen dari negara tetangga ini banyak digunakan warga kota karena harganya jauh lebih murah dengan kualitas yang menurut sebagian orang lebih bagus. Jika ditanya mengapa menjual produk Malaysia, orang-orang Cina ini mengatakan ya karena semen dari Indonesia susah dan lebih mahal. Nampaknya, masyarakat secara umum juga tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Sebagai wilayah perbatasan, beberapa hal di atas sudah dianggap hal biasa.

Kawan Batak ini juga cerita tentang orang-orang Cina yang jual beli ikan dalam skala besar di tengah laut dengan pembeli-pembeli dari Singapura dan Malaysia. Praktek ini juga sudah dianggap biasa. Pedagang Cina ini membeli ikan dari nelayan tradisional dan dikumpulkan di gudang, Beberapa orang Cina juga masih ada yang jadi nelayan besar. Hasil pengumpulan dan tangkapan ini mereka bawa ke tengah laut dan bertemu pembeli di sana. Selain dengan cara jual beli, mereka juga menggunakan sistem barter dengan barang-barang yang bisa dijual lagi di Bagan.

31 Mei 2011

Menemukan fokus penelitian ternyata susah-susah gampang. Buktinya sampai hari kedua saya di Kota Bagan, belum ada satu fokus yang benar-benar membuat saya terpikat. Ini bukan karena tidak hal yang menarik, tetapi justru sebaliknya karena ada beberapa pilihan. Seperti yang saya canangkan pada awalnya bahwa masalah etno-demografi adalah salah satu isu menarik. Isu lain yang juga menarik terkait dinamika masyarakat Cina di Bagan, isu terakhir ini saya dapatkan setelah berdiskusi dengan beberapa narasumber. Isu terkait kewarganegaraan juga bisa menjadi satu isu menarik,  bahkan masalah perbatasan juga bisa menjadi tidak kalah menarik. Intinya, saya dihadapkan pada kesulitan yang diinginkan.

Setelah saya merenung beberapa saat, pada hari ketiga ini nampaknya saya menemukan satu pilihan yang kurang lebih menurut saya paling pas yakni dinamika masyarakat Cina Bagan. Ada beberapa alasan. Pertama, dari masukan beberapa narasumber, belum banyak yang mengangkat secara serius masalah Cina Bagan. Kedua, pada bulan Juni ini akan diadakan perayaan Bakar Tongkang dimana proses persiapan sudah sangat terasa saat ini. Ketiga, masalah Cina Bagan bisa saya kaitkan dengan problem sosial, ekonomi hingga politik. Keempat, kaitannya dengan masalah kewarganegaraan hingga masalah perbatasan sangat kuat. Kelima, dinamika masyarakat Cina juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika masyarakat etnis lain disekelilingnya seperti Melayu, Jawa dan lain-lain.

Keenam, sebagai kota yang heterogen, tema ini jelas bisa dikaitkan dengan masalah multikulturalisme. Jelas menarik bukan? Karena itu, hari ini saya mulai mengidentifikasi beberapa pertanyaan kunci, mencari-cari jalur untuk masuk ke narasumber primer dan tentu saya observasi dengan nongkrong di kedai kopi milik warga Cina dan melihat dari dekat keseharian mereka.

Hari ini saya bertemu dengan dua orang pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Rokan Hilir. Saya ingin tahu informasi-informasi awal mengenai kehidupan nelayan termasuk aspek etno-demografisnya. Saya mengajak mereka sharing di salah satu kedai kopi milik warga Cina di Bagan Kota. Di tengah obrolan, sebelah meja kami datang dua orang lelaki bermata sipit berkulit gelap, sosok khas mereka yang sering berjemur di bawah terik matahari dan terpapar angin laut. Sekilas, nelayan Cina ini berdiskusi dengan salah satu pengurus Himpunan ini. Nampaknya dia bercerita tentang adanya pungutan liar dari oknum aparat (kurang jelas aparat apa dan di mana). Keyakinan saya bertambah, bahwa isu Cina Bagan pasti menarik.

Di tengah diskusi kami, dua gerobak kaki lima mampir di warung (ruko) kopi tempat kami diskusi. Keduanya memarkir gerobaknya persis di depan gerbang warung. Yang satu gerobak nasi goreng, satunya lagi mie ayam. Keduanya warga Melayu. Ternyata mereka juga berjualan di tempat tersebut. Dari informasi yang saya dapatkan, mereka memang diberi tempat berjualan di warung milik Cina ini sebagai bentuk usaha saling menguntungkan. Warung Cina hanya menjual aneka minuman, sementara non Cina pemilik gerobak hanya menjual makanan. Yang makan pasti butuh minum, begitupun sebaliknya. Kabarnya tidak ada ongkos sewa tempat, kecuali hanya untuk bayar listrik. Praktek semacam ini sudah umum di Kota Bagan, nampaknya sudah jadi tradisi bertahun-tahun. Di sini saya menemukan praktek multikulturalisme yang sangat kental. Bahkan dari aspek dialog budaya, keberadaan gerobak makanan milik warga melayu atau etnis non Cina lainnya, akan menarik pengunjung non Cina lebih banyak, juga membuat mereka lebih betah berlama-lama mengobrol. Asumsinya, mereka tidak akan ragu dengan aspek kehalalan makanan yang disantap karena yang menjual sesama muslim dan wadahnya juga suci. Meskipun sesungguhnya asumsi ini terkesan simplistik. Bagaimana mereka tahu minuman yang dijual disajikan dari wadah yang suci? Namun pertanyaan ini nyatanya tidak pernah ada. Bisa saja pertanyaan ini dalam logika mereka tidak penting.

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta. Peneliti dalam Program Riset “Kota-Kota di Sumatra Awal Abad 21”, The Interseksi Foundation