Lapo: Ruang Bincang Masyarakat

“Dengan menenggak tuak, orang-orang tak dikenal ini meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada”.

Narasi pembuka dalam film dokumenterku, Lapo.

Minuman tradisi menjadi salah satu penanda untuk sebuah kota. Di beberapa daerah di Indonesia orang mengenal Ciu, Cong Yang, Arak Tuban, Arak dan Brem Bali, Tuak, Sopi, Cap Tikus, Kamput dan sebagainya. Sebagian dari minuman tradisi ini adalah jamuan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat setempat.

“Kalau kata orang Barat bilang, orang Batak itu seperti durian katanya, mukanya kan kasar-kasar . . . Tapi kalau udah dibelah macam mana? Tambah bung, tambah . . .”, kata salah satu pengunjung lapo di dekat Bang Iwan. Benar juga, kata kawanku, kalau kebetulan ketemu orang Batak yang asyik bisa lebih asyik dia. Tapi kalau kita dapat yang agak tertutup, bisa lebih membatasi dirinya.

Tapi minuman-minuman tadi juga menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Di Medan, tuak yang menjadi minuman khas orang-orang Batak memang aslinya disadap dari pohon bagot, akan tetapi tuak minuman khas itu dapat pula disadap dari pohon kelapa. Secara umum bagi orang Batak sekarang ini, tuak berdasarkan sumbernya dibagi dalam dua kategori, yakni Tuak Bagot dan Tuak Kalapa. Tapi berdasarkan proses pembuatannya minuman yang sama dikategorikan menjadi Tuak Raru dan Tuak Na Tonggi. Adapula yang disebut Tuak Tangkasan[1], yaitu tuak yang selalu disertakan sebagai minuman dalam suatu prosesi adat, termasuk Tuak Na Tonggi yang pada umumnya dikhususkan untuk kaum wanita walaupun banyak pula kaum lelaki yang menggemarinya.[2]

Pohon enau atau aren dinamai bagot dalam bahasa Batak Toba. Di Medan, bagot tidak tumbuh, karena bagot banyak tumbuh di daerah dengan ketinggian sekitar 900m di atas permukaan laut. Padahal Medan hampir sama tingginya dengan permukaan laut. Oleh karena itu, orang Medan mengambil sadapan dari pohon kelapa. Namun setelah diproses, minuman itu tetap dinamai tuak dalam masyarakat Batak Toba.[3]

Yang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan tentang tuak, tentu saja, adalah Lapo (kedai) Tuak. Lapo Tuak adalah salah satu tempat orang Batak meluangkan waktunya berkumpul dan bercengkerama antar sesama untuk menikmati tuak sebagai minuman khas. Ada tercatat dalam sejarahnya bahwa komunitas Batak yang ada di Tanah Batak memang sangat senang minum tuak. Konon karena kontur tanah di wilayah ini berbukit-bukit dan bercuaca relatif dingin sehingga membutuhkan kehangatan melalui kebiasaan minum tuak. Tuak yang memang mengandung kadar alkohol sekitar 3-5% merupakan minuman murah meriah yang tidak memandang kelas dan status sosial bagi pengkonsumsinya. Selain tuak, sajian khasnya adalah makanan dari daging anjing dan babi.

Apa itu Lapo? Kedai katanya, ada juga yang menyebut itu Partukuan atau Perkumpulan, atau juga Pakter.

25 Juni 2010, sore hari aku berjalan bersama dua kawanku. Tedy dan Ciplek dari SOI (Source of Indonesia), Medan, dengan maksud mencari lapo tuak di sana. Ide dokumenterku adalah tentang lapo tuak, dan penggalan kutipan di atas kudapat dari mengobrol dengan beberapa orang di lapo tuak sekitar terminal Amplas. Kata kawanku di sana, sekitar tahun 2000an, Terminal Amplas dikenal dengan pencopetnya. Seperti biasa, karena sulit mencari kerja, mangkal di terminal menjadi alternatif. Calo bus adalah pekerjaan alternatif bagi mereka, “Tarik Sewa” istilahnya. Semakin banyak persaingan dan karena pekerjaan ini juga ilegal, banyak yang terpaksa menjadi copet. Itu informasi yang aku dengar waktu kami bertanya di lapo pinggir Terminal Amplas.

 

OBAMA, ORANG BATAK MABUK

“Kau tanya dari ujung simpang lampu merah sana, sampai amplas sini. Tanya, Obama, kenal mereka. Siapa? Bang Iwan Siregar! . . . Pencipta Obama, boleh kau tanya sana. Orang Batak Mabuk… Orang Batak Malas!”, dengan setengah mabuk dan berapi-api dia menjelaskan kepadaku. Bang Iwan Siregar adalah salah satu sumber temuanku di Terminal Amplas. Dengan berani dan tanpa basa-basi, Tedy kawanku langsung duduk di sampingnya. Agak takut awalnya aku membawa kamera di sana, dan dilihat oleh orang di sekitar lapo kecil itu. Tapi entah apa yang dipikirkan kawanku Tedy, dia langsung duduk dengan permisi lalu bergabung dengan mereka.

“Bahaya”, pikirku.

Tapi kesungkanan dan ketakutan itu segera hilang, ketika Tedy mulai mengobrol dengan Obama. Akupun memberanikan diri mengeluarkan kamera, merekamnya dan ikut berbincang dengan mereka. Ternyata mereka pun sangat terbuka.

“Kalau kata orang Barat bilang, orang Batak itu seperti durian katanya, mukanya kan kasar-kasar . . . Tapi kalau udah dibelah macam mana? Tambah bung, tambah . . .”, kata salah satu pengunjung lapo di dekat Bang Iwan. Benar juga, kata kawanku, kalau kebetulan ketemu orang Batak yang asyik bisa lebih asyik dia. Tapi kalau kita dapat yang agak tertutup, bisa lebih membatasi dirinya.

Begitupun Obama. Waktu kami memesan tuak dan minum bersama, obrolan-obrolan pun mengalir, tanpa ada batas–walaupun di saat pertama mereka pasti akan bertanya, “Apa margamu?”. Aku tak punya, di keluargaku tidak ada memakai nama marga.

Biasanya orang Batak akan bertanya marga sang lawan bicara, baik itu sebagai tamu ataupun lawan bicara. Pertanyaan ini, berdasarkan obrolanku dengan kawan di sana, sebagai posisi sang penanya dalam berbincang. Jika bersaudara dalam marga mereka akan lebih terbuka dalam berbincang, jika tidak, atau mungkin marga mereka bermasalah, mereka akan membatasi diri. Tapi hal itu tidak terjadi, ketika aku membawa kamera dan berbincang dengan sekelompok orang pinggir terminal ini, mereka sangat terbuka.

Sambil minum tuak kami berbincang, “tusor”, kata mereka, tuak sore. Tuak yang baru diolah dan masuk untuk dijual di lapo-lapo. Masih segar. Sempat terpikir untuk membawa minuman ini ke Jakarta untuk oleh-oleh, tapi tak bisa karena basi kalau lebih dari 12 jam. Tuak ini adalah minuman pembuka bagi mereka dan kami tentunya, tanpa tuak itu, berbincang anonim di lapo tampaknya sulit. Dengan alih-alih membeli tuak, dan menawarkannya kepada mereka untuk minum bersama, perbincanganpun mengalir.

Orang-orang demokratis banyak lahir dalam kebiasaan ‘tongkrongan’. Isu-isu, gosip, ide, perjuangan, apapun banyak lahir di kedai-kedai seperti kedai kopi, lapau, lapo, dsb. Tongkrongan inilah yang banyak melahirkan orang-orang besar. Meraka biasa adu argumentasi , tak heran banyak orang Batak memilih menjadi pengacara. Mereka biasanya akan lebih ‘meninggikan’ obrolan mereka, jika lawan bicara mereka tampak lebih baik argumentasinya. Tak mau kalah sepertinya, tapi justru itu yang membuat mereka menjadi dinamis. Itupun yang kuhadapi ketika membawa kamera dan berbincang di sana. Tak ada “diam”, mereka terus berceloteh, bernyanyi dan kadang aku yang ditanya.

Seperti narasi penutup dalam filemku, “Pernahkah kita tahu di mana sejarah benar-benar dibuat? kekuatan-kekuatan besarlah yang membentuknya. Tapi sekelompok orang-orang tak dikenal ini, meninggalkan tanda-tanda yang lebih dalam dibanding kekuatan besar yang ada. Di dalam kedai mereka membuatnya. Dengan membuat kenyamanan melankolis dari kontemplasi hal yang paling kecil. Dengan minum dan berdendang. Di tepi jalan mereka membuatnya.”

 

LOG LINE, STORYLINE: TANTANGAN AWAL MEMBUAT DOKUMENTER

Narasi di atas merupakan sedikit penjelasan dan pengalamanku dalam melakukan proses shooting di lapo kota Medan. Tulisan di atas tidak mungkin kudapat tanpa membuat log line dan storyline. Proses ini merupakan hal yang sering terlupakan, tapi berfungsi banyak ketika melakukan kerja di lapangan. Biasanya hanya ide yang kita bawa dan tidak tertulis. Dan inilah yang dilakukan pada workshop pra produksi, penjabaran ide dan pembuatan log dan story.

Log line adalah ringkasan utama dari sebuah program televisi atau filem. Seringkali ia memuat alur program/cerita, sinopsis dan situasi emosional untuk memunculkan ketertarikan.[4] Berdasar ide mentah yang didapat dari riset sederhana melalaui internet, pembicara tamu dalam praworkshop, walau masih kurang menurutku karena tidak ada riset lapangan mendalam membuat partisipan agak kesulitan dalam menjabarkan ide. Ide yang mentah tak semerta menjadi sebuah logline yang baik, ketika harus membuat unsur-unsur tersebut di atas. Kurang ini atau tambah itu, seringkali kami diskusikan dalam membuat log line. Bahkan sebulan setalah proses penyuntingan selesai, aku masih belum membuat log line ini.

Tahap selanjutnya dalah membuat storyline, Sebuah alur atau sub-alur dari sebuah cerita; atau sebuah narasi dari karya, fiksi ataupun non fiksi sebagai penjabaran lanjut dari log line menjadi sebuah satuan cerita.[5] Ini juga menjadi tantangan sendiri. Sulit ternyata. Memang lebih sulit untuk membuat ide baru, dibanding memberikan arahan sebagai fasilitator atau mentor. Ini yang aku hadapi saat itu, menjadi partisipan. Kadang aku melupakan hal penting. Dalam penjabaran ide, terlalu banyak riset dan data tapi tak tahu mau dikemanakan, karena melupakan log dan story tadi.

Lapo pun menjadi ide besarku. Ketertarikanku pada lapo karena ia adalah ‘misteri’. Sebagai orang Jawa akupun sungkan masuk ke dalam lapo. Itu yang menajdi ‘misteri’ buatku, sebuah kejutan yang mungkin kudapat jika aku masuk ke sana. Tak jauh dari jabaranku di awal, selain sopir metro mini di Jakarta, lapo buatku menggambarkan sebagian kecil masyarakat kota Medan (tanpa mengecilkan makna darinya). Dan akupun tetap di ide ini, walau sempat limbung ketika tak mendapat lapo yang “oke”, untuk filmku.

HAHOLONGI MA SIDOLI I

Alai Tuhan ta do umboto, 
Na patuduhon ise rongkap ta
Sai horas jala gabe ma hita, 
Si doli i na ma ihuttonon mu

Borhat ma ho..
haholongi ma i..
songon di tingki ho,
manghaholongi au
ondihon au di tangiangmi
asa tibu tarapul rohangki

Borhat ma ho,
Haholongi ma i
Songon di tingki ho,
Mangkholongi au
Ondihon ahu, di tangiang mi
Asa tung dapot au na songon ho

Terjemahan Bahasa Indonesianya kira-kira begini:

Hanya Tuhan yang mengetahui
Yang menunjukkan siapa pendamping kita
semoga bahagia kita
Lelaki itu yang menjadi pilihanmu

Berangkat lah..
Cintai lah dia..
Seperti waktu kau,
Mencintai ku

Bawa aku di dalam doamu
Semoga cepat sembuh hati ini

Berangkat lah,
Cintai lah dia
Seperti waktu kau,
Mencintaiku

Bawa aku di dalam doamu
Biar ku mendapat seperti dirimu

NB : maaf bahasa Batak memang agak susah di terjemahkan…
karena sebahagian bahasa tidak ada dalam bahasa indonesia…

Lirik di atas kudengar dari sebuah lapo di tengah kota Medan, sebelumnya orang-orang di dalam sana menimbulkan aura ‘seram’. Tetapi ketika mereka bernyanyi bisa dilihat dari lirik yang mereka bawakan. Tentang cinta, perantauan, dan ratapan. Selepas SMA, mereka diharuskan merantau oleh orang tua, urusi hidup mereka sendiri.

Yah begitulah, sedikit cerita dariku tentang kota Medan secara singkat. Menyenangkan dan menimbulkan banyak kejutan dengan melihatnya dari sisi kecil geliat masyarakat kota di sana. Dari sebuah ruangan yang menciptakan banyak gagasan, dan sering dilupakan bahkan hampir hilang.

Jakarta, Juli 2010

References and Footnotes

  1. Sering juga kita mendengar sebutan Tuak Tangkasan padahal tuak tersebut bukanlah Tuak Tangkasan yang sebenarnya. Ada kesan kalau Tuak Tangkasan disebut hanya karena rasanya yang enak sesuai selera, padahal tuak tersebut sudah dari hasil sadapan tangkai yang kesekian kalinya. Tuak Tangkasan sebenarnya adalah tuak yang dihasilkan dari tangkai bunga yang pertamakali disadap dari satu pohon bagot, dan biasanya memang mengandung citarasa yang lengkap sebagai tuak konsumsi. Kalau tuak yang disadap dari tangkai bunga berikutnya tidak lagi disebut sebagai Tuak Tangkasan, dan mungkin kandungan mineral yang mempengaruhi cita rasanya sudah tidak sama lagi dengan sadapan dari tangkai yang pertama. Keduanya, Tuak Tangkasan dan Tuak Na Tonggi, dahulu selalu disajikan dalam suatu prosesi adat, namun belakangan ini keberadaannya sudah ditukar dengan amplop yang berisi uang sejumlah tertentu sebagai media adat dan disebut pasi tuak na tonggi (pemberian sejumlah dana agar sipenerima dapat membeli sendiri dan Tuak Na Tonggi).
  2. http://batak-one.blogspot.com/2009/06/hancur.html?zx=2d94e29aaba2cc00
  3. "Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira", IKEGAMI, Shigehiro, Annual Report of the University of Shizuoka, Hamamatsu College, No.11-3, 1997, Part 5.
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Log_line
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Storyline
Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi