Keterpencilan Komunitas Adat Terpencil

Sulit bagi saya membayangkan bagaimana hidup di wilayah relokasi “Komunitas Adat Terpencil” sub etnik Tidung, di Gn. Temblunu, Sembakung, Kaltim. Hidup di sebuah rumah kayu yang dibangun pemerintah, di tengah-tengah hutan Gn. Temblunu yang belum lama dibuka (bahkan bekas bakaran bonggol-bonggol kayunya masih menyisakan asap). Hanya ada air rawa dan 30 rumah saja. Listrik yang menerangi, muncul dari solar sel yang masih perlu stabilizer pengatur tegangan untuk menyalakan lampu dan alat elektronik lain. Semua itu menjadi situasi yang harus dihadapi tiga puluh kepala keluarga warga RT 06 dan RT 07, warga Desa Atap yang rumahnya seringkali terendam banjir. Mereka menerima bantuan dari program Komunitas Adat Terpencil, Departemen Sosial Propinsi Kalimantan Timur.

“Ingat ya bapak-bapak, Ibu-ibu, bantuan ini kita peroleh dengan susah payah. Butuh waktu hampir tiga tahun untuk mendapatkannya. Jadi tolong dipergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai rumah baru itu tidak bapak-bapak dan Ibu-ibu tempati,” Pesan Pak Sura’i, Sekretaris Camat Sembakung dalam pidato penyerahan bantuan Relokasi KAT, masih terngiang di telinga saya. Saya mengingat setiap detail ekspresi wajah warga Sembakung penerima bantuan KAT: datar dan biasa saja. Entahlah, saya tidak menemukan haru biru perasaan bahwa hidup mereka telah diselamatkan oleh negara dari banjir yang menenggelamkan mereka. Pompa Air, alat karaoke, genset, bibit tanaman durian, kelapa sawit, bohlam lampu, kabel listrik, seperti pembagian hadiah lebaran yang terasa rutin dan jauh dari harapaan dan kebutuhan. Menurut penjelasan kades Syarin Abdullah, bantuan ini diajukan pihak desa dan kecamatan Sembakung, kepada pihak Propinsi Kalimantan Timur, dengan pertimbangan, setiap banjir datang, warga RT 06 dan RT 07 Desa Atap mengalami kondisi yang paling parah. Air bisa menggenang sampai ke atap. Itu sebabnya pihak desa dan kecamatan mengajukan permohonan relokasi pemukiman untuk warga RT 06 dan RT 07.

Truk angkutan pelajar, membawa warga dan barang-barang bantuan itu ke rumah baru di KAT Gn. Temblunu. Saya sengaja mengikuti perjalanan mereka dengan keingintahuan tentang Komunitas Adat yang Terpencil. Seperti apa yang disebut “terpencil” itu. Dengan memangku Sasa, putri bungsu mantan Kades Syahrin Abdullah, saya duduk di sebelah supir. Saya akui, kepiawaian petugas kecamatan mengemudikan truk ini, tak kalah dengan teman saya yang off roader. Bahkan mungkin lebih jago, karena jalan tanah merah yang berlumpur dan beresiko selip itu, menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari. Setiap Senin sampai Sabtu, petugas truk angkutan pelajar, akan melalu jalan Gn. Temblunu-Ds. Atap sepanjang 4 KM ini, untuk antar jemput murid sekolah secara gratis. Kadang, jika truk terjebak dalam lumpur dan menunggu alat berat untuk mengeluarkannya, murid-murid terpaksa berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah.

Kurang lebih 30 menit, tiba juga ke relokasi pemukiman KAT. Hati saya yang semula terasa gagah mengembang menyongsong petualangan, menyusut perlahan-lahan. “Oh, ini ya yang namanya Komunitas Adat Terpencil,” batin saya dalam hati. Tiga puluh rumah kayu berjejer di tengah-tengah hutan yang baru saja di buka. Halamannya belum bisa di tanami, karena bonggol-bonggol kayu bekas tebangan itu belum lapuk dan tanah masih dipenuhi sisa-sisa akarnya. Selokan kecil yang ada di depan mereka, pekat seperti aspal, hitam dan berbahaya jika diminum, karena itu air rawa. Siang, langit begitu biru benderang menaungi pemukiman di tengah hutan itu, namun bisa di pastikan, malam akan menjadi sepekat jelaga, karena tidak ada sumber listrik. Hanya solar sel kecil yang terpasang di setiap rumah, itupun mesti menggunakan alat untuk menstabilkan tegangan listrik yang dihasilkan dan membelinya harus pergi ke Tarakan atau Banjarmasin. Ketakukan saya pada ular Sembakung membuat saya bergidik hebat. Saya menduga-duga, ular-ular itu bersembunyi di sela-sela bonggol-bonggol kayu di halaman rumah mereka. Tiba-tiba saja, saya merindukan Jalan Aceh 56 Bandung, rumah tua yang sangat sejuk dan nyaman dengan lokasi yang begitu strategis, tempat tobucil membangun komunitasnya. Hati saya menciut dengan cepat seperti balon dikempesi itu, buru-buru menyimpulkan “Tak mungkin aku bisa bertahan di somewhere in the middle of nowhere, mendingan aku merasa terasing di lantai 5 sebuah apartemen di Lexington Avenue, Manhattan daripada di tempat seperti ini,” pikiran-pikiran saya berkecamuk seiring pandangan saya yang lekat menyapu sekeliling saya. Membandingkan kota dengan tempat seperti ini, menjadi satu hal yang kerap kali muncul secara otomatis manakala yang saya hadapi adalah situasi yang benar-benar bertolak belakang dengan kehidupan saya sebelumnya.

Tiba-tiba senyum ramah salah satu Ibu membuyarkan kecamuk dalam pikiran saya. “Mampir dulu bu, main-main ke rumah saya.” tawarannya terasa penuh ketulusan. Saya mencoba menolaknya dengan sopan. “Iya bu, lain kali,” karena Truk angkutan yang membawa saya dan penduduk lain akan segera berangkat lagi mengedrop bantuan ke ujung pemukiman. “Bagaimana jika truk angkutan kecamatan ini, tiba-tiba mogok semua, anak-anak sulit pergi ke sekolah karena harus berjalan kaki 4 kilo meter,” pikiran saya yang dimanjakan oleh kota dan fasilitas mengira-ngira kondisi terburuk yang bisa mereka hadapi. Lalu saya perhatikan wajah-wajah mereka yang riang dan ringan menghadapi kesehariannya. “mungkin itu bukan kondisi terburuk yang menurut mereka bisa terjadi,” saya meralat perkiraan saya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan buruk yang coba saya bayangkan, bermunculan satu per satu.

Bantuan yang terangkut telah selesai dibagikan. Truk angkutan kecamatan bersiap kembali lagi ke desa Atap untuk mengambil bibit-bibit tanaman yang tadi belum terangkut. Saya memutuskan pindah ke belakang, bergabung bersama mereka. Duduk di depan, memposisikan diri sebagai tamu, justru membuat saya menjadi ‘terpencil’. Mereka menyambut saya dengan hangat. Sesekali mereka berbincang dalam bahasa Indonesia, namun seringkali mereka bicara dalam bahasa Tidung yang tidak saya mengerti. Saya berusaha mendengarkannya sambil sesekali memotret perjalanan kembali ke desa Atap. Semua pikiran menduga-duga itu, segera saya hentikan. Saya hanya ingin berada di tengah-tengah mereka, mencoba berempati terhadap yang mereka rasakan dan pikirkan, karena siapa tau dugaan saya semuanya salah.

Di tengah jalan, truk angkutan berhenti. Penduduk yang baru memanen mangga, meminta truk angkutan kecamatan membawakan dua karung mangga hasil panenannya ke desa Atap. Karung-karung itu terlalu berat untuk dibawa dengan Honda Astrea 77 dengan kondisi jalan yang seperti itu. Orang-orang yang berada di dalam truk, membantu menaikkan karung-karung itu. Oji, anak lelaki kades Syahrin yang baru berumur 6 tahun, merengek pada mamaknya “Mak aku mau mangga,” Pak tua yang duduk di bersamanya, mengambilkan satu untuk Oji, “nih ambillah satu, nanti kau bilang sama yang punya, mangganya kita ambil satu,” Oji menerimanya, tapi tak langsung memakannya. Dia hanya memeganginya saja. Pak tua yang mengaku orang Bugis itu, menawariku “silahkan bu, kalau mau ambil saja,” aku menjawabnya dengan anggukan.

Di tengah riuh obrolan di truk itu, aku bertanya pada seorang bapak yang ada di sebelahku, mengapa masih banyak rumah (dari 30 unit ) di pemukiman itu yang kosong belum terhuni. Wajah bapak yang kutanyai itu berubah serius, baginya pindah ke pemukiman KAT, jauh lebih sulit daripada bertahan di rumah lamanya yang sering terendam banjir. “Kemana-mana jauh bu, air bersih tidak ada. Kalau butuh sesuatu juga jadi sulit, karena jarak ke desa Atap jadi semakin jauh. Ya saya, baru menempati rumah itu kalau mau ada pemeriksaan,” wajah yang serius itu, seketika tersenyum renyah. Bapak itu seperti mentertawakan apa yang ia lakukan sendiri. Jawaban itu bagiku memang tak mengherankan, apalagi setelah melihat sendiri seperti apa kondisinya. Memang rumah-rumah yang mereka dapatkan dari pemerintah adalah rumah baru, namun dengan lokasi yang seperti itu, bukan hal yang mudah pula untuk memulai hidup baru di pemukiman.

Tanpa terasa, hamparan sawah Sembakung, sudah terlihat di depan sana. Perlahan truk angkutan menuruni bukit menuju desa Atap. Tiba-tiba saja, tower telkomsel, sekolah, rumah 500 KK, keramaian yang ‘sepi’ itu, menjadi terasa begitu kontras dengan realita yang baru saja saya hadapi di pemukiman. Sebutan Komunitas Adat Terpencil, tiba-tiba mengganggu saya, sebuah pertanyaan muncul menggelembung dan mengganggu: mengapa diterpencilkan? siapa yang terpencil sesungguhnya? Jika ada yang terpencil, pastinya ada yang tidak terpencil, Bagaimana memutuskan yang ini terpencil dan yang itu tidak, jika mereka sama-sama tinggal di satu kawasan yang ketika di zoom out juga sama-sama ‘terpencil’. Kemudian istilah Komunitas Adat Terpencil menjadi sesuatu yang sangat-sangat aneh di kepala saya.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur