Jurnal Harian Riset Bagansiapiapi (Bagian Pertama)

27 Mei

Saya memutuskan untuk bermalam tiga hari di Pekanbaru. Saya sudah mencanangkan beberapa rencana dengan tujuan utama mencari data-data awal tentang Bagansiapiapi.

Hari ini Jumat, dalam bayangan saya sama saja dengan hari-hari lain. Hari ini ada beberapa rencana yang sudah dirancang. Pertama, mengunjungi Perpustakaan Universitas Riau (UNRI) yang memang berada persis di depan hotel tempat saya menginap. Setelah itu tiba-tiba saja muncul rencana baru untuk mengunjungi Perpustakaan Wilayah. Kenapa tidak? Perpustakaan ini adalah perpustakaan terbesar di Riau. Tentu di sana banyak referensi yang bisa ditemukan terutama mengenai Riau dan khususnya Bagansiapiapi.  Pastilah akan sangat efektif waktu hari ini.

Memang begitulah, kaki melangkah keluar hotel ketika tiba-tiba saya menengok jam di HP memunjukkan pukul 09.00, waktu yang cukup siang. Namun tidak tahu mengapa saya ragu untuk masuk kampus karena bayangan bagaimana tradisi perpustakaan di kampus yang tidak biasa. Mereka mungkin sudah buka pada jam ini, namun apakah sudah siap menerima pengunjung, itu yang saya ragu. Karena itu, niat saya ubah untuk mengunjungi Perpustakaan UNRI sekitar jam 13.00. Pagi ini rencana yang cukup masuk akal adalah mengunjungi Perpustakaan Wilayah yang berada cukup jauh dari kampus UNRI namun cukup banyak kendaraan umum yang ke sana. Dari informasi yang saya peroleh, cukup satu kali naik kendaraan umum dan langsung turun di depan perpustakaan, atau orang Pekanbaru lebih suka menyebutnya Pustaka (boleh juga…).

Peristiwa tak terduga dan sedikit lucu terjadi di bus kota yang saya naiki. Duduk sendiri beberapa lama, seorang kakek naik dan duduk di sebelah saya. Sebagai orang baru ke Pekanbaru, dengan penuh kepolosan dibungkus wajah penasaran, saya tanyakan nama jalan di mana perpustakaan berada. Tanpa saya duga, kata “perpustakaan” membuat dia antusias untuk sedikit “menginterogasi” saya. “Ngapain Adik ke Pustaka? Adik dari mana? Oo, dari Jakarta”. Tentu saya senang karena kenyataan melebihi harapan, “Adik ini fisabilillah donk,” simpulnya serius. Sampai ketika kenek bus meminta ongkos, saya sudah siapkan bayar untuk dua orang. “Untuk dua orang ya,” kata sang kakek mendahului saya. Wah, saya kalah cepat.

Turun persis di depan Pustaka seperti order kakek yang memperkenalkan dirinya sebagai Abdullah. Ambil beberapa foto, langsung cari pintu masuk. Bersebelahan dengan kantor gubernur, Gedung ini paling mencolok karena tingginya melebihi bangunan-bangunan di sekelilingnya. Dia hanya kalah oleh kantor gubernur. Kesan saya, ini perpustakaan yang cukup besar untuk tingkat wilayah. Terdiri dari 6 lantai dengan rancangan futuristik atau minimal progresif. Hah…tahu dari mana saya?  (foto terlampir).

Saya langsung mencari komputer pencari katalog dan memasukkan subjek. Buku terkait Bagansiapiapi ada empat dan hanya satu yang menurut saya memenuhi kriteria yang dicari, itupun hanya ada satu eksemplar. Baru lima menit mulai memelototi nomor-nomor katalog di sampul buku yang sebagian sudah tidak terbaca, petugas sedikit berteriak mengingatkan waktu buka tinggal sepuluh menit karena petugas akan istirahat. Ah, hari Jumat.

Perpustakaan buka kembali pukul 14.00, tanpa banyak menghabiskan waktu, saya langsung menuju rak yang saya kunjungi pagi tadi. Setelah hampir 30 menit mencari, buku yang dimaksud tidak kunjung ketemu. Akhirnya saya menyerah dan menanyakan kepada petuas. Keterangan yang saya dapatkan hanya apologi kalau perpustakaan ini baru pindah. Karena itu kalaupun buku yang dicari tidak ketemu, mungkin masih ditempat lama. “Mungkin di Bilik Melayu ada, mas,” setengah berlari saya menuju ruang yang dimaksud dan seperti biasa menuju komputer katalog. Sayang si komputer sedang rusak, sehingga cara manual-lah yang harus ditempuh. Untunglah ada satu petugas yang coba membantu. Setelah tanya ini itu, sang petugas mengambilkan saya buku Sejarah Riau terbitan Pemda Riau. Di buku inilah saya temukan beberapa cerita tentang Bagansiapiapi. Meskipun sedikit, saya tetap bersyukur karena cukup memenuhi harapan. Minusnya, buku ini sangat kental sejarah versi pemerintah. Untuk sementara hal itu saya abaikan dan mengkopi beberapa halaman.

Hari ini saya juga membuat janji dengan kawan baru. Karena buta peta, sang kawan mau tidak mau datang ke Pustaka. Pertemuan santai ditemani secangkir kopi, dengan tujuan utama ramah tamah. Tidak diduga sang kawan orang asli Bagansiapiapi sekaligus alumni satu angkatan dengan saya di IAIN Jakarta. Inilah mungkin yang dinamakan kemujuran tak bisa ditolak, berharap satu dapat tiga. Begitulah akhirnya banyak obrolan mengenai Bagansiapiapi. Banyak informasi awal yang saya peroleh dan tentu sangat membantu, bahkan dari sini saya dapat beberapa kontak lokal yang bisa ditemui baik untuk diwawancarai maupun untuk tempat kost. Kesimpulan saya, hari ini cukup lucu.

28 Mei

Hari Sabtu, hari pendek. Kantor-kantor tutup karena libur. Canangan hari ini adalah ke Pustaka kampus UNRI. Letaknya tidak jauh dari hotel tempat menginap. Meskipun hari Sabtu, Pustaka ini tetap buka seperti biasa. Namun saya cukup kecewa karena di kampus sedang mati listrik tak terkecuali Pustaka. Langsung saja, yang terbayang adalah mencari secara manual.

Di Pustaka ini menurut saya bukunya kurang lengkap dan kurang tertata baik, kategorisasi bukunya campur aduk, sehingga menyulitkan para pencari. Di sini saya juga hanya menemukan satu buku bertajuk Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002 juga terbitan Pemda Riau. Kelebihan dari buku kemarin, buku ini lebih lengkap dan rinci menggambarkan sejarah Belanda di Riau termasuk Bagansiapiapi. Pendek kata saya mendapat cukup banyak bahan.

Berhubung mati lampu, dan tidak mungkin juga mengcopy di luar, saya putuskan untuk memfoto lembar demi lembar buku tersebut. Saya tidak tahu bagaimana memanfaatkannya, tapi saya yakin pasti berguna. (foto terlampir)

 29 Mei

Hari ini agenda saya adalah berangkat ke Bagansiapiapi, dengan travel, perjalanan ke Bagan ditempuh tidak kurang 6 jam perjalanan. Lamanya perjalanan ini disebabkan oleh kondisi jalan yang tidak mulus bahkan di beberapa tempat rusak parah. Sopir harus benar-benar berhati-hati dan awas kalau tidak ingin terperosok lubang dan terjatuh. Kondisi jalan ini menunjukkan buruknya perhatian terhadap infrastruktur yang amat penting bagi pembangunan.

Jam menunjukkan pukul 21.30 ketika mobil memasuki kota Bagansiapiapi. Masih ramai di beberapa titik, tapi umumnya kota Bagan (begitu orang menyebut Bagansiapi-api di sini) sudah mulai sepi. Malam ini saya dijemput kawan baru lagi dan singgah di rumah seorang guru SMK yang sekaligus berprofesi sebagai arsitek. Dua kawan ini baik sekali, karena malam ini tanpa mereka mungkin saya harus menginap di hotel. Lebih hebatnya lagi, kawan arsitek kita ini paham betul bangunan-bangunan di kota Bagan terutama yang baru. Dia banyak bercerita tentang bangunan-bangunan perkantoran di kota Bagan yang pakai kubah seperti masjid. Dia juga menceritakan bagaimana dia terkadang kecewa dengan para pemesan gambar dari Pemda yang seenaknya mengubah rancangan yang dia buat.

Ahai, selain cerita, kawan kita ini juga punya puluhan gambar kota Bagan. Selain gambar-gambar bangunan tentunya, saya dapat beberapa gambar ritual Bakar Tongkang yang terkenal itu!

Sang arsitek juga bercerita tentang betapa tidak luasnya Kota Bagan dan rencana pengembangan kota ini di bagian selatan. Untuk mendukung ceritanya, dia membagikan peta Kabupaten Rokan Hilir dan peta kecamatan-kecamatan di kabupaten ini. Dia katakan, peta ini belum tentu bisa diperoleh dengan mudah di kantor-kantor pemerintahan. Pastinya peta ini sangat membantu.

