Jurnal Penelitian Prabumulih

Palembang, kota kedua di Sumatra yang kukunjungi selain Medan. Ini perjalanan pertamaku ke kota yang belum kukenal sama sekali, ditambah lagi aku pergi sendirian. Tidak ada yang kukenal, hanya teman lama bapakku dan beberapa kontak yang direkomendasikan oleh teman-teman. Sebelum berangkat, aku mulai menelepon mereka, memperkenalkan diri dan menjelaskan sepintas mengenai program ini. Tak lupa menambahkan bahwa nanti aku akan mengadakan penelitian di Prabumulih, bukan di Palembang. Tentu saja, banyak orang yang agak terkejut dan penasaran mengapa aku memilih Prabumulih sebagai lokasi penelitian. Hingga memasuki minggu ketigaku di Sumatra Selatan ini, mungkin sudah kujelaskan kepada lebih dari sepuluh orang tentang “Mengapa Prabumulih?”

Mengapa Prabumulih?

Gara-gara novel Saman, jawabannya. Jadi, dulu ketika kami sedang merancang program joint research ini, aku diminta untuk mendata nama-nama kota atau kabupaten yang dekat dengan ibukota propinsi. Aku lihat peta yang tergantung di dinding kantor (aku bekerja sebagai Program Officer di The Interseksi Foundation) dan kusebutkan satu persatu, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi dan Sumatra Selatan. Apakah kota terdekat dari Palembang yang menarik untuk dijadikan tempat penelitian, Sekayu atau Prabumulih ya? Dari penghitungan jengkal tangan, dari Palembang lebih jauh ke Sekayu daripada Prabumulih. Kedua nama tempat ini mengingatkanku pada buku-buku yang pernah kubaca, buku Nh. Dini “Sekayu” dan Prabumulih sebagai latar tempat di salah satu fragmen dalam “Saman” karya Ayu Utami. Satu hal yang kuingat dari Saman, di Prabumulih terdapat banyak rig minyak bumi. Mungkin ini bisa menjadi kajian yang menarik, mungkin ada konflik sumber daya. Lalu setelah mulai mencari tahu lewat internet, ternyata Prabumulih sudah menjadi kota otonom sejak tahun 2001. Hmm…pasti menarik, begitu pikirku.

Namun di jurnal ini, aku akan bercerita tentang pengalamanku di Palembang terlebih dahulu sebelum menceritakan tentang tempat penelitianku, Prabumulih.

Satu Minggu di Palembang

Sebelum ke Prabumulih, petualanganku dimulai ketika aku menghabiskan waktu hampir seminggu di kota Palembang. Aku tiba pada hari Rabu, 18 Mei 2011. Perjalanan dari Jakarta-Palembang tidak mengalami kendala. Tidak seperti keberangkatanku ke Medan tahun lalu, terminal keberangkatan yang biasanya tampak seperti stasiun Gambir (dalam artian sangat padat penumpang, hingga antrian panjang sekali), sekarang tidak lagi karena maskapai penerbangan yang kupakai memisahkan terminal keberangkatan antara pesawat tujuan Sumatra dan tempat-tempat lain di Pulau Jawa. Perjalanan Jakarta-Palembang cukup singkat, hanya sekitar 1 jam jadi kuputuskan untuk tidak membawa bekal ke dalam pesawat.

Setibanya di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, aku dijemput oleh supir teman bapakku. Lumayan, pikirku, aku bisa menghabiskan siang ini dengan berjalan-jalan melihat kota Palembang. Oleh pak supir, aku diantar melihat-lihat kota Palembang, dari Masjid Agung, Taman Kota Kambang Iwak, PT. Pusri, Jembatan Ampera, Stadion Jakabaring, Bukit Siguntang, Pasar 16 Ilir, Kampus Unsri Bukit Besar, Kantor Gubernur, Benteng Kuto Besak dan masih banyak lagi. Nama-nama jalan dan tempat di Palembang agak sulit untuk diucapkan karena terkadang antara tulisan dan cara membaca dengan dialek Palembang agak berbeda. Namun nama jalannya tidak jauh berbeda dengan nama jalan di kota Jawa. Jalan protokolnya tetap Jl. Jend. Sudirman dan nama-nama jalan lain di kota ini banyak yang diambil dari nama-nama berpangkat, misalnya saja Mayor Salim Batubara, Kol. Atmo, Kapt. Rivai. Juga ada angkatan ’45 dan angkatan ’66.

Rupanya aku terlampau asyik menikmati kota Palembang yang sedang berbenah diri menyambut penyelenggaraan Sea Games pada bulan November mendatang, hingga rasa lapar tidak terlalu kurasakan. Mungkin juga karena aku masih menyimpan satu batang coklat di dalam tas, yang kumakan di sepanjang perjalanan. Coklat ini sangat berguna sebagai penyelamat penunda lapar. Pelebaran jalan dilakukan di mana-mana, mulai dari Km 12 dekat bandara hingga ke dalam kota. Seperti biasa, di mana ada proyek pelebaran jalan, di situ berarti ada kemacetan. Bagi warga Palembang yang terbiasa dengan lalu lintas yang lancar, mengantri selama 15 menit di satu titik adalah hal yang mengesalkan. “Dulu nggak kayak gini deh, sampai dibangun buat Sea Games ini nih,” kata pak supir.

Di sini ada busway-nya juga lho, namanya Trans Musi. Trans Musi ini mirip sekali dengan Trans Yogya, ukuran busnya lebih kecil dan jalurnya tidak dibuat khusus seperti di Jakarta. Tampilan grafis yang dipasang di lambung bus menurutku jauh lebih menarik daripada gambar garuda di Trans Jakarta. Gambar yang terpampang adalah siluet jembatan Ampera dengan font Trebuchet dan efek-efek cipratan cat, khas grafis anak muda zaman sekarang. Haltenya pun lebih mirip dengan Halte Trans Yogya. Ada beberapa yang memang halte khusus, biasanya kecil dan beratap, juga ada beberapa halte bus biasa yang dipasangi undak-undakan semen setinggi pintu masuk Trans Musi. Seperti layaknya Trans Jakarta, Trans Musi pun menggunakan sistem koridor. Aku berharap jika ada waktu lebih aku bisa mencobanya.

Lapar tidak dapat ditunda lagi, atas saran pak supir kami berhenti di rumah makan pindang Musi Rawas. Pindang ini makanan yang cukup terkenal di Sumatra Selatan, model masakannya seperti sayur asem-asem di Jawa. Kuahnya asam-pedas dan bisa divariasikan dengan ikan patin atau tulang sapi. Aku memesan pindang tulang, aku pikir mungkin itu ikan yang bertulang. Ternyata ketika pesananku datang, muncullah sayur seperti sop kaki kambing. Waduh gawat…salah pesan, aku tidak makan daging. Jadi aku hanya memakan kuahnya dan dengan terpaksa, sedikit sekali dagingnya. Rasa sayur pindang ini segar dan nikmat, apalagi jika dimakan dengan pelengkapnya sambal goreng kentang udang.

Aku memperhatikan sederetan ruko-ruko yang semakin marak, rupanya orang-orang di Palembang senang menggunakan kata “Musi” untuk nama tempat usaha. Misalnya saja tempat makanku tadi “Pindang Musi Rawas”, “Musi Auto”, “Musi Jaya” atau “Toko Emas Musi”. Rupanya kata temanku, kata Musi ini memang kerap dipakai sebagai penunjuk bahwa usaha tersebut dimiliki oleh wong Palembang atau Sumatera Selatan pada umumnya. Juga sebagai penanda bahwa toko tersebut berada di wilayah Sumatra Selatan. Ternyata nama toko pun bisa menjadi semacam penanda geografis.

Jembatan Ampera di Waktu Malam

Selain terkenal akan pempeknya, Palembang juga terkenal akan Jembatan Ampera. Jembatan ini menghubungkan antara bagian ulu dan ilir (hulu dan hilir) kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Awalnya kupikir Sungai Musi hanya selebar Bengawan Solo, ternyata sungai ini besar sekali! Mirip dengan Chao Praya di Thailand. Jembatan Ampera terlihat biasa saja di waktu siang, tapi menjadi luar biasa di waktu malam. Di sepanjang jembatan dipasangi lampu-lampu, termasuk tulisan Ampera juga diberi lampu agar menyala. Aku mengirimkan foto jembatan ini kepada teman-teman di Jakarta, kata mereka “Wuih, seperti jembatan Golden Gate aja…”

Kjembatan amperaeindahan jembatan Ampera dapat dinikmati dari parkiran di depan Benteng Kuto Besak. Para pedagang mie tek-tek berjejer berdampingan dengan pedagang mainan yang dapat menyala-nyala, pedagang perhiasan perak dan gerobak penjual minuman. Khas tempat tujuan wisata. Percaya atau tidak, semua penjual mie tek-tek yang ada di Benteng Kuto Besak ini adalah orang Jawa. Pikulan Mie Tek-tek Mas Jono, Mas Yanto, Mas Toto bersaing mendapatkan pelanggan yang mau menyantap mie goreng tanpa kecap bercitarasa pedas ini. Biarpun mie tek-tek dan penjualnya orang Jawa, tapi rasanya sudah disesuaikan dengan citarasa dan lidah wong Palembang.

