Ke Suluk Bungkal: Perjalanan ke Area Konflik

Baru pagi, 23 Januari tadi, tanpa direncanakan akhirnya saya nekad menempuh perjalanan ke Suluk Bongkal, setelah selesai mengambil data statistik kecamatan Pinggir.

Suluk Bongkal, sebuah desa yang Desember 2008 lalu pecah keributan antara PT Arara Abadi dan masyarakat dengan persoalan lahan perbatasan. Keributan tersebut menurut masyarakat telah menyebabkan pembakaran lahan yang sudah siap panen yang dilakukan oleh PT Arara Abadi. Tidak hanya lahan, rumah-rumah penduduk juga dibakar karena perusahaan tersebut menganggap lahan di Suluk Bongkal merupakan wilayah perusahaan.

Masyarakat tidak menerima perlakuan PT Arara Abadi. Lahan tersebut menurut pengakuan tokoh masyarakat Sakai yang disebut bathin, sebenarnya merupakan tanah ulayat masyarakat peninggalan kerajaan Siak yang diakui juga oleh pemerintahan Belanda. Tidak semua lahan milik PT Arara Abadi, yaitu lahan yang sudah bersemak belukar yang pernah digarap warga. Sayangnya lahan tersebut dijual kepada pendatang.

Penjualan lahan pada pendatang itu yang menjadikan Arara Abadi bertindak mengusir mereka, karena perusahaan menganggap lahan tersebut miliknya dan menganggap warga yang mengola lahan hanya meminjam. Sementara menurut warga, tanah tersebut memang milik orang Sakai yang dijual kepada pendatang untuk bertahan hidup. Masyarakat pendatang dan Sakai diorganisir oleh Sarekat Tani Riau (STR) yang didukung oleh beberapa LSM seperti Sorak, Segera, Walhi, Jikalahari, Komnas HAM dan mahasiswa memprotes tindakan tersebut, dan menuntut pihak perusahaan dan pihak lain yang terlibat dibawa ke pengadilan atas nama HAM.

Akan tetapi keberadaan ormas STR ini di dalam masyarakat menuai kontroversi. Beberapa warga menilai pihak ini adalah pihak ketiga yang memperuncing persoalan antara masyarakat terutama orang Sakai dengan Arara Abadi. STR ini pula yang membujuk orang Sakai menjual tanah pada pendatang.

Menurut pihak STR ormas ini mengadvokasi masyarakat petani dalam konflik lahan dengan perusahaan. STR sengaja mendatangkan penduduk selain Sakai untuk meramaikan desa Suluk Bongkal sekaligus desa-desa di sekitarnya agar petani Sakai tidak minoritas. Kerusuhan itu terjadi ketika masyarakat yang melakukan demonstrasi menyerbu dengan batu-batu, kemudian petugas mengeluarkan tembakan dengan peluru karet dan gas airmata. Tindakan pengamanan tersebut pada akhirnya diteruskan dengan membumihanguskan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari gubuk-gubuk dan membakar tanaman yang siap dipanen.

Dengan menempuh perjalanan menggunakan motor selama kurang lebih 2 jam melewati jalanan berdebu pasir dan batu-batu kerikil yang tidak diaspal akhirnya saya tiba di Suluk Bongkal. Kamera yang hanya tiga mega pixel pinjaman dari teman ini sangat berjasa bagi penelitian ini memotret bekas gubuk-gubuk yang rubuh itu, bekas pohon pohon yang dibakar dan sisa tanaman.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke desa sebelah, Melibur, yang jaraknya kurang lebih satu setengah jam lagi. Di sana saya berharap bisa mendengar cerita-cerita dari penduduk tentang peristiwa tersebut dan yang berhubungan dengan masalah tanah. Karena teman saya perempuan, saya merasa kasihan. Dia tentu lelah menyetir motor dalam cuaca yang sangat panas dan berdebu. Apalagi setiap ada mobil lewat baik mendahului kami atau berpapasan jalan bisa tak terlihat karena berdebu. saya memutuskan bergantian memegang setir motor. Saat itu dibelakangku ada truk yang bersiap menyalip. Saya menuju ke tepi dan bersiap menutup wajah dari debu dengan kerudung. Karena tak ada persiapan kami tak menggunakan helm tertutup. Dan kalau mampir pulang dulu, mau tak mau harus izin ibu di tempat saya tinggal dengan jawaban tidak. Kami sudah tahu jawaban itu mengingat masih rawannya daerah tersebut.

Jalanan di depan saya mulai berkerikil. Konsentrasi saya mulai buyar oleh truk yang siap menyalip. Tiba-tiba motor oleng, kami pun terjerambab jatuh. Untung orang dalam truk itu berhenti untuk menolong kami. Motor Honda Vario tersebut didirikanya. Saya mencoba memeriksa kalau kalau teman saya terluka sambil minta maaf. Dia pun menanyakan bagian mana yang sakit. Saya mencoba berdiri. Kaki saya tidak saja perih tapi linu. Dalam beberapa menit kemudian kaki kanan saya mulai terlihat bengkak. Saya merasa, ini pasti terkilir.

Setelah tenang kami melanjutkan perjalanan. Teman saya yang menyetir. Saya sebenarnya kasihan padanya. Di bawah terik matahari jam 12 siang dia membawa saya untuk mendapat data dengan kondisi debu mengepul di udara yang mengganggu pandangan mata. Sebenarnya harusnya asisten peneliti saya yang menjamin tugas seperti ini. Tapi karena masyarakat daerah tersebut masih trauma terhadap Brimob dan kebetulan asisten peneliti saya satpol kecamatan yang hadir bersama brimob di lokasi penggusuran saya tidak berani menjamin asisten saya tersebut. Sebelum saya berangkat asisten saya mengeluh, ia dan teman-teman sekerjanya mendapat teror sms yang menggugat mengapa satpol Sakai tidak membantu saudaranya dan malah membantu Brimob. Untuk itu ia membela diri di depan saya bahwa ia dan teman-temannya hanya kebetulan sedang menjalankan tugas mengamankan. Satpol saat kejadian juga banyak membantu ibu-ibu, memberi ibu-ibu tersebut uang dari kantong mereka sendiri untuk makan. Masyarakat yang ikut jadi anggota STR itu menurut satpol asal menuduh. Dan ini yang membuat mereka tidak menyukai STR karena walaupun katanya berjuang membela Sakai dengan HAM dalam spanduk spanduk mereka, tapi kenyataannya justru mengadu domba Sakai dengan Sakai.

Karena alasan sedang saling curiga dan salah paham menurut saya, maka saya juga tidak memutuskan pergi ke Suluk Bongkal dengan pihak STR seperti yang direncanakan semula. Saya memang akan mudah mewawancarai petani-petani korban keributan tersebut satu sisi, tapi sisi yang lain isu masuknya peneliti ke lokasi bersama STR akan mencurigakan masyarakat yang tidak pro dengan STR dan petugas keamanan. Saya hanya mencoba menjaga posisi saya tetap tidak terlibat secara langsung dengan kasus ini. Itu saja karena kedatangan saya yang bertepatan dengan pasca kejadian yang masih panas, mau tidak mau sejak awal menimbulkan intrograsi kepala desa pinggir.

Sampai di desa Melibur saya menuju rumah adik dari teman saya atau anak dari bapak tempat saya menginap di desa Pinggir. Sorenya setelah mandi dan pijit kaki saya yang keseleo, saya berencana mengobrol dengan penduduk sakai yang tinggal bertetangga dengan tuan rumah. Tapi ternyata sore hari cuaca sangat dingin meski tidak hujan, dan badan saya menggigil karena demam. Akhirnya sampai malam saya hanya tiduran, sedang pagi-pagi kami harus balik lagi ke desa Pinggir yang jaraknya 100 km lebih dengan lama perjalanan 3 jam.

Saya sedikit menyesali kondisi ini tapi tidak masalah, toh saya bisa mewawancarai korban di Pakanbaru saat mereka berdemonstrasi di depan kantor kapolda tanggal 29 Januari sekalian malamnya saya pulang ke Jakarta. saya tetap membawa hasil foto tempat kejadian meskipun saya juga tahu hasilnya dengan kamera tersebut tidak terlalu bagus.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 di komunitas Orang Sakai, Riau