30 Mei

IMG_0452Pagi ini saya bersama sang arsitek, yang juga bapak seorang putri umur 3 tahun ini, mengajak saya keliling kota. Kami mulai dari wilayah yang dia ceritakan sebagai kawasan perluasan kota di bagian selatan. Di kawasan ini sudah dan sedang dibangun belasan gedung-gedung perkantoran. Sebagian kecil sudah ada yang berfungsi, namun umumnya gedung-gedung tersebut masih kosong. Di kawasan ini ada kantor Bina Marga, Dinas Perikanan, Museum Cina, Museum Muslim, Gelanggang Olahraga, Pusat Kebudayaan, Departemen Agama dan Kejaksaan. Ada juga beberapa bangunan masih dalam tahap penyelesaian seperti kantor bupati, gedung pengadilan dan ruko-ruko untuk pusat bisnis. Kecuali ruko-ruko dan museum Cina tadi, mayoritas bangunan memakai kubah. Bahkan menurut petunjuk kawan arsitek ini, ada satu kafe di kawasan ini juga memakai kubah. Kafe ini belakangan tutup setelah di tempat hiburan tersebut ditemukan salah satu pengunjung overdosis dan tewas akibat obat-obatan terlarang,

Sebagai arsitek, dia nampak sangat kritis terhadap kualitas jalan di kawasan ini. Kualitas rendah dan pengerjaan asal-asalan menurutnya menjadi penyebab buruknya kondisi jalan. Memang sangat tampak pembangunan jalan ini tidak serius dan mungkin juga dananya banyak menguap.

Setelah cukup puas berkeliling kawasan kota baru yang belum berfungsi ini, kami menuju sekolah tempat sang arsitek mengajar. Saya sempat bertemu beberapa pengajar dan bercerita banyak hal tentang kota Bagan ini. Secara umum cerita mereka sama. Hanya saja di sekolah ini saya mendapat satu kontak orang tua di sini, yang mungkin tahu lebih banyak tentang Bagansiapiapi tempo doeloe.

Setelah berkunjung ke sekolah, kami melanjutkan berkeliling ke beberapa titik yang menurut sang arsitek ini penting. Antara lain: Kantor Bupati, DPRD, gedung bekas BRI tertua, bangunan bekas peninggalan belanda, perkampungan Cina di Bagan Kota, jalan-jalan rute ritual Bakar Tongkang, lokasi bekas dermaga dan tentu saja dermaga yang sekarang letaknya sekitar 2 kilometer dari titik bekas dermaga lama.

Cerita menarik bahwa bekas dermaga lama masih bisa dilihat jejaknya yang berupa besi-besi, meskipun saat ini di atasnya sudah dibangun gedung pasar. Menurut cerita orang-orang di sini, dulu dermaga memang berada di sini, namun karena air laut terus surut, lama-kelamaan dermaga ini tidak berfungsi lagi. Yang menarik karena letak dermaga lama ini kalo diambil garis lurus, sejajar dengan titik bakar tongkang pertama yang saat ini juga sudah jauh dari laut. Ketika kami berkunjung ke dermaga baru, memang nampak pasang surut air di sini cukup jauh. Ketika air pasang, air hanya berjarak beberapa sentimeter dibawah bibir dermaga. Ini biasanya terjadi pada pukul 01.00 dan 13.00. tapi ketika air surut, jarah bibir dermaga dengan permukaan air kurang lebih empat meter. Ketika saya berkunjung ke dermaga, teronggok beberapa perahu para nelayan dan jaraknya 100 meter dari air.

IMG_0453Di pusat kota yang kalau diukur panjang dan lebarnya sekitar 1 kilometer persegi ini, nampak kota ini tak ubahnya kota Cina baik orang-orangnya maupun bangunan khas tradisional Cina. Di sepanjang dua dari tiga jalan utama di sini, rumah-rumah dan toko milik Cina menghimpit jalan. Sebagian masih mempertahankan bangunan lama rumah panggung pendek, sebagian lagi sudah mengikuti model bangunan modern. Salah satu bangunan modern dan paling megah disini dimiliki seorang konglomerat yang terkenal sebagai raja baut. Rumah bercat putih krem dengan arsitektur campuran Cina-Eropa ini nampak mencolok sendiri dibanding bangunan sekelilingnya.

Selain kesan kota Cina, kawasan Bagan Kota ini menggambarkan betapa identiknya Cina dengan bisnis dan kegandrungan pada peternakan burung walet. Selain ruko-ruko yang 99% dimiliki warga Cina, sebagian besar ruko yang tingi-tinggi pastilah dipergunakan sebagai tempat sarang burung walet, sarang yang konon dapat mencapai 14 juta rupiah per kilogram. Wow pantas aajaaa

Hari ini, saya juga berusaha mencari kos untuk tempat tinggal. Kriteria yang saya pikirkan adalah dekat kota dan tenang. Tidak gampang juga mencari kos di kota kecil seperti Bagan ini. Ada beberapa tapi sudah penuh terisi. Satu ada yang kosong, lokasinya persis depan masjid, yang berarti tidak sesuai dengan krteria ketenangan. Bukannya sok, tapi saya coba cek kamarnya persis jam 12.00 ketika waktu dluhur. Wah, bising sekali karena letaknya di lantai dua dan berhadapan langsung dengan loudspeaker. Ketika saya sampaikan alasan masjid kepada si empu kosan yang orang Padang, dia malah menanyakan agama saya. Rupanya dia kurang senang dengan alasan saya. Ah biarlah. Intinya hari ini saya belum dapat tempat yang cocok.

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta. Peneliti dalam Program Riset “Kota-Kota di Sumatra Awal Abad 21”, The Interseksi Foundation