Atas saran Kristina Viri, sebelum berangkat aku menghubungi Mbak Yeni Roslaini Izi dari Women’s Crisis Centre (WCC) di daerah Sekip. Tempat ini yang akan menjadi tempat tinggalku selama seminggu ke depan. Berbekal malu di titik nol, aku meletakkan barang-barang dan badanku di sebuah kamar di kantor itu. Ketika aku datang Mbak Yeni sedang memberikan konseling kepada korban. Lembaga ini memang berkonsentrasi kepada permasalahan perempuan, seperti KDRT atau program terbaru mereka Kekerasan dalam Pacaran (KDP). Aku dan mbak Yeni banyak bertukar cerita.

Food Not Bombs Pertamaku di Seberang

Food Not Bombs SpandukTidak sulit menemukan teman “sejenis” di Palembang. Iseng-iseng aku menghubungi Mita, teman menjahit dan prakarya underground-ku yang ada di Jakarta, bertanya apakah ia memiliki kontak teman-teman Food Not Bombs di Palembang. Aku menerima dua nomor kontak yang dapat dihubungi. Salah satunya ternyata di Lampung. Nomor yang satunya lagi sedang berada di Lahat, sedang mendampingi petani yang sedang berkonflik tanah dengan pertambangan batu bara. Namanya Doni.

Singkat cerita, akhirnya aku bertemu dengan Ami, pacar Doni. Ia menjemputku di WCC. Dulu, lembaga tempat ia bekerja kerap kali bekerja sama dengan WCC, jadi ia pun akrab dengan Mbak Yeni dan staf-staf di sana. Ami, gadis yang terlihat aktif dan pemberani ini mengajakku untuk bermain ke info house “Djabal”. Info house adalah tempat yang biasanya digunakan untuk menyimpan zine (majalah fotokopian yang dibuat oleh teman-teman underground), newsletter ataupun buku-buku yang bisa dibaca di tempat ataupun difotokopi. Koleksinya cukup banyak, malah aku menemukan beberapa zine lama milik sahabatku di Jakarta di tempat ini. Ajaib, sudah jauh-jauh ke seberang pulau, ternyata masih bertemu yang itu-itu juga. Aku dikenalkan dengan beberapa kawan baru di sana, Yudhis (pemilik tempat) dan Abi (anak Lampung yang hendak pindah dan mencari kerja di Palembang). Yudhis tidak terlihat berbeda dengan teman-temanku di Jakarta. Kurus, berkacamata, tinggi, berambut panjang lurus sebahu.

Kami mengobrol dengan sangat seru, tentang rencana pembangunan yang cukup absurd. Ada sebuah pertokoan di daerah Kampus, Palembang Square, di sebelahnya sedang ada proyek yang sering membuat macet karena parkiran pertokoan meluber sampai ke jalan. Semenjak tanah kosong di sebelahnya (yang biasanya menjadi lahan parkir Palembang Square) sedang dibangun untuk mal bawah tanah, area parkir otomatis dipindahkan di badan jalan. Lebih absurdnya lagi, di atas mal bawah tanah itu, katanya akan dibangun sebuah rumah sakit, jadi bagi para keluarga yang sedang menunggu orang sakit dapat menghibur diri di mal tersebut. Semoga apa yang kami dengar ini hanya isu.

Food Not Bombs Makan 1Yudhis bercerita, bahwa pada akhir pekan ini akan ada tabling. Tabling adalah kegiatan makan bersama dengan cara “menggelar” meja yang berisi makanan yang dimasak sendiri di tempat umum, biasanya menyajikan menu vegetarian. Makanan-makanan ini dibagikan secara gratis kepada siapapun, karena makan adalah hak semua orang, bukan hanya yang memiliki uang. Aku sudah sering mendengar tentang gerakan ini di beberapa kota di pulau Jawa, tapi baru kali ini aku ikut di dalamnya. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Food Not Bombs bisa dilihat di situs www.foodnotbombs.org.

Untuk persiapan tabling kali ini, pagi-pagi sekali (sekitar pukul 4 pagi) para lelaki di kolektif mencari bahan di pasar induk di daerah Jakabaring. Mereka menunggu pedagang untuk memberikan sisa dagangan yang tidak laku pada hari sebelumnya atau stok yang berlebih untuk dijual. Dulu temanku di Semarang sering melakukan hal ini, istilahnya “nempil”. Kami mendapat banyak sekali, satu kerung penuh berisi wortel-wortel besar, kol, kembang kol, kentang, cabai, buncis. Kami menggunakan alat apapun yang tajan, yang bisa digunakan untuk memotong sayur. Yudhis dan Abi menggunakan cutter untuk mengupas, merajang bawang dan memotong kembang kol. Aku menggunakan pisau lipat, yang awalnya kupikir tidak tajam, tapi ternyata cukup tajam juga hingga tanganku teriris sedikit ketika memotong buncis. Dengan tangan terluka, aku membantu teman-teman mengulek cabai hijau. Aku meringis setiap kali perihnya terasa.

Food Not Bombs Makan 2Lucu sekali suasana memasak di dapur, kami berkeringat karena dapurnya kecil dan diisi oleh banyak orang! Ada petugas quality control yang bertugas mengecilkan potongan wortel kami yang terlalu besar dan juga mencegah Ami dari salah memasukkan bumbu. Seharusnya untuk memasak sup, bumunya ditumis terlebih dahulu, baru dimasukkan ke dalam air. Untung tim quality control melihat hal itu. Kami tertawa-tawa lagi. Hasil masak dipindahkan ke kotak makan tupperware dan dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke simpang Charitas (sebuah simpang besar di Palembang, persis di depan RS Charitas). Rencananya kami akan buka meja di sebelah pos polisi.

Dengan cueknya kami menggelar pesta kecil-kecilan kami, seorang polisi datang menghampiri. Ia pikir kami akan mengadakan aksi sosial, Yudhis mengiyakan saja. Kami membuka kotak-kotak makan, menyiapkan gelas dan piring plastik, galon air minum dan kerupuk. Kami semangat sekali ketika tukang sapu jalanan, para pengemis, bahkan seorang mahasiswa ikut makan bersama kami. Kegiatan kami mengundang perhatian orang-orang yang sedang mengantri di lampu merah. Makin lama makin ramai yang datang. Makanan sudah tinggal sedikit dan teman-teman yang menghabiskan. Aku pulang lebih dulu sekitar pukul 19.00.

Persiapan ke Prabumulih   

Sebetulnya aku enggan berlama-lama di Palembang tanpa ada kejelasan soal asisten lokal yang akan membantu penelitianku nanti. Cukup banyak yang menawarkan diri untuk membantu, tetapi tidak satupun yang menyanggupi untuk “mengikutiku” selama hampir 30 hari di Prabumulih. Masing-masing memiliki kesibukan yang sulit untuk ditinggalkan. Mencari ke sana-sini akhirnya atas rekomendasi seorang dosen Universitas Sriwijaya, aku mendapatkan asisten lokal. Dapat bernafas sedikit lega, akhirnya bisa berangkat ke Prabumulih secepatnya. Ternyata, sang calon asisten ini menelepon saya bahwa ia tidak bisa berangkat hari Selasa, 24 Mei 2011, karena ada urusan dengan lembaga tempat ia bekerja.

Keberangkatan kami tertunda sehari. Tepat di hari ketujuh di Palembang, tanggal 25 Mei 2011 saya berangkat ke Prabumulih.

***

Prabumulih, saya datang!

Seperti pada kisah penciptaan di kitab suci, pada hari ketujuh di Palembang, aku dan asistenku, Wiwin, berangkat ke Prabumulih dengan menggunakan travel. Kata orang-orang, perjalanannya cukup lama, yang biasanya hanya 2 jam, tetapi sekarang bisa sampai 4 jam karena jalannya jelek dan banyak dilewati truk batu bara. Untungnya selama perjalanan lancar, jadi hanya dalam 2 jam kami sudah sampai.

Jalan BerlubangAku terbangun ketika travel sedikit melambat di depan gapura besar bertuliskan “Selamat Datang di Kota Prabumulih”. Sudah dekat, pikirku, ternyata setelah gapura ini adalah kecamatan cambai, setelah itu dusun Prabumulih. Di kecamatan Cambai terdapat gedung Walikota yang besar sekali, sistem all under one roof, semua pelayanan yang terkait dengan kota Prabumulih tersedia di gedung ini. Modelnya mirip sekali dengan gedung walikota Jakarta Selatan. Kami berhenti sebentar di sini, karena salah seorang penumpang travel hendak menjemput anaknya yang bekerja di situ. Aku berkata dalam hati, “wah ini ya proyek yang menelan uang hingga 12 miliar, tetapi katanya dananya masih kurang…ck..ck..ck”. Belakangan setelah tinggal seminggu di Prabumulih, aku baru tahu bahwa gedung walikota yang 12 miliar itu bukan yang di Cambai, tapi yang di samping gedung DPRD Prabumulih. Gedung yang nantinya akan digunakan hanya untuk Bapak Walikota dan wakilnya. Luas gedungnya mungkin hanya sepersepuluh dari gedung walikota di Cambai, lebar gedungnya sekitar enam atau tujuh buah ruko dijadikan satu. Silakan berhitung sendiri, berapa kira-kira yang digunakan untuk membangun gedung Walikota super besar di Cambai itu.

Setelah 45 menit, kami akhirnya sampai di pusat kota, yaitu Pasar Prabumulih. Teman kuliah Wiwin, namanya Petty, adalah yang akan “menampung” kami selama penelitian. Ia berasal dari Pagaralam, tetapi menikah dan menetapkan untuk ikut suaminya di Prabumulih. Petty sedang hamil 7 bulan. Suaminya, Rio, adalah seorang guru olah raga di sebuah SMP di kabupaten Muara Enim.

Kota Prabumulih = Pasar, Tempat Tinggal = Dusun

Kata seorang teman, kota Prabumulih lurus saja. Ternyata memang benar, yang disebut orang-orang di sini sebagai pusat kota adalah jejeran ruko dan pasar sepanjang jalan. Yang disebut sebagai Kota Prabumulih adalah pasar, sedangkan kompleks atau daerah pemukiman adalah dusun. Dusun berada di belakang pasar, di antara gang dan jalan-jalan tembusan menuju jalan lingkar luar, jalan raya menuju Muara Enim, jalan menuju rig-rig Pertamina dan di sela-sela kebun karet milik rakyat.

Pasar PrabumulihJalan di Prabu (di sini orang menyebut Prabumulih cukup dengan kata Prabu, seperti Bagansiapiapi dengan Bagan) mudah untuk dihafal, karena satu jalan bisa tembus ke jalan-jalan lain, saling menyambung. Namun dari segi keamanan berkendara, Jakarta masih jauh lebih baik daripada di Prabumulih (ini serius!). Para pengendara motor sepertinya hobi sekali memacu motornya kencang-kencang, lebih kencang daripada di Palembang. Belum lagi truk-truk raksasa yang berjalan beriringan, babaranjang. Muatannya dari batu bara, alat-alat pertambangan, karet mentah hingga kayu. Bermotor di sini membuatku banyak merapal doa. Oh ya, mobil yang lazim digunakan di sini adalah model pick-up double cabin (seperti Ford Ranger, Mitsubishi Triton). Rental mobil yang menyewakan mobil jenis itu lebih banyak daripada mobil seperti Avanza atau APV.

“Mana nih, katanya Prabumulih kota Nanas, kok kebanyakan truknya…” aku membatin. Di tengah kota, di dusun, di kompleks Pertamina, truk semua. Truk yang lalu lalang membuat jalan berdebu. Apalagi di depan pasar Prabumulih, yang banyak lubang-lubang besarnya. Sepintas pasar Prabumulih ini seperti di mana ya, aku mencoba mengingat. Seperti di kawasan Glodok campur Jatinegara versi mini ditambah dengan truk-truk besar yang bongkar muat. Tanpa bermaksud meremehkan, joke “don’t wink or you’ll miss the city” berlaku di sini. Ketika hiruk pikuk pasar berlalu, maka berakhirlah pusat kota Prabumulih.

Rumah Petty tidak jauh dari pasar, hanya 10 menit naik angkot dan menurut saya, cukup dekat jika ditempuh dengan jalan kaki. Nama dusunnya Sukaraja. Warga di sana sepertinya mudah sekali mengenali orang baru atau orang asing. Jarak antar rumah masih cukup jauh dan jarang yang berpagar tembok, kebanyakan pagar bambu atau sama sekali tidak berpagar. Di waktu malam, jalanan masih gelap sekali, karena belum ada lampu merkuri. Agak seram memang kalau harus beli pulsa di rumah tetangga. Apalagi jika melewati kebun karet kecil di antara rumah-rumah.

Beberapa hari di sini, aku mulai mengenal kebiasaan asistenku. Ia senang sekali menyanyi dan sangat ekspresif jika bercerita. Selera musiknya biasa saja, tidak jelek malah, tetapi sama sekali bukan seleraku. Ini adalah pelajaran pertama untuk bertoleransi terhadap perbedaan. Iseng-iseng kutanya, “Hobimu apa?” dan jawabannya adalah “MENYANYI!” Wow, pantas saja. Ia pernah menjadi guru vokal untuk anak-anak dan remaja.

Program Officer Yayasan Interseksi