Kampung di Tengah Kota BSD

Kampung Dadap Barat yang terletak di tengah-tengah kota Mandiri BSD memiliki tiga RT, yaitu RT 01, 03, dan 05. Sementara itu untuk RT 02 dan 04 terletak di Dadap timur. Hari ini saya berkeliling lingkar luar Kampung Dadap yang dikelilingi sebelah utara, barat, dan timur oleh Komplek Griya Loka, serta bagian selatan oleh Anggrek Loka. Perbatasan antara kampung ini dibangun tembok yang oleh warga dikenal dengan nama ‘tembok berlin’.

Di dalam kota Mandiri BSD, Kampung Dadap terletak di tengah-tengah perumahan warga komplek. Di dalamnya terdapat jalan-jalan yang menghubungi kampung ini dengan kota Mandiri BSD. Jalan-jalan tersebut seukuran pejalan kaki dan motor jika berbatasan langsung dengan komplek perumahan, sedangkan jalan muat satu mobil langsung berhubungan dengan jalan raya kota BSD. Jalan utama di dalam kampung Dadap muat untuk satu mobil, yang lainnya hanya berupa jalan-jalan untuk pejalan kaki dan motor yang juga menghubungkan hunian-hunian berdempetan dalam kampung tersebut.

Luas kampung Dadap kira-kira 7 Ha, dengan komposisi warga total 693 KK yang menghasilkan hunian yang padat penduduk. Di dalamnya terdapat lahan-lahan kosong yang kata warga sudah dimiliki oleh pihak BSD, dimana rata-rata luas lahan yang sduah dimiliki pihak BSD di dalam Kampung Dadap ini mencakup 10% dari luas kampung tersebut. Di dalam kampung ini, terdapat warga asli dan pendatang. Perbedaan mereka dapat terlihat dari hunian tempat dimana mereka tinggal. Warga asli biasanya bermukim di rumah-rumah mereka, sedangkan pendatang tinggal di kontrakan maupun kos-kosan yang ada di dalam Kampung Dadap, sebagian besar bangunan kontrakan dan kos-kosan tersebut dimiliki oleh warga sekitar komplek yang bertetangga dengan kampung.

Pada mulanya, Kampung Dadap Barat dan Timur bersatu dipisahkan oleh kali kecil, namun semenjak BSD masuk, mereka makin dipisahkan oleh adanya perumahan yang terletak diantara mereka.  Tadinya, wilayah Serpong merupakan kebun milik PTPN yang berdampingan dengan kampung warga. Pada mulanya pihak BSD hanya membeli kebun PTPN tersebut, namun berangsur-angsur juga membeli lahan-lahan warga.

Perubahan di wilayah Serpong ini memunculkan pendatang-pendatang yang menempati hunian perumahan. Hal ini mengakibatkan interaksi yang ada tercipta antara komunitas kampung dan warga perumahan yang disebut dengan Komunitas Pintu Gerbang (KPG). Bentuk hunian KPG yang membatasi diri mereka dengan warga kampung melalui batasan tembok mengsyaratkan agar tidak terjadi kontak antara kedua komunitas ini, hal ini ditambah pula oleh bentuk hunian warga KPG yang lebih baik dari warga kampung secara materil, memisahkan mereka oleh prasangka yang timbul dalam diri kedua komunitas ini.

Walaupun Griya Loka berdampingan, namun tidak masuk dalam kesatuan RW kampung sekitarnya, karena peraturan daerah menegaskan bahwa setiap komplek harus memiliki satu buah RW. Dari sana, kegiatan sosial seperti kumpul-kumpul ataupun arisan pada awalnya tidak difasilitasi karena telah berbeda pembagian wilayah.  Kegiatan sosial yang menghasilkan interaksi antar komunitas ini lebih kepada hubungan fungsional berupa bantuan dana pada acara-acara nasional dan keagamaan.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation