Kampung Tugu

Hari pertama setelah proses pengambilan gambar dimulai, yang pertama saya lakukan adalah pergi ke Tanjung Priuk, mencari Kampung Tugu, yang konon dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis. Hampir dua jam perjalanan saya tempuh menuju terminal Tanjung Priuk, menumpangi bus jurusan Depok-Tanjung Priuk. Saya memang berangkat dari kantor Interseksi yang terletak di Lenteng Agung, di seberang stasiun kereta api Tanjung Barat.

Saat bus memasuki terminal Tanjung Priuk, saya mulai bertanya alamat Kampung Tugu. Awalnya saya bertanya kepada kernet bus, tapi dia menjawab tidak tahu. Kemudian ada dua orang penumpang yang menyahut, sepertinya mereka pernah mendengar nama kampung itu, tapi tidak tahu persis alamatnya di mana. Ketika bus sudah berhenti di terminal, salah seorang dari mereka mencoba membantu saya bertanya kepada orang-orang (tukang ojek) yang ada di terminal. Sudah beberapa orang ditanyai, tidak ada juga yang tahu tentang Kampung Tugu. Saya mulai bingung, dan penumpang yang menolong saya tadi pun harus pergi meninggalkan saya, padahal belum lagi jelas kemana arah saya pergi. Tak lama kemudian, datang seorang bapak (tukang Ojek). Ia mengatakan bahwa kalau Gereja Tugu memang ada, tapi Kampung Tugu belum pernah dia dengar. “Gereja Tugu itu jauh dari sini”, kata si Bapak, dan dia mulai nawarkan jasa ojeknya kepada saya. Untuk sampai di Gereja Tugu ongkosnya Rp. 30.000. Namun saya berkilah, bahwa karena saya sedang melakukan penelitian tentang Kampung Tugu, saya harus tahu jarak dan jenis anggukatan untuk menuju ke sana. Setelah mendengar alasan tersebut, ia memberi tahu saya angkutan apa yang bisa dipakai (angkot no. 41), dan bahwa saya harus turun di perempatan simper. “Nah dari situ kamu naik ojek lagi. Rp. 5000 paling”, jelas bapak tukang ojek.

Sampai di perempatan Semper, saya langsung naik ojek menuju Gereja Tugu. Tampaknya petugas keamanan di gereja ini menghalangi saya untuk mengambil gambar, karena menurutnya untuk mengambil gambar harus terlebih dahulu mendapat izin dari Gereja. Alasan penelitian tidak cukup mumpuni untuk melewati penjagaan. Lalu saya diantar untuk bertemu pengurus Gereja Tugu. Lagi-lagi saya harus menjelaskan maksud dan tujuan saya datang kepada pengurus gereja. Saya pikir waktu menunggu yang sangat lama berbuah izin untuk mengambil gambar pada hari itu. Namun yang saya dapat hanyalah penjelasan dari pengurus gereja tentang biaya administrasi untuk pengambilan gambar di gereja mulai Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Pengurus gereja pun seakan tutup telinga dengan alasan penelitian.

Alasannya, ini sudah ketentuan gereja. Langsung saja saya merasa pesimis, bayangan saya tentang keharmonisan di Kampung Tugu sedikit sirna. Meskipun demikian, saya menganggap ini adalah tantangan awal untuk menembus batas lintas agama. Di sela-sela waktu menunggu, saya mencoba menggali informasi dari pengurus gereja tentang keroncong yang menjadi ikon di Kampung Tugu. “ada keroncong, tapi itu tidak ada urusannya dengan kami,” jawab salah seorang pengurus gereja. Herannya, setelah waktu berselang mereka memberikan saya nomor kontak Andri, pimpinan Keroncong Tugu.

Setelah hampir dua jam di ruang sekretariat gereja, saya pun berpamitan. Berbekal nomor Andri di tangan, saya melangkah keluar gereja dengan sedikit lega. Saya menelepon Andri dan mengajak bertemu, namun ia sedang sibuk mempersiapkan kelompok keroncongnya, yang akan tampil di acara panggung hiburan rakyat di Stasiun Tanjung Priok dan jika saya berminat, kami bisa bertemu di sana jam 2. Tanggapannya sangat baik, Andri juga menyuruh saya untuk langsung pergi ke markasnya (Rumah Tugu). Di sana ada Arthur, adiknya, kepadanya saya bisa lebih banyak bertanya, karena ia lebih paham tentang sejarah Tugu.

Langsung saja saya jalan ke Rumah Tugu, sampai di sana saya ketemu Tino dan adik peremuan Arthur. “Arthur masih tidur, karena semalam latihan,” begitu jelasnya dan ia pun memberikan nomor telepon sambil sedikit menjelaskan tentang Kampung Tugu.

Dari Kampung Tugu, kurang lebih jam satu siang, saya kembali keterminal Tanjung Priok untuk menunggu mereka tampil pukul empat di Stasiun Tanjung Priok. Hampir dua jam saya menunggu, lalu muncullah sebuah komunitas keroncong dengan membawa peralatan musik mereka. Waktu itu saya belum tahu Andri seperti apa. Sambil menunggu mereka memasang alat musiknya, saya melihat foto-foto Tugu tempo dulu yang dipajang di sekitar tempat mereka tampil.

Dia sela-sela kesibukan mereka memasang alat, saya mendatangi mereka dan bertanya siapa yang bernama Andri. Andri pun terlihat ramah menyapa saya, setelah itu saya menjelaskan maksud dan tujuan, sembari menunjukkan surat tugas dari Yayasan Interseksi. Andri pun menyambut baik rencana saya di Kampung Tugu, kemudian ia memperkenalkan saya kepada Arthur. Ia pun mendunkung rencana saya 102 persen, sambil mengatakan “Kalau untuk pelestarian Kampung Tugu, saya banyak waktu untuk hal yang seperti itu.”

Tidak lama kemudian, mereka mulai menunjukan kepiawaiannya bermain musik keroncong. Saya standby dengan kamera, mulai mengabadikan footage-footage penampilan mereka untuk menjadikan sebuah cerita pendek di kampong tugu . Hari-hari berikutnya, saya sudah mulai akrab dan dekat dengan komunitas musik keroncong itu, sehingga setiap saat mereka akan tampil, Arthur selalu menginformasikan saya di mana dan kapan mereka akan tampil.

Hampir setiap hari, selama fieldwork kemarin saya mengikuti dimana kelompok Keroncong Tugu tampil, diantaranya: di sebuah acara pelucuran buku di Rumah Imam Bonjol, acara makan malam gubernur DKI di ancol dan karnaval hari ulang tahun kota Jakarta. Namun saya masih juga kesulitan untuk melengkapi footage-footage lain yang penting dalam film pendek ini, yakni ketika harus mengambil gambar gereja dan kuburan-kuburan lama orang Portugis. Saya juga mengikuti kegiatan Arthur selain dia bermain musik keroncong, ternyata Arthur pandai berbahasa Portugis! Ia dan beberapa kawan di Kampung Tugu memiliki kelompok belajar bahasa Portugis. Di situ Arthur juga bercerita tentang Tugu yang tidak terlepas dari gereja dan kuburan. Kemujuran masih berpihak pada saya rupanya, saat itu tiba-tiba saya di ajak Arthur untuk melihat kuburan-kuburan di samping gereja.

Syuting berjalan lancar, padahal sebelumnya saya tidak di izinkan dari pihak gereja. Setelah mendapat banyak footage-footage kuburan dan mencuri-curi sedikit gambar gereja dari samping arah kuburan, saya kembali menjumpai pihak gereja untuk minta izin untuk mengambil gambar pada hari minggu, di saat orang beribadah di gereja. Untuk kedua kalinya saya menjelaskan lagi maksud dan tujuan kepada pihak gereja dan saya berterus terang, bahwa saya tidak bisa memenuhi ketentuan administrasi sebanyak itu. Hanya ada sumbangan pribadi a la kadarnya, yang dengan sangat terpaksa saya keluarkan untuk gereja. Akhirnya merekapun memahami. Kuat dugaan saya, bahwa izin yang mereka berikan mungkin karena melihat kedekatan saya dengan Arthur sebagai sisa orang Tugu. Dalam pengakuannya, Arthur juga tidak senang dengan pengurus-pengurus gereja yang bukan lagi orang tugu.

Setelah dua minggu saya melakukan fieldwork, para peserta Crossing Boundaries ini menjalani 10 hari workshop pasca-produksi di Bogor. Kami mulai menyusun footage-footage yang telah kami kumpulkan selama fieldwork. 

Tidak ada kesulitan teknis ketika saya harus menggunakan iMac. Justru saya sedikit kebingungan untuk menyusun draft awal berdasarkan footage, akan tetapi setelah saya berdiskusi dengan bung Hatta (sebagai fasilitator), bahwa dengan draft awal saya itu salah, karena bukan pola flm documenter Saya kembali pesimis karena hal ini, tetapi kritik ini membuat saya tetap semangat. “Saya tidak sedang membuat film dokumenter, tetapi saya sedang belajar buat fillm dokumenter. Jadi wajar jika membuat kesalahan,” hibur saya sendiri.

Keesokan harinya bang Hafiz (fasilitator) juga melihat proses editing footage saya. Ia menjelaskan bermacam cara untuk membangun cerita sebuah film dokumenter, sambil mengarahkan saya dalam membuat opening film saya. Di sinilah saya baru mulai mendapatkan pandangan yang berbeda dengan pembuatan film dokumenter yang saya tahu sebelumnya. Tentang bagaimana mendapatkan detil-detil untuk menyambung gambar, juga untuk memulai dan menyambung sebuah cerita yang berlanjut. Beberapa hari setelah terus di dampingi bang Hafiz, jadilah sebuah film dokumenter yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan jadi seperti ini. Pengalaman dari program ini nantinya, insya Allah, akan menjadi inspirasi untuk mulai membuat film dokumenter di Aceh.